Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di rumah Tuhan
Langkah kaki Laura terasa berat, seolah-olah setiap ubin marmer yang ia injak adalah bara api yang menyala.di dalam ruangan yang mulai hening itu,suara pendeta yang melantunkan doa " Bapa Kami " terdengar seperti dentuman guntur di telinganya.setiap kalimat suci yang di ucapkan pendeta dan jemaat,seperti serangan fisik yang membakar pori-pori kulitnya.
Ia tidak kuat lagi.dengan nafas yang memburu,dan keringat dingin yang mulai bercampur dengan hawa panas dari dalam tubuhnya,Laura bangkit dan menyelinap keluar.
Begitu pintu gereja tertutup di belakangnya,Laura berlari kecil menuju area toilet yang terletak di belakang gedung tua itu.
Udara luar seharusnya sejuk di Minggu pagi tetap terasa panas seperti api di tubuhnya.
Di dalam toilet yang sepi dan hanya di terangi cahaya remang dari ventilasi kecil,Laura berdiri di depan cermin yang retak di pinggirnya.
" apa yang terjadi padaku? Kenapa...kenapa rasanya seperti ini...?"
Rintihnya sambil mencengkram pinggiran wastafel porselen.
Laura menatap dirinya di cermin,dan apa yang di lihatnya hampir membuatnya berteriak.
Di bawah kulit leher dan lengannya, pembuluh darahnya tidak lagi berwarna kebiruan,melainkan memancarkan cahaya ke emasan yang redup namun intens,seperti lava yang mengalir.
Ia bahkan bisa melihat uap tipis yang keluar dari sela jari-jarinya.begitu ia menyentuh keran air,ia merasakan suhu tubuhnya semakin tidak wajar.
" sangat panas...tolong...siapapun..."
Dalam keputusasaan Laura menyalakan keran air dengan tangan gemetar.ia meraup air dingin sebanyak-banyaknya untuk membasuh tangan dan wajahnya.
Namun,sesuatu yang mengerikan terjadi.
Begitu air menyentuh telapak tangannya,tempat luka ritual dulu itu berada-air tersebut tidak mendinginkannya,melainkan air itu menimbulkan rasa panas yang semakin hebat.
" mengapa air ini tak bisa memadamkan rasa panas di tubuhku? Mengapa aku merasa semakin terbakar?" rintih Laura.
Rasa panasnya bukannya hilang,justru semakin menjadi.seolah-olah air adalah bahan bakar untuk api di dalam darahnya.
" mengapa air ini tidak bisa memadamkannya? Mengapa aku merasa semakin terbakar saat mendengar doa dari dalam sana?" tangis Laura pecah.
Ia menyadari satu hal,tubuhnya bukan lagi tubuh manusia biasa yang bisa di dinginkan oleh air.gelar Anak Setan Emas telah mengubah esensi dirinya.
Di tempat yang penuh kesucian seperti ini,kekuatan gelap di dalamnya bereaksi secara ekstrim-ia bukan sedang sakit,ia menolak tempat itu.
Suasana di dalam toilet yang sempit itu terasa seperti oven yang menyala.dengan gemetar Laura melepaskan pakaiannya,lalu mengguyur tubuhnya,membiarkan aliran air dari gayung meredam gejolak di dalam darahnya.
" sadarlah Laura,kamu manusia.kamu bukan milik mereka,berhenti membakar." bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau bercampur Isak tangis yang tertahan.
Perlahan pendar emas di bawah kulitnya meredup.rasa panas yang tadinya seperti api menjilat tulang,kini berangsur menjadi hangat yang tumpul.ia merasa sedikit lega,meski napasnya masih tersengal.
Dengan gerakan kilat ia mengenakan kembali pakaiannya,merapikan rambut panjangnya yang kini basah,dan memastikan tidak ada tanda-tanda aneh tertinggal di wajahnya.
Laura keluar dari area toilet dan berjalan menyisir samping gereja.suara jemaat mulai menyanyikan pujian untuk Tuhan,terdengar sayup-sayup.ia harus segera kembali ke bangkunya sebelum ibadah usai,dan Oma mencarinya.
Namun,tepat saat ia sampai di depan pintu samping gereja-hanya selangkah lagi untuk masuk ke dalam kesucian ruangan itu-sebuah fenomena aneh terjadi.
Saat ia hendak melangkahkan kaki kanannya melewati ambang pintu,kaki itu mendadak menjadi seberat timah.bukan karena lemas,tapi seolah ada magnet raksasa di bawah lantai yang menarik kakinya ke bumi.
kaki kirinya masih berada di luar,di tanah biasa.namun kaki kanannya yang menyentuh lantai gereja benar-benar terkunci.ia mencoba menariknya,namun otot-ototnya membantu.
Jika tadi ia merasa terbakar,kini kaki kanannya seperti di celupkan ke dalam air raksa yang membeku.
Laura sangat panik.ia mencengkram kusen pintu kayu jati itu hingga kuku-kukunya memutih.ia mencoba menyeret tubuhnya masuk,namun kaki kanannya tetap tak bergeming seolah-olah gedung gereja itu sendiri secara fisik sedang menolak masuknya si Anak Setan Emas.
" kenapa...? Aku ingin masuk,aku ingin kembali duduk di sana..!" teriaknya dalam hati.
