NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mata tajam yang sama. Sorot yang dingin, seperti selalu sedang menilai sesuatu. Pria yang dulu tidak sengaja ia tumpahi kopi di hari pertama ia datang ke kampus ini.

Pria itu. Ia masih memegang lengan Olivia, menahannya agar tidak jatuh.

“Lu lagi,” katanya pelan.

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu seperti hiburan kecil di sana.

Olivia menarik lengannya pelan. “Eh… iya.”

Jesica yang berdiri di belakang Olivia menatap keduanya bergantian. “Kenal?”

“Enggak,” jawab Olivia cepat.

Pria itu mengangkat alis tipis. “Oh? Jadi kejadian kopi itu dianggap tidak pernah ada?”

Olivia mendengus kecil. “Lu masih ingat itu?”

“Sulit lupa kalau seseorang langsung menculik gue ke mall setelah menumpahkan kopi.”

Jesica menatap Olivia dengan mata membesar.

“Lu… ngapain?”

Olivia berdeham canggung. “Itu cerita lain.”

Pria itu akhirnya melepaskan tangannya. “Kali ini tidak ada kopi?”

“Belum,” balas Olivia cepat.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Lalu pria itu melangkah pergi begitu saja, melewati mereka tanpa menoleh lagi. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti sejenak.

“Olivia.”

Olivia tertegun. Ia tidak pernah memberi tahu namanya. Pria itu tidak menoleh lagi, kemudian ia melanjutkan langkahnya dan menghilang di ujung koridor.

Jesica langsung mencengkeram lengan Olivia.

“Liv… siapa itu?”

Olivia masih menatap arah pria itu pergi. “Gue juga pengen tahu.”

“Tunggu—dia tahu nama lu!”

Olivia menghembuskan napas panjang. “Sekarang bukan itu masalahnya.”

Ia menarik Jesica lagi menuju tangga samping.

“Lu tadi bilang nemu sesuatu tentang Olin,” bisiknya cepat. “Apa?”

Jesica terlihat ragu. Ia menoleh ke kanan dan kiri lagi, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.

“Liv… gue nggak yakin ini kebetulan.”

“Apa?”

Jesica buru-buru merogoh ponselnya dari dalam tas.

“Ini… daftar pasien lama rumah sakit tempat kak Olin dirawat,” katanya cepat sambil membuka galeri.

Olivia menyipitkan mata menatap layar ponsel itu.

“Yang mana?” tanyanya bingung.

Jesica menunjuk dengan yakin. “Itu.”

Olivia mengambil ponsel itu dan menggeser layar. Hening. Alisnya perlahan naik.

“Jes…”

“Hm?”

“Ini screenshot kata-kata mutiara yang lu ambil dari reels.”

Ia menggeser lagi. “Dan ini… resep masakan?”

Olivia menoleh dengan ekspresi datar. “Lu lagi belajar masak sekarang?”

Jesica berkedip. “Hah?”

Olivia menggeser layar sekali lagi, lalu mengembalikan ponsel itu dengan setengah kesal.

“Gak ada apa-apa di sini.”

Jesica langsung menunduk melihat layar ponselnya sendiri. Wajahnya berubah bingung.

“Enggak… enggak mungkin.”

Ia membuka galeri lagi. Menggulir cepat. Mencari screenshot yang ia yakin sekali sudah ia simpan beberapa menit lalu.Tidak ada.

Jesica membuka folder Recently Deleted atau sampah foto. Kosong. Ia lalu membuka email yang tadi ia pikir menjadi sumber dokumen itu. Kotaknya juga kosong. Jesica terdiam beberapa detik, wajahnya pucat.

“Tapi gue yakin banget…” gumamnya pelan. “Gue lihat sendiri namanya.”

Olivia melipat tangan di dada, menghela napas panjang. “Jes. Bisa jadi lu salah lihat.”

“Enggak!” Jesica menggeleng cepat. “Gue screenshot! Gue bahkan lingkarin namanya!”

“Terus sekarang hilang?” Olivia mengangkat alis. “Ajaib banget.”

Jesica menatap ponselnya lagi, seolah berharap gambar itu tiba-tiba muncul kembali. Ia bahkan menekan tombol refresh email. Tetap tidak ada.

“Gue nggak lagi mimpi, kan?” bisiknya.

Olivia menatap sahabatnya beberapa detik. Ia tahu Jesica bukan tipe orang yang suka mengarang cerita. Tapi fakta di layar ponsel itu jelas. Tidak ada apa-apa.

Akhirnya Olivia hanya menghela napas lagi.

“Udah,” katanya sambil menarik tasnya. “Kita ke kantin dulu. Otak gue butuh kafein.”

Mereka berjalan menyusuri koridor menuju kantin kampus. Namun kantin di kampus ini sama sekali tidak terlihat seperti kantin biasa.

Interiornya lebih mirip restoran modern—meja kayu besar, lampu gantung hangat, bar kopi profesional, bahkan ada area dessert dengan kaca display seperti di hotel.

Jesica masih terlihat tidak tenang.

“Liv, gue serius…”

“Iya, iya. Gue percaya lu,” potong Olivia, walau nadanya terdengar lebih menenangkan daripada benar-benar yakin.

Mereka memilih meja di dekat jendela. Seorang pelayan datang mencatat pesanan. Olivia memesan kopi, Jesica memesan jus hanya untuk membuat tangannya tidak gemetar.

Beberapa menit mereka hanya diam. Sampai Olivia tiba-tiba menyadari sesuatu. Dari pantulan kaca jendela di depannya… Ada seseorang yang duduk di meja belakang mereka. Sendirian. Memakai jaket gelap. Dan menatap lurus ke arah mereka. Olivia memutar kepalanya perlahan.

Benar saja. Pria itu lagi. Pria yang ia tabrak tadi. Pria yang dulu ia tumpahi kopi. Dan yang lebih membuat bulu kuduk Olivia merinding—Di meja pria itu terbuka sebuah map tipis.

Di sudut map itu terlihat jelas tulisan yang membuat napas Olivia tersangkut di tenggorokan.

Oliana Nugraha.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!