Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kedatangan di Rintik Hujan
Perjalanan malam itu terasa seperti berada di dalam sebuah kapsul waktu yang terpisah dari hiruk-pikuk dunia luar. Di dalam mobil sedan hitam milik Justin, hanya ada kesunyian yang tebal, ditemani oleh suara mesin yang halus dan hembusan angin dari AC yang menyebarkan aroma parfum maskulin yang menenangkan. Di luar, hujan masih turun dengan ritme yang konsisten, membasahi kaca mobil dan menciptakan aliran air yang berkejaran seiring laju kendaraan.
Liana, yang seharian ini tenaganya terkuras habis—mulai dari latihan basket yang berat hingga berkutat dengan tugas Pak Bram di perpustakaan—merasa kelopak matanya semakin berat. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi yang empuk, dan tanpa ia sadari, ia perlahan-lahan terlelap. Deru napasnya menjadi teratur, sesekali ia bergerak kecil mencari posisi yang lebih nyaman di balik hoodie abu-abu besar milik Justin yang masih melekat erat di tubuhnya.
Justin, yang sedang fokus memegang kemudi, sesekali melirik ke arah samping. Ia melihat Liana yang tertidur pulas dengan wajah yang tampak begitu damai. Tidak ada lagi kerutan di dahi karena bingung memikirkan materi kuliah, yang ada hanyalah gurat kelelahan yang jujur.
Melihat itu, tangan kiri Justin bergerak pelan menuju panel kendali musik. Ia memutar tombol volume hingga suara lagu yang tadinya mengalun sedang menjadi sayup-sayup, hampir tak terdengar. Ia juga mengatur arah hembusan AC agar tidak langsung mengenai wajah Liana, takut gadis itu akan semakin kedinginan. Kecepatan mobilnya pun ia turunkan. Ia mengendarai mobil dengan sangat hati-hati, menghindari setiap lubang atau gundukan di jalanan agar tidur Liana tidak terganggu.
"Dasar pelor (nempel molor)," gumam Justin sangat pelan, hampir berupa bisikan. Ada secercah senyum tipis yang tak terlihat di kegelapan kabin mobil.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, mobil Justin perlahan memasuki kawasan komplek perumahan Liana. Ia mengikuti petunjuk dari aplikasi peta hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis yang tampak asri dengan lampu teras yang menyala hangat.
Justin mematikan mesin mobil, namun ia tidak langsung bergerak. Ia menatap Liana yang masih berada di alam mimpi. Sejujurnya, ia merasa tidak tega untuk membangunkan gadis itu. Namun, ia tidak mungkin membiarkan Liana terus tidur di dalam mobilnya sepanjang malam di depan rumahnya sendiri.
"Liana," panggil Justin lembut.
Tidak ada jawaban. Liana hanya bergumam kecil dalam tidurnya.
Justin menghela napas, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Liana. "Liana, bangun. Sudah sampai di depan rumah lo."
Liana mengerjapkan matanya perlahan. Cahaya lampu jalanan yang masuk ke dalam mobil membuatnya sedikit silau. Ia menguap kecil, lalu tersadar sepenuhnya di mana ia berada.
"Eh? Sudah sampai ya, Kak?" tanya Liana dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia merasa sangat malu karena tertidur di mobil senior yang baru beberapa hari ia kenal. "Maaf, Kak Justin... saya beneran nggak sengaja ketiduran."
"Nggak apa-apa. Turun gih, hujannya masih deres," jawab Justin datar, kembali ke mode kaku miliknya.
Liana mengangguk dan baru saja hendak meraih gagang pintu mobil untuk keluar, namun tangan Justin tiba-tiba menahannya.
"Tunggu di sini," perintah Justin singkat.
Liana tertegun, bingung dengan maksud Justin. Ia melihat Justin meraih payung biru besar dari kursi belakang, lalu membuka pintu kemudi dan keluar menembus hujan. Justin berjalan memutari kap mobil dengan payung yang sudah terbuka lebar.
Klik.
Pintu di samping Liana terbuka dari luar. Justin berdiri di sana, memegang payung dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan pintu agar air hujan tidak terlalu banyak masuk ke dalam kabin.
"Ayo," ucap Justin.
Liana turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Ia berdiri sangat dekat dengan Justin di bawah naungan payung biru itu. Justin memastikan payungnya condong ke arah Liana, melindunginya sepenuhnya dari rintik hujan yang masih cukup deras. Mereka berjalan beriringan melintasi halaman kecil rumah Liana menuju teras yang teduh.
Sementara itu, di dalam rumah, Ayah Liana sedang duduk di ruang TV. Ia sebenarnya sedang menunggu kepulangan putrinya dengan perasaan sedikit cemas karena hari sudah malam dan hujan tak kunjung reda. Saat ia mendengar suara deru mesin mobil berhenti di depan pagar, ia segera beranjak dan mengintip dari balik tirai jendela.
Mata Ayahnya membelalak saat melihat Liana turun dari sebuah mobil sedan mewah, dipayungi oleh seorang laki-laki jangkung yang tampak sangat perhatian.
"Siapa itu? Temen kampus Liana?" gumam Ayahnya penasaran. Ia tetap berdiri di balik jendela, memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan saksama.
Sesampainya di teras rumah yang kering, Justin melipat payungnya. Liana berbalik menghadap Justin, masih dengan hoodie abu-abu itu menutupi tubuhnya.
"Makasih banyak ya, Kak Justin. Sudah dianter sampai depan pintu, dipayungi pula. Maaf banget hari ini saya beneran merepotkan dari pagi sampai malam," ucap Liana tulus, matanya menatap Justin dengan binar terima kasih.
Justin hanya mengangguk tipis. Ia melirik ke arah pintu rumah Liana yang masih tertutup. "Sama-sama. Masuk sana, langsung mandi air anget biar nggak sakit. Jaketnya lo bawa dulu aja, balikin kalau lo udah sempet cuci."
"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan ya, hujannya masih licin," balas Liana.
"Hm. Gue balik ya," ucap Justin.
Ia berbalik, kembali membuka payungnya, dan berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi. Liana tetap berdiri di teras, matanya tak lepas mengikuti punggung tegap itu. Ia melihat Justin masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan perlahan-lahan memundurkan kendaraannya keluar dari perkarangan rumah.
Saat mobil hitam itu mulai menjauh dan lampunya menghilang di belokan jalan, Liana masih diam di sana. Ia merasakan detak jantungnya yang berirama tenang namun pasti. Dinginnya malam itu seolah tak mampu menembus kehangatan yang baru saja Justin tinggalkan di hatinya.
Liana menghela napas panjang, tersenyum pada kegelapan malam, sebelum akhirnya memutar kunci pintu rumahnya. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, Ayahnya sudah siap dengan rentetan pertanyaan tentang siapa "sopir pribadi" tampan yang baru saja mengantarnya pulang.