NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Keempat : Panggilan

Tio tertidur lebih awal malam itu. Bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam, ia sudah meringkuk di dalam sleeping bag di mulut gua kecilnya. Tubuhnya menyerah. Pikirannya menyerah. Setelah berhari-hari bergerak dengan kaki cedera, setelah malam-malam tanpa tidur karena teror bayangan, setelah kelaparan yang menggerogoti dari dalam—tubuhnya akhirnya memaksa istirahat.

Tidurnya bukan tidur yang nyenyak. Lebih tepatnya pingsan karena kelelahan. Tubuhnya mati rasa, pikirannya kosong, hanya sesekali diterangi kilatan mimpi-mimpi aneh yang tidak membentuk cerita utuh.

Tapi satu hal yang tetap sadar, tetap hidup di ambang alam bawah sadarnya: rasa sakit di kaki kanan.

Nyut... nyut... nyut...

Denyutan itu ritmis, konstan, seperti detak jantung kedua yang terus mengingatkan bahwa ada yang tidak beres di tubuhnya. Infeksi itu tidak tidur. Bakteri-bakteri terus bekerja, memperbanyak diri, menghancurkan jaringan. Rasa sakit itu menjalar dari pergelangan kaki ke betis, kadang sampai ke lutut. Seperti ada paku kecil yang dipalu masuk perlahan, berulang-ulang.

Dan di kaki kiri, otot-ototnya bergetar. Kelelahan luar biasa akibat menopang seluruh berat badan selama berhari-hari. Kram mulai menyerang sesekali, membangunkan Tio sebentar, lalu reda, lalu ia tertidur lagi.

Nyut... nyut... nyut...

Malam bergerak lambat. Sungai mengalir di depan gua dengan suara gemericik yang menenangkan. Jangkrik bernyanyi di antara semak-semak. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma daun basah dan tanah.

Tenggelam dalam suara-suara alam itu, Tio terus tidur. Tidak ada monyet menjerit malam ini. Tidak ada tawa melengking. Tidak ada geraman aneh. Mungkin makhluk-makhluk itu sedang istirahat. Mungkin mereka memberi jeda. Atau mungkin mereka sedang menunggu waktu yang tepat.

---

Tengah malam.

Tio terbangun.

Bukan karena sakit. Bukan karena kedinginan. Bukan karena suara keras.

Ia terbangun karena sesuatu yang aneh: keheningan.

Suara jangkrik yang tadi begitu ramai, tiba-tiba berhenti semua. Serempak. Seperti ada yang mematikan saklar. Sungai masih mengalir—suara gemericiknya masih terdengar—tapi suara serangga malam, yang selalu ada, yang menjadi latar belakang setiap malam di hutan, tiba-tiba lenyap total.

Tio membuka mata. Gelap. Sleeping bag masih menutupi setengah wajahnya. Ia diam, mendengarkan.

Hening. Sunyi. Hanya suara sungai.

Lalu, suara gesekan tanah. Samar, tapi jelas. Seperti sesuatu yang merayap di atas dedaunan kering. Gesekan itu datang dari arah sungai, pelan-pelan mendekat.

Tio menahan napas. Matanya mencoba menembus gelap, tapi tak bisa melihat apa-apa. Sleeping bag membatasi pandangannya.

Gesekan itu berhenti.

Angin bertiup. Tapi kali ini angin terasa berbeda—lebih dingin, lebih menusuk, seperti angin yang membawa sesuatu. Tio merinding.

Dan kemudian, suara itu datang.

Samar-samar di kejauhan, tapi cukup jelas untuk didengar. Suara perempuan. Lirih, sayu, seperti orang yang meratap.

"Tiooooo..."

Bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berhenti sejenak, lalu berdetak lebih kencang.

Itu namanya. Itu panggilan namanya.

"Tiooooo... Tiooooo..."

Suara itu datang dari arah sungai. Dari tempat yang sama dengan gesekan tadi. Perlahan, suara itu mendekat. Setiap panggilan terdengar sedikit lebih dekat, sedikit lebih jelas.

"Tio... Tio..."

Tio ingin bergerak. Ingin lari. Ingin berteriak. Tapi tubuhnya kembali lumpuh—fenomena yang sudah ia alami malam-malam sebelumnya. Ia hanya bisa terbaring diam, mendengar suara itu semakin dekat, semakin dekat.

"Tio... Tio..."

Sekarang suara itu terdengar sangat dekat. Mungkin hanya beberapa meter dari mulut gua. Tio bisa mendengar suara napas—napas berat, seperti orang yang kelelahan. Bukan napas normal. Napas yang aneh, seperti orang yang sekarat.

"Tio... buka matamu... Tio..."

