“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#19
Ayunda tertawa bahagia setelah bebas dari kerumunan warga yang antusias menonton musik dangdut.
Elang pun ikut tertawa. Mereka berdua asik membahas kejadian tersebut sambil tertawa.
“Aku malah gak dapet sawerannya karena diambil artis tadi. Parah.”
“Uangku sudah habis. Tapi aku bisa sawer kamu pakai ini.”
Tawa ayunda dan Elang terhenti seketika saat melihat Alex mengeluarkan kartu kredit dan kartu bca prioritas miliknya.
Ayunda dan elang saling menatap lalu kemudia mereka kembali tertawa.
“Nggak, Kak. Berlebihan ini sih. Lagi pula ini tuh cuma seru-seruan aja. Jangan dianggap serius. Nih, kalau pun aku naik dan dapet saweran, uang itu tuh tetep menjadi milih artis nya. Bukan aku.”
“Loh, tau gitu aku gak usah ngeluarin uang dong tadi. Langsung aja kasih sama kamu.”
Elang dan Ayunda kembali terkekeh.
“Ya makanya aku berhenti in kakak dan turun. Ludes nanti isi dompet kakak. Kenapa? Nyesel ya?” Ayunda kembali tertawa.
“Niat aku cuma nyawer kamu tadi.”
Tawa ayunda tidak mau berhenti atas kelakuan absurd Alex.
“Neng, ayo pulang. Lang, nak Alex. Kami permisi dulu ya. Kalau memang masih lama di sini, jangan lupa mampir ya.”
“Iya, tante.”
Nunung pun pergi.
“Ya udah, aku pamit ya. Jangan lupa besok main ke rumah. Eh, kalian kapan berangkat lagi?”
“Besok,” ujar Elang.
“Ih, kok cepet banget sih. Baru ketemu udah mau pada pergi lagi.”
“Makanya buruan ke kota biar kita bisa tinggal bareng lagi.”
“Bisa aja ya nyari kesempatan dalam kesempatan. udah, ah. Aku pamit ya. Kakak jangan lupa nanti chat aku ya.”
Alex mengangguk. Matanya tidak pernah berpaling saat Ayunda meninggalkan tempat acara.
“Jangan lupa chat? Lo udah punya nomornya Ayunda?”
Alex mengangguk menjawab pertanya sahabatnya.
Elang menggelengkan kepala takjub.
“Wah, sejak kapan kalian bertukar nomor hp? Tumben banget lo, Lex. Biasnya anti banget ngasih nomor hp ke orang lain.”
“Dia kan adik lo.”
“Ya, ya. Ayunda memang adik gue.” Elang tersenyum mengejek.
Tidak ada yang benar-benar bisa kendalikan di dunia ini, termasuk diri kita sendiri. Sekenario manusia memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan, kita hanya perlu menjalaninya.
Meski Alex kadang merasa bingung dengan dirinya sendiri atas semua sikap dan perasaannya, namun seberapa besar nya pun dia berusaha menolak dan menahan, Alex tetap kalah. Semuanya mengalir begitu saja.
Embun pagi ini begitu terasa menusuk hingga sumsum tulang. Bagi Alex yang terbiasa hidup di daerah yang panas, rasa dingin itu membuatnya tersiksa. Dia bahkan enggan menginjakkan kaki di lantai yang terasa seperti balok es.
Dia bahkan enggan mandi meski pakai air panas.
Dia memilih untuk berdiam diri di dalam kamar dengan berselimutkan bed cover yang tebal. Sementara elang ikut ayahnya bertandang ke rumah Ayunda.
Ayunda nampak celingukan saat dia menyuguhkan gorengan dan kopi panas pada tamu yang pagi ini berkunjung ke rumahnya.
Orang tua mereka nampak ngobrol serius di bawah sementara ayunda pergi ke kamarnya.
[Kak, kok gak ikut ke rumah sama mas Elang?]
Beberapa menit kemudian Alex membalas.
[Memanhnya Elang ke rumah kamu?]
[iya, itu ada di bawah lagi ngobrol sama mama dan bapak. Aku cariin kakak tapi ternyata gak ikut]
[kenapa? Kangen?]
Terkirim.
“Astaga, kenapa chat gue begini?” Elang berusaha menghapus tapi centang ga terlanjur biru.
