NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Langkah Pertama di Aethelgard

Pada saat itu aku mengangguk, merasa ada pertanyaan yang logis dalam pikiranku. "Kita sedang berada di... ya, di sebuah rumah kayu tua. Tapi maksudku, negara apa ini? Apakah ini Belanda? Atau...?" Aku berharap setidaknya namanya masih sama.

Eveline memiringkan kepalanya, tatapan kosongnya menatapku. "Belanda?" ujarnya, mengulangi kata itu dengan pelafalan yang sempurna namun penuh kebingungan. "Apa itu 'Belanda'?"

Apa !?

"Kau... kau tidak tahu Belanda?" tanyaku tak percaya. Jantungku berdebar sedikit lebih kencang. "Negara. Kerajaan. Tempat keluarga bangsawan seperti van der Linden biasanya berasal."

"Aku tidak mengenal nama 'Belanda'," jawabnya polos. "Wilayah kekuasaan ayahku adalah Kadipaten Lindenroth. Ibu kota kadipaten ini adalah kota Veridia, yang letaknya tidak jauh dari kastil kita ini."

Aku terdiam, otakku berusaha mencerna. Lindenroth? Veridia? Aku yakin belum pernah mendengar nama-nama itu dalam pelajaran sejarah atau geografi mana pun. Suasana hati yang sebelumnya masih berharap ini hanya halusinasi atau mimpi buruk yang rumit, mulai digantikan oleh kecemasan yang lebih dalam.

"Oke, oke, tenang," gumamku pada diri sendiri, mencoba menenangkan kepanikan yang mulai merayap. "Coba jelaskan lagi, Eveline. Kadipaten Lindenroth ini berada di mana? Di benua apa? Apakah ada kerajaan yang lebih besar yang menguasai kadipaten ini?"

"Benua?" dia mengulangi kata itu seolah itu adalah konsep asing. "Kadipaten Lindenroth adalah bagian dari Kekaisaran Aethelgard. Kekaisaran terbesar di tanah tengah."

Aethelgard. Tanah Tengah. Kata-kata itu sama sekali asing di telingaku. Tidak ada dalam peta dunia mana pun yang pernah kulihat. Kepalaku pusing. Ini bukan sekadar terlempar ke masa lalu. Ini lebih dari itu.

"Eveline," kataku, suaraku serius. "Dengarkan baik-baik. Aku berasal dari tempat yang bernama Indonesia. Kotaku bernama Jakarta. Dunia yang kukenal memiliki benua seperti Asia, Eropa, Amerika. Negaranya ada Belanda, Inggris, Jepang, dan banyak lagi. Aku tidak pernah, tidak pernah, mendengar tentang Kekaisaran Aethelgard atau Kadipaten Lindenroth."

Untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, ekspresi di wajah Eveline berubah. Bukan emosi, tapi lebih seperti prosesor yang menerima data yang bertentangan dengan database-nya. Alisnya yang tipis berkerut sangat halus.

"Itu... tidak mungkin," ucapnya lambat. "Aethelgard adalah kekaisaran yang tak terbantahkan. Wilayahnya membentang dari pegunungan es di Utara hingga lautan berawan di Selatan. Semua orang tahu ini."

"Aku tidak," jawabku tegas. "Dan itu berarti satu hal." Aku menatapnya lekat-lekat, rasa ngeri dan takjuk bercampur menjadi satu. "Aku tidak hanya terlempar ke masa lalu. Aku terlempar ke... tempat yang sama sekali berbeda. Ke dunia yang mungkin bahkan bukan duniamu sendiri."

Kenyataan itu menghantamku seperti pukulan di ulu hati. Ini bukan soal kapan, tapi di mana. Aku benar-benar tersesat di dunia yang asing.

"Lalu..." Eveline sepertinya mencoba memahami. "Jika engkau bukan dari sini, dari mana engkau datang? Dan bagaimana engkau bisa memanggilku?"

"Itu pertanyaan yang bagus," kataku, mengusap wajah yang lelah. "Aku juga ingin tahu." Aku melihat sekeliling ruangan berdebu ini dengan pandangan baru. Ini bukan lagi sekadar rumah tua di Belanda. Ini adalah artefak dari sebuah dunia yang telah punah, atau mungkin, dunia yang selalu ada secara paralel.

"Kita butuh informasi lebih," ucapku, memutuskan untuk fokus pada hal yang praktis. "Mari kita jelajahi rumah ini. Mungkin ada peta, buku catatan, atau sesuatu yang bisa menjelaskan di mana tepatnya kita berada, dan apa yang terjadi pada kadipatenmu setelah... setelah kau tiada."

