NovelToon NovelToon
System Cek In Harian: Dunia Kultivator

System Cek In Harian: Dunia Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Sistem / Epik Petualangan / Dunia Lain / Harem
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Lou Chen, seorang pemuda biasa yang hidup di dunia modern, tiba tiba mendapatkan System Cek-in harian yang misterius . dengan System ini dia bisa mendapatkan hadiah dan kemampuan baru setiap hari . Namun apa yang tidak dia ketahui adalah , bahwa system ini akan membawa dia ke dunia Kultivasi immortal yang penuh bahaya dan rahasia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Intensif dan Perhatian yang Tidak Terduga

Luo Chen berjalan melewati jalan setapak menuju asramanya dengan langkah mantap. Malam sudah larut, tapi pikirannya masih jernih. Kantong berisi puluhan pil hasil latihan bersama Lin Daiyu tersimpan aman di ring penyimpanannya, siap digunakan untuk kultivasi intensif tiga hari ke depan.

Tapi saat melewati area taman sekte yang sunyi, dia merasakan keberadaan seseorang. Aura yang kuat tapi terkontrol dengan sempurna—Foundation Establishment tingkat tinggi.

Luo Chen berhenti dan menatap ke arah pohon sakura besar di tengah taman.

Di bawah cahaya bulan, Xiao Yao berdiri dengan jubah biru tuanya yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Rambut panjangnya terurai, membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya meski ekspresinya tetap dingin.

"Xiao... Kakak Senior," sapa Luo Chen sopan. Dalam hierarki sekte, murid dalam harus dipanggil 'kakak senior' oleh murid terluar.

Xiao Yao berbalik menatapnya. Mata tajamnya seolah bisa melihat setiap rahasia yang Luo Chen sembunyikan.

"Qi Refining tingkat 5," katanya datar. "Empat hari lalu kau tidak bisa kultivasi sama sekali. Tiga hari lalu kau tingkat 1. Kemarin tingkat 2. Hari ini tingkat 5." Dia melangkah lebih dekat. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Luo Chen?"

Luo Chen diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Dia tidak bisa memberitahu tentang sistem, tapi dia juga tidak bisa bohong secara terang-terangan pada Xiao Yao yang jelas-jelas lebih kuat darinya.

"Aku... mendapat kesempatan," jawabnya akhirnya. "Kesempatan kedua untuk hidup. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya."

Xiao Yao menatapnya dalam diam yang panjang. Angin malam berhembus, membuat kelopak sakura berjatuhan di antara mereka.

"Liu Yang akan membunuhmu," katanya tiba-tiba. "Dia Foundation Establishment tingkat 3, punya teknik pedang tingkat Langit warisan keluarga Liu, dan akses ke berbagai pil langka. Perbedaan satu realm penuh bukan main-main. Bahkan genius sekelas mu tidak akan bisa mengalahkannya."

"Aku tahu resikonya."

"Kalau kau tahu, kenapa tidak mundur?" Mata Xiao Yao menajam. "Kau bisa melaporkan ke tetua bahwa Liu Yang memaksamu. Duel bisa dibatalkan."

"Dan kemudian?" Luo Chen balik bertanya. "Aku akan dicap pengecut. Liu Yang akan terus menggangguku dengan cara lain. Orang-orang seperti dia tidak akan pernah berhenti sampai mereka mendapat apa yang mereka mau."

Xiao Yao terdiam. Dia tahu Luo Chen benar. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah dosa terbesar.

"Kenapa Kakak Senior peduli?" tanya Luo Chen dengan nada lembut. "Kita bahkan tidak saling kenal."

Ekspresi Xiao Yao berubah sedikit—sangat halus tapi Luo Chen menangkapnya. Ada sesuatu yang menyerupai kesedihan di mata gadis itu.

"Dulu aku punya adik laki-laki," katanya pelan. Ini pertama kalinya Luo Chen mendengar Xiao Yao berbicara dengan nada seperti ini—rentan, hampir rapuh. "Dia juga murid terluar. Tidak punya bakat kultivasi, sering diremehkan, sering dipukuli. Tapi dia selalu tersenyum, selalu bilang suatu hari dia akan kuat."

Dia berhenti, menatap bulan dengan tatapan kosong.

