NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Duda / Romansa / Pengasuh
Popularitas:92k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Reda Seketika

Tangisan Ezio semakin terdengar jelas oleh Raisa seiring langkahnya menyusuri lorong menuju kamar utama. Setiap isak kecil itu seperti menarik langkahnya agar lebih cepat, namun ia tetap berusaha menjaga ketenangan. Ia tidak ingin terlihat tergesa, tidak ingin menunjukkan betapa hatinya sudah lebih dulu berlari.

Di belakangnya, Bu Lita berjalan dengan langkah mantap, meski dadanya sendiri berdebar. Ia tahu, momen yang akan terjadi di balik pintu kamar itu bukan sekadar pertemuan biasa.

Begitu sampai, pintu kamar utama—yang sejak tadi memang tidak tertutup rapat—terbuka lebar ketika Bu Lita mendorongnya perlahan.

“Masuk, Raisa,” ucapnya pelan namun tegas.

Krisna dan Lena yang berada di dalam kamar langsung menoleh ke arah pintu.

Waktu seolah melambat.

Lena adalah orang pertama yang bereaksi. Alisnya mengerut, lalu bibirnya mengerucut tipis. Ia mendengus pelan, jelas tak senang melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

"Kenapa perempuan itu bisa ada di sini?" batin Lena menggerutu.

Sementara Krisna yang masih menggendong Ezio hanya diam. Tatapannya terkunci pada sosok Raisa. Wajahnya tak menunjukkan keterkejutan berlebihan, namun jelas ia tidak menyangka pertemuan itu akan terjadi dalam situasi seperti ini.

Raisa berdiri beberapa detik di ambang pintu. Rambut panjangnya yang dikuncir tinggi sedikit berantakan karena perjalanan, namun justru membuatnya terlihat lebih alami. Ia tidak mengenakan apa pun yang istimewa—hanya pakaian sederhana dan celana bahan yang nyaman. Tetapi ada ketenangan yang terpancar dari wajahnya.

Tanpa menghiraukan reaksi Lena, Raisa melangkah masuk dengan tenang.

Tangisan Ezio yang tadinya konstan kini terdengar lebih lirih, seperti menunggu sesuatu.

Raisa mendekat perlahan ke arah Krisna yang berdiri di samping ranjang.

“Dede Ezio … Dede Ezio kenapa, Sayang? Kok Kakak dengar di luar nangisnya kencang sekali,” suara Raisa begitu lembut, hangat, seirama dengan sentuhannya ketika ia menyentuh pipi Ezio.

Sentuhan itu ringan. Ujung jarinya menyapu pipi bayi yang masih memerah karena menangis.

Ezio yang tadi merengek tanpa henti kini terdiam sejenak. Matanya yang sembap menatap wajah Raisa. Ada pengenalan di sana. Ada rasa aman yang langsung menyala.

Kedua tangan mungilnya terulur ke arah Raisa, jari-jarinya membuka dan menutup kecil, seakan meminta diambil dari gendongan papanya.

Pemandangan itu membuat dada Krisna terasa seperti diremas.

“Lho … Dede badannya panas ya. Dede sakit ya?” tanya Raisa dengan nada sedih.

Tanpa meminta izin, tanpa ragu, ia mengulurkan tangan dan mengambil Ezio dari gendongan Krisna.

Gerakannya natural. Seolah tubuhnya memang sudah hafal posisi itu.

Krisna tidak menahan.

Tangannya otomatis melepas, meski ada sepersekian detik di mana jari-jarinya masih menempel pada pakaian Ezio.

Begitu berpindah ke pelukan Raisa, Ezio masih sempat terisak. Namun perlahan, tangisannya mereda. Rengekan panjang berubah menjadi isak kecil, lalu semakin pelan.

Kepala kecil itu langsung bersandar di dada Raisa, pipinya menempel pada kain bajunya. Tangannya yang tadi menggenggam kerah kemeja Krisna kini mencengkeram ujung pakaian Raisa.

"Sudah ya De, jangan nangis terus ... jadinya badan Dede panas begini," gumam Raisa penuh kasih sayang yang tulus.

Sunyi menyelimuti kamar.

Hanya tersisa suara napas kecil Ezio yang mulai teratur.

Raisa mengayun pelan, ritmenya lembut dan stabil. Satu tangannya menopang kepala Ezio, tangan lainnya mengusap rambut halus itu dengan penuh kasih.

“Sudah … sudah … jangan nangis lagi,” bisiknya.

Isak Ezio semakin hilang. Hanya tersisa sesenggukan kecil sebelum akhirnya benar-benar tenang.

Kali ini, dengan pemandangan yang begitu jelas di depan mata, Krisna merasa sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Semua usaha sejak pagi-pagi buta. Semua upaya untuk membuktikan bahwa ia mampu. Semua ego yang diam-diam ia pertahankan.

Anaknya benar-benar tenang dalam ayunan Raisa.

Tanpa drama.

Tanpa perjuangan panjang.

Hanya butuh satu suara, satu sentuhan.

Krisna menunduk sedikit. Rahangnya mengeras, bukan karena marah, melainkan karena ia sedang menelan sesuatu yang pahit—kesadaran bahwa ada hal yang tidak bisa ia gantikan.

Sementara itu, Lena makin kesal.

