Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Upah Kerja
Bu Rika mengangguk. “Iya, Den. Sudah ke sana-sini. Katanya banyak yang nolak. Saya lihat dia sering diem, tapi saya tahu dia capek.”
Krisna mengalihkan pandang. Ada senyum getir yang muncul, cepat dan pahit.
“Iya,” katanya lirih. “Saya juga melihatnya.”
Bu Rika menoleh, ragu. “Den …?”
“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Krisna, lalu kembali tersenyum kecil. “Soal kaca itu … nanti saja kita bicarakan.”
Bu Rika menahan napas. “Den Krisna—”
“Nanti,” ulang Krisna lembut, tapi tegas.
Ia berdiri, merapikan tas medisnya. “Yang penting sekarang Bu Rika istirahat, fokus pemulihan kesehatan. Jangan kerja dulu untuk beberapa hari. Kalau perlu apa-apa atau belum ada perkembangan signifikan, kabari.”
Bu Rika mencoba bangun. “Den, terima kasih sekali. Saya—”
“Jangan bangun, Bu,” kata Krisna cepat. “Istirahat.”
Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sebentar. “Bu Rika.”
“Iya, Den?”
“Tolong sampaikan ke Raisa … terima kasih sudah membantu menjaga Ezio hari ini.”
Bu Rika terkejut, lalu tersenyum kecil. “Iya, Den. Nanti akan saya sampaikan.”
Krisna mengangguk. “Kalau begitu saya pamit. Semoga lekas sehat.”
Ia keluar, menutup pintu pelan.
Di luar, senja hampir tenggelam. Krisna mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju perlahan. Jalan desa terasa berbeda kali ini—lebih sunyi, lebih berat.
Di benaknya, wajah Raisa muncul lagi. Cara gadis itu menahan marah. Cara ia menggendong Ezio tanpa pamrih. Cara ia berdiri tegak ketika merasa direndahkan.
“Cari kerja,” gumam Krisna pelan di balik helm.
Ia berhenti sejenak di tikungan, mematikan mesin. Napasnya keluar berat. Ada sesuatu yang mulai tersusun di kepalanya—bukan rencana klinik, bukan jadwal kerja.
Keputusan.
Sementara itu, di rumah Pak Wijaya, Raisa duduk di kamar tamu dengan Ezio sembari menyuapi. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul lima sore.
Ia menatap wajah kecil itu lama. Ada rasa sayang yang tumbuh tanpa izin—dan ketakutan yang mengikutinya.
“Jam enam nanti aku pulang,” bisiknya pada diri sendiri. “Cuma hari ini saja aku gantiin ibu.”
Langkah kaki terdengar mendekat. Bu Lita masuk, membawa segelas air.
“Kamu haus?” tanyanya.
Raisa mengangguk. “Sedikit, Bu.”
Bu Lita menyerahkan gelas, lalu duduk di kursi. “Krisna tadi keluar.”
“Oh,” Raisa menanggapi singkat.
“Dia ke rumah ibumu,” lanjut Bu Lita.
Raisa tersentak. “Ke rumah Mak?”
“Ya. Ngecek kondisi Ibu kamu.”
Raisa menelan ludah. “Mak saya gimana?”
“Tadi pas Ibu telepon, katanya ibumu perlu istirahat,” jawab Bu Lita lembut. “Kamu jangan khawatir.”
Raisa menghela napas lega. “Syukurlah.”
Bu Lita menatap Raisa lama, lalu berkata pelan, “Kamu tahu, Raisa … tidak semua orang mau repot datang ke rumah orang lain tanpa diminta.”
Raisa menunduk. “Mungkin karena dia dokter, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu.”
“Mungkin,” kata Bu Lita. “Atau mungkin karena dia sedang belajar.”
Raisa tidak menjawab. Ia kembali menyuapi Ezio, pelan.
Jam enam semakin dekat. Raisa menatap pintu, seolah menghitung detik untuk pulang—dan seolah ada sesuatu yang menahannya.
Di luar, motor Krisna kembali memasuki halaman rumah. Ia turun, wajahnya tenang tapi matanya penuh pikiran.
Langkah mereka akan berpotongan lagi.
Bukan sebagai majikan dan anak ART.
Bukan sebagai dokter dan pasien.
