Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tessa menggenggam kartu nama itu erat.
Ia menatap kedua orang tuanya untuk terakhir kali sore itu.
“Aku tidak akan jadi jaminan siapa pun,” katanya pelan, tapi tegas. “Bukan untuk hutang. Bukan untuk kesalahan yang bahkan bukan perbuatanku,"
Ibunya terisak. “Kamu mau ke mana?”
Tessa menghapus air matanya kasar.
“Ke mana saja. Asal bukan di sini.”
Ayahnya berdiri lagi. “Jangan bodoh! Madam Tifanny punya orang di mana-mana!”
“Dan Ayah pikir aku lebih aman di rumah ini?” balasnya tajam.
Kalimat itu membuat ayahnya terdiam.
Tessa berbalik menuju pintu.
“Tessa!” panggil ibunya.
Ia berhenti sesaat, tanpa menoleh.
“Kalau Ibu masih menganggap aku anak, jangan pernah biarkan perempuan itu menyentuh hidupku lagi.”
Pintu terbuka.
Udara sore langsung menyergap wajahnya.
Ia melangkah keluar tanpa membawa apa pun selain tas kecil di bahunya.
Langkahnya cepat. Tidak terarah. Tapi penuh tekad.
Di belakangnya, rumah itu tetap berdiri.
Tapi bukan lagi tempat pulang.
Jalanan kota sudah lebih sepi. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu. Angin sore terasa dingin di kulitnya.
Tessa berjalan tanpa tahu arah.
Sampai ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia berhenti.
Tidak dijawab.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Nomor Tidak Dikenal
Jangan buat semuanya jadi sulit. Dua hari itu kebaikan hati Madam.
Darahnya terasa membeku.
Mereka sudah bergerak.
Tessa menoleh ke belakang. Seolah merasa diawasi.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tangannya gemetar saat kembali menyentuh kartu nama hitam itu.
Nickolas Fernandez.
Pria yang dengan jelas mengatakan mereka tidak perlu saling menghubungi kecuali urusan administrasi.
Ini bukan administrasi.
Ini penyelamatan.
Ia menatap nomor di kartu itu lama sekali.
Harga dirinya berteriak untuk tidak meminta bantuan.
Tapi nalurinya berkata lain.
Akhirnya, dengan napas tidak stabil, ia menekan nomor itu.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Klik.
“Ya.” Suara Nick terdengar datar dari seberang.
Tessa membuka mulutnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus meminta tolong dengan cara seperti ini,
“Nick… ini aku... Tessa.”
Hening sepersekian detik.
“Ada apa?”
Ia menutup mata sebentar.
“Aku dalam masalah.”
Dan malam yang seharusnya menjadi akhir dari keterikatan mereka, justru baru saja memulai sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Nick tidak langsung menjawab.
Di seberang sana hanya terdengar napasnya yang stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja mendengar kalimat seperti itu.
“Masalah seperti apa?” tanyanya akhirnya. Nada suaranya tetap datar. Profesional. Seolah ini hanya keluhan klien.
Tessa menelan ludah.
“Ada orang yang...”
“Kalau ini tidak berkaitan dengan saya, seharusnya itu bukan urusan saya,” potong Nick.
Kalimat itu seperti tamparan.
Tessa terdiam. Angin sore menerbangkan rambutnya ke wajah, tapi ia tidak peduli.
“Aku tidak menelepon untuk urusan kecil.”
“Lalu untuk apa?” Nada Nick berubah sedikit. Bukan peduli. Lebih seperti waspada.
“Aku diancam.”
Hening lagi.
“Diancam?” ulang Nick pelan. “Oleh siapa?”
“Orang-orang Madam Tifanny.”
Nama itu membuat jeda lebih panjang dari sebelumnya.
Namun yang keluar dari mulut Nick justru berbeda dari yang Tessa harapkan.
“Dan kamu pikir menyebut nama itu akan membuat saya panik?”
Tessa tercekat.
“Aku tidak sedang main-main.”
“Tidak?” balasnya cepat. “Karena dari sudut pandang saya, ini terlihat seperti skenario klasik.”
“Apa maksudmu?”
“Perempuan yang terdesak. Tiba-tiba butuh perlindungan. Lalu mencari pria yang kebetulan punya posisi dan sumber daya.”
Setiap katanya terukur. Tajam. Menyakitkan.