"Tiga tahun lalu, dia menantang seorang murid dalam yang menghinanya. Dia kalah. Dan dia mati di arena itu." Xiao Yao menutup mata. "Sejak itu aku bersumpah akan melindungi murid-murid lemah yang tertindas. Tapi aku selalu terlambat. Selalu."

Luo Chen merasa dadanya sesak mendengar cerita itu. Jadi itu sebabnya Xiao Yao memperhatikannya. Dia mengingatkan gadis itu pada adiknya yang sudah mati.

"Aku minta maaf," ucap Luo Chen tulus. "Untuk adikmu."

Xiao Yao membuka mata dan menatapnya. "Jangan mati," katanya dengan suara yang hampir seperti permohonan. "Apapun yang terjadi di arena itu tiga hari lagi, jangan mati."

Sebelum Luo Chen bisa menjawab, Xiao Yao sudah berbalik dan berjalan pergi. Tapi setelah beberapa langkah, dia berhenti.

"Besok pagi, datang ke Paviliun Utara saat matahari terbit," katanya tanpa menoleh. "Aku akan mengajarimu sesuatu yang mungkin berguna."

Lalu dia menghilang dalam kegelapan, meninggalkan Luo Chen sendirian di bawah pohon sakura.

Luo Chen berdiri di sana cukup lama, memikirkan pertemuan yang tidak terduga itu. Xiao Yao... di balik wajah dinginnya, ternyata ada hati yang lembut dan penuh luka.

Dia akhirnya melanjutkan perjalanan ke asramanya. Sesampainya di kamar, dia langsung duduk bersila dan mulai kultivasi. Tidak ada waktu untuk sentimentil. Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat.

Luo Chen mengeluarkan beberapa Pil Pemulihan Qi dan menelannya satu per satu. Energi pil mengalir dalam tubuhnya, mempercepat pemulihan Qi yang terkuras selama berburu tadi. Dengan bantuan pil, kecepatan kultivasinya meningkat hampir dua kali lipat.

Teknik Naga Langit Sembilan Transformasi bekerja dengan sempurna, menyerap setiap tetes energi tanpa ada yang terbuang. Qi emas berputar dalam dantiannya, semakin padat dan murni.

Jam-jam berlalu. Fajar mulai menyingsing.

[06:58]

Luo Chen membuka mata dan bangkit. Sudah hampir waktu cek-in. Tapi sebelum itu, dia harus pergi ke Paviliun Utara seperti yang diminta Xiao Yao.

Dia membersihkan diri dengan cepat dan berlari menuju Paviliun Utara—bangunan megah yang digunakan murid dalam untuk latihan. Di sana, Xiao Yao sudah menunggu di halaman latihan yang luas.

Gadis itu memegang sebuah pedang dengan gagang putih dan bilah yang berkilau seperti es. Pedang spiritual tingkat Langit yang terkenal di sekte—Pedang Salju Abadi.

"Kau datang," kata Xiao Yao saat melihat Luo Chen.

"Kakak Senior memanggilku."

"Bagus. Waktu kita tidak banyak." Xiao Yao mengangkat pedangnya. "Tiga hari lagi kau akan berhadapan dengan Liu Yang yang sudah berlatih pedang selama sepuluh tahun. Kau tidak akan menang dengan kultivasi atau kekuatan. Satu-satunya kesempatan mu adalah teknik."

Dia mengambil posisi bertarung. "Aku akan mengajarimu satu jurus. Hanya satu. Tapi kalau kau bisa menguasainya, kau punya peluang untuk bertahan."

"Jurus apa?" tanya Luo Chen sambil mengeluarkan pedang Bayangan Bulan.

"Jurus Salju Pertama: Tebasan Langit Beku," jawab Xiao Yao. "Ini adalah jurus pembuka dari teknik pedang keluargaku. Fokusnya bukan pada kekuatan, tapi pada presisi dan timing. Kalau dilakukan dengan sempurna, bahkan kultivator satu tingkat lebih tinggi bisa terluka."

Dia mendemonstrasikan gerakannya. Pedangnya terangkat perlahan, lalu turun dalam satu gerakan halus yang tampak sederhana. Tapi saat pedang itu turun, seluruh area di depannya langsung membeku—rumput, tanah, bahkan udara seolah membeku dalam waktu singkat.

