"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Happy reading<<<<<<<<
"Sialan, apa yang gadis itu perbuat di dalam?" batin Alvian kesal dan menendang pintu kamar Imlie.
"Hiks..hiks...." Imlie masih terus menangis dan memeluk tubuhnya sendiri.
Tak lama terdengar suara kamar mandi yang di buka dan seseorang yang membuka pintu kamar mandi itu langsung masuk dan membawa Imlie ke dalam pelukannya memeluk memberi kehangatan pada gadis itu.
"Shuuuutt... Ada Gue Sayang." mendengar suara Pria yang sangat dia kenal itu. Membuat Imlie langsung menghaburkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat Pria itu.
"K-ak." lirih Imlie sedangkan Aryan mengepalkan tangannya melihat cucur tajam dan tangan gadisnya yang sudah terluka sangat dalam. Dia tau pasti gadisnya yang melukai dirinya sendiri.
"Sialan." batin Aryan kemudian mengecup kening gadis itu dan menggendongnya membawanya ke dalam kamar.
"Hikss..hiksss. Sakit Kak." lirih Imlie dan Aryan mengeratkan pelukan itu.
"Sayaang." gumam Aryan tidak tega melihat gadisnya hancur seperti ini.
"Udah ya, ganti baju dulu ya.. Nanti sakit, hmm." ujar Aryan dan Imlie hanya diam.
"Mau Gue bantuin, hmm?" tanya Aryan di saat seperti ini masih saja menggoda Imlie.
"Nggak." jawab Imlie pelan dan pergi menuju walk in closet kemudian mengganti pakaiannya.
Aryan pun kembali membawa gadis rapuhnya ke dalam pelukan hangatnya.
"Maafin Gue." gumam Aryan memberikan usapan kasih sayang di kepala gadisnya.
"Gue bakal balas mereka." ujar Aryan tajam dan Imlie menggeleng.
"Jangan, kalau Kakak lukain keluarga Aku, Aku juga ikut hancur Kak." ujar Imlie, Aryan tak habis pikir dengan hati Gadisnya yang sangat baik ini. Sudah di sakiti berkali kali tapi masih saja melindungi orang yang menyakitinya.
"Imlie, jangan bodoh. Mereka sudah terlalu jauh melukai Lo Sayang." ujar Aryan geram.
"Nggak Kak, Aku terima semua ini.. Biarkan mereka melampiaskan kesedihan mereka dengan melukai Aku Kak. Walaupun Aku tidak berguna dan tidak di butuhkan di keluarga mereka. Setidaknya Aku berguna menjadi tempat pelampiasan kesedihan mereka." ujar Imlie dan Aryan menatap senduh gadisnya ini.
"Lo gadis yang baik.. Setulus itu Hati Lo." ujar Aryan dan mengecup kening Imlie.
Karena terlalu larut dalam obrolan mereka. Aryan baru ingat soal lukanya Imlie. dia mengangkat tangan yang penuh dengan luka sayatan itu. Kemudian mengecup luka yang masih basah itu.
"Ini terakhir kalinnya Gue lihat Lo lukain diri Lo sendiri." ujar Aryan dan mengambil P3K kemudian mengobati tangan gadisnya ini.
"Nggak akan Kak, karena ini satu satunya cara biar hati Gue plong dan dada Gue nggak sesek lagi." batin Imlie. Imlie tidak tau dia mengalami Self-harm. Di mana ini adalah kondisi melukai diri sendiri di saat sedang frustasi. Dan Imlie juga tidak sadar jika dia mengalami sakit mental dan depresi yang luar biasa. Tapi, dia menutupinya dengan keceriaan di wajahnya.
Aryan sendiri masih setia menemani Imlie dengan Imlie yang menyandarkan kepalanya di pundak Aryan. Tak lama dari itu bunyi notifikasi masuk ke hpnya.
Alfan>>>>>>>
"Aryan, boleh Om minta tolong. Tong temani Viona, dia sendiri di rumah. Tadi dia telefon sambil nangis nangis Nak. Om mimta bantuannya ya."
Aryan membaca pesan yang di kirimkan oleh Papanya Viona. Mengetahui jika Viona menangis di rumahnya. Aryan langsung khawatir. Dia langsung berdiri dengan cepat.
"Kak." kaget Imlie.
"Sorry Li, Gue pergi dulu." pamit Aryan.
"Tapi Kak, Aku masih butuh Kakak di sini.. Pliss kali ini ajaaa." mohon Imlie.
"Imlie ngertiin Gue ya.... Sekarang Lo udah baik baik aja.. Tapi, Viona lagi nangis nangis di rumahnya Li dan Gue harus pergi." ujar Aryan.
"Baiklah. Memang dia lebih penting kan dari pada Gue." lanjut Imlie dalam hati.
"Thanks Sayang!! Gue pergi dulu.. habis ini langsung tidur ya." ujar Aryan mengusap kepala Imlie dan mengecup kening gadisnya.
"Besok Gue jemput ya." ujar Aryan.
"Nggak usah janji Kak..kalau ujung ujungnya....."
"Shuut, Gue janji Sayang." potong Aryan kemudian keluar melalui balkon.
"Lo memang peduli sama Gue, tapi di bandingkan Gue rasa peduli Lo ke Viona lebih besar." batin Imlie tersenyum getir. Kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dan tertidur di sana Imlie tidur tanpa tau waktu hingga malam tiba pintu kamarnya digedor dari luar.
