NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:45.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan di Balik Pintu Terlarang

Sheena sampai di mansion dengan napas yang masih tidak beraturan setelah pelariannya dari Martin. Dia segara melangkah menuju kamarnya, menyelesaikan tugasnya lalu mandi.

Malam sudah tiba. Namun, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih menyesakkan daripada terik matahari di luar. Kepala pelayan menghampirinya dengan wajah lesu dan bahu yang merosot.

"Mana Matthias? Kenapa dia belum turun?" Tanya Sheena.

"Nyonya, sebenarnya..."

"Katakanlah!"

"Tadi, Tuan Matthias pulang lebih awal dalam keadaan yang sangat mengerikan. Beliau memarahi beberapa pelayan karena hal sepele dan sekarang mengunci diri di kamar. Beliau bahkan menolak untuk makan malam. Kata beliau, masakannya jelek."

Sheena mengerutkan kening. "Mogok makan? Apa dia sedang sakit?"

"Saya tidak tahu, Nyonya. Tapi beliau membawa buket bunga lili saat pulang, dan wajahnya tampak... sangat hancur," tambah kepala pelayan.

Sheena terdiam. Buket bunga? Apa dia baru saja ditolak oleh pacarnya atau bertengkar hebat dengan kekasih gelapnya? pikir Sheena kolot. Ada rasa sesak aneh di dadanya, tapi ia segera menepisnya. Ia merasa bertanggung jawab, setidaknya sebagai "penghuni" rumah itu, ia tidak ingin Matthias mati kelaparan.

Dengan bantuan informasi dari kepala pelayan bahwa Matthias tidak bisa makan pedas, Sheena pun memasak ayam suwir tumis dengan bumbu gurih yang ringan, serta sayur brokoli. Aroma masakan itu memenuhi dapur, memberikan sedikit kehangatan di tengah suasana rumah yang tegang.

Setelah makanan tertata rapi, Sheena melangkah menuju lantai atas. Ia berdiri di depan pintu kamar Matthias yang selama ini menjadi wilayah terlarang baginya.

Tok... Tok... Tok...

"Matthias? Kau di dalam?"

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Sheena mengetuk lagi, tapi Matthias seolah sengaja mengabaikannya seperti anak kecil yang sedang merajuk. Karena rasa khawatir—dan sedikit ketakutan jangan-jangan Matthias pingsan di dalam—Sheena mencoba memutar knop pintu. Ternyata tidak dikunci.

Sheena melangkah masuk dengan ragu. Matanya langsung tertuju pada nakas di samping televisi besar; di sana tergeletak buket bunga lili yang mulai sedikit layu. Benar, dia pasti baru saja patah hati, gumam Sheena dalam hati.

Ia mendekat ke arah ranjang. Matthias tampak meringkuk membelakanginya, sudah mengganti setelan jasnya dengan kaus putih polos dan celana pendek yang memperlihatkan otot-otot kakinya yang kokoh.

"Matthias, ayo turun makan. Aku sudah masak makanan untukmu," ucap Sheena lembut.

Tetap tidak ada jawaban. Sheena menghela napas, ia membungkukkan badannya, mengulurkan tangan untuk mengecek dahi Matthias. Ia pikir pria itu mungkin demam karena emosinya yang tidak stabil.

Namun, saat telapak tangan Sheena baru saja menyentuh keningnya, "Tidak panas," lalu sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba menyambar pergelangan tangan Sheena. Dengan satu sentakan kuat, Matthias menarik Sheena hingga gadis itu jatuh ke atas tempat tidur, tepat di dalam dekapannya.

"Hey! Apa-apaan ini! Matthias, ayo bangun!" Sheena panik, mencoba berontak, namun Matthias justru memeluknya dengan "rakus"—erat dan seolah tidak ingin membiarkan Sheena lepas barang satu inci pun.

"Diamlah... Ku mohon, biarkan seperti ini sebentar saja," suara Matthias terdengar serak dan sangat lelah di ceruk leher Sheena. "Kepalaku pusing. Turuti saja kemauanku kali ini."

Sheena membeku. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia takut Matthias bisa mendengarnya. Kehangatan tubuh Matthias merambat ke kulitnya. Ia bisa mencium aroma maskulin bercampur sisa wangi alkohol tipis, sementara Matthias menghirup dalam-dalam wangi sampo dari rambut Sheena yang masih sedikit basah setelah mandi.

Perlahan, jemari panjang Matthias bergerak ke belakang kepala Sheena, melepaskan ikat rambut yang mengganjal.

"Hey, kau mau apa?" Tanya Sheena waspada, tubuhnya menegang.

