Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Gosip
"Eh itu Vera anak nya Darto kan ya?" Ijah sedang duduk mencari kutu kepala Mak Rini bertanya pelan.
"Iya, Dia baru saja pulang dari kota jadi mungkin sekarang ingin jalan-jalan melihat keadaan sekitar desa." Mak Rini menjawab santai.
"Pantas ya penampilan dia agak beda dari anak yang ada di desa sini." Ijah berkata sambil menatap Vera yang kian menjauh.
"Sudah pasti beda karena pergaulan kota juga sangat beda dengan yang ada di desa." ucap Mak Rini.
"Kalau aku melihat dia agak takut sih karena Vera sejak dulu memang jarang berbicara sopan terhadap orang lain." Ijah mulai ingin bergosip karena dia agak geli juga Vera.
Mak Rini hanya diam saja karena dia tidak mau bila pembahasan ini semakin larut dan kemudian mereka akan beda pendapat satu sama lain, lalu apa yang dikatakan oleh Ijah ini mungkin benar namun setidaknya mereka tidak perlu bergosip tentang Vera yang memiliki kehidupan tersendiri selama ini.
Toh Vera juga sama sekali tidak ada mengganggu mereka dengan berbagai macam gaya karena dia bertingkah seperti itu hanya kepada keluarga atau bahkan kepada diri dia sendiri, gadis satu itu memang sangat keras kepala dan sejak dulu memang dikenal sangat suka membangkang terhadap Darto sehingga bisa di bilang warga yang ada di sini kurang menyukai Vera.
Mereka hanya melihat dari bagian luar saja ketika Vera sedang bertengkar dengan Darto dan kemungkinan besar para warga lebih percaya dengan ucapan orang tua, anak yang melawan akan dikatakan sebagai anak durhaka sehingga mereka memandang Sera dengan tatapan begitu sinis serta tidak ada rasa iba.
Namun tidak untuk Mak Rini karena dia beranggapan bahwa Vera bersikap demikian karena salah orang tua juga, andai Darto bisa bersikap lebih lembut maka pasti Vera tidak akan menjadi orang yang begitu keras kepala dan tidak bisa diatur sehingga dia terus saja mengambil tindakan sesuai keinginan hati sendiri.
Apa lagi sejak kecil Vera sudah hidup dengan Ibu tiri, walau Elma juga sangat baik terhadap Vera namun tetap saja pasti ada perasaan berbeda di dalam diri gadis itu dan di tambah kemudian dengan Darto yang semakin keras kepada anak sendiri sehingga sudah pasti pribadi Vera menjadi keras juga seperti Darto itu.
Tapi tentu saja tidak semua orang bisa berpikiran seperti Mak Rini ini walau usia mereka sudah cukup tua namun mereka tetap beranggapan bahwa Vera adalah gadis yang tidak bisa di atur oleh orang tua, lebih lagi saat ini ketika pulang dari kota penampilan Vera begitu mencolok untuk para warga di kampung ini.
Sehingga mereka semua beranggapan bahwa itu semua memang Vera yang salah dan tidak bisa untuk di bilangi oleh orang tua, contoh manusia seperti Ijah dan itu masih banyak lagi di desa ini karena mereka pasti satu pendapat dan kemudian akan bergosip bila sudah saling bertemu nanti.
"Apa pekerjaan dia selama di kota kok penampilannya jadi seperti itu?" Ijah kembali menyambung ucapan.
"Tidak usah mau tahu urusan orang karena kita juga tidak memberi makan Vera." sahut Mak Rini.
"Lah kan cuma tanya saja pekerjaan dia di kota yang memiliki penampilan yang sangat luar biasa." ujar Ijah.
"Hahhh kau itu selalu saja ingin tahu urusan orang lain." cetus Mak Rini.
"Lagian orang di sini mana ada yang berpenampilan seperti itu tapi dia dengan percaya diri pergi keluar dari rumah dengan rambut pirang." rutuk Ijah.
"Walau dia rambut pirang apa selama ini mengganggu dirimu? toh walau rambut dia pirang juga tidak ada sampai ke sini untuk mengganggu mulut kita!" sengit Mak Rini.
Ijah terdiam walau dalam hati dia sangat kesal karena tidak sependapat dengan Mak Rini dan orang tua ini sama sekali tidak bisa untuk di ajak gosip, dalam hati dia sudah bertekad untuk mencari orang lain saja ketika nanti melihat Vera kembali karena Vera memang harus di gosip.
"Ibu baru saja meninggal tapi sudah keluyuran dan tidak pakai jilbab." Ijah berkata pelan.
"Aduh sudahlah tidak usah kau cari lagi kutuku ini karena aku semakin pusing saja mendengar ucapan kau yang tidak berfaedah!" Mak Rini kesal dan segera berdiri.
Melihat Mbak Rini yang memang terlihat kesal seperti itu maka Ijah tanpa banyak bicara langsung pergi meninggalkan rumah teman di jenazah ini karena dia butuh bergosip dengan orang lain yang bisa melampiaskan yang tersimpan di dalam hati ini, sebab menurut dia penampilan Vera sudah sangat luar biasa dan harus diperbincangkan dengan orang lain.
"Ijah Ijah, kau selalu saja seperti itu dan tidak sadar kelakuan kau dulu." Mak Rini berkata pelan ketika Ijah sudah pergi dari hadapan dia.
"Itu tapi dia mau mencari orang lain untuk di ajak gosip." Nina keluar dari dalam rumah karena tadi dia juga mendengar ucapan Ijah.
"Biar saja kalau dengan orang lain karena aku juga tidak peduli." Mak Rini membereskan bekas mereka mencari kutu.
"Dia tidak tahu saja bagaimana trend di kota, nampak sekali kampung dia." Nina jadi julid kepada Ijah.
"Sudah, nanti kau sama juga dengan dia sangat suka mengatai orang lain." Mak Rini menatap sang anak agar bungkam.
Nina memutar bola mata malas karena sebenarnya dia memiliki banyak keluhan terhadap Ijah itu, sebab selama ini Nina juga pernah kena gosip dari Ijah ketika tidak sengaja lewat dan mendengar apa yang dikatakan oleh manusia tersebut sehingga sudah pasti rasa kesal di dalam hati Nina kian menumpuk saja.
Ijah memang tipe orang yang sangat suka mengomentari penampilan orang lain dan tidak pernah sadar dengan penampilan dia sendiri, padahal bila dilihat maka penampilan Ijah jauh lebih buruk karena hanya bisa memakai daster dan dengan rambut diikat ke atas tanpa melakukan perawatan di tubuh nya yang hitam legam itu.
"Biarkan saja dia mau berbicara terhadap orang lain karena yang penting kita tidak ada membicarakan orang itu." nasihat Mbak Rini kepada Nina.
"Mak, tapi kadang aku juga kesal ketika dia dengan sangat mudah mengatai orang lain seperti itu." protes Nina.
"Nanti dia pasti akan kena batu kalau sudah tiba waktunya." sahut Mak Rini.
Nina hanya bisa mendengus kesal karena dia juga tidak berani untuk menghampiri langsung Ijah, tidak berani terhadap wanita itu tapi dia takut dengan Mak Rini yang pasti akan mengamuk bila Nina sampai mengambil keputusan untuk bertengkar kepada orang yang lebih tua sehingga mau tidak mau Nina memutuskan untuk diam saja.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
ya allah...😂