Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arlan bertemu dengan bagus
Pertemuan itu terjadi di koridor depan toilet, jauh dari keramaian kafetaria. Arlan sedang mencuci tangannya yang masih dibalut perban tipis saat Bagus masuk dengan senyum sisa makan siang bersama Raia.
Langkah Bagus terhenti. Suasana seketika menjadi dingin, seolah AC kantor mendadak turun beberapa derajat.
"Pak Arlan," sapa Bagus sopan, meski ia bisa merasakan aura intimidasi yang kuat.
Arlan tidak langsung menjawab. Ia mengeringkan tangannya perlahan dengan tisu, lalu berbalik menatap Bagus dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jantung.
"Makanan di depan sana enak, Bagus?" tanya Arlan datar, namun suaranya terdengar mengancam.
Bagus berdehem, mencoba tetap tenang. "Lumayan, Pak. Tadi saya mengajak Raia karena dia kelihatan sangat lelah belakangan ini. Saya pikir dia butuh penyegaran."
Arlan melangkah maju, mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. "Dia memang lelah. Lelah karena tanggung jawab besar yang saya berikan. Jadi, jangan ganggu fokusnya dengan ajakan-ajakan yang tidak penting."
"Maaf Pak, tapi saya rasa menjaga kesehatan mental rekan kerja juga penting," balas Bagus, mulai berani menatap mata bosnya. "Raia bukan sekadar aset kantor, dia manusia."
Rahang Arlan mengeras. Ia mencengkeram bahu Bagus dengan tangan yang terluka, cukup kuat untuk membuat Bagus meringis. "Dengar baik-baik. Ada batasan yang tidak boleh kamu lewati di kantor ini. Raia adalah urusan saya.
Tetaplah di divisi pemasaran, atau kamu akan menemukan dirimu mencari pekerjaan baru sebelum jam kantor berakhir."
Arlan melepaskan cengkeramannya dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Pertemuan singkat ini merubah segalanya; Arlan tidak lagi bersembunyi di balik CCTV. Ia secara terang-terangan menunjukkan possesiveness-nya yang berbahaya, membuat Bagus sadar bahwa mendekati Raia berarti menantang maut di kariernya.
Bagus tidak menunggu lama. Sore harinya, saat kantor mulai sepi dan Arlan terlihat masuk ke ruang rapat besar, Bagus menghampiri meja Raia. Wajahnya tidak lagi seceria saat makan siang tadi; ada gurat kecemasan sekaligus amarah yang tertahan.
"Ra, kita perlu bicara sebentar. Di tangga darurat saja," bisik Bagus.
Raia mengernyit bingung, namun ia mengikuti langkah terburu-buru Bagus. Begitu pintu besi berat itu tertutup, Bagus langsung menunjukkan bekas cengkeraman tangan Arlan di kemejanya yang sedikit kusut.
"Tadi Pak Arlan menemuiku di toilet. Dia mengancamku, Ra," ujar Bagus tanpa basa-basi.
Jantung Raia mencelos. "Mengancam apa, Gus?"
"Dia bilang aku harus menjauh darimu atau aku akan kehilangan pekerjaanku hari ini juga. Dia bilang kamu adalah 'urusannya'," Bagus menggeleng tak percaya. "Tatapan matanya... dia seperti orang yang sedang kerasukan, Ra. Dia posesif sekali, padahal setahuku kalian hanya atasan dan bawahan, kan?"
Raia menyandarkan punggungnya ke dinding dingin tangga darurat. Rasa malu dan marah bercampur aduk. Ia merasa seperti barang milik Arlan yang sedang dipagari agar tidak disentuh orang lain. Arlan benar-benar menggunakan kekuasaannya untuk memutus sisa-sisa kehidupan sosial Raia.
"Maafkan aku, Gus. Kamu tidak seharusnya terseret dalam kegilaannya," ucap Raia pelan, suaranya bergetar.
"Aku tidak takut dipecat, Ra. Tapi aku takut padamu. Kamu terjebak dengan pria seperti itu setiap hari?" Bagus menatap Raia iba. "Dia bukan sekadar bos yang galak, dia terobsesi padamu."
Informasi dari Bagus ini merubah segalanya. Raia menyadari bahwa diam dan bersikap profesional saja tidak cukup. Arlan sudah melangkah terlalu jauh dengan menyerang orang-orang di sekitar Raia.
Raia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Tanpa peduli pada etika kantor, ia berjalan cepat menuju ruang rapat besar. Langkah kakinya menghentak keras di lantai marmer, menarik perhatian staf lain yang terperangah melihat ekspresi wajahnya yang menyala.
Brak!
Raia mendorong pintu ruang rapat hingga menghantam dinding. Di dalam, Arlan sedang duduk sendiri menatap tumpukan berkas, tampak terkejut dengan interupsi yang begitu kasar.
"Kamu gila, Arlan!" teriak Raia, suaranya menggema di ruangan yang luas itu. Ia melangkah maju dan menggebrak meja tepat di depan wajah Arlan. "Siapa kamu sebenarnya? Tuhan? Sampai kamu merasa punya hak untuk mengancam karier orang lain hanya karena mereka makan siang bersamaku?!"
Arlan perlahan berdiri, wajahnya kembali mengeras menjadi topeng dingin yang angkuh.
"Bagus mengadu padamu? Ternyata dia memang selemah itu."
"Jangan bawa-bawa Bagus! Ini tentang kamu!" Raia menunjuk dada Arlan dengan jari gemetar.
