Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang kaya
“Apa kamu selingkuh?”
“Hah?”
“Maksudnya apa mas? Kamu nuduh aku selingkuh?” Tanya Raras tak terima.
“Bukan.”
“Kamu seperti takut banget kehilangan ponsel itu, apa ada sesuatu yang sangat penting sampai kamu seperti ini.” lanjut Zayn menatapnya sekilas. “Apa karena ada pria lain.”
“Ish. Aku kehilangan ponsel yang harganya puluhan juta mas, masa aku santai aja.” Raras tambah cemberut. “Ponsel itu yang kamu belikan, dan itu ponsel mahal yang pernah aku punya.”
“Oh.”
“Oh?” Raras sampai terheran-heran dengan sikap santai suaminya. “Mas kamu gak marah?”
“Memangnya harus?”
Raras jadi pusing sendiri, awalnya dia merasa bersalah karena telah menghilangkan ponsel puluhan juta. Tapi melihat reaksi suaminya yang datar saja Raras jadi iba pada dirinya sendiri.
“Memang beda kalau orang kaya.” Keluh Raras mencebikan bibirnya.
“Nanti sore saja belinya, pulang kerja.” Ucap Zayn.
“Terserahlah.” Cebik Raras.
Zayn mengerutkan kening, tapi diam saja melanjutkan sarapannya yang tinggal sedikit.
Selesai makan keduanya bersiap berangkat kerja. Raras dan Zayn memang berangkat sendiri-sendiri. Selain pernikahan mereka yang tidak dipublikasikan, mereka juga memiliki jadwal yang berbeda. Seperti saat ini Zayn pergi berlainan arah untuk menghadiri meeting dengan klien dan Raras pergi ke kantor seperti biasanya.
Raras masih saja diam membuat Zayn heran. Saat akan memasuki mobil, Zayn menghentikan langkahnya, hingga Raras menabrak punggungnya di belakang.
“Ada apa?” Tanya Raras mengusap-usap keningnya.
“Kamu kenapa? Marah sama saya?” tanya Zayn berbalik badan.
Raras memutar bola matanya malas. “Nggak.”
“Lalu?”
“Gak ada, aku mau berangkat.” Raras mengulurkan tangannya untuk berpamitan.
Zayn balas uluran tangan istrinya. “Nanti sore kita beli ponsel, nunggu saya pulang atau ketemu di toko?”
Raras berpikir sejenak, “Ketemu di toko aja deh.” Putusnya.
“Oke.”
Raras tak lagi menyahut, dia berjalan menuju mobilnya sendiri.
“Tidak usah berpikiran aneh. Saya tidak akan marah hanya karena perkara ponsel hilang, asalkan kamu tidak selingkuh dan minta cerai.”
Zayn langsung masuk dan pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu. Raras sampai terdiam lama mencerna setiap kata yang suaminya ucapkan.
“Maksudnya gimana? Selingkuh? Cerai?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat jam menunjukkan pukul lima sore, Raras sudah berada di pusat perbelanjaan, menunggu suaminya yang masih di perjalanan. Tak lama kemudian, Zayn muncul dengan langkah tegapnya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Zayn.
Raras hanya menggeleng. “Gak juga.”
“Ayo!” Keduanya berjalan menuju toko khusus yang menjual handphone dengan merek ternama.
Di dalam toko, keduanya langsung disambut dengan ramah oleh staf yang mengenali Zayn sebagai pelanggan tetap.
"Selamat datang, Pak Zayn. Mau melihat produk apa hari ini?" tanya staf dengan senyum ramah.
“Keluarkan ponsel dengan merek terbaru.” Jawab Zayn datar.
Raras melongo mendengar ucapan suaminya, meski begitu dia tetap mendekat pada pelayan yang mengeluarkan produknya.
"Produk terbaru dari seri ini, Pak Zayn. Spesifikasinya jauh lebih baik dari yang lama, kamera juga lebih canggih," jelas staf sambil meletakkan beberapa unit ponsel di atas meja tampilan.
Mata Raras berbinar seketika, ponsel dengan merek terbaru dan spesifikasi yang jauh lebih canggih berjejer di hadapannya. Raras menoleh ke arah suaminya merasa tidak enak.
“Mas, apa gak kemahalan?” Bisik Raras
“Pilih saja warna yang kamu suka.” Balas Zayn,
Raras mencebik, tapi dia sangat senang dan langsung menunjuk warna pink persis dengan warna ponsel yang sebelumnya.
“Ya sudah, tolong bungkus yang itu.” Zayn pergi ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran, sementara Raras menunggu ponselnya dengan senyum terkembang.
Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran, sebelum masuk mobil Raras menghentikan langkahnya.
“Makasih ya mas, udah beliin aku ponsel baru.” Ucap Raras tulus.
“Ya.” Zayn mengangguk. Lalu masuk kedalam mobil lebih dulu.
Raras kembali cemberut, kesal dengan reaksi suaminya yang datar-datar saja. Tapi mengingat kebaikan suaminya Raras kembali tersenyum senang sambil memeluk ponsel barunya.
“Enak banget jadi orang kaya, ponsel hilang tinggal beli baru, bosan mobil lama tinggal ganti baru.” Gumamnya, mengingat suaminya yang baru kemarin ganti mobil baru lagi.
Raras tak sadar tingkahnya diperhatikan Zayn dari dalam mobil, pria itu tersenyum tipis melihat kelakuan random istrinya.
“Menggemaskan”
Tiinn…”
Hampir saja Raras terlonjak, dengan wajah merengut buru-buru dia masuk kedalam mobilnya dan melaju lebih dulu disusul Zayn dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ras? Ini beneran lo, kan?”
“Hmm..”
“Katanya ponsel lo ilang, lo bohong ya?”
“Kagak lah. Ngapain bohong gak ada kerjaan banget.”
“Lah terus, ini?”
“Ponsel baru.”
Raras cengengesan mendengar respon sahabatnya yang menjerit diseberang sana.
“Demi apa? Lo beneran beli ponsel baru? Yang terbaru itu?
“Ya…”
“Gila, suami lo yang beliin Ras?”
“Iya lah, masa suami orang.”
“Angkat gue jadi anak lo Ras. Gue ikhlas lahir batin.”
“Idih kagak. Ogah banget gue punya anak kayak lo.”
“Ras pliss. Suami lo konglomerat, tolong kasihani gue Ras. Tas hermes ya ya ya!”
“Minta abang lo Git, banyak duit dia.”
“Ogah lah, dia pelit naudzubillah. Gue pengen ngerasain duit suami lo Ras yang unlimited itu.”
“Gak bisa itu nafkah buat gue doang. Gak ada cewek lain yang boleh nyicip-nyicip.”
“Pelit lo!”
“Biarin.”
“Ekhem.”
Raras terlonjak saat melihat Zayn berdiri tak jauh darinya. “Mampus, dia denger gak ya.” Monolog Raras gelisah.
Bersambung…