NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:246.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Upah Kerja

Bu Rika mengangguk. “Iya, Den. Sudah ke sana-sini. Katanya banyak yang nolak. Saya lihat dia sering diem, tapi saya tahu dia capek.”

Krisna mengalihkan pandang. Ada senyum getir yang muncul, cepat dan pahit.

“Iya,” katanya lirih. “Saya juga melihatnya.”

Bu Rika menoleh, ragu. “Den …?”

“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Krisna, lalu kembali tersenyum kecil. “Soal kaca itu … nanti saja kita bicarakan.”

Bu Rika menahan napas. “Den Krisna—”

“Nanti,” ulang Krisna lembut, tapi tegas.

Ia berdiri, merapikan tas medisnya. “Yang penting sekarang Bu Rika istirahat, fokus pemulihan kesehatan. Jangan kerja dulu untuk beberapa hari. Kalau perlu apa-apa atau belum ada perkembangan signifikan, kabari.”

Bu Rika mencoba bangun. “Den, terima kasih sekali. Saya—”

“Jangan bangun, Bu,” kata Krisna cepat. “Istirahat.”

Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sebentar. “Bu Rika.”

“Iya, Den?”

“Tolong sampaikan ke Raisa … terima kasih sudah membantu menjaga Ezio hari ini.”

Bu Rika terkejut, lalu tersenyum kecil. “Iya, Den. Nanti akan saya sampaikan.”

Krisna mengangguk. “Kalau begitu saya pamit. Semoga lekas sehat.”

Ia keluar, menutup pintu pelan.

Di luar, senja hampir tenggelam. Krisna mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju perlahan. Jalan desa terasa berbeda kali ini—lebih sunyi, lebih berat.

Di benaknya, wajah Raisa muncul lagi. Cara gadis itu menahan marah. Cara ia menggendong Ezio tanpa pamrih. Cara ia berdiri tegak ketika merasa direndahkan.

“Cari kerja,” gumam Krisna pelan di balik helm.

Ia berhenti sejenak di tikungan, mematikan mesin. Napasnya keluar berat. Ada sesuatu yang mulai tersusun di kepalanya—bukan rencana klinik, bukan jadwal kerja.

Keputusan.

Sementara itu, di rumah Pak Wijaya, Raisa duduk di kamar tamu dengan Ezio sembari menyuapi. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul lima sore.

Ia menatap wajah kecil itu lama. Ada rasa sayang yang tumbuh tanpa izin—dan ketakutan yang mengikutinya.

“Jam enam nanti aku pulang,” bisiknya pada diri sendiri. “Cuma hari ini saja aku gantiin ibu.”

Langkah kaki terdengar mendekat. Bu Lita masuk, membawa segelas air.

“Kamu haus?” tanyanya.

Raisa mengangguk. “Sedikit, Bu.”

Bu Lita menyerahkan gelas, lalu duduk di kursi. “Krisna tadi keluar.”

“Oh,” Raisa menanggapi singkat.

“Dia ke rumah ibumu,” lanjut Bu Lita.

Raisa tersentak. “Ke rumah Mak?”

“Ya. Ngecek kondisi Ibu kamu.”

Raisa menelan ludah. “Mak saya gimana?”

“Tadi pas Ibu telepon, katanya ibumu perlu istirahat,” jawab Bu Lita lembut. “Kamu jangan khawatir.”

Raisa menghela napas lega. “Syukurlah.”

Bu Lita menatap Raisa lama, lalu berkata pelan, “Kamu tahu, Raisa … tidak semua orang mau repot datang ke rumah orang lain tanpa diminta.”

Raisa menunduk. “Mungkin karena dia dokter, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu.”

“Mungkin,” kata Bu Lita. “Atau mungkin karena dia sedang belajar.”

Raisa tidak menjawab. Ia kembali menyuapi Ezio, pelan.

Jam enam semakin dekat. Raisa menatap pintu, seolah menghitung detik untuk pulang—dan seolah ada sesuatu yang menahannya.