Tessa merasa dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.
“Kamu pikir aku memanfaatkanmu?”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu mengarah ke sana.”
Nick menghembuskan napas pelan.
“Sebelumnya saya sempat berpikir kamu berbeda.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tuduhan langsung.
“Berbeda?” suara Tessa hampir pecah.
“Ya. Saya pikir kamu tidak akan menyeret saya ke drama kehidupan kamu.”
Drama.
Jadi itu saja artinya bagi dia.
Tessa tertawa kecil. Tawa yang hambar.
“Kamu pikir ini drama?”
“Buktinya apa bahwa ancaman itu nyata?” tanya Nick tanpa emosi. “Pesan anonim? Nomor tak dikenal? Itu bisa dibuat siapa saja.”
Tangan Tessa gemetar lagi. Kali ini bukan karena takut.
Karena marah.
“Aku tidak cukup rendah untuk mengarang ancaman hanya demi perhatianmu.”
“Saya tidak tahu seberapa rendah seseorang bisa jatuh ketika terdesak,” balas Nick.
Itu titiknya.
Harga diri Tessa seperti diinjak.
“Aku salah menelepon,” katanya pelan.
Di ujung sana, Nick terdiam sebentar. Seolah mempertimbangkan sesuatu.
“Apa yang sebenarnya kamu mau dari saya, Tessa?”
Nada itu bukan lagi dingin. Itu dingin bercampur curiga.
Pertanyaan itu membuat Tessa sadar.
Ia berdiri sendirian di trotoar, dengan ancaman nyata membayangi, dan satu-satunya orang yang ia hubungi justru menganggapnya manipulatif.
“Aku cuma mau satu hal,” ucapnya lirih.
“Apa?”
“Percaya padaku.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak panggilan itu dimulai, Nick tidak langsung membalas.
Diruangan kantornya yang tenang, Nick berdiri memandangi layar ponselnya. Wajahnya keras. Namun rahangnya menegang.
Sebenarnya sejak awal ia memang merasa Tessa bukan tipe perempuan yang mencari keuntungan.
Tatapan matanya waktu terakhir kali mereka bertemu, terlalu jujur untuk seorang oportunis.
Tapi pengalaman mengajarkannya satu hal,
Kepercayaan adalah celah paling mahal.
“Kepercayaan bukan sesuatu yang saya berikan lewat telepon,” akhirnya ia berkata.
Tessa memejamkan mata.
“Aku tidak minta kamu datang,” katanya pelan.
“Aku tidak minta uang. Aku tidak minta perlindungan.”
“Lalu?”
“Aku cuma minta kamu tidak menganggapku serendah itu.”
Kalimat itu membuat sesuatu bergerak di dada Nick.
Hal kecil. Mengganggu.
Namun egonya lebih cepat bicara.
“Kalau kamu benar-benar dalam bahaya, hubungi polisi.”
“Kamu tahu masalah ini tidak sesederhana itu.”
“Semua orang selalu bilang begitu.”
Tessa terdiam lagi.
Di seberang sana, Nick merasa percakapan ini seharusnya sudah selesai. Logikanya berkata tutup telepon sekarang. Jangan terlibat.
Tapi sebelum ia sempat melakukannya, suara Tessa terdengar lagi.
“Maaf sudah mengganggumu.”
Nada itu berbeda.
Bukan marah.
Bukan memohon.
Tapi menyerah.
Dan anehnya, justru nada itu yang membuat Nick ragu.
Klik.
Panggilan terputus.
Nick menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Ia bisa saja mengabaikannya.
Lagipula, ini bukan urusannya.
Tapi pikirannya kembali pada satu hal,
Tessa bukan tipe yang mudah meminta tolong.
Dan barusan ia terdengar benar-benar sendirian.
Di sisi lain kota, Tessa menurunkan ponselnya perlahan.
Ia menelan rasa sakit yang terasa lebih pahit daripada ancaman siapa pun.
Setidaknya sekarang ia tahu.
Ia benar-benar sendirian.
Namun ia belum tahu,
bahwa lima menit setelah panggilan itu berakhir,
Nick sudah membuka laptopnya.
Bukan karena percaya.
Tapi karena ia tidak suka merasa dibohongi.
Dan satu-satunya cara memastikan kebenaran
adalah memeriksanya sendiri.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna