Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Dugaan Rangga
Beben memecahkan tawa saat mendengar dugaan Rangga. "Kau ini! Mana mungkin Astrid berbohong. Dia nggak akan repot-repot melakukan hal itu. Apalagi sampai sengaja menghamburkan apartemennya sendiri," ungkapnya.
"Sebagai orang yang mengenalnya kau mungkin bisa bicara begitu. Tapi aku kenal Astrid," sahut Rangga. Dia kembali menelepon Astrid.
"Kenapa lagi? Mau minta maaf?" jawab Astrid dari seberang telepon.
"Iya, maaf. Kau dimana sekarang? Aku ingin bertemu," pinta Rangga.
"Aku di rumah sakit. Kita ketemu pas--"
"Aku akan ke sana!" potong Rangga cepat. Dia lalu mematikan panggilan telepon lebih dulu.
"Ben! Kau sebaiknya pergi periksa rumah Dian. Aku akan menemui Astrid sekalian memeriksa keadaan Fira dan Nadia!" suruh Rangga.
"Oke. Tapi aku pergi naik apa?" tanggap Beben.
"Pakai ojek online dulu lah."
"Aku kembali ke kantor aja dulu untuk ngambil motorku."
Beben memisah dari Rangga. Sementara Rangga beranjak dengan motornya menuju rumah sakit tempat Astrid bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, Rangga memarkirkan motornya terlebih dahulu. Astrid terlihat sudah menunggu di depan. Perempuan itu Rangga ajak untuk duduk ke taman dan bicara di sana.
"Kau mau bicara apa? Kayaknya serius banget?" tanya Astrid sambil menatap Rangga dari samping. Ia tersenyum cerah.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Ini terkait kasusmu. Aku ingin kau jujur padaku," imbuh Rangga.
"Jujur kenapa?" Astrid menuntut penjelasan.
"Aku menduga kau membohongiku. Aku sangat mengenalmu, Trid. Aku tahu kau suka berbuat nekat!"
"Kau menuduhku berbohong?! Maksudmu aku berbohong kalau ada seseorang yang menguntitku? Kau pikir aku menghamburkan apartemenku sendiri?" Astrid terdengang. Senyuman cerahnya untuk Rangga seketika sirna.
"Itu karena sikapmu sangat santai. Bahkan sekarang kau bisa tersenyum. Kalau seseorang dalam keadaan tidak aman, dia tidak akan mampu melakukan itu."
"Kau masih saja seperti dulu ya? Sombong! Mentang-mentang aku masih menunjukkan rasa sukaku, kau jadi bersikap begini. Aku tersenyum dan senang karena kau, Ga! Itu artinya aku percaya padamu. Kau membuatku aman!" Astrid berdiri dari tempat duduknya.
"Lalu bisakah kau buktikan kalau ucapanmu benar?" balas Rangga.
"Tidak ada yang perlu dibuktikan." Astrid menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka Rangga akan menuduhnya berbohong. "Kalau kau tak suka denganku, harusnya bilang saja saat pertama kali kita bertemu. Aku bisa mencari kantor polisi yang lain kok! Polisi di dunia ini nggak cuman kamu!" omelnya dengan semburat wajah penuh amarah.
Rangga terdiam seribu bahasa. Melihat Astrid marah, dia jadi merasa bersalah.
"Pantas saja Kak Dita ninggalin kamu. Kau itu nggak pernah peka!" itulah kalimat terakhir Astrid sebelum dia pergi meninggalkan Rangga. Cewek itu melangkah cepat memasuki rumah sakit.
Rangga mengusap kasar wajahnya. Dia jadi teringat Dita lagi karena Astrid menyebut namanya. Rangga cukup lama merenung, sampai akhirnya dia masuk ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Fira dan Nadia.
Rangga tentu menanyakan kamar Fira dan Nadia ke resepsionis.
"Maaf, Mas. Kedua pasien itu sudah pulih. Kebetulan pasien yang bernama Nadia akan pulang hari ini," ujar resepsionis. Ia tersenyum sambil mengaitkan rambut ke daun telinga. Melihat cowok tampan dan gagah dengan seragam polisi membuat rahimnya mengjangat.
"Berarti Nadia masih ada di kamarnya ya?" Rangga memastikan. Wajahnya datar seperti biasa. Dia selalu mengabaikan wanita yang menggodanya.
"Benar. Mau aku antar?"
"Nggak usah. Katakan saja dimana kamarnya."
Resepsionis mengangguk. Dia sadar sikap dingin dan penolakan Rangga adalah sinyal untuk membuatnya berhenti. Ia lantas memberitahu nama dan nomor kamar yang ditempati Nadia.
..._____...
*Coba tebak guys, Astrid bohong atau nggak? Kalau benar, nanti aku kasih hadiah 1000 poin. 🤭
(Pemenangnya satu orang ya. Siapa yang paling duluan jawab)
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