Di luar, motor Krisna kembali memasuki halaman rumah. Ia turun, wajahnya tenang tapi matanya penuh pikiran.

Langkah mereka akan berpotongan lagi.

Bukan sebagai majikan dan anak ART.

Bukan sebagai dokter dan pasien.

Tapi sebagai dua manusia yang sama-sama sedang mencari pijakan—di desa kecil yang terlalu jujur untuk menyembunyikan apa pun.

***

Jam dinding di kamar tamu menunjukkan tepat pukul enam sore.

Cahaya senja menyelinap melalui sela tirai, menumpahkan warna jingga lembut ke dinding. Baby Ezio tertidur pulas di ranjang kecil setelah dimandikan dan menghabiskan MPASI-nya tanpa drama—pipinya merah muda, napasnya teratur, tangannya mengepal kecil di dekat wajah.

Raisa berdiri di samping ranjang, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari.

“Tidur yang nyenyak, ya, De,” bisiknya pelan. “Besok jangan rewel.”

Ia tersenyum kecil, lalu merapikan selimut tipis itu sebelum melangkah keluar kamar.

Di ruang tengah, Bu Lita sedang berbincang dengan beberapa ibu yang membantu persiapan acara malam nanti. Begitu melihat Raisa datang, Bu Lita langsung menghentikan pembicaraan.

“Raisa,” panggilnya hangat.

Raisa mendekat, menunduk sopan. “Bu, saya mau pamit pulang. Sudah jam enam.”

Bu Lita tersenyum lebar. “Iya, iya. Terima kasih sekali hari ini.”

Raisa menggeleng cepat. “Sama-sama, Bu.”

Bu Lita meraih dompet kecil dari meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. Ia menyerahkannya pada Raisa.

“Ini untuk kamu. Enam puluh ribu,” katanya tegas, seolah tidak menerima penolakan.

Raisa membelalak. “Bu—”

“Terima saja,” potong Bu Lita lembut. “Kamu sudah bekerja hari ini.”

Tangan Raisa gemetar saat menerima uang itu. Enam puluh ribu. Angka yang bagi sebagian orang mungkin kecil—tapi bagi Raisa, terasa besar.

Begini ya rasanya dapat upah kerja, batinnya, dada mendadak terasa hangat.

Belum sempat ia berkata apa-apa, Bu Lita sudah menyodorkan sebuah rantang bertingkat.

“Ini buat dibawa pulang,” katanya. “Buat makan malam kalian.”

Raisa menelan ludah. “Bu, saya jadi nggak enak.”

Bu Lita tersenyum. “Kalau kamu nggak ambil, Ibu yang nggak enak.”

Akhirnya Raisa tersenyum lebar, senyum yang tulus dan sulit disembunyikan. Ia menggenggam uang itu erat-erat, lalu menunduk dan mencium punggung tangan Bu Lita dengan penuh hormat.

“Terima kasih banyak, Bu,” ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar.

Bu Lita menepuk bahunya. “Hati-hati di jalan.”

Raisa lalu berpamitan pada Bik Sum dan ibu-ibu lainnya. Senyum sumringah tak lepas dari wajahnya. Langkahnya ringan saat ia keluar rumah, seakan dunia hari itu terasa sedikit lebih ramah.

Di halaman, sepeda tuanya menunggu. Raisa meletakkan rantang dengan hati-hati di keranjang depan, memasukkan uang ke saku celana, lalu mengayuh pergi tanpa menoleh lagi.

Ia tidak menyadari ada seseorang berdiri di balik jendela ruang kerja, memperhatikannya.

Krisna.

Ia baru saja kembali ke rumah beberapa menit lalu. Saat melihat Raisa keluar dengan senyum cerah dan langkah cepat, ia refleks hendak memanggil—tapi urung. Gadis itu sudah melaju, rambutnya tertiup angin sore, sepeda tuanya berderit pelan di jalan desa.

