Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-hari Tanpa Safira
Tiga hari setelah Safira pergi, Arga berdiri di tengah kamar dengan Rama yang menangis keras di pelukannya. Sudah setengah jam lebih bayi itu menangis tanpa henti dan Arga tidak tahu harus bagaimana.
"Rama, kumohon. Ayah sudah kasih susu. Sudah ganti popok. Kamu kenapa sih, nak?" suaranya putus asa sambil menggendong Rama naik turun, mencoba menenangkan.
Tapi Rama terus menangis. Wajah mungilnya memerah, tangan kecilnya mengepal erat.
"BAGAS!" teriak Arga dengan panik. "BAGAS TOLONG!"
Bagas yang sedang masak di dapur langsung berlari masuk dengan celemek masih nempel di badan, wajahnya panik juga. "Kenapa?! Rama kenapa?!"
"Gue nggak tau! Dia terus nangis! Gue udah coba segalanya!" Arga hampir nangis juga sekarang, frustrasi campur lelah.
Bagas mengambil alih Rama dari pelukan Arga, menggendongnya dengan cara yang berbeda. Lebih tegak, kepala Rama di bahu Bagas sambil punggung bayi itu ditepuk tepuk pelan.
"Mungkin dia kembung. Lo tadi nyusuinnya keburu buru ya?" tanya Bagas sambil terus menepuk punggung Rama pelan.
"Gue nggak tau. Mungkin," Arga mengusap wajahnya dengan frustasi. "Gue nggak ngerti caranya, Gas. Safira yang biasa ngurus semua ini."
Suaranya pecah di akhir kalimat. Safira. Nama yang sekarang terasa seperti tusukan setiap kali disebut.
Bagas terus menepuk punggung Rama sambil mengayun ayun pelan. Beberapa menit kemudian, Rama bersendawa kecil dan tangisannya mulai mereda.
"Tuh kan. Dia cuma kembung," Bagas tersenyum sambil terus menggendong Rama yang mulai tenang. "Lo harus burping dia setelah nyusuin, Ga. Biar udara di perut keluar."
Arga menatap Bagas dengan tatapan lelah. "Burping? Apa itu?"
"Ya sendawa gitu lah. Ditepuk tepuk punggungnya pelan sampai dia sendawa," Bagas menjelaskan sambil memperagakan. "Gue belajar dari nonton video di HP waktu lo tidur kemarin. Soalnya gue tau lo pasti nggak ngerti."
Arga terdiam. Lalu tiba tiba dia tertawa. Tertawa yang terdengar pahit tapi juga lega.
"Gila. Gue baru jadi bapak tiga hari udah nggak becus. Bagas yang nggak punya anak malah lebih jago," katanya sambil duduk di tepi ranjang, kepalanya tertunduk.
"Ya namanya juga belajar, Ga," Bagas duduk di sampingnya sambil masih menggendong Rama yang sudah mulai tertidur. "Lo pikir gue langsung jago? Kemarin gue ganti popok Rama, taunya gue pasang kebalik. Popoknya bocor kemana mana. Untung Rama cuma pipis, bukan yang lain."
Arga tertawa lagi. Kali ini lebih tulus walau masih terdengar sedih. "Lo beneran sahabat terbaik yang pernah gue punya, Gas. Gue nggak tau harus gimana tanpa lo."
"Ya makanya gue di sini," Bagas menepuk bahu Arga dengan tangan yang bebas. "Gue nggak akan kemana mana sampai lo udah bisa urus Rama sendiri. Atau setidaknya sampai lo nggak panik setiap dia nangis."
***
Malam itu, setelah Rama tertidur di ranjang kecil yang Bagas beli kemarin, Arga duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah anaknya yang tidur pulas.
"Rama," bisiknya pelan agar tidak membangunkan. "Maafkan ayah yang masih belum bisa jadi bapak yang baik. Ayah masih belajar."