Dari posisi itu,ia bisa melihat punggung Oma di kejauhan.Oma sedang berdiri,bersiap untuk menerima berkat.Laura ingin memanggil,namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Tiba-tiba,ia merasakan sebuah bayangan jatuh menutupi tubuhnya dari arah belakang.bau anyir yang tajam tercium.
" sudah ku bilang bukan?" sebuah suara dingin berbisik dari belakang telinganya.
" tubuhmu sudah mengenali tempatnya.semakin kau mencoba masuk ke sana, semakin kau akan merasa tersiksa."
Perjuangan Laura di ambang pintu gereja itu,terasa seperti melawan gravitasi yang tak kasat mata.keringat dingin bercucuran di pelipisnya,saat ia mencoba menyentakkan kaki kanannya yang membatu.setiap kali ia berusaha melangkah masuk,rasa sakit yang tajam seperti sengatan listrik,merambat ke sum-sum tulangnya.
Dengan sisa tenaga dan air mata yang menggenang,Laura menyadari bahwa ia tak akan bisa mencapai bangku tempat di mana ia duduk sebelumnya.suara " amin " yang menggema dari dalam gedung justru membuatnya semakin lemas.
" maafkan aku Tuhan,aku tak bisa..." bisiknya lirih.
Ia memutar tubuhnya,memaksa kakinya berbalik menjauhi kesucian ruangan itu.begitu ia membelakangi pintu gereja,tekanan berat di kakinya perlahan mengendur.namun tubuhnya,terasa masih sangat lemah dan bergetar.
Laura berjalan tertatih menyusuri trotoar,menjauh dari tempat peribadatan itu.setiap langkah terasa berat ia sesekali harus bersandar pada tiang listrik,atau pagar rumah orang untuk mengatur nafas.
Jantungnya berdegup tidak beraturan.seolah-olah kekuatan Anak Setan Emas di dalam dirinya sedang marah karena ia mencoba " di bersihkan " tadi.
Sebuah angkot tua berhenti di depannya.Laura naik dengan gerakan canggung,memilih kursi paling pojok di dekat pintu agar mudah turun,jika rasa panas itu menyerang lagi.
Di dalam angkot berbau bensin dan debu,Laura menyandarkan tubuhnya ke bingkai jendela yang bergetar.ia menatap jalanan dengan pandangan kosong.ia merasa seperti pengkhianat yang meninggalkan gereja tanpa pamit.
Saat angkot melaju menjauh dari gereja,rasa panas di tubuhnya benar-benar hilang berganti dengan rasa dingin yang hampa.ia melihat telapak tangannya.kulitnya mulai normal,tak ada lagi pendar emas tapi ia merasa ada sesuatu yang patah dalam jiwanya.
Ia tahu, setelah ini Oma akan pulang dan mendapati rumah dalam keadaan sepi,atau mendapati cucunya sedang berada di kamar dengan sejuta alasan.namun,pertanyaan besar menghantuinya.
" sampai kapan aku bisa lari,jika gereja saja menolakku?ke mana aku harus pergi...? Aku tak bisa terus lari." gumamnya tegas,meski matanya berkaca-kaca.
" jika gereja menolakku itu berarti,aku harus mencari jawaban di tempat yang menerimaku.aku harus menemukan Marco.hanya dia yang tau,apa yang mereka lakukan dan tanamkan ke dalam darahku."
Laura masuk ke kamarnya.hanya bunyi jam dinding yang berdetak,menemani napasnya yang tersengal.tak ada seorangpun,di rumah besar itu.majikan Oma sudah hampir dua Minggu pergi berlibur ke singapura.hanya Oma dan Laura yang tinggal di rumah besar majikannya.
Kelelahan mental dan fisik akibat "perang" di dalam gereja tadi, benar-benar menguras energinya.tanpa sempat mengganti baju,Laura membaringkan tubuhnya di atas kasur.begitu kepalanya menyentuh bantal,kegelapan langsung menjemputnya.namun,itu bukan tidur yang tenang.
Dua jam berlalu suara pintu besi yang berderit dengan langkah kaki yang pelan di atas lantai,menandakan kepulangan Oma.
Oma melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang guratan lehernya,tampak lebih dalam dari biasanya.
di gereja tadi,ia sempat panik mencari Laura ke seluruh sudut ruangan.bertanya kepada beberapa jemaat,hingga akhirnya seorang kuncen gereja mengatakan melihat seorang gadis berjalan keluar menuju jalan raya dengan wajah pucat.
Oma tak langsung memanggil.ia meletakkan Alkitab di meja ruang tamu lalu berjalan menuju kamar Laura.Pintu kamar terbuka.sedikit cahaya matahari siang menyelinap masuk,menyinari sosok Laura yang meringkuk di bawah selimut.
Oma berbisik lirih.suaranya penuh kecemasan yang tertahan.
" nak...Laura?"
Oma mendekat duduk di tepi tempat tidur.ia melihat rambut Laura yang masih agak acak-acakan,dan sisa keringat di keningnya.saat Oma mengulurkan tangan untuk mengusap kepala cucunya,ia berpikir untuk tidak membangunkan anak gadis itu.
Oma mengurungkan niatnya,dan membiarkan Laura istirahat.