Eveline mengangguk patuh. "Aku akan menunjukkannya. Ikut aku."

Dia berbalik dan berjalan keluar dari kamar kecil itu, gaun biru tuanya nyaris tidak bersuara menyapu lantai berdebu. Aku mengikutinya, rasa penasaran dan ketakutan beradu di dalam dada. Masalah menganggur dan ditinggal mantan? Itu sudah seperti kehidupan dari masa lalu yang lain. Sekarang, aku harus bertahan hidup di dunia yang tidak kukenal, dengan satu-satunya penuntun adalah seorang putri bangsawan yang sudah mati dan bangkit kembali, yang bahkan tidak tahu apa itu Belanda.

Kami melangkah keluar dari kamar kecil itu, memasuki koridor utama rumah kayu yang luas. Setiap langkahku diikuti deritan lantai kayu yang seolah memprotes kehadiran kami. Debu beterbangan dalam sinar bulan pucat yang menyusup dari jendela-jendela kotor. Suasana sepi itu begitu pekat, hampir terasa fisik.

Eveline berjalan di depanku, gerakannya anggun namun kaku, seperti sebuah arloji antik yang masih berdetak tapi kehilangan jiwa. Matanya yang biru pucat menyapu sekeliling, mengenali setiap sudut tapi seolah melihat melalui bayangan masa lalu.

"Rumah ini... dahulu ramai," ujarnya tiba-tiba, suaranya beresonansi lembut di koridor yang sunyi. "Ada pelayan yang lalu lalang. Suara tertawa dari ruang keluarga. Sekarang..."

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Kefanaan tergambar jelas di setiap lapisan debu dan setiap sobekan pada wallpaper yang mulai mengelupas.

"Kemana kita menuju pertama?" tanyaku, memecahkan kesunyian.

"Perpustakaan ayah," jawabnya singkat. "Jika ada catatan atau peta, akan disana."

Dia memimpinku menyusuri koridor yang berkelok, melewati pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Aku sempat melirik ke dalam salah satu ruangan yang pintunya terbuka sedikit. Tempat tidur besar berkelambu, tapi seprainya berantakan dan penuh noda zaman. Cermin di atas meja rias retak, memantulkan bayanganku yang terdistorsi.

"Apa... apa tidak ada orang lain di sini? Setelah kau... setelah semuanya terjadi?" tanyaku penasaran.

"Tidak tahu," jawab Eveline tanpa menengok. "Aku sudah... tidak ada. Tapi sepertinya mereka pergi dengan tergesa-gesa. Lihat." Dia menunjuk sebuah vas pecah di sudut koridor, serta sebuah lukisan keluarga yang miring di dinding—lukisan yang sama yang kulihat pertama kali, dengan mata-mata yang seolah mengikutiku.

Aku menggigil. "Keluargamu?"

"Ya. Ayah, Ibu, dan kedua kakak laki-lakiku."

"Dan mereka meninggalkanmu sendirian saat sakit?" tanyaku, tak bisa menyembunyikan nada kesal.

"Itu keputusan yang tepat," ujarnya dengan datar, seperti membaca dari naskah. "Tuberculosis sangat menular. Lebih baik mengorbankan satu untuk menyelamatkan banyak."

Tapi kali ini, aku mendeteksi sesuatu yang sangat halus dalam nadanya. Sebuah getaran kecil. Seperti retakan kecil di permukaan es yang halus.

Sebelum aku bisa menanggapi, kami tiba di sepasang pintu kayu besar yang diukir dengan rumit. Eveline mendorongnya, dan pintu itu terbuka dengan perlahan, mengeluarkan suara berderit yang panjang.

Ruangan yang terbuka di hadapan kami begitu luas. Rak-rak buku dari lantai hingga langit-langit memenuhi dinding, penuh dengan volume-volume bersampul kulit yang tebal. Tapi kekacauan di sini bahkan lebih parah. Buku-buku berserakan di lantai, beberapa terbuka dan halamannya terinjak-injak. Sebuah globe dunia tergeletak di sudut, tapi peta di permukaannya sama sekali tidak kukenal—benua-benua dengan bentuk yang aneh dan asing.

"Anjing...", sumpah pelanku. Ini semakin mengkonfirmasi teoriku. Ini bukan Bumi yang kukenal.