[hahaha. Kenapa dihapus? Aku udah baca kali. Keceplosan ya ngetiknya]
Tidak ada balasan. Ayunda pun tidak ingin bicara lebih banyak. Dia kembali turun ke bawah untuk mendengarkan obrolan yang serius di antara orang tuanya dan orang tua Elang.
Ayunda duduk di samping Elang.
“Bahas apa sih, Mas?” Tanyanya sambil berbisik.
Elang hanya meminta Ayunda untuk diam.
Saat mendengar obrolan orang tuanya, rupanya mereka sedang membahas masalah pekerjaan. Rupanya ada yang ingin menyabotase pekerjaan Pak Mul.
Ayunda hanya mendengarkan dengan seksama meski dia bingung dan tidak mengerti pembicaraan para orang tua tersebut.
Yang lebih mengejutkan nya lagi, dalang dari semua masalah yang menyangkut pekerjaan Pak Mul adalah Herman.
Ayunda menghela nafas dalam saat mendengar nama ayah dari Zayan.
“Tapi nanti biar aku yang bicara.”
“Gak perlu, aku tidak akan ambil pusing. Kalau lah dia memang ingin mengambil usahaku juga, silakan. Rezeki sudah ada yang ngatur.”
“Ya gak gitu juga, Mul. Kamu punya ayunda dan Inggit yang harus kamu sekolahkan. Biayanya tidak sedikit apalagi Inggit yang ingin masuk Akmil. Kamu pikir Akmil itu murah? Nggak, Mul.”
“Aku ada tabungan sampai mereka lulus nanti. Apalagi ayunda kan belum tahu mau ngambil jurusan apa.”
Elang menoleh pada gadis itu.”jurusan apa?”
“Aku? Gak tau. Kan aku belum kepikiran mau kuliah juga.”
“Masih mau menuruti ibunya Zayan untuk tidak kuliah biar bisa nikah sama anaknya?!”
Pak Mul berteriak.
Untuk pertama kalinya ayunda melihat Pak Mul bersikap seperi itu padanya.
“Masih berharap kamu bisa nikah sama dia! Punya harga diri sedikit, ayunda! Dia bahkan menolak pertunangan kalian. Kamu tahu apa yang orang-orang katakan tentang kamu? Kamu peduli? Jika kamu tidak peduli pada perkataan orang, setidaknya pikirkan perasaan Bapak sama mama kamu.”
“Pak, aku—“
“Sakit hati kami mendengar orang-orang merendahkan kamu karena ulah kamu yang tidak tahu malu mengejar Zayan bertahun-tahun! Dan dengan entengnya mereka menolak pertunangan yang sudah dia janjikan.”
Elang tahu jika Pak Mul marah bukan sedang melampiaskan kekesalan masalah ayunda dan Zayan. Itu hanyalah pemicu untuk meluapkan emosi karena masalah yang baru muncul saat ini.
“Kenapa kamu gak kejar saja elang! Dia baik, sopan dan juga tidak kalah tampan. Setidaknya dia tidak akan membuat keluarga kita malu.”
Elang dan Ayunda sama-sama kikuk mendengar ucapan Pak Mul.
“Ya gak gitu juga, Pak. Mas elang udah kayak kakak aku sendiri, masa mau dinikahin. Canggung banget kayaknya.”
Pak Mul menghela nafas kesal. Dadanya kembang kempis karena emosi yang bergejolak.
“Sudahlah, jangan lampiaskan emosi kamu pada ayunda. Siapa tahu dia memang sudah tidak berharap pada anaknya Herman lagi,” ujar ayah Elang.
“Ya lihat aja, dia bahkan masih tidak mau kuliah. Itu kan maunya istri Herman. Ayunda tidak kuliah agar bisa mengurus anaknya kelak. Mau jadiin anak aku babu maksdunya? Dia nya juga mau aja menuruti wanita yang bahkan tidak pernah mengganti popoknya waktu kecil.”
Jleb!
Ucapan Pak Mul membuat hati ayunda seperti tertusuk.
Selama ini ayunda dibutakan karena perasaan nya pada Zayan. Dia bahkan melepaskan seluruh harga dirinya dengan selalu datang ke rumah Zayan.
Mungkin terlihat seperi kasih sayang seorang Ibu pada anaknya, hingga Ayunda tidak menyadari jika selama ini dia sering disuruh ini dan itu saat di rumah Zayan.