KRAK!

Es yang terbentuk pecah, meninggalkan goresan dalam di tanah.

Luo Chen menatap dengan kagum. Itu bukan serangan brutal dengan kekuatan besar. Itu adalah serangan presisi yang memusatkan seluruh Qi pada satu titik, menciptakan efek yang luar biasa.

"Sekarang giliranmu," kata Xiao Yao sambil mengembalikan pedangnya ke posisi istirahat. "Coba tiru gerakanku. Fokus pada aliran Qi, bukan pada kecepatan atau kekuatan."

Luo Chen mengangguk dan mengambil posisi. Dia mengangkat pedang Bayangan Bulan, mencoba mengingat setiap detail gerakan Xiao Yao. Lalu dia ayunkan pedangnya ke bawah—

Tidak ada efek apa-apa. Hanya ayunan pedang biasa.

"Salah," kata Xiao Yao. "Qi-mu tidak terfokus. Coba lagi."

Luo Chen mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Sepuluh kali. Dua puluh kali. Lima puluh kali.

[07:00]

DING!

[Waktu cek-in telah tiba!]

Suara sistem menggema di kepala Luo Chen, tapi dia tidak berhenti berlatih. Dia hanya berpikir dalam hati sambil terus mengayunkan pedang: "Cek-in!"

[Cek-in berhasil!]

[Selamat! Host mendapatkan: Manual Teknik Pedang 'Seribu Bayangan Ilusi']

[Keterangan: Teknik pedang tingkat Langit yang fokus pada kecepatan dan ilusi. Dapat menciptakan bayangan pedang yang membingungkan lawan. Sangat cocok dikombinasikan dengan teknik gerakan Langkah Bayangan Seribu]

[Manual telah ditransfer ke dalam pikiran Host]

Informasi mengalir masuk ke otak Luo Chen. Teknik pedang baru yang sempurna untuk gaya bertarungnya! Dan yang lebih mengejutkan, teknik ini punya sinergi alami dengan Langkah Bayangan Seribu yang dia dapat kemarin.

Dengan pemahaman baru dari teknik Seribu Bayangan Ilusi, Luo Chen mencoba jurus Tebasan Langit Beku lagi. Kali ini, dia mengerti cara mengalirkan Qi dengan lebih efisien.

Pedangnya turun—

SYUUUT!

Sebuah garis tipis muncul di tanah, dan di sepanjang garis itu, rumput dan tanah membeku sedikit.

"Bagus!" mata Xiao Yao berbinar. "Kau baru saja menguasai 20% dari jurus itu! Untuk pertama kali, ini luar biasa!"

Luo Chen tersenyum tipis. Berkat sistem yang memberinya pemahaman teknik pedang tingkat Langit, dia bisa belajar lebih cepat dari orang biasa.

"Lanjutkan," perintah Xiao Yao. "Kita punya beberapa jam lagi sebelum aku harus pergi menjalankan misi sekte."

Mereka berlatih sampai matahari naik tinggi. Xiao Yao dengan sabar mengoreksi setiap kesalahan Luo Chen, memberikan tips dan trik untuk mengoptimalkan jurus. Gadis yang biasanya dingin dan tidak peduli ini berubah menjadi guru yang perhatian dan telaten.

Saat matahari sudah mendekati tengah hari, Xiao Yao akhirnya menghentikan latihan.

"Cukup untuk hari ini," katanya sambil menyeka keringat di dahinya. "Kau sudah menguasai 40% dari jurus itu. Sangat cepat untuk pemula."

"Terima kasih, Kakak Senior," ucap Luo Chen sambil membungkuk hormat.

Xiao Yao menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Besok pagi, datang lagi. Kita akan lanjutkan latihan."

"Aku akan datang."

Xiao Yao berbalik untuk pergi, tapi kemudian dia menambahkan dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik: "Jangan mati, Luo Chen. Kumohon."

Lalu dia pergi, meninggalkan Luo Chen dengan perasaan hangat di dada. Untuk pertama kalinya sejak transmigasi, dia merasa punya seseorang yang benar-benar peduli padanya—bukan karena kepentingan, tapi karena kebaikan hati murni.