Dia mengusap pipi Rama yang lembut dengan ujung jari. "Ibumu pasti lebih jago kalau dia masih di sini. Dia pasti tahu apa yang kamu butuhin tanpa kamu nangis segitu lama."
Air matanya mulai keluar lagi. Sudah berapa kali dia nangis hari ini? Sepuluh kali? Lebih?
"Ibumu cantik sekali, nak," lanjutnya sambil tersenyum sedih. "Rambutnya hitam panjang seperti sutra. Kulitnya putih seperti porselen. Dan senyumnya bisa bikin ayah lupa semua masalah."
Rama bergerak sedikit dalam tidurnya, tapi tidak terbangun.
"Ibumu baik hati," Arga melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar. "Dia selalu dengerin ayah cerita walau ceritanya membosankan. Dia selalu bikin ayah tersenyum walau ayah lagi sedih. Dan dia mencintaimu lebih dari apapun, Rama. Lebih dari nyawanya sendiri."
Arga menunduk, air matanya jatuh ke seprai. "Maafkan ayah yang nggak bisa selamatkan ibumu. Maafkan ayah yang cuma bisa diam saat ibumu mengorbankan segalanya. Maafkan ayah yang lemah."
Dia menangis dalam diam sambil terus menatap Rama. Bayi yang tidak tahu bahwa ibunya sudah pergi selamanya. Bayi yang tidak akan pernah merasakan pelukan ibunya. Tidak akan pernah mendengar suara ibunya menyanyikan lagu pengantar tidur.
Dan itu semua karena dia. Karena Arga yang lemah. Yang tidak bisa melindungi istrinya.
***
Seminggu berlalu dengan sangat berat.
Arga belajar sedikit demi sedikit cara merawat Rama. Bagas selalu di sampingnya, mengajari dengan sabar walau kadang Arga frustrasi dan marah marah.
"Ini popoknya dipasang kayak gini, Ga. Bukan dibalik!" Bagas mengajari untuk kesekian kalinya.
"Iya iya gue tau! Tapi kan bentuknya mirip semua!" Arga membela diri sambil mencoba lagi.
"Ya makanya ada tulisan depan belakang! Baca dong!"
"Tulisannya kecil banget, Gas! Mata gue udah minus ditambah ngantuk!"
"Alasan aja lo!"
Mereka berdebat seperti itu hampir setiap hari. Tapi di balik debat itu, ada kehangatan. Kehangatan persaudaraan yang membuat Arga tidak merasa sendirian.
Tapi yang paling membuat Arga dan Bagas terkejut adalah pertumbuhan Rama yang sangat cepat.
Dalam seminggu, Rama yang seharusnya masih bayi mungil yang hanya bisa nangis dan tidur, sekarang sudah terlihat seperti bayi berusia sebulan. Badannya lebih besar, wajahnya lebih bulat, dan yang paling mencengangkan, matanya yang tadinya emas sudah berubah jadi coklat gelap seperti mata Arga.
"Gas nggak salah liat kan?" tanya Arga sambil menggendong Rama yang terlihat jauh lebih berat dari seminggu lalu. "Rama kok gede banget?"
Bagas yang sedang nyuci botol susu menoleh, matanya langsung melebar. "Anjir... beneran gede banget! Kemarin gue gendong dia masih muat di satu tangan. Sekarang udah segede bayi tetangga gue yang umur sebulan!"
"Ini normal nggak sih?" Arga mulai khawatir.
"Mana gue tau! Lo pikir gue pernah punya anak jin manusia sebelumnya?!" Bagas balik bertanya dengan panik juga.
Mereka memutuskan untuk memanggil Ustadz Hasyim.
Sore itu Ustadz Hasyim datang dengan wajah serius seperti biasa. Tapi saat melihat Rama, matanya melebar dengan takjub.
"Subhanallah..." bisiknya sambil mendekat, menatap Rama yang sedang main main jari di gendongan Arga. "Rama tumbuh sangat cepat."
"Ini normal, Ustadz?" tanya Arga dengan khawatir. "Apa dia sakit atau gimana?"
