NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Kembali pulang

Sepanjang waktu itu, Hansen menunggu Elaine keluar dari ruang prakteknya. Lian menyuruhnya untuk menjaga Elaine agar tidak keluar dari rumah sakit itu.

“Hai El…” Sapa santai Hansen saat wanita itu keluar dari ruangan jaga dokter. Elaine sudah berganti seragam.

“Apa dia menyuruhmu untuk memata-matai ku?” Tanya El.

“Ya… Kau akan pergi? Kemana? Biar ku antar.”

“Dimana dia?”

“Dia sedang ke kantor sebentar.”

El terdiam dan menghentikan langkah kakinya.

“Aku akan kerumah kenalan ku.” Ucap El.

“Akan aku antar.” Balas Hansen.

El tak menolak. Ia juga butuh sebuah mobil.

Bersama Hansen mereka berdua menuju sebuah rumah yang tidak jauh dari pusat kota Asgard. El sudah mengabari orang tersebut bahwa dirinya akan datang bersama teman.

“Laine…….” Seorang wanita paruh baya keluar memeluk erat El. Matanya berlinang menahan rindu.

“Bibi… lama tidak bertemu. Kenalkan dia teman ku. Hansen.”

Bibi Lily mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Hansen. Sangat hangat dan ramah. Ia mengajak mereka berdua masuk kedalam rumahnya.

Bibi Lily adalah asisten rumah tangga keluarga Eloise saat ia masih kecil. Bibi Lily bertugas menjadi asisten di rumah kakeknya.

Namun setelah kakeknya meninggal, seluruh asisten rumah tangga tersebut diberhentikan oleh sang ibu.

“Aku merindukanmu nak.” Bibi Lily mendekap Elaine dengan hangat, “Kau sudah besar sekarang. Bagaimana kabar mu dengan Dam?”

Saat itu mereka berada di dapur hanya berdua. Hansen tengah menelepon seseorang mengenai pekerjaan.

“Aku dan kakak baik-baik saja. Apa Kina belum selesai kuliahnya?”

“Tahun depan dia akan selesai.”

Mereka bercengkrama cukup lama. Hingga Hansen hadir di dapur tersebut.

“Minumlah tuan Hansen.” Pinta bibi Lily menyodorkan teh.

“Kalau kau sibuk seharusnya tidak perlu menemaniku.” Ucap El menenggak teh nya.

“Tidak apa. Semua terkendali.” Ucap Hansen menenggak teh nya juga, “Jadi apa hubunganmu dengan bibi Lily, El?”

“Bibi Lily yang mengasuh ku dulu saat kecil.”

“Sungguh?”

Kembali mereka bertiga terlibat dalam pembicaraan hangat hingga sore menjelang.

“Kau terlihat lelah nak, berbaringlah dikamar…”

“Tidak perlu bi.” Sela Hansen yang memijat keningnya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya El datar.

“Aku sedikit mengantuk.” Jawab Hansen, ia menatap teh nya. Tak pernah ia semengantuk ini secara tiba-tiba, “El apa kau…”

Seketika pria itu tertidur di sofa ruang tamu. El telah memberi obat bius pada teh Hansen atas bantuan bibi Lily jg.

“Aku titip dia bi.” Pamit El.

“Kau yakin ingin kesana? Aku bisa menemani mu.” Cemas bibi Lily.

“Tidak apa. Aku hanya sebentar setelah itu aku akan kembali. Ada barang yang ingin aku cari sejak lama.” Pamit El.

Tak ingin menunggu lama. Dengan mengendarai mobil Hansen, El bergegas menuju rumah sang kakek. Rumah yang begitu membekas dalam dirinya membawa trauma mendalam.

...****************...

Elaine menginjakkan kakinya dikediaman sang kakek. Rumah itu masih terawat dengan baik. Kakaknya Damian masih mempekerjakan beberapa orang untuk mengurus rumah tersebut.

Semua barang ditutup beberapa kain putih yang cukup besar. Sepintas bayang-bayang masa kecil yang penuh bahagia terlintas disetiap sudut ruangan tersebut.

El menuju kamar tidurnya. Semua barang tidak ada yang berubah. Tidak ada debu yang menyelimuti setiap perabotan. Ia mengambil kotak besar dibawah kolong kasurnya, tak lama ia menemukan sebuah kunci dari dalam baju bonekanya.

Kunci ruang kerja ayah dan kakeknya.

Sayangnya pintu kedua ruangan itu telah diganti oleh Damian. Kakaknya tak dapat menemukan kuncinya, sehingga mendobrak pintu lama itu dan diganti dengan yang baru.

