NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata Dan keringat

Reza berdiri di antara tumpukan keranjang tomat dengan kaos oblong yang sudah basah oleh embun dan keringat. Budi benar; pasar adalah tempat di mana kejujuran menjadi barang langka sekaligus mata uang paling berharga. Ia baru saja diterima sebagai sopir serep untuk pengiriman sayur ke Jakarta, berkat jaminan lisan dari Budi yang punya banyak kenalan di kalangan "penguasa" aspal.

"Woi, za ! Jangan bengong! Ini muatan sawi harus sampai di Kramat Jati sebelum matahari nongol!" teriak Bang Jago, mandor pasar yang badannya seperti Kulkas dua pintu dan suara yang bisa meruntuhkan mental orang lemah.

Reza mengangguk, melompat ke kursi kemudi truk engkel tua yang mesinnya batuk-batuk setiap kali digas. Mengemudikan truk berbeda jauh dengan mengendarai motor bebek Budi. Di sini, ia harus merasakan getaran mesin di seluruh tubuhnya, menghitung jarak pengereman dengan beban tonase di belakangnya, dan yang paling sulit: menahan kantuk yang menyerang seperti jarum-jarum halus di mata.

Di perjalanan menuju Jakarta, pikiran Reza melayang pada Anya. Wanita itu sekarang sedang belajar menanam bibit di rumah Ibu Budi. Sebuah ironi yang indah; mereka yang dulu hidup dari angka-angka digital, kini hidup dari apa yang tumbuh dari tanah dan apa yang bergerak di atas aspal.

Namun, dunia pasar punya hukum rimba sendiri. Saat Reza sedang melewati jalur alternatif untuk menghindari razia, ia dicegat oleh sekelompok pria yang berdiri di tengah jalan gelap. "Pungli," gumam Reza. Ia sudah diperingatkan Bang Jago soal ini.

"Turun, Sopir! Pajak jalan!" teriak salah satu pria sambil menggedor kaca pintu truk.

Reza menarik napas panjang. Ia teringat tali kuning di pergelangan tangannya. Ia tidak ingin berkelahi, tapi ia juga tidak punya uang ekstra. Uang jalan yang diberikan Bang Jago sudah pas-pasan untuk bensin dan makan.

"Maaf, Bang. Saya cuma sopir serep. Uang saya cuma cukup buat solar," kata Reza sambil membuka kaca sedikit.

"Nggak peduli! Kasih dua puluh ribu atau ban mobilmu kami tusuk!"

Reza menatap pria itu. Di mata pria itu, ia melihat bayangan dirinya yang dulu putus asa, marah pada dunia, dan mencari jalan pintas. Sesuatu di dalam diri Reza tergerak. Bukannya memberikan uang, ia malah merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus nasi uduk yang tadi ia beli untuk sarapan.

"Bang, saya nggak punya uang tunai lebih. Tapi kalau Abang lapar, ambil ini. Saya tahu rasanya perut kosong di jam segini. Kita sama-sama cari makan di jalanan, kan?"

Pria itu tertegun. Ia biasanya menghadapi sopir yang memaki atau ketakutan. Belum pernah ada yang menawarinya sarapan dengan nada setenang itu. Rekan-rekan pria itu mendekat, suasana menjadi canggung.

"Ambil saja, Bang. Saya masih punya tenaga, tapi Abang kelihatan lelah banget berdiri di sini dari tadi malam," tambah Reza sambil menyodorkan bungkusan itu.

Pria bertato itu menerima nasi uduk tersebut. Ia menatap Reza lama, lalu meludah ke samping dan memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk minggir. "Pergi sana. Jangan lewat sini lagi lewat jam dua pagi kalau nggak bawa uang."

Reza memacu truknya kembali. Ia tersenyum tipis. Ternyata, keberanian tidak selalu berarti hantaman fisik; terkadang itu berarti mengakui kemanusiaan orang lain saat orang lain itu sendiri sudah melupakannya.

Sesampainya di Kramat Jati, ia membongkar muatan secepat kilat. Saat sedang menghitung retribusi, ia melihat sebuah berita di televisi warung kopi.

Wajah Gery muncul di sana dengan baju tahanan oranye. Beritanya menyebutkan bahwa aset-aset Gery mulai disita, dan penyelidikan mengarah pada jaringan pencucian uang yang lebih besar.

Tapi ada satu detail yang membuat jantung Reza berdegup kencang. Polisi menyebutkan ada satu saksi kunci yang masih dicari untuk memberikan keterangan tambahan: Anya.

"Sial," bisik Reza.

Ia segera menyelesaikan urusannya dan memacu truknya kembali ke Bogor dengan kecepatan tinggi. Ia tahu, meskipun Gery dipenjara, orang-orang yang uangnya "dicuci" oleh Gery mungkin tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari siapa yang membocorkan data itu. Dan Anya adalah target paling empuk.

Saat ia sampai di rumah Ibu Budi, ia menemukan sebuah sepeda motor asing terparkir di depan gerbang. Bukan motor kurir, tapi motor sport hitam yang tampak mencurigakan.

Reza meloncat turun dari truk bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak, "ANYA!"

Di dalam ruang tamu, ia melihat Anya duduk kaku. Di depannya, duduk seorang pria paruh baya yang memakai kacamata hitam dan jaket kulit rapi. Pria itu menoleh ke arah Reza.

"Tenang, Reza. Saya bukan orangnya Gery," kata pria itu sambil menunjukkan sebuah lencana. "Saya dari Satuan Tugas Khusus Kejahatan Finansial. Kami butuh Anya untuk masuk ke program perlindungan saksi."

Anya menatap Reza dengan mata yang penuh ketakutan. "Za .. mereka bilang aku harus pergi ke Jakarta dan tinggal di rumah aman selama persidangan. Itu bisa berbulan-bulan."

Reza terdiam di ambang pintu. Program perlindungan saksi artinya keamanan, tapi itu juga artinya perpisahan. Itu artinya mereka harus kembali ke dunia yang baru saja mereka tinggalkan.

"Apa saya bisa ikut?" tanya Reza.

Pria itu menggeleng. "Anda tidak punya Pria itu menggeleng. "Anda tidak punya kaitan hukum langsung dengan kasus ini. Kami hanya butuh Ny. Anya. Jika Anda ikut, keberadaan rumah aman itu akan lebih mudah dilacak."

Reza berjalan mendekati Anya, berlutut di depannya seperti yang ia lakukan di losmen dulu. Ia melihat perut Anya yang semakin terlihat menonjol. Perpisahan sekarang terasa seperti pengkhianatan, tapi membiarkannya di sini tanpa perlindungan profesional adalah tindakan bunuh diri.

"Ambil," kata Reza lirih.

"Tapi Za..."

"Dengar, Anya. Aku ingin kamu aman. Anak kita harus lahir di tempat yang nggak ada preman yang mengancam akan membakar rumah. Aku akan tetap di sini, bekerja, menabung. Aