NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Sementara Hallen bergulat dengan rasa bersalah di gang sempit, di sudut lain London, di sebuah bangunan megah yang berdiri angkuh di pinggiran hutan, sebuah mansion tua yang tersembunyi oleh pepohonan rimbun dan kabut abadi, Lyana berdiri mematung di depan sebuah cermin besar yang retak. Pantulan dirinya di permukaan kaca yang terbelah itu seolah menggambarkan jiwanya yang hancur.

Tangan Lyana yang gemetar perlahan membuka kancing kemeja sutranya, membiarkan kain mahal itu merosot ke lantai marmer yang dingin. Di bawah cahaya rembulan yang menembus celah jendela, pemandangan itu mengerikan. Lengan mulusnya kini dihiasi lebam kebiruan dan bekas cengkeraman kuku yang dalam. Di lehernya, terdapat bekas cekikan yang memerah, kontras dengan kulitnya yang pucat.

Setiap gerakan kecil membuat Lyana meringis. Rasa sakit itu bukan hanya di kulit, tapi merasuk hingga ke tulang. Lyana sudah tidak berpikir lagi tentang waktu yang mungkin berkurang bagi keabadiannya akibat luka-luka itu.

Dua hari yang lalu, saat ia berhasil mengumpulkan darah Kenzie dari pagar besi festival, Lyana mengira ia akan menjadi pahlawan di mata ibu angkatnya. Lyana membayangkan pujian, pelukan atau setidaknya satu tatapan bangga dari Stefanny. Namun, yang ia dapatkan justru adalah neraka yang lebih kelam.

Ingatan Lyana melayang kembali ke malam itu. Di laboratorium bawah tanah yang bau bahan kimia dan dupa busuk, Stefanny tampak seperti orang gila yang baru saja menemukan emas. Matanya berkilat penuh obsesi saat ia menuangkan darah Kenzie ke dalam sebuah cawan perak.

"Darah The Constant." bisik Stefanny, suaranya parau oleh ketamakan. "Kunci untuk menghentikan waktu dalam nadiku. Kunci untuk menjadi Tuhan di London."

Stefanny mulai mencampurkan darah itu dengan berbagai ramuan kuno, ekstrak mawar hitam, bubuk besi kuno dan cairan darah Lyana yang ia ambil dari alat penghangat berukuran seperti microwave. Ia meraciknya dengan sangat teliti dan penuh hati-hati, sebuah pengetahuan yang sudah ia kuasai selama lima tahun penuh.

Cairan di dalam cawan itu berdesis, berubah warna dari merah keemasan murni menjadi ungu gelap yang bergejolak, seolah-olah darah itu sendiri sedang memberontak karena telah dicemari.

"Kita harus mengujinya." perintah Stefanny tanpa menoleh.

Lyana, dengan tangan gemetar, mengambil seekor kelinci putih dari kandang di sudut ruangan. Kelinci itu tampak tenang, hidungnya bergerak-gerak kecil, tidak tahu bahwa ajalnya sudah di depan mata.

Stefanny mengambil jarum suntik, menyedot cairan hasil racikannya dan menusukkannya langsung ke pembuluh darah di telinga kelinci malang itu.

Satu detik pertama, keheningan menyelimuti laboratorium.

Detik kedua, mata kelinci yang tadinya merah muda berubah menjadi hitam pekat secara keseluruhan.

Lalu, kekacauan mulai terjadi.

Kelinci itu tidak mati. Ia justru mengejang hebat di atas meja operasi. Suara tulang yang patah terdengar berderak saat otot-ototnya membesar secara tidak alami. Kelinci itu melompat, namun bukan lompatan hewan biasa. Ia menabrakkan dirinya ke dinding kaca dengan kekuatan yang luar biasa hingga kaca itu retak.

"Lihat itu!" seru Stefanny, awalnya terpana oleh kekuatan yang dihasilkan.

Namun, kegembiraan itu berubah menjadi kengerian. Kelinci itu mulai bertindak seperti kesetanan. Ia tidak lagi mengenali rasa sakit. Ia menggigit kaki meja besi hingga giginya hancur, lalu berbalik dan mulai menggigiti tubuhnya sendiri. Dengan beringas, hewan itu merobek kulitnya sendiri, memakan dagingnya sendiri dalam kemarahan yang tidak masuk akal. Cairan hitam menyembur dari mulutnya, berbau busuk seperti bangkai yang terbakar.

Hewan itu hancur berantakan, mati dalam kondisi yang mengerikan setelah menyiksa dirinya sendiri hingga tak berbentuk.

Wajah Stefanny berubah seketika. Dari kesenangan obsesi menjadi kemarahan yang meluap-luap. Ia membanting cawan perak itu ke lantai.

"GAGAL TOTAL!" raung Stefanny. Suaranya menggelegar di ruang bawah tanah, membuat botol-botol kimia di rak bergetar. "Darah ini menolak untuk tunduk! Dia menghancurkan inangnya daripada memberikan kekuatannya!"

Stefanny berbalik, matanya yang penuh kebencian kini tertuju pada Lyana yang berdiri mematung di sudut ruangan.

"Ini karena kau!" Stefanny melangkah mendekat, auranya terasa sangat menekan. "Kau mengambil darah yang salah! Kau membiarkan dia bercampur dengan besi karat itu terlalu lama atau kau memang sengaja ingin aku mati saat meminumnya?!"

"Tidak, Mama... aku bersumpah, itu darah murni milik Kenzie—"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Lyana, membuatnya tersungkur ke lantai. Belum sempat Lyana bangkit, Stefanny menjambak rambutnya dengan kasar, memaksa Lyana untuk menatap sisa-sisa kelinci yang hancur di atas meja besi.

"Lihat itu! Kau ingin aku menjadi seperti itu?!" Stefanny mencengkeram leher Lyana, kuku-kukunya yang tajam menekan kulit lembut Lyana hingga berdarah. "Kau tidak berguna! Kau punya semua akses padanya, kau punya si kapten basket itu sebagai pion, tapi kau membawakanku racun!"

Lyana terisak, oksigen mulai menipis di paru-parunya. "Maaf... Mama... maafkan aku..."

Stefanny tidak berhenti. Ia menjadikan Lyana sebagai samsak pelampiasan atas kegagalannya. Stefanny memukul, mencengkeram dan melemparkan tubuh Lyana ke tumpukan peti kayu di laboratorium.

Kekerasan itu berlangsung selama berjam-jam, di mana setiap rintihan Lyana justru dibalas dengan hantaman yang lebih keras. Bagi Stefanny, Lyana bukanlah seorang putri, melainkan alat yang gagal. Dan alat yang gagal pantas untuk diberi hukuman.

Di depan cermin yang retak itu, Lyana menyentuh luka di lehernya dengan ujung jari. Air mata jatuh membasahi pipinya, namun matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh di sana, sebuah kebencian yang dingin dan tajam.

Lyana telah memberikan segalanya untuk Stefanny. Ia telah memanipulasi Hallen, mengkhianati Julian dan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk mendapatkan darah Kenzie. Namun, semua itu hanya dibalas dengan luka dan penghinaan.

"Kau salah, Mama." bisik Lyana pada pantulannya yang retak. "Darah itu tidak gagal. Darah itu hanya menolak untuk dikuasai oleh orang sepertimu."

Lyana teringat bagaimana Kenzie menyelamatkan Hallen. Kenzie memberikan darahnya untuk penyelamatan, bukan untuk penghancuran. Darah itu memiliki kehendak sendiri dan Stefanny terlalu buta oleh keserakahan untuk memahaminya.

Lyana mengambil sebuah botol kecil yang masih menyisakan setetes kecil darah murni Kenzie yang ia sembunyikan di balik liontin kalungnya, setetes yang tidak ia berikan pada Stefanny. Lyana menatap cairan merah keemasan itu dengan penuh arti.

Jika Stefanny tidak bisa memilikinya dan Julian telah terikat pada Kenzie, maka Lyana akan mencari jalannya sendiri. Lyana tidak akan lagi menjadi bayang-bayang Stefanny. Ia akan menggunakan rasa sakitnya sebagai bahan bakar untuk menghancurkan segalanya.

Luka-luka di tubuhnya terasa panas, seolah-olah mereka sedang berbisik untuk menuntut balasan. Malam itu, di mansion megah yang sunyi, Lyana bukan lagi seorang putri angkat yang patuh. Lyana telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, seorang sekutu yang terluka, yang tahu persis di mana letak kelemahan sang Ratu Mawar Hitam.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!