Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 – Jejak Takdir yang Tertinggal
Langkah Defit dan Maya meninggalkan lembah kehancuran terasa berat, seolah tanah yang mereka pijak enggan melepas. Dunia memang telah tenang, tetapi ketenangan itu bukanlah kedamaian melainkan keheningan setelah jeritan panjang. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah hangus dan darah yang sudah mengering, seakan ingin mengingatkan bahwa semua ini bukan mimpi.
Di kejauhan, sisa-sisa desa mulai tampak. Rumah-rumah yang runtuh, dinding yang retak, dan tiang-tiang kayu yang gosong berdiri seperti saksi bisu. Maya berhenti melangkah. Dadanya terasa sesak. Di tempat inilah dulu ia dibesarkan, di sinilah ia pertama kali belajar tertawa… dan di sinilah semuanya direnggut.
“Defit…” suaranya gemetar. “Bagaimana jika mereka membenci kita?”
Defit menoleh. Wajahnya tampak lebih keras dari sebelumnya, tetapi di balik tatapan itu tersimpan kelelahan yang dalam. “Kalau mereka membenci, biarlah. Aku sudah terlalu lama hidup dalam hinaan. Aku tahu rasanya.”
Kata-kata itu membuat Maya terdiam. Ia menatap Defit lebih lama, menyadari sesuatu yang selama ini luput: pria di sampingnya bukan hanya pejuang yang bangkit karena takdir, tetapi juga manusia yang sejak awal telah dilukai tanpa ampun. Menantu terhina. Julukan itu bukan sekadar ejekan itu adalah luka yang membentuk dirinya.
Mereka melangkah masuk ke desa.
Orang-orang keluar satu per satu dari persembunyian. Tatapan mereka beragam: takut, curiga, berharap, bahkan ada yang penuh kebencian. Bisik-bisik mulai terdengar, pelan tapi tajam.
“Itu dia…” “Dia yang membawa bencana…” “Tidak, dia yang menyelamatkan kita…”
Defit merasakan dadanya mengencang. Inilah ujian yang lebih berat daripada pertempuran melawan kegelapan: menghadapi manusia. Ia melangkah maju, berdiri di tengah lapangan desa yang hancur.
“Aku tidak meminta kalian percaya,” ucapnya lantang, suaranya serak namun tegas. “Aku juga tidak meminta maaf karena bertahan hidup. Tapi satu hal yang harus kalian tahu aku bertarung bukan untuk kekuasaan. Aku bertarung agar dunia ini masih ada.”
Keheningan menyergap. Seorang pria tua dengan tongkat kayu melangkah maju. Matanya merah, entah karena usia atau karena terlalu banyak kehilangan.
“Anakku mati,” katanya lirih. “Istriku tak sempat diselamatkan. Kalau kau memang pahlawan… katakan padaku, apakah pengorbanan kami ada artinya?”
Pertanyaan itu menghantam Defit lebih keras dari serangan apa pun. Ia terdiam. Tangannya mengepal. Maya bisa melihat rahangnya bergetar.
“Ada,” jawab Defit akhirnya, suaranya nyaris pecah. “Dan justru karena itu… aku tidak akan membiarkan pengorbanan itu sia-sia.”
Ia menunduk, sesuatu yang tak pernah ia lakukan di hadapan siapa pun. “Aku tidak bisa mengembalikan yang hilang. Tapi aku bersumpah selama aku bernapas, dunia ini tidak akan jatuh lagi ke kegelapan yang sama.”
Tangis pelan terdengar. Entah siapa yang memulainya, tetapi perasaan itu menular. Tidak semua kebencian lenyap, tidak semua luka sembuh, namun untuk pertama kalinya… ada penerimaan.
Malam tiba perlahan.
Defit duduk di reruntuhan tangga batu, menatap api unggun yang menyala kecil. Maya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya. Keheningan kali ini berbeda lebih manusiawi, lebih rapuh.
“Aku takut,” bisik Maya. “Bukan pada musuh… tapi pada masa depan.”
Defit menutup mata sesaat. Bayangan penghinaan, teriakan, dan darah kembali berkelebat. “Aku juga. Tapi mungkin… ketakutan itulah harga dari harapan.”
Di kejauhan, Wuras berdiri di balik bayangan, menatap mereka dengan ekspresi muram. Ia tahu sesuatu yang belum mereka ketahui.
Kegelapan lama memang telah tumbang.
Namun di balik dunia yang mulai dibangun kembali…
sebuah kekuatan baru telah terbangun.
Dan kali ini, ia tidak datang sebagai musuh yang jelas
melainkan sebagai takdir yang perlahan mendekat.
terus menarik ceritanya 👍