Tapi sebagai dua manusia yang sama-sama sedang mencari pijakan—di desa kecil yang terlalu jujur untuk menyembunyikan apa pun.
***
Jam dinding di kamar tamu menunjukkan tepat pukul enam sore.
Cahaya senja menyelinap melalui sela tirai, menumpahkan warna jingga lembut ke dinding. Baby Ezio tertidur pulas di ranjang kecil setelah dimandikan dan menghabiskan MPASI-nya tanpa drama—pipinya merah muda, napasnya teratur, tangannya mengepal kecil di dekat wajah.
Raisa berdiri di samping ranjang, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari.
“Tidur yang nyenyak, ya, De,” bisiknya pelan. “Besok jangan rewel.”
Ia tersenyum kecil, lalu merapikan selimut tipis itu sebelum melangkah keluar kamar.
Di ruang tengah, Bu Lita sedang berbincang dengan beberapa ibu yang membantu persiapan acara malam nanti. Begitu melihat Raisa datang, Bu Lita langsung menghentikan pembicaraan.
“Raisa,” panggilnya hangat.
Raisa mendekat, menunduk sopan. “Bu, saya mau pamit pulang. Sudah jam enam.”
Bu Lita tersenyum lebar. “Iya, iya. Terima kasih sekali hari ini.”
Raisa menggeleng cepat. “Sama-sama, Bu.”
Bu Lita meraih dompet kecil dari meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. Ia menyerahkannya pada Raisa.
“Ini untuk kamu. Enam puluh ribu,” katanya tegas, seolah tidak menerima penolakan.
Raisa membelalak. “Bu—”
“Terima saja,” potong Bu Lita lembut. “Kamu sudah bekerja hari ini.”
Tangan Raisa gemetar saat menerima uang itu. Enam puluh ribu. Angka yang bagi sebagian orang mungkin kecil—tapi bagi Raisa, terasa besar.
Begini ya rasanya dapat upah kerja, batinnya, dada mendadak terasa hangat.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Bu Lita sudah menyodorkan sebuah rantang bertingkat.
“Ini buat dibawa pulang,” katanya. “Buat makan malam kalian.”
Raisa menelan ludah. “Bu, saya jadi nggak enak.”
Bu Lita tersenyum. “Kalau kamu nggak ambil, Ibu yang nggak enak.”
Akhirnya Raisa tersenyum lebar, senyum yang tulus dan sulit disembunyikan. Ia menggenggam uang itu erat-erat, lalu menunduk dan mencium punggung tangan Bu Lita dengan penuh hormat.
“Terima kasih banyak, Bu,” ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar.
Bu Lita menepuk bahunya. “Hati-hati di jalan.”
Raisa lalu berpamitan pada Bik Sum dan ibu-ibu lainnya. Senyum sumringah tak lepas dari wajahnya. Langkahnya ringan saat ia keluar rumah, seakan dunia hari itu terasa sedikit lebih ramah.
Di halaman, sepeda tuanya menunggu. Raisa meletakkan rantang dengan hati-hati di keranjang depan, memasukkan uang ke saku celana, lalu mengayuh pergi tanpa menoleh lagi.
Ia tidak menyadari ada seseorang berdiri di balik jendela ruang kerja, memperhatikannya.
Krisna.
Ia baru saja kembali ke rumah beberapa menit lalu. Saat melihat Raisa keluar dengan senyum cerah dan langkah cepat, ia refleks hendak memanggil—tapi urung. Gadis itu sudah melaju, rambutnya tertiup angin sore, sepeda tuanya berderit pelan di jalan desa.
Krisna mengembuskan napas panjang.
“Dia bahkan nggak lihat aku,” gumamnya pelan.
Atau mungkin … Raisa sengaja tidak melihat.
Krisna berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik. Di dalam dirinya ada perasaan aneh—bukan kecewa, bukan marah—lebih seperti kehilangan momen kecil yang tak sempat diucapkan.
Di jalan desa, Raisa mengayuh sepeda dengan hati ringan. Angin sore menyapu wajahnya, membawa bau tanah dan rumput basah.
“Alhamdulillah,” gumamnya dengan senyum lebar. “Untuk rezeki hari ini.”
Ia mengayuh lebih cepat, seolah takut kebahagiaan itu menguap kalau ia melambat.
Bersambung ... ✍️
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