Luo Chen kembali ke asramanya untuk beristirahat sebentar sebelum pergi ke Paviliun Obat untuk bekerja. Tapi saat melewati Aula Makan Timur, dia melihat kerumunan murid berkumpul di depan papan pengumuman.

Penasaran, dia mendekat.

Di papan itu terpampang sebuah poster besar dengan tulisan berwarna merah:

"DUEL RESMI

Liu Yang (Murid Inti, Foundation Establishment Tingkat 3)

VS

Luo Chen (Murid Terluar, Qi Refining Tingkat 5)

Waktu: Tiga hari lagi, saat matahari terbenam

Tempat: Arena Utama

Terbuka untuk umum. Semua murid dipersilakan menonton."

Di bawah poster itu, ada berbagai tulisan komentar dari murid-murid:

"Murid terluar berani melawan murid inti? Gila!"

"Perbedaan satu realm! Dia pasti akan mati!"

"Aku taruhan 10 keping perak Liu Yang menang dalam satu menit!"

"Kasihan Luo Chen. Tampan tapi bodoh."

Luo Chen membaca semuanya dengan ekspresi datar. Tidak ada satupun yang percaya dia bisa menang. Itu wajar. Secara objektif, peluangnya memang sangat kecil.

Tapi mereka tidak tahu tentang sistem cek-in harian. Mereka tidak tahu tentang Buah Surga Merah. Mereka tidak tahu tentang teknik-teknik tingkat Dewa dan Langit yang dia miliki.

"Luo Chen!"

Suara ceria Lin Daiyu membuat Luo Chen menoleh. Gadis itu berlari kecil menghampirinya dengan wajah khawatir.

"Aku sudah dengar tentang duel ini!" katanya sambil menarik lengan Luo Chen menjauh dari kerumunan. "Kenapa kau tidak bilang padaku kemarin?!"

"Aku tidak ingin membuatmu khawatir."

"Terlambat! Aku sudah sangat khawatir!" Lin Daiyu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Liu Yang itu sangat kuat! Dia punya Pedang Angin Naga tingkat Langit dan teknik pedang warisan keluarga Liu yang terkenal kejam! Banyak lawannya yang mati atau lumpuh permanen!"

"Aku tahu."

"Kalau kau tahu, kenapa masih mau lanjut?!" Lin Daiyu hampir menangis. "Ini bukan main-main, Luo Chen! Ini nyawa mu yang dipertaruhkan!"

Luo Chen menggenggam tangan Lin Daiyu dengan lembut. "Daiyu, percayalah padaku. Aku tidak akan mati. Aku berjanji."

Lin Daiyu menatap matanya—mata yang penuh dengan keyakinan dan tekad yang kuat. Perlahan, tangisannya mereda.

"Kau... benar-benar yakin bisa menang?" tanyanya dengan suara kecil.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa menang," jawab Luo Chen jujur. "Tapi aku tahu aku akan memberikan segalanya untuk bertahan. Dan tiga hari lagi, aku akan jauh lebih kuat dari sekarang."

Lin Daiyu menghapus air matanya dan mengangguk dengan tekad. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan membantu mu sebisa mungkin. Mulai sekarang, kita akan latihan alchemy setiap malam. Aku akan ajari mu membuat pil-pil yang lebih kuat. Dengan pil yang bagus, kecepatan kultivasi mu akan meningkat drastis!"

"Terima kasih, Daiyu."

"Jangan berterima kasih!" Lin Daiyu memukul lengannya pelan. "Kita teman! Teman harus saling membantu!"

Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan latihan alchemy intensif. Lin Daiyu mengajarkan Luo Chen cara membuat Pil Peningkat Kultivasi tingkat rendah—pil yang bisa mempercepat kultivasi hingga dua kali lipat untuk kultivator Qi Refining.

Luo Chen belajar dengan cepat. Dengan pemahaman yang dia dapat dari membaca buku-buku di perpustakaan, ditambah pengalaman praktik, dia berhasil membuat pil pertamanya dengan kualitas yang lumayan setelah hanya lima kali percobaan.

"Kau ini benar-benar genius alchemy!" puji Lin Daiyu dengan kagum. "Biasanya butuh puluhan percobaan untuk berhasil membuat pil ini!"

"Aku punya guru yang baik," jawab Luo Chen sambil tersenyum.

Lin Daiyu tersipu mendengarnya. "Ah, kau ini... jangan merayu!"

Mereka terus berlatih sampai malam. Akhirnya mereka berhasil membuat dua puluh Pil Peningkat Kultivasi dengan kualitas yang bervariasi—ada yang bagus, ada yang biasa saja.

"Ini semua untukmu," kata Lin Daiyu sambil memberikan semua pil itu pada Luo Chen. "Gunakan untuk kultivasi. Dengan pil ini, aku yakin kau bisa mencapai Qi Refining tingkat 6 atau bahkan 7 dalam tiga hari!"

Luo Chen menerima pil-pil itu dengan hati yang penuh terima kasih. "Daiyu, kenapa kau begitu baik padaku?"

Lin Daiyu tersenyum lembut. "Karena kau mengingatkanku pada diriku sendiri dulu. Seorang yang diremehkan, dianggap tidak berguna, tapi tidak menyerah. Dan..." dia berhenti sejenak, pipinya sedikit memerah, "karena aku percaya kau adalah orang yang baik. Orang yang pantas dibantu."

Mereka saling menatap untuk beberapa saat dalam diam yang nyaman.

"Ayo pulang," akhirnya Lin Daiyu memecah keheningan. "Kau harus istirahat dan kultivasi. Besok kita latihan lagi."

Mereka berpisah di depan paviliun. Luo Chen berjalan kembali ke asramanya dengan langkah ringan meski tubuhnya lelah. Dua orang—Xiao Yao dan Lin Daiyu—yang peduli padanya dan membantunya. Di dunia yang keras dan kejam ini, itu adalah harta yang sangat berharga.

Sesampainya di kamar, Luo Chen langsung duduk bersila dan menelan satu Pil Peningkat Kultivasi. Energi pil meledak dalam tubuhnya, mempercepat penyerapan Qi dari lingkungan sekitar.

Dengan kombinasi teknik Naga Langit Sembilan Transformasi, pil peningkat kultivasi, dan fondasi yang sudah diperkuat oleh Pil Pembersih Meridian, kecepatan kultivasi Luo Chen mencapai tingkat yang menakjubkan.

Satu jam kultivasinya setara dengan lima jam kultivasi orang biasa!

Dia kultivasi tanpa henti sepanjang malam. Qi dalam dantiannya terus bertambah, semakin padat dan murni. Dinding menuju Qi Refining tingkat 6 mulai terlihat di kejauhan—masih tebal, tapi tidak mustahil untuk ditembus.

Fajar menyingsing. Hari kedua dari tiga hari persiapan dimulai.

Luo Chen bangkit dan bersiap untuk pergi ke Paviliun Utara lagi. Xiao Yao pasti sudah menunggu untuk melanjutkan latihan pedang.

Tapi sebelum dia keluar, seseorang mengetuk pintunya.

"Siapa?" tanya Luo Chen waspada.

"Aku," suara perempuan yang tidak familiar terdengar dari luar.

Luo Chen membuka pintu dan terkejut melihat seorang gadis cantik dengan jubah ungu—warna yang menandakan murid dari paviliun khusus. Rambutnya pirang keemasan, sangat langka untuk orang di benua ini. Matanya biru seperti safir. Wajahnya cantik dengan fitur yang lembut.

"Kau... siapa?" tanya Luo Chen.

Gadis itu tersenyum manis. "Namaku Wang Xiaoxiao. Aku murid dari Paviliun Formasi. Dan..." dia menatap Luo Chen dengan mata yang penuh minat, "aku ingin membantumu mengalahkan Liu Yang."

[Akhir Bab 5]

1
Gege
judulnya system check in harian tapi ga ada cheat buat ngalahin lawan kawan kuatnya.. misal waktu ruang kultivasi abadi jadi satu menit setara satu tahun...biar segera MC nya kuat dan berjaya dimasa hadapan..🤣
Wahyu🐊: Nanti ku Revisi oke
total 1 replies
Gege
perasaan ganti hari ga ada check in ga dapat hadiah othor lupa apa bagaimana ini...
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!