"ANAK SIALAN. MAU SAMPAI KAPAN KAMU DI DALAM HAH? SAYA SUDAH CUKUP SABAR DENGAN MENUNGGU MU UNTUK KELUAR DARI KAMAR INI. DAN KAU MALAH ASYIK ASYIKAN TIDUR DI DALAM SANA. CEPAT KELUAR...KAMU HARUS MENDAPATKAN HUKUMAN KARENA MEMBUAT KELUARGA SAYA MALU DI DEPAN ADIK SAYA SENDIRI." teriak Pak Mahen dari luar. Imlie dengan susah payah membuka pintu itu.
PLAK
"Jangan sok mengurungkan diri untuk mendapatkan simpati Saya sialan." bentak Pak Mahen dan Imlie meringis mendapatkan tamparan itu.
"Maaf Pa." lirih Imlie.
"Sini Kamu.." tarik Pak Mahen dan menarik tangannya Imlie yang sedang terluka. Untuk lengan bajunya Imlie panjang jadi mereka tidak melihat luka Imlie yang di perban.
"Ssssssh Pa. Sakiiit." lirih Imlie pergelangan tangannya sangat sakit dan tak lama lengan bajunya berwarna merah tepat di atas lukanya. Karena remasan dan tarikan dari Pak Mahen sangat kuat
Brak
"SENGAJA KAMU MENCURI PERHATIAN ADIK SAYA. BIAR DIA MELAWAN SAYA HAH? ANAK PEMBAWA SIAL.. SUDAH MENGHANCURKAM KELUARGA INI. KAMU BERNIAT MENGHANCURKAN HUBUNGAN SAYA DENGAN ADIK SAYA SENDIRI HAH." marah Pak Mahen setelah melempar Imlie di lantai.
"Pa.. Bukan begitu Paa.. Aku cuman senang aja Om da......
Plak
"Dasar anak kurang belaian kasih Sayang. Segitu inginnkan Kamu di sayang, hah? Sampai rela menghancurkan hubungan Kami dengan Adik Kami sendiri hah? Tidak cukup Kamu membuat keluarga ini menderita hah?" kali Ini Buk Melani yang menampar serta membentak Putrinya.
"Hiksss... Nggak Ma itu tidak benar.. Aku Aku cuman......"
"SIALAN IKUT SAYAAAA." marah Pak Mahen dan menarik Imlie ke arah gudang belakang.
"Pa.. Aku mau di bawah kemana Pa." ujar Imlie merasakan sakit yang luar biasa di tangannya. Darah kental sudah menetes sepanjang jalan sampai ke depan gudang.
"Masuk, dan renungkan kesalahan Kamu." ujar Pak Mahen dengan tidak berperasaanya mendorong Putrinya ke dalam gudang yang gelap kemudian mengunci Pintu itu.
"Sampai besok Kamu akan berada di sini." ujar Pak Mahen dan pergi dari sana.
"HIKSS PAAA.. BUKA PAAA AKU TAKUT PAAA. PAPAA BUKAAAA.. AKU MOHON PAAA. HIKSSS." teriak Imlie yang memang takut kegelapan.
"Loh Pa.. Tangan Papa berdarah?" tanya Lolita yang melihat banyak darah di tangan Papanya. Kemudian keempat anggota keluarga itu menatap lantai yang terdapat banyak tetesan darah yang menuju gudang.
"Ck, Pasti darah milik Anak sialan itu.. Bik cepat obati lukanya karena Saya tidak mau anak itu
kehabisan darah dan menyusahkan keluarga ini lagi. Ingat! Jangan memberinya makan atau Saya akan memecat mu." ancam Pak Mahen.
"Baik Tuan." ujar Bik Pipit.
Alvian hanya menatap nanar darah yang menetes begitu banyak dan Viona tersenyum sinis. Setelah mereka semua pergi kini Alvian pergi mengikuti Bik Pipit dan Bik Ajeng yang membuka pintu gudang.
"Biar Saya yang mengobatinya." ujar Alvian dan mengambil kotak P3K itu.
"Baik den." jawab mereka kemudian Alvian masuk dan hatinya sedikit merasa sesak melihat kondisi Imlie yang duduk memeluk tubuhnya di pojokan sambil terisak kacau.
"Siniin tangan Lo." ujar Alvian dingin Imlie hanya bergeming tak menghiraukan perkataan Alvian.
Alvia mendengus kesal karena tidak mendapatkan respon dari Imlie.
"Siniin tangan Lo sialan." bentak Aryan dan menarik paksa tangan Imlie. Tapi, Imlie menahannya.
"Nggak, jangan bantu Aku Kak. Jangan." tolak Imlie membuat Alvian marah dan menghempaskan tangan gadis itu.
"Terserah." ujar Alvian yang kembali emosi padahal tadi dia berjanji untuk menahan emosinya tetapi jika melihat wajahnya Imlie dia selalu emosi terus.
"Agar jika Aku sudah lelah tidak ada alasan untuk Aku tetap bertahan." lirih Imlie yang dia maksud adalah agar Alvian tidak memperhatikannya agar di saat dia akan pergi tidak ada alasan untuk menahannya tetap bertahan karena harapan kecil yang di berikan Alvian.
Brugh
"Terserah.. Dan Lo mau mati pun Gue nggak peduli." ujar Alvian melempar sembarangan kotak P3K itu. dan kemudian pergi dari gudang menuju kamarnya.
"Sialan, kenapa Gue kelepasaan." frustasi Alvian mengingat wajah hancurnya Imlie.
"Pergi dari pikiran Gue pembunuh." teriak Alvian mencoba membuat menghilangkan wajah Imlie dari ingatannya.
"Apa luka yang dia dapat sudah terlalu dalam sehingga dia berfikir sepeerti itu." batin Alvian.