"Sudah kukatakan diam," bisik Matthias, suaranya kini terdengar lebih rendah dan penuh peringatan. "Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Tapi kalau kau terus bergerak dan memberontak seperti ini... aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi setelahnya."

Ancaman itu seketika membuat Sheena terdiam kaku di pelukan raksasa itu. Di dalam kamar yang remang, Matthias memejamkan matanya, mencoba mengusir bayangan laki-laki yang memegang tangan istrinya tadi siang dengan cara menenggelamkan dirinya dalam aroma tubuh Sheena yang nyata di pelukannya.

Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung yang saling berkejaran. Sheena bisa merasakan dada bidang Matthias naik-turun dengan tidak teratur di punggungnya. Pelukan itu begitu posesif, seolah Matthias sedang berusaha menyatukan kepingan dirinya yang retak melalui tubuh mungil Sheena.

"Kau... kau sungguh tidak apa-apa?" Bisik Sheena, suaranya mencicit kecil. Keberanian yang tadi ia bawa untuk mengomel entah terbang ke mana.

Matthias tidak menjawab. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut hitam Sheena yang kini terurai bebas di atas bantal. Aroma stroberi yang segar dari rambut gadis itu perlahan meredam kemarahan yang sejak siang membakar dadanya. Bayangan laki-laki di halte itu masih ada, namun kehadiran Sheena yang nyata di pelukannya terasa lebih mendesak untuk dinikmati.

"Kenapa kau memasak untukku?" Tanya Matthias tiba-tiba, suaranya bergetar rendah di telinga Sheena, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Pelayan bilang tadi kau marah-marah dan tidak mau makan. Katanya masakan mereka jelek. Aku tidak ingin kau jatuh sakit dan membuat repot semua orang di rumah ini," jawab Sheena jujur, meski sebenarnya ada secuil rasa iba yang tidak ingin ia akui. "Lagi pula... aku lihat bunga itu. Kau... kau baru saja ditolak ya?"

Tubuh Matthias menegang seketika. Ia sedikit melonggarkan pelukannya hanya untuk bisa menatap samping wajah Sheena. "Ditolak? Siapa yang berani menolakku?"

Sheena memberanikan diri untuk sedikit menoleh, meski hidung mereka hampir bersentuhan. "Lalu kenapa bunga lili itu diletakkan begitu saja? Wajahmu juga sangat kusut. Aku pikir kau sedang patah hati karena pacarmu atau semacamnya."

Matthias menatap mata sleepy eyes Sheena yang tampak begitu polos namun tajam. Ada tawa pahit yang ingin ia lepaskan. Patah hati? Ya, mungkin saja, pikir Matthias. Tapi bukan karena wanita lain, melainkan karena melihat istrinya sendiri disentuh oleh laki-laki yang terlihat seperti "monyet" di matanya.

"Jangan sok tahu," desis Matthias. Ia kembali menarik Sheena masuk ke dalam pelukannya, kali ini lebih lembut tapi tak kalah erat. "Jangan pernah berpikiran kolot seperti itu lagi. Aku tidak punya waktu untuk urusan picisan seperti patah hati."

"Lalu kenapa kau memelukku seperti ini?" Tanya Sheena lagi, suaranya kini terdengar lebih berani namun ada nada penasaran di sana.

Matthias terdiam cukup lama. Ia menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai di kepalanya. "Karena kau adalah istriku. Setidaknya walaupun hanya di atas kertas, kau adalah milikku. Dan malam ini... aku hanya ingin memastikan bahwa kau memang ada di sini. Bukan di tempat lain. Bukan dengan orang lain."

Kalimat itu terdengar seperti pengakuan terselubung bagi Matthias, namun bagi Sheena, itu hanyalah ucapan posesif dari seorang pria yang tidak suka miliknya diganggu. Sheena tidak tahu bahwa di balik pelukan "rakus" itu, Matthias sedang berperang dengan rasa cemburunya sendiri.

"Matthias... ini menyesakkan tau," keluh Sheena pelan, namun ia tidak lagi mencoba melepaskan diri. Entah karena pengaruh suasana atau memang rasa lelah setelah seharian di kampus, Sheena merasa pelukan ini memberinya rasa aman yang aneh.

"Diam dan tidurlah sebentar saja," perintah Matthias, suaranya mulai memberat karena kantuk dan rasa nyaman yang perlahan menyergapnya. "Setelah pusingku hilang, aku akan melepaskanmu."

Namun kenyataannya, hingga malam semakin larut, Matthias tidak pernah melepaskan dekapannya. Ia tertidur dengan tangan yang masih melingkar protektif di pinggang Sheena, seolah jika ia melepasnya sedikit saja, gadis mungil itu akan menghilang tertiup angin Makati yang dingin. Dan mereka berdua pun tertidur lelap bersama.

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!