Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Setelah semalaman terjaga oleh bayang-bayang Megan dan pesan misterius yang menghantuinya, Sean Miller kembali ke meja kerjanya dengan penampilan yang hancur. Rambutnya semrawut, kemejanya kusut, dan matanya merah menyimpan kelelahan.
"Selamat pagi, Sir," suara Emma, sekretaris direktur Laurence, membuat Sean tersentak dari lamunannya.
"Ada apa, Emma?"
"Direktur Laurence mengadakan emergency briefing dadakan. Anda diminta segera menuju ruangan," ujar Emma.
"Rapat?" Jantung Sean berdegup kencang, firasat buruk mulai merayap di ulu hatinya. Setelah peringatan keras kemarin, ia tahu hari ini ia tak akan selamat.
"Kapan, Emma?"
"Sekarang, Sir. Anda sudah ditunggu oleh Direktur, Miss Grace sebagai utusan khusus Langley, serta beberapa Komite Intelijen Gabungan."
Meski kakinya terasa berat seolah terikat rantai, Sean tetap melangkah. Ia menaikii lift menuju lantai atas.
Direktur Mark Laurence duduk di ujung meja kayu panjang, sementara Alice Grace duduk di sampingnya, tampak begitu berwibawa.
"Duduklah, Miller," perintah Mark Laurence dingin.
“Sir, saya sedang…”
Alice tidak membuang waktu juga tidak memberi Sean kesempatan bicara, Ia menatap Sean dengan tatapan menghakimi. "Direktur Laurence, kami dari Langley tidak bisa lagi menoleransi ketidakjelasan ini. Agen Megan Ford hilang, dan sekarang Agen Nathan Clark juga lenyap tanpa jejak di bawah hidung MI6. Agen Miller terus bersembunyi di balik alasan Black Ops yang tidak berdasar. Kami butuh akuntabilitas, sekarang juga!"
Di ujung meja, Mark Laurence duduk dengan wajah kaku menatap Sean dengan keanggunan yang mengancam.
"Miss Grace, sebagai perwakilan Langley, secara resmi menuntut akuntabilitas atas hilangnya Agen Megan Ford dan Agen Nathan Clark," ucap Mark Laurence, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.
"Sir, saya minta waktu 24 jam lagi!" potong Sean, suaranya serak namun penuh determinasi. "Saya baru saja mendapatkan petunjuk tentang pergerakan, setelah semalam saya menerima telepon misterius. Megan tidak menghilang, dia sedang disekap! Saya yakin Bradley Brown terlibat lebih dalam dari yang kita duga!"
"Petunjuk? Atau hanya halusinasi seorang agen yang gagal menjaga tunangannya sendiri, Miller?" sindir Alice, suaranya tenang namun sangat menyakitkan. "Langley sudah memberimu waktu tiga bulan. Hasilnya? Kau kehilangan Megan, kau kehilangan Nathan.”
"Ini jebakan, Alice! Aku yakin ini ada kaitannya dengan Bradley Brown." Sean menghantam meja, menatap Alice dengan amarah yang meluap. "Aku tidak akan kembali ke Langley dengan tangan kosong! Jika aku dipulangkan sekarang, misi ini akan tamat dan Megan tidak akan pernah ditemukan!"
"Cukup, Sean!" raung Mark Laurence. "Kau tidak konsisten dengan laporanmu, kau bilang Megan black ops, sekarang Megan di sekap?! Pembelaanmu tidak didukung data lapangan yang valid. Kau bertindak secara emosional, bukan profesional."
Mark Laurence menyodorkan sebuah dokumen bertanda tangan resmi kepada Sean. "Atas permintaan Direktur Ford dan persetujuan MI6, kau dicabut dari jabatan komando taktis di London. Kau akan dipulangkan ke Virginia siang ini dengan pengawalan militer untuk menjalani sidang disipliner di Langley."
Sean terdiam, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ia menoleh ke arah Ben yang berdiri di pojok ruangan, mencari dukungan, namun Ben justru memalingkan wajah dengan senyum sinis yang tak terlihat oleh Sean.
****
Markas Besar CIA, Langley — 10.00 AM
Di ruang kerjanya yang luas, Arthur Ford mondar-mandir dengan gelisah. Asisten pribadinya, Harry, berdiri mematung di dekat meja besar itu, memegang tablet dengan wajah pucat.
"Bagaimana, Harry? Apa kau sudah mendapatkan jadwal pertemuan dengan Ethan Alexander?" tanya Arthur, suaranya tajam menuntut.
"Maaf, Sir. Dari informasi terbaru yang saya dapatkan dari kantor pusat Alexander Global Tech, Tuan Ethan sedang sangat sibuk dengan proyek pertahanan siber baru dan tidak bisa diganggu oleh siapa pun," lapor Harry hati-hati.
"Aku tidak mau tahu!" bentak Arthur, menghantam meja kerjanya. "Sebelum Lorenzo berhasil menemui Alexander, aku harus menemuinya lebih dulu! Aku harus meyakinkan Ethan bahwa Lorenzo tak lebih dari sekadar manusia sampah yang menghabiskan hidupnya di meja judi. Kau tahu sendiri, Harry... jika sampai Lorenzo sanggup menembus pintu Alexander dan membisikkan racunnya, maka semuanya akan hancur!"
"Saya mengerti, Sir. Tapi seperti yang kita tahu, jaringan keamanan Alexander sangat ketat. Mereka bahkan tidak merespons sama sekali."
Belum sempat Arthur meluapkan kemarahannya lagi, ponsel pribadinya bergetar. Nama Alice muncul di layar. Arthur menarik napas dalam, mencoba menstabilkan emosinya sebelum mengangkat telepon.
"Ya, Sayang? Bagaimana London?"
"Sayang, ada kabar kurang baik," suara Alice terdengar sangat meyakinkan, sarat akan nada prihatin yang dibuat-buat. "Kedatanganku di MI6 tidak membuahkan hasil. Sean Miller tidak bisa membuktikan keberadaan Megan dan Nathan sedikit pun. Direktur Laurence sudah mengambil keputusan untuk memulangkan Sean ke Langley sore ini. Dan... ini akan menjadi masalahmu sekarang, Arthur."
"Kurang ajar Sean Miller!" teriak Arthur, urat lehernya menegang. "Baiklah, biarkan dia pulang. Aku sendiri yang akan menghabisi kariernya di depan komite disiplin!"
"Tenangkan dirimu, Arthur. Ingat kondisi jantungmu," bisik Alice lembut, suaranya merayu saraf-saraf tegang Arthur.
"Kau adalah jantungku, Alice. Jika urusanmu di sana sudah selesai, segeralah kembali. Aku tidak bisa fokus jika kau tidak di sini."
"Um... aku akan kembali lusa, Arthur. Karena..." Alice sengaja menjeda kalimatnya, memberikan nada manja.
"Karena apa, Alice? Masalah Miller sudah selesai, kan?"
"Ya, sudah. Tapi aku sangat lelah, Arthur. Perjalanan lintas Atlantik ini menguras tenagaku. Apa kau tega membiarkanku kembali dalam keadaan kelelahan tanpa istirahat sehari saja di London?"
Arthur menghela napas panjang, senyum tipis akhirnya muncul di wajah kaku itu. "Maafkan aku, Alice. Aku terlalu egois. Baiklah, istirahatlah satu hari di sana. Tapi setelah itu, kau harus langsung kembali. Aku benar-benar tidak sanggup jauh darimu lebih lama."
Arthur menutup telepon dengan perasaan lega, tidak menyadari bahwa di ujung sana, Alice sedang tersenyum sinis sambil menatap undangan pernikahan berlambang serigala Obsidian di tangannya.
***
Di ruang tengah yang temaram, Alecia Grace duduk bersandar di sofa, sementara Peter duduk di hadapannya sambil menyesap wiski dengan perlahan.
"Jadi, Sean Miller sudah resmi kembali ke Langley?" tanya Peter, memecah keheningan.
"Ya. Dan Arthur sudah memintaku kembali secepatnya," sahut Alice, nada suaranya datar namun pandangan jauh menerobos ke luar jendela yang tampak gelap.
Peter terkekeh kecil, menatap cairan kuning keemasan di gelasnya. "Kasihan Miller. Kesalahannya hanya satu: dia berani mencintai apa yang sudah lama menjadi milik Penguasa Obsidian. Bahkan jauh sebelum Miller mengenal Megan Ford."
"Bradley memang gila, Pet. Terkadang aku takut jika dia semakin tidak terkendali. Aku bener-bener sudah tidak bisa menahannya lagi," Alice memijat pelipisnya, bayangan kemarahan Bradley di telepon tadi pagi masih menghantuinya.
"Dan sekarang, dia mulai mencurigaimu, Alice," ucap Peter tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah Alice.
Alice tersentak. "Mencurigai... aku?"
"Ya. Tuan Brown takut kau mulai memiliki perasaan sungguhan pada Arthur Ford. Dia mencium aroma pengkhianatan darimu."
Alice terkekeh, namun suara tawanya terdengar kosong dan perih. "Bahkan dia ingin mengontrol hatiku? Dia lupa... aku bukan lagi gadis kecilnya yang dulu selalu menurut, Peter."
"Tuan sangat menyayangimu, Alice. Itulah alasannya dia menjadi monster yang protektif," Peter bangkit dari kursinya, merapikan jasnya yang tak bercela. "Berhati-hatilah. Jangan sampai kau terjebak dalam perasaanmu sendiri pada singa tua itu. Itu adalah tiket satu arah menuju neraka. Dan jika sampai itu terjadi, aku tak bisa menolongku,”
Alice tidak menjawab. Ia hanya terdiam, namun diamnya Alice justru membuat Peter semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang tumbuh di hati wanita itu untuk Arthur Ford—sesuatu yang bisa menghancurkan hidup Alice sendiri.
"Tidurlah, Alice. Sudah malam. Aku akan menginap di sini malam ini. Kita akan berangkat ke Surrey pukul delapan pagi untuk persiapan pernikahan itu," Peter melangkah pergi, meninggalkan Alice sendirian di tengah kemewahan mansion yang terasa seperti penjara itu.
Alice menatap Black Card milik Arthur yang tergeletak di atas meja. "Aku bukan lagi gadis kecilmu,..." bisiknya dalam hati. "Tapi aku juga tidak tahu, siapa aku sekarang bagi pria yang seharusnya kuhancurkan itu.”