NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Sosok Pejabat Agung Adiwangsa

Keheningan yang mencekam menyelimuti Istana Samudera Biru pasca runtuhnya Kaisar Baruna.

Meskipun matahari telah terbit dengan warna keemasan yang alami, rakyat jelata di pelabuhan dan pasar masih merasa gentar untuk mendekati komplek istana.

Sisa-sisa ingatan yang terkumpul saat jiwa mereka terhisap tempo hari masih membekas jelas.

Dalam keadaan setengah sadar sebagai sukma yang terperangkap, mereka melihat kekejian Baruna yang sebenarnya, saat bagaimana sang Kaisar tertawa di atas penderitaan rakyatnya demi memuja entitas kegelapan.

Wira dan Sekar memutuskan untuk menetap selama beberapa hari di istana yang kini kosong itu.

Mereka memilih tinggal di bagian paviliun yang paling tinggi, guna mengawasi stabilitas energi di seluruh kota sekaligus memberikan waktu bagi tubuh Wira untuk benar-benar pulih.

"Tempat ini terlalu luas, Sekar," gumam Wira sambil menyandarkan Siwa di pilar kristal yang kini telah kehilangan warna ungunya.

"Rasanya aneh melihat singgasana itu kosong, sementara di bawah sana rakyat sedang menunggu arah baru." lanjutnya dengan tatapan penyesalan.

Sekar yang sedang menyeduh teh herbal hanya mengangguk.

"Mereka butuh pemimpin, Wira. Kau tidak bisa membiarkan kerajaan ini tanpa kepala, atau kekacauan baru akan muncul dari perebutan kekuasaan nanti." jawab Sekar.

Namun, sebenarnya rahasia di balik istana itu belum sepenuhnya terungkap.

Saat Wira sedang bermeditasi untuk merasakan aliran energi bumi di sekitar palung bawah tanah tempatnya bertempur kemarin, ia merasakan getaran aneh di balik dinding kristal yang sempat hancur, sebuah getaran yang sangat tipis dan tertutup oleh sisa-sisa aura iblis kuno yang masih tertinggal.

"Ada seseorang di sana," bisik Wira.

Ia pun segera bangkit dan berjalan menuju ruang ritual bawah tanah.

Di balik dinding kristal yang retak, terdapat sebuah celah sempit yang mengarah ke sel penjara yang sangat rahasia.

Sel penjara itu dilapisi oleh segel penekan kultivasi tingkat tinggi yang terbuat dari baja hitam.

Dengan bantuan Siwa, Wira menghancurkan pintu sel tersebut dan di dalamnya ia menemukan seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki tatapan mata yang sangat teduh.

Pria itu tampak sangat lemah, tangannya terbelenggu rantai yang menyedot energinya secara konstan.

"Siapa kau, Paman?" tanya Wira sambil memutuskan rantai itu dengan sekali sentak.

Pria itu terbatuk pelan, berusaha mengatur napasnya.

"Aku... aku hanya seorang pelayan rakyat yang gagal, Tuan pendekar muda," jawab pria tua itu dengan lemas.

Tak lama kemudian, sekelompok prajurit pemberontak yang sebelumnya membantu Wira secara diam-diam masuk ke dalam ruangan.

Dan saat para prajurit melihat pria di dalam sel, pemimpin prajurit itu langsung bersujud dengan penuh hormat.

"Tuan Adiwangsa! Anda masih hidup!" teriak pemimpin prajurit itu dengan haru.

Ia kemudian menoleh ke arah Wira yang tampak bingung.

"Pendekar Wira, inilah orang yang kami cari-cari selama ini. Beliau adalah Pejabat Agung Adiwangsa. Beliau juga satu-satunya orang di lingkaran dalam kerajaan yang berani menentang Baruna secara terang-terangan." jelas pemimpin prajurit itu.

Prajurit itu menceritakan bahwa Adiwangsa adalah pendekar dengan tingkat kultivasi yang sangat tinggi, bisa di bilang sudah melewati batasan manusia, namun ia lebih memilih menggunakan kekuatannya untuk kepentingan rakyat.

Sebelum ditangkap, Adiwangsa sering menyusup ke ruang-ruang penyegelan jiwa untuk merusak segel penyerapan sukma secara diam-diam agar beban rakyat berkurang.

Sayangnya, tindakannya ketahuan oleh intelijen Baruna, membuatnya dipenjara di sel terdalam agar energinya bisa disempurnakan sebagai nutrisi bagi entitas kuno.

"Tuan Wira," ucap si pemimpin prajurit dengan tegas.

"Kami mewakili rakyat Samudera Biru memohon agar Anda menunjuk Tuan Adiwangsa sebagai Raja kami yang baru. Hanya beliau yang kami percayai." lanjut pemimpin prajurit itu.

Adiwangsa yang mulai pulih segera menggelengkan kepala dengan kuat. Ia berdiri dengan susah payah dan menatap Wira dengan rasa hormat yang mendalam.

Ia telah menyaksikan pertempuran Wira melalui getaran energi di balik dinding kristal kemarin.