Eveline berjalan menuju sebuah meja tulis besar di dekat jendela. Dia membuka laci-lacinya satu per satu. Kebanyakan kosong.

"Mereka mengambil dokumen penting," ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi..." Matanya tertuju pada sebuah laci kecil yang terkunci rapat di samping meja. Dia mengulurkan tangannya, dan dengan kekuatan yang tak terduga untuk sosok sekecil itu, dia mencabut pegangan laci itu langsung dari kayunya. Kayu pecah berderak.

Dari dalam lacinya, dia mengeluarkan sebuah buku kulit berukuran kecil, disampul dengan sederhana.

"Buku harian ayah," bisiknya. Dia membukanya, membalik halaman dengan tangan yang untuk pertama kalinya, terlihat sedikit gemetar. "Tentang... hari-hari terakhir."

Aku mendekat, ingin melihat. Tulisan di dalamnya rapi tapi terburu-buru, menggunakan bahasa yang sama asing yang diucapkan Eveline pertama kali. Tapi anehnya, begitu mataku menatapnya, aku bisa memahaminya. Seolah-olah ikatan yang sama yang memungkinkannya berbicara bahasaku, juga membantuku membaca bahasanya.

*Awal Musim Dingin\, Tahun Kekaisaran ke-1173.*

Wabah Paru Hitam semakin mendekat. Telah mencapai desa tetangga. Semua ketakutan.

Dan hari ini, dokter memastikan yang kutakutkan. Eveline, bunga kami, tertular.

Dewan Kadipaten memutuskan. Dia harus diisolasi. Di rumah musim panas di hutan. Untuk kebaikan kadipaten.

Dia menangis. Memohon. Tapi tidak ada pilihan. Aku... ayahnya... harus mengirimnya pergi untuk mati sendirian.

Tuhan ampuni aku.

Aku menarik napas dalam. Rasanya seperti mengintip ke dalam tragedi yang begitu personal dan menyakitkan. Eveline berdiri di sampingku, mataku tetap terpaku pada buku itu. Ekspresinya tetap datar, tapi tangannya yang memegang buku itu menegang.

"Dia... menulis ini," gumamnya. Sebuah pengakuan. Sebuah kenangan yang kembali, tapi tanpa perasaan yang seharusnya menyertainya.

"Eveline, aku..." Aku tak tahu harus berkata apa.

Dia membalik halaman lagi. Tulisan menjadi semakin tidak beraturan, penuh dengan keputusasaan.

Minggu keempat. Laporan dari penjaga mengatakan batuknya semakin parah. Dia tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Aku tidak bisa menahan diri. Aku mengunjunginya diam-diam. Melihatnya melalui jendela. Dia begitu kurus. Pucat. Tapi dia tersenyum padaku. Dia masih tersenyum...

Aku janji padanya. Aku akan kembali. Aku akan membawanya pulang.

Halaman terakhir. Tulisan hampir tidak terbaca, coretan tinta yang berantakan.

Dia pergi. Bunga kami telah layu. Penjaga melaporkan dia tidak lagi bergerak pagi ini.

Aku telah mengingkari janjiku. Aku tidak pernah kembali untuknya.

Kutukan untukku. Kutukan untuk Lindenroth. Semoga Tuhan tidak mengampuni kami.

Buku harian itu berakhir di sana.

Eveline menutup buku itu perlahan. Dia meletakkannya kembali di atas meja dengan hati-hati.

"Ayah... mencoba," ujarnya, suaranya masih datar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sebuah pemahaman. "Dia melihatku. Melalui jendela."

Dia berbalik menuju jendela perpustakaan yang besar, memandang keluar ke kegelapan hutan yang mengelilingi rumah ini.

"Aku ingat senyumnya. Aku ingat... janjinya."

Lalu, untuk pertama kalinya, sesuatu yang basah dan berkilat muncul di sudut matanya yang biru pucat. Sebuah tetesan. Jernih. Meluncur perlahan di pipinya yang pucat.

Itu bukan air mata kesedihan. Itu terlalu hampa untuk itu. Tapi itu adalah air mata. Sebuah respons fisik dari sebuah kenangan yang dalam, dari sebuah jiwa yang seharusnya sudah pergi namun terpanggil kembali.

Aku berdiri di sana, terdiam, menyaksikan keajaiban sekaligus tragedi ini. Seorang putri yang bangkit dari kematian, menangis untuk ayahnya yang telah lama menjadi debu, di sebuah dunia yang bukan milikku, terikat padaku karena sebuah celetukan bodoh.