"Kamu membiayai pengobatan ayahku untuk menjadikanku tawanan, dan sekarang kamu mengancam teman-temanku? Apa yang kamu inginkan, Arlan? Kamu ingin aku membencimu sampai mati? Selamat, kamu berhasil!"
Arlan melangkah memutari meja, mendekat hingga napasnya terasa di kening Raia. "Aku melakukan itu untuk melindungimu, Raia! Bagus tidak tahu apa-apa tentangmu! Dia hanya pria asing yang mencoba mengambil kesempatan saat kamu rapuh!"
"Melindungiku atau memuaskan egomu?!" balas Raia telak. "Arlan yang aku kenal sepuluh tahun lalu akan mendukungku bahagia, bukan mengurungku dalam ketakutan! Kamu berubah menjadi monster karena kamu pengecut, Lan! Kamu takut aku melihat betapa kosongnya hidupmu tanpa kekuasaan itu!"
Momen ini merubah segalanya. Arlan terdiam, kata-kata Raia menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik manapun. Untuk pertama kalinya, Arlan melihat binar jijik di mata Raia—sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Arlan tidak menunggu lama. Setelah keributan di ruang rapat, ia memanggil Bagus untuk menghadap secara pribadi di ruangan tertutup.
Suasana di dalam sana jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Arlan berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar dengan tangan yang terkepal di belakang punggung.
"Duduk, Bagus," suara Arlan rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Bagus duduk dengan tegap, meski jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah pertaruhan nasib pekerjaannya. "Ada apa lagi, Pak? Jika ini soal makan siang tadi, saya rasa Raia sudah menjelaskan semuanya."
Arlan berbalik perlahan. Tatapannya tidak lagi meledak-ledak, melainkan dingin dan mematikan. Ia melemparkan sebuah map tipis ke depan Bagus. "Itu surat mutasi. Kamu dipindahkan ke kantor cabang di luar kota, mulai besok pagi."
Bagus terperangah. "Apa? Pak, ini tidak adil! Saya tidak melakukan kesalahan profesional apa pun!"
"Kesalahanmu adalah mencoba masuk ke dalam celah yang tidak seharusnya kamu sentuh," desis Arlan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Bagus. "Raia bukan sekadar rekan kerja bagiku. Dia adalah hidupku yang hilang selama sepuluh tahun. Kamu pikir kamu bisa datang dalam semalam dan merasa lebih tahu tentang dia daripada aku?"
"Anda sakit, Pak Arlan. Anda tidak mencintainya, Anda hanya ingin memilikinya seperti barang koleksi!" balas Bagus dengan berani.
Arlan tersenyum miring, senyum yang tidak sampai ke mata. "Sakit atau tidak, aku tetap bos di sini. Pilihanmu hanya dua: terima mutasi ini dengan pesangon yang dinaikkan, atau keluar dari industri ini selamanya karena aku akan memastikan tidak ada perusahaan lain yang menerimamu."
Pertemuan ini merubah segalanya. Arlan telah menggunakan kekuasaan absolutnya untuk menyingkirkan siapa pun yang mendekati Raia. Ia tahu Raia akan semakin membencinya, tapi bagi Arlan, kebencian Raia jauh lebih aman daripada melihat Raia bahagia dengan pria lain.
Bagus berdiri tegak, tidak gentar sedikit pun dengan ancaman mutasi itu. Ia mendorong balik map di atas meja Arlan dengan tatapan yang menghunus tajam.
"Mutasi saya? Silakan, Pak. Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa Anda adalah pengecut," suara Bagus meninggi, mengguncang keheningan ruangan CEO.
Arlan tertegun, rahangnya mengeras. "Jaga bicaramu, Bagus!"
"Kenapa? Bapak takut mendengar kebenaran?" Bagus melangkah maju, menantang dominasi Arlan. "Kemana saja Bapak selama sepuluh tahun ini? Saat Raia menangis setiap malam karena tidak ada satu pun pesan atau kabar dari Bapak, saya yang ada di sana! Saat ayahnya pertama kali masuk rumah sakit dan dia harus mencari pinjaman ke sana-sini, di mana Bapak dengan segala kekayaan ini?"
Arlan terdiam, tangannya yang berada di bawah meja mulai bergetar hebat.
"Bapak cuma datang saat semuanya sudah rapi, lalu merasa punya hak untuk memiliki hidupnya kembali hanya karena Bapak punya uang untuk membayar rumah sakit?" Bagus tertawa getir.
"Selama Bapak asyik di luar negeri dan pamer foto dengan wanita lain di Instagram, saya yang menemani Raia lembur. Saya yang mendengarkan keluh kesahnya. Bapak mungkin punya perusahaannya, tapi Bapak tidak akan pernah punya hatinya lagi karena Bapak sudah merusaknya sepuluh tahun yang lalu."
Perkataan Bagus merubah segalanya. Tembok keangkuhan Arlan runtuh seketika. Ia teringat kembali semua pesan Raia yang sengaja ia abaikan di London demi egonya yang ingin pulang sebagai "pemenang". Ternyata, saat ia sibuk membangun kekuasaan, ia membiarkan orang lain mengisi ruang kosong di hati Raia.
"Keluar..." suara Arlan parau, hampir berbisik.
"Keluar dari ruangan saya, Bagus."
Bagus berbalik dengan tenang. "Saya akan keluar, bukan karena mutasi, tapi karena saya mengundurkan diri. Dan saya tidak akan membiarkan Raia tetap berada di bawah kendali monster seperti Anda."