"Tidak," ucap Adiwangsa dengan suara berat namun mantap.

"Aku tidak layak menjadi Raja. Orang yang telah menghancurkan kegelapan ini, orang yang telah mengembalikan cahaya matahari ke benua ini, dialah yang seharusnya bertahta. Tuan Pendekar Wira, mulai saat ini, kaulah Raja kami." lanjut Adiwangsa dengan tegas.

Wira langsung tersedak ludahnya sendiri. "Eh? Tunggu dulu, Paman! Aku ini pengembara. Aku tidak bisa duduk diam di kursi emas sambil mendengarkan keluhan pajak. Aku harus pergi untuk mencari sisa-sisa iblis di benua lain!" jawab Wira apa adanya.

Adiwangsa hanya tersenyum bijaksana.

"Aku tahu takdirmu lebih besar dari sekadar satu kerajaan. Maka dari itu, mari kita buat kesepakatan. Aku bersedia memimpin Samudera Biru, menjaga rakyat, dan membangun kembali benua ini di hadapan mata dunia. Tapi.. Aku hanya akan menjadi pelaksana tugasmu." jawab Adiwangsa dengan pintar.

Ia kemudian mendadak bersujud di depan Wira, dan langsung diikuti oleh seluruh prajurit yang ada.

"Namun dengan satu syarat Tuan, yaitu di hadapan hukum langit dan bumi, Tuan Wira adalah Kaisar sejati Samudera Biru. Kerajaan ini akan menjadi wilayah kedaulatanmu, tunduk pada perintahmu kapan pun kau kembali. Aku hanya akan menjadi tanganmu yang menjaga rumah ini saat kau pergi." ucap Adiwangsa kembali dengan bijak.

Wira pun hanya mampu menghela napas panjang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melirik Sekar yang hanya menahan tawa melihat Wira yang tampak kaku.

"Hmmm.. Ya sudah, ya sudah... Jika itu satu-satunya cara agar tempat ini tidak kacau, aku setujui saja," ucap Wira pasrah.

"Tapi ingat Paman, jangan panggil aku Kaisar jika kita hanya berdua. Panggil saja Wira. Aku merasa seperti ubi yang terlalu lama direbus kalau dipanggil dengan sebutan formal begitu, Hihihi..." lanjut Wira dengan sedikit candaan.

Adiwangsa tertawa kecil. "Sesuai keinginanmu, Gusti Kaisar."

Hari-hari berikutnya diisi dengan restrukturisasi besar-besaran.

Di bawah komando Adiwangsa, pengaruh Ayodya Pala pun juga mulai masuk untuk membantu pemulihan ekonomi dan stabilitas.

Samudera Biru kini secara resmi menjadi sekutu tererat Ayodya Pala di bawah bayang-bayang kepemimpinan Wira.

Pada malam terakhir sebelum keberangkatan mereka, Wira duduk di balkon istana, menatap laut lepas yang tenang.

Di tangannya terdapat peta kuno yang di berikan oleh Adiwangsa.

Peta kuno itu sudah di tandai oleh Adiwangsa, sebuah tanda koordinat benua-benua lain yang kemungkinan dikabarkan mulai mengalami gejala serupa dengan Majapatih dan Samudera Biru.

"Apa kau siap, Wira?" tanya Sekar yang muncul dari balik pintu, sudah mengenakan pakaian pengembaranya yang lengkap.

"Aku siap. Tapi perasaanku tidak enak, Sekar," jawab Wira serius.

"Guru pernah bilang bumi adalah target selanjutnya. Aku merasa Kalingga dan Baruna hanyalah permulaan. Masih ada kekuatan besar yang sedang menanam benih di benua lain." lanjut Wira dengan tatapan khawatir.

"Bocah, kau benar," suara Siwa menyela.

"Aku merasakan getaran panas dari arah barat. Seperti panas belerang yang haus akan darah." lanjut Siwa serius.

Wira pun langsung berdiri, mengikatkan Siwa di punggungnya. Ia merasa beban di pundaknya semakin berat, namun tekadnya juga semakin mengeras.

Dengan mengamankan kerajaan demi kerajaan, ia sedang membangun jaringan pertahanan bumi. Jika suatu saat entitas kuno dari dunia atas benar-benar turun secara fisik, bumi tidak akan lagi menjadi mangsa yang mudah.

"Ayo, Sekar. Mari kita bersihkan dunia ini sebelum kegelapan yang sesungguhnya datang mengetuk pintu," ucap Wira.

Mereka berdua segera melompat dari balkon istana, dan melesat terbang mendarat dengan ringan di dermaga rahasia di mana sebuah kapal kecil telah menunggu.

Di dermaga itu, Adiwangsa berdiri memberikan penghormatan terakhir secara diam-diam.

"Pergilah, Gusti Kaisar, Samudera Biru akan selalu menanti kepulangan rajanya," bisik Adiwangsa dalam doa.

Wasa pun mengangguk pelan, menatap Adiwangsa dengan serius.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!