Dan aku tahu, di saat itu, masalah besarku bukan lagi bagaimana pulang—tapi bagaimana bertahan di dunia baru ini, dengan wanita mayat hidup yang perlahan-lahan menunjukkan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada sisa-sisa manusia di dalam dirinya yang telah mati.

Aku menarik napas dalam, menatap buku harian usang yang masih terbuka di meja. Debu beterbangan dalam sinar bulan yang semakin redup. "Jadi... ayahmu adalah penguasa wilayah setingkat provinsi," gumamku, mencoba mencerna skala sebenarnya dari situasi ini. "Dan kau adalah putri tunggalnya."

Eveline mengangguk perlahan, tatapan kosongnya masih tertuju pada buku harian itu. "Ya. Sebelum wabah datang."

Luar biasa. Dari pengangguran di Jakarta yang paling ditakutkan adalah dimarahi debt collector, kini aku terjebak dalam drama politik kerajaan fantasi bersama putri mahkota yang bangkit dari kematian. Hidup memang tak bisa ditebak.

"Oke, paham. Situasinya... lebih rumit dari yang kukira," ujarku, mengusap pelipis yang mulai berdenyut. "Berarti celetukan bodohku itu bukan cuma membangkitkan seorang perempuan, tapi juga... calon pemimpin wilayah." Aku memandang Eveline yang masih berdiri kaku di dekat jendela. "Dan sekarang, kita harus memutuskan langkah selanjutnya."

Aku berjalan mondar-mandir di perpustakaan yang berantakan, kaki-kakiku menginjak buku-buku yang berserakan. "Aku orang asing di duniamu. Aku tidak tahu adat istiadat, politik, atau bahayanya. Tapi satu hal yang jelas," aku berhenti dan menatapnya, "kita tidak bisa terus tinggal di rumah kayu berdebu ini. Kita perlu informasi. Kita perlu tahu apa yang terjadi di luar sana, setelah... semuanya."

"Kau ingin pergi ke Veridia," ucap Eveline, bukan sebagai pertanyaan, tapi pernyataan.

"Ya. Ibu kota kadipatenmu. Di sanalah kita bisa mendapatkan jawaban." Aku menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. "Tapi aku tidak bisa hanya muncul begitu saja. Aku butuh... identitas. Cerita sampul. Dan kau..." Aku memandang gaun usangnya yang masih terlihat anggun. "Kau tidak bisa berjalan dengan tatapan kosong seperti boneka yang patah. Orang akan curiga."

Dia memiringkan kepalanya. "Aku bisa... menirunya. Berakting. Seperti yang kulakukan dulu di pesta-pesta istana."

"Bagus. Itu awal yang baik." Aku menghela napas, merasa seperti sedang mempersiapkan operasi intelejen lintas dimensi. "Dengarkan, Eveline. Mulai sekarang, kita perlu koordinasi. Jika ada orang, biarkan aku yang bicara dulu. Ikuti gayaku. Dan tolong... cobalah untuk terlihat... lebih hidup. Kurangi gerakan kaku seperti mayat yang baru bangkit."

"Aku paham." Dia mengangguk, lalu mencoba mengubah posturnya. Bahunya yang tadinya agak membungkuk, kini tegak. Tatapan kosongnya berusaha diisi dengan sedikit kedipan. Hasilnya masih agak menyeramkan, seperti aktor pemula yang terlalu berusaha, tapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

"Lumayan," gumamku. "Sekarang, kita butuh persiapan." Mataku menelusuri ruangan, mencari sesuatu yang bisa membantu. "Kita butuh peta. Dan... mungkin beberapa barang berharga yang bisa ditukar dengan uang atau informasi."

Eveline menunjuk ke sebuah lemari besi di sudut ruangan yang masih tertutup rapat. "Dokumen penting dan koin darurat. Ayah... selalu menyiapkannya."

Dengan kekuatan yang masih membuatku terkesima, Eveline membuka lemari besi itu. Isinya cukup membuatku tercengang. Beberapa kantong koin emas, perhiasan sederhana, dan—yang paling berharga—sebuah peta kadipaten Lindenroth yang masih cukup terawat.

"Bingo," desisku, membuka peta itu di atas meja.

Peta itu menunjukkan wilayah kadipaten yang luas. Veridia terletak di tengah, dengan sungai besar melintasinya. Rumah kayu tempat kami berada berada di pinggir Hutan Silverwood, sekitar dua hari perjalanan berkuda ke arah utara.