Ia tidak mau. Ia tidak berani. Tapi ada dorongan aneh di dalam dirinya—rasa penasaran, rasa ingin tahu, yang berkata mungkin ini nyata, mungkin ini benar-benar orang, mungkin ini pertolongan.

Dengan susah payah, Tio menggerakkan tangannya. Perlahan, ia menurunkan sleeping bag yang menutupi wajahnya.

Dan ia melihat.

Di mulut gua, berdiri sesosok bayangan. Hitam pekat, tidak berbentuk jelas. Tapi di dalam kegelapan itu, ada dua titik merah yang menyala—sepasang mata. Mata itu menatapnya langsung, menembus jiwanya.

Sosok itu tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, dengan mata merah menyala, menatap Tio.

Mulutnya bergerak. Suara perempuan itu keluar lagi, tapi kali dari sosok ini, dari bayangan hitam di depannya.

"Tio... kita harus bersama... Tio..."

Tio ingin berteriak. Ingin memejamkan mata. Tapi ia tidak bisa. Matanya terpaku pada dua titik merah itu, seperti hipnotis.

Sosok itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Kini ia sudah masuk ke dalam gua, hanya beberapa sentimeter dari Tio. Tanganya terulur, perlahan mendekati wajahnya.

Tangan itu dingin. Sangat dingin. Ketika menyentuh pipinya, Tio merasa seperti tersengat listrik dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.

"Tio... ikut aku... kita pergi dari sini... Tio..."

Suara itu sekarang lembut, membujuk. Tapi ada nada lain di dalamnya—nada keputusasaan, nada kesepian, nada kegilaan.

Dan tiba-tiba, dari dalam dirinya, sesuatu bangkit. Naluri bertahan hidup yang primitif. Ia tidak tahu dari mana datangnya kekuatan itu, tapi tiba-tiba ia bisa bergerak.

Tangan kirinya meraba-raba di samping sleeping bag. Jari-jarinya mencari korek api. Menemukannya. Dengan gerakan cepat, ia memetik.

Ceklek.

Api kecil menyala.

Sosok itu langsung mundur, menjauh dari cahaya. Matanya yang merah masih menatap, tapi sekarang dari kejauhan. Lalu, perlahan, sosok itu memudar, seperti asap tertiup angin.

Hilang.

Tio duduk terengah-engah, korek api masih menyala di tangannya. Api itu kecil, akan segera padam. Tapi setidaknya untuk beberapa detik, ia punya cahaya.

Ia melihat sekeliling gua. Kosong. Tidak ada siapa pun.

Api korek padam. Gelap kembali.

Tapi kali ini, Tio tidak lagi mendengar suara panggilan. Tidak ada gesekan tanah. Yang ada hanya suara jangkrik yang mulai bernyanyi lagi, satu per satu, seperti baru sadar dari ketakutan.

Dan suara sungai yang terus mengalir, tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

---

Tio duduk di dalam sleeping bag, menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena ketakutan yang masih membekas di setiap sel tubuhnya.

Apa itu tadi?

Ia tidak tahu. Ia tidak mau tahu. Yang ia tahu, ia harus keluar dari sini. Ia harus segera menemukan jalan keluar, sebelum malam-malam berikutnya membuatnya gila. Atau sebelum makhluk itu kembali dan berhasil membawanya pergi.

Dengan tangan gemetar, Tio meraih jurnalnya. Ia menulis dalam gelap, tidak bisa melihat apa yang ia tulis, tapi ia harus menuangkannya.

"Malam keempat. Aku melihatnya. Sosok hitam dengan mata merah. Memanggil namaku. Menyentuhku. Dingin sekali. Nyaris membawaku pergi. Aku selamat karena korek api. Tapi untuk berapa lama lagi? Aku takut tidur. Aku takut terbangun. Tapi aku juga takut tidak tidur. Tubuhku sudah di batas akhir. Jika tidak segera keluar, aku akan mati di sini. Mati atau... dibawa mereka."

Ia berhenti menulis. Tangannya masih gemetar.

Di luar gua, suara jangkrik kembali ramai. Sungai terus mengalir. Alam seolah kembali normal.

Tapi Tio tahu, di balik normal itu, sesuatu sedang menunggu. Menunggu ia tertidur lagi. Menunggu waktu yang tepat untuk kembali memanggil.

"Tiooooo..."

Samar-samar, dari kejauhan, suara itu terdengar lagi. Masih jauh. Masih sayup. Tapi masih ada.

Tio memejamkan mata, memegang korek api erat-erat di tangannya. Malam ini, ia tidak akan tidur.

Malam ini, ia akan berjaga.

Sampai fajar tiba.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!