El tak bisa membukanya. Membutuhkan sidik jari untuk membuka pintu itu. Ia sungguh ingin tahu fakta kematian kakek dan ayahnya hingga membuat Damian bertekad menjadi anggota interpol. Siapa yang membunuhnya? Untuk apa?

Malam mulai menjelang. Secara otomatis pula lampu dibeberapa ruangan mulai menyala.

BIP BIP BIP

“Ya bi?” El mengangkat panggilan dari bibi Lily.

“Kau dimana?”

El terperanjat mendengarnya. Killian berada dirumah sang bibi.

“Dimana bibi Lily?” Tanya El cemas.

“Sama seperti yang kau lakukan pada Hansen.” Dingin Lian.

“Jika kau berani menyakitinya…”

“Kembali sekarang.” Suara tegas Lian membungkam El, “Aku menunggu mu. Jika bibi mu terbangun dan aku masih tidak melihat mu, jangan salahkan aku menyiksa bibi mu.”

Killian mematikan ponselnya. Ia juga kesal wanita tua itu tidak bisa memberitahu dimana El berada. Ini semua atas permintaan Elaine.

Tanpa pikir panjang El menuruni anak tangga itu.

CTAAAARR

Langkah kaki El terhenti saat suara petir menyambar. Ia melihat lorong dibawah tangga besar itu. Lintasan ingatan traumanya kembali hadir.

Derap langkah kaki banyak orang mengitari rumah besar itu. Mereka membantai para pembantu rumah tangga. El kecil bersembunyi di basement. Tempat yang rahasia yang tidak ada orang lain mengetahuinya.

CTAAAAAARE

GLUDUUUK GLUDUK

El kembali sadar. Tak ingin rasa trauma itu menghantuinya, ia bergegas berlari menuju mobil.

Tubuhnya gemetar hebat dibawah derasnya hujan. Ia ketakutan. Bahkan saat sudah didalam mobil tremor di tangannya tak terhenti, ia tak dapat menyetir.

El mencoba menarik nafas panjang untuk menjernihkan otaknya. Butuh waktu beberapa menit hingga tubuhnya kembali normal.

Secepat mungkin Elaine mengemudikan mobilnya kembali kerumah bibi Lily.

Hanya butuh 15 menit bagi Elaine mengemudikan mobilnya yang seharusnya memakan waktu setengah jam lebih. Ia menerjang hujan lebat malam itu.

KLAAAAKK

Elaine membuka pintu rumah sang bibi. Yang terlihat justru kebalikan dari apa yang dibayangkan El.

Bibi Lily terlihat baik-baik saja, mereka bertiga tengah bercengkrama hangat.

“Laine…” Sang bibi berlari menghampiri El yang basah kuyup karena hujan.

El menatap bingung dengan apa yang terjadi.

“Kau baik-baik saja bi?”

“Aku yang harusnya bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan? Basah semua.” Cemas sang bibi, “Sudah jangan menangis. Bibi disini. Bibi disini.” Dekap bibi Lily pada El dengan mengusap lembut punggung El.

“Ayo ganti pakaian mu. Kau bisa memakai pakaian Kina nanti.”

El tak bergeming. Matanya memerah dengan air mata. Ia menahan amarah yang amat sangat. Mata itu tertuju tajam pada Killian yang berdiri di belakang bibi Lily.

“Dia datang mencari mu Laine.” Lembut sang bibi saat El melangkah mendekati Killian. Tangan wanita itu mengepal kuat menahan amarah.

“Lihatlah dia membawakan ku banyak makanan dan hadiah. Apa dia kekasihmu? Kalian berpacaran?” Senang bibi Lily.

Lian menatap El dalam diam. Kedua mata mereka seakan berbicara, ada rasa kesal amarah di keduanya.

“Ya bibi…” El perlahan memeluk pria itu, baju basahnya serta merta juga membasahi pakaian Lian, “Dia pria ku.” Ucap El membuat Hansen dan Lian tak percaya mendengarnya.

“Sungguh?” Ucap bibi Lily, “Syukurlah kau bersamanya, dia pemuda yang sopan dan hangat.”

El semakin erat mendekap pria itu. Namun Lian tak membalasnya. Ia tahu Elaine sedang meredam amarahnya. Ia saat itu sedang marah besar pada Lian.

“Kau bisa pulang Hansen. Aku akan bersamanya.” Ucap El melepas dekapan itu, “Tunggu aku, aku akan mengganti pakaian ku.”

El bersama bibi Lily melangkah menuju kamar Kina. Kamar anak perempuan bibi Lily.

“Dia sepertinya marah besar pada mu Yan.” Ucap Hansen yang merasa aura El sangat menyeramkan, “Aku akan kembali kalau begitu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!