Ia berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tajam mengarah pada Raisa. Bibirnya terkatup rapat, jelas tak suka melihat bagaimana Ezio langsung merespons perempuan itu.

Padahal sejak tadi ia sudah berusaha membantu.

Namun satu kedatangan saja sudah mengubah segalanya.

"Sialan ... sama perempuan itu, si Ezio langsung diam. Wah ... tidak bisa dibiarkan begitu saja," kata hati Lena makin terasa panas.

Dengan penuh kasih sayang, Raisa mengusap kepala Ezio lalu mengecupnya pelan di ubun-ubun.

“Jangan nangis lagi ya, Kakak sudah di sini,” katanya lembut pada sang bayi.

Kata kakak itu terdengar akrab, hangat, seperti kebiasaan lama yang tak pernah hilang.

Ezio menggeliat kecil, lalu benar-benar terdiam. Kelopak matanya mulai turun perlahan, napasnya semakin stabil.

Bu Lita yang sejak tadi memperhatikan dari dekat merasa dadanya dipenuhi campuran haru dan keyakinan. Ia tidak salah memanggil Raisa.

Ia melangkah sedikit ke depan.

“Krisna,” panggilnya tegas.

Krisna mengangkat wajahnya.

“Mulai hari ini Raisa bekerja untuk Ibu, mengurus Ezio!” Kalimat itu jatuh jelas dan tanpa keraguan.

Lena langsung melotot.

“Apa? Dia jadi pengasuh Ezio!" serunya spontan, suaranya meninggi tanpa ia sadari.

Raisa sendiri sedikit terkejut mendengar pengumuman itu disampaikan langsung di hadapan semua orang. Namun ia tetap fokus mengayun Ezio yang kini hampir tertidur.

Krisna terdiam.

Ia menatap ibunya, lalu menatap Raisa yang berdiri tak jauh darinya, menggendong anaknya dengan ketenangan yang sulit ia sangkal.

Tidak ada bantahan yang langsung keluar dari mulutnya.

Tidak ada protes.

Hanya diam yang sarat makna.

Di kamar itu, posisi berubah dalam hitungan menit. Tangisan yang tadinya memenuhi ruangan kini digantikan dengan keheningan yang berat.

Dan di tengah keheningan itu, Raisa berdiri sebagai pusat ketenangan Ezio—sementara Lena menahan amarahnya, dan Krisna perlahan dipaksa mengakui sesuatu yang selama ini ia hindari.

Bersambung ... ✍️

1
Herman Lim
wah ezio tau aja Raisa bakalan jadi mama nya nanti 🤭🤭
Herman Lim
akhir nya ezio py ibu asuh yg tulus
Sugiharti Rusli
beruntung bu Lita mengambil langkah tegas mau si Krisna protes atau tidak, toh kenyataannya sang cucu langsung anteng saat di tangan Raisa,,,
Sugiharti Rusli
sudah jelas saat bersama Raisa selama dua hari, anaknya tenang dan happy dalam pengasuhannya dan tidak rewel,,,
Sugiharti Rusli
ini mah hanya langsung si bapak yang putuskan hanya berdasarkan pengalaman yang belum pernah dia lihat,,,
Sugiharti Rusli
di mana" yah kalo cari buat pengasuh anak tuh seharusnya diperkenalkan kepada bayi nya si objek yang akan diasuh,,,
Sugiharti Rusli
kamu tuh sebenarnya cari pengasuh buat putra kamu atau buat siapa sih Kris sedari awal juga,,,
K4RL4
pawang dede ezio dtng 👍👍👍.
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊
mama
abis sholat terawih tak tengok kok blm up thor🤭..
Teh Euis Tea
alhamdulilah ezio udah tensng di tangan raisa dan untuk lena tdnya aku kasian sm km tp ternyata sikap polosmu hanya bohong belaka
astr.id_est 🌻
diam distuuuuu 😅😅😅
astr.id_est 🌻
raisa seperti ibu peri sungguh ajaib, seketika ezio lngsg tenang
astr.id_est 🌻
kocak lena 🤣🤣
Elizabeth Zulfa
udah kebuka blm kris mata kamu... zg br pengalaman blm tentu memberikan rasa nyaman tpi klo rasa aman sudah didapat pengalaman akan ikut menyertainya... sampai sini paham kan ya abang duda... 😜😜😜klo msih mentingin ego brrti fix kamu tega sama dedek Ezio
astr.id_est 🌻
👍👍👍👍
kaylla salsabella
alhamdulillah dedek udah tenang
@Arliey🌪️🌪️
pawang nya ezio nich senggol dong🤣🤣🤣
kaylla salsabella
semoga habis ini dedek sembuh
RiriChiew🌺
nahkan pada akhirnya kalau pawang ezio hadirr dari tdi pasti udh sunyii gak akan nangis sepanjang hari . bapaknye ngeyell si pengasuh juga bermuka dua mana mau bayi nempel
@alfaton🤴
jangan nangis lagi ya de Zio..... momy Raisa udah dipelukanmu.... sekarang istirahat...... dan kamu Lena......masih mau berdebat tentang Ezio..... pengalaman jadi baby sitter mu mengalahkan Raisa yang suka dengan anak kecil..... karena tugasmu itu memang kewajiban dan tanggung jawab sebagai ibu dari anakmu ... paham lena😅😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!