Krisna mengembuskan napas panjang.

“Dia bahkan nggak lihat aku,” gumamnya pelan.

Atau mungkin … Raisa sengaja tidak melihat.

Krisna berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik. Di dalam dirinya ada perasaan aneh—bukan kecewa, bukan marah—lebih seperti kehilangan momen kecil yang tak sempat diucapkan.

Di jalan desa, Raisa mengayuh sepeda dengan hati ringan. Angin sore menyapu wajahnya, membawa bau tanah dan rumput basah.

“Alhamdulillah,” gumamnya dengan senyum lebar. “Untuk rezeki hari ini.”

Ia mengayuh lebih cepat, seolah takut kebahagiaan itu menguap kalau ia melambat.

Bersambung ... ✍️

1
Mulaini
Raisa memang aneh tuh si Krisna pingin di hentikan biar gak ketemu sama tamunya sama kamu hehehe...
nesha
lena kalah saing lagi 🤣🤣
nesha
ho’o benar bgtt 😂😂😂
kaylla salsabella
🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺 yeyeye... makan nasi goreng😚😚😚
Mommy El
O, berarti Lena sudah tahu banget dg seluk beluk nya si Wirda.
Takut aja Lena kerjasama dg Wirda untuk menyerang Raisa. Walaupun mereka punya misi yang sama untuk mendapatkan cinta Krisna. Bakal rame ini konfliknya,,, Ezio bantuin kak Raisa ya. TOS dulu kita Dek Ezio.🫸🫷🍻
Puput Assyfa
karena tamu tak di undang ini pak dokter ini bukan yg sreg di hatinya makanya mukanya asem n kayak ngajak perang tegang
Henry Cavill
kalo ketemu Wirda mimik wajahnya seperti mau perang kalo ketemu Lena mimik wajahnya berubah seperti mau berak🤣🤣🤣🤣
.
karna tamu yg tidak di harapkan jadi bawaannya males
Hearty💕💕
Suka dengan gambar²nya
Heni Mulyani
lanjut
Nar Sih
karena tamu yg ngk di undang yg dtg jls mas dokter mls😂😂
Hearty💕💕
Menarik..... semoga ada pelajaran yang besar untuk ke 2 nya
Hearty💕💕
Makanya jangan keras kepala..... empati
Naufal Affiq
tamu nya mas krisna gak sesuai ke inginan raisa,makanya wajah nya mau perang,
Hearty💕💕
Raisa bilang dong kesempatan kerja saya jadi gagal.....
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Kar Genjreng
Tau saja Rai Dirimu ya itu karena tamunya tidak amanah 😇 jadi gae sebel Mas Dokter mu Rai makanya di kasih jangan keluar karena Wirda akan melihat Mu dan akan cemburu. padahal Raisa nya cuek abis bodo amir ya Rai,,,,persisnya gini diam bukan berarti ga tau cuma masa bodo saja lah seandainya Dokter nya cinta dengan Gadis kampung apa salah nya coba,, tapi bagi Krisna justru kesederhanaan dan apa adanya tidak jaim dan sandiwara pura pura pinter tapi bodo
dan ga merasa paling hebat tetapi survey membuktikan bisa jaga Anak ,,,bisa bikin kopi enak dan nasgor nya enak cocok di lidah penikmat nya,,, kenapa orang pada iri
sama Raisa karena ga muluk,,,Mas sabar ngadepi calon ular betina belum tentu sayang sama putramu seperti itu,,,jadi tukang ngepel,,,
Hearty💕💕
Hai ini pertama kali mampir di karya Kak Ghina
Engkar Sukarsih
waduh... saingan lenong dah nongol ini🤔🤔bisa gaswat deh,duo lampir berebutan nyari perhatian pak dokter Krisna ini😇😇😇😇
RiriChiew🌺
karena tamu nya gak diundang makanya agak sebell si Krisna nyaa 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!