Ustadz Hasyim menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, mas. Ini efek dari darah jin di tubuhnya. Rama bukan bayi biasa. Dia anak dari perpaduan dua alam. Pertumbuhannya akan lebih cepat dari bayi manusia normal."
"Seberapa cepat?" Bagas bertanya sambil duduk di samping Arga.
"Mungkin dua atau tiga kali lebih cepat," Ustadz Hasyim menjelaskan sambil mengamati Rama dengan saksama. "Dalam sebulan, dia mungkin sudah terlihat seperti bayi tiga bulan. Dalam setahun, dia mungkin sudah bisa jalan dan bicara seperti anak dua tahun."
Arga dan Bagas saling pandang dengan wajah shock.
"Dan kemungkinan besar..." Ustadz Hasyim melanjutkan sambil menatap Rama dengan tatapan yang penuh hormat. "Rama akan memiliki kemampuan khusus. Kemampuan yang mewarisi dari ibunya. Kemampuan jin."
"Kemampuan kayak apa?" Arga bertanya dengan campuran takjub dan khawatir.
"Itu saya belum tahu pasti," Ustadz Hasyim menggeleng. "Tapi biasanya anak dari perpaduan jin dan manusia bisa melihat makhluk gaib. Bisa merasakan energi di sekitarnya. Dan dalam kasus Rama yang adalah anak ramalan, kemampuannya mungkin lebih dari itu."
Arga menatap Rama yang sedang tersenyum menatap langit langit kamar. Anaknya. Anak istimewa yang lahir dari pengorbanan Safira.
"Apapun kemampuannya," kata Arga pelan sambil mengusap kepala Rama dengan lembut. "Aku akan pastikan dia tumbuh jadi anak yang baik. Anak yang membuat ibunya bangga."
Ustadz Hasyim tersenyum mendengar itu. "Saya yakin Safira sangat bangga melihat mas dari sana. Melihat mas yang berusaha keras jadi ayah yang baik untuk Rama."
"Tapi gue masih nggak becus, Ustadz," Arga mengaku dengan jujur, senyumnya pahit. "Masih sering panik. Masih sering salah. Masih... masih nangis setiap malem kangen sama Safira."
"Itu wajar, mas," Ustadz Hasyim berkata dengan lembut. "Duka itu butuh waktu. Tidak ada yang bisa sembuh dalam seminggu. Atau sebulan. Atau bahkan setahun. Tapi yang penting, mas terus berusaha. Terus hidup. Demi Rama."
Arga mengangguk sambil memeluk Rama lebih erat. "Demi Rama. Dan demi Safira yang sudah mengorbankan segalanya."
Setelah Ustadz Hasyim pulang, Arga duduk di teras sambil menggendong Rama yang mulai mengantuk. Matahari sore mulai tenggelam, langit berwarna jingga kemerahan.
"Rama, lihat," Arga menunjuk langit. "Langit itu indah kan? Ibumu dulu suka banget lihat senja. Dia bilang warna jingga itu warna paling romantis."
Rama menatap langit dengan mata coklat gelapnya yang bersinar. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil yang membuat hati Arga hangat.
"Kamu senyum?" Arga terkejut. "Kamu suka senja juga seperti ibumu?"
Rama tertawa kecil. Tawa bayi yang lucu dan menggemaskan. Dan untuk pertama kalinya sejak Safira pergi, Arga tersenyum tulus.
Tersenyum karena Rama. Tersenyum karena melihat Safira di dalam diri anaknya.
"Terima kasih, Safira," bisiknya sambil menatap langit yang semakin gelap. "Terima kasih udah kasih aku Rama. Dia bikin aku masih mau hidup. Masih mau bertahan."
Angin sore bertiup pelan, seperti jawaban dari Safira yang sudah tidak ada. Dan Arga merasakan kehangatan di dadanya. Kehangatan yang membuat dia tahu, walau Safira sudah pergi, cintanya masih ada di dalam diri Rama. Dan itu cukup untuk membuat Arga terus bertahan.