"Kita butuh kendaraan," ujarku, menyadari realitas transportasi dunia ini. "Atau setidaknya... tunggangan."

"Di kandang belakang," ujar Eveline. "Dulu ada beberapa kuda... Tapi setelah bertahun-tahun..."

Kami bergegas ke kandang. Suasana suram yang lebih buruk dari yang kubayangkan menyambut. Kandang itu sepi, hanya dihuni oleh kerangka-kerangka kuda yang berserakan. Bau busuk masih menyengat meski yang tersisa hanya tulang-belulang. Beberapa tengkorak kuda tampak menghadap ke pintu kandang, seolah masih menunggu penyelamat yang tak pernah datang.

"Astaga..." desisku, menutup hidung. "Mereka... terkunci di sini sampai mati kelaparan?"

Eveline berdiri kaku di sampingku. "Pelayan terakhir... pasti pergi begitu saja. Melupakan mereka." Suaranya datar, tapi ada sesuatu yang mengerikan dalam pernyataan faktual itu.

Aku memandang pemandangan mengerikan itu, merasa mual. Ini bukan lagi tentang kenyamanan perjalanan, tapi tentang kengerian yang terjadi di tempat ini. Keluarga bangsawan yang kabur, meninggalkan bukan hanya putri mereka, tapi juga makhluk-makhluk tak berdosa yang terkunci dalam kandang.

"Jalan kaki saja," ujarku pendek, memutuskan untuk segera meninggalkan pemandangan menyedihkan itu. "Tidak ada pilihan lain."

Beberapa jam berikutnya dihabiskan dengan mempersiapkan perjalanan darat. Aku, yang terbiasa dengan kemudahan ojek online dan taksi, kini harus memikirkan logistik berjalan kaki yang mungkin memakan waktu berhari-hari. Eveline membantu dengan efisien, tangannya yang indah dengan cekatan mengemas persediaan makanan kering yang masih bisa diselamatkan dari gudang.

"Siapa sangka, ternyata jadi orang mati punya skill bertahan hidup," candaku sambil mengikat kantong persediaan.

Eveline mengerutkan keningnya yang halus. "Aku... tidak mati. Tapi juga tidak hidup. Aku... ada di antara."

"Benar banget. Eh maaf," ucapku cepat. Humor adalah mekanisme pertahananku, tapi mungkin tidak tepat digunakan pada wanita yang secara teknis adalah zombie bangsawan.

Saat fajar menyingsing, kami sudah siap dengan ransel sederhana. Aku memandang sekali lagi ke rumah kayu tua itu, tempat dimana hidupku berbelok arah seratus delapan puluh derajat.

"Udah siap?" tanyaku pada Eveline yang berdiri tegak dengan ekspresi tenang yang cukup meyakinkan.

Dia mengangguk. "Aku siap."

"Oke. Ingat," pesanku sekali lagi, "aku yang bicara dulu. Ikuti gayaku. Dan... coba untuk sesekali tersenyum. Tapi jangan terlalu lebar, nanti seperti orang edan."

Dia mencoba melengkungkan bibirnya sedikit. Hasilnya adalah senyum tipis yang cantik, tapi masih terasa hampa dan agak mengerikan. Seperti boneka porcelain yang tersenyum.

"Cukup baik," gumamku, menarik napas dalam. "Ayo kita pergi."

Kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak keluar dari Hutan Silverwood, meninggalkan rumah kayu dan masa lalu yang penuh debu serta kematian. Langkah Eveline stabil dan tidak kenal lelah—tentu saja, sebagai mayat hidup, dia tidak perlu beristirahat seperti manusia biasa. Sementara kakiku sudah mulai protes setelah berjalan beberapa jam.

Di depan, kota Veridia dan segala misterinya menanti. Aku, orang asing dari dunia lain, dan seorang putri mayat hidup, memasuki panggung politik dan bahaya yang sama sekali asing—kini dengan perjalanan panjang di depan yang akan menguji ketahanan fisik dan mentalku.

Hidup di Jakarta yang hanya berurusan dengan tagihan dan mantan pacar tiba-tiba terasa seperti kemewahan. Sekarang, yang kuhadapi adalah pertaruhan yang jauh lebih besar: bertahan hidup di dunia yang bukan milikku, dengan sekutu yang mungkin adalah aset terbesar, atau kutukan terbesarku—dan semua itu harus kulakukan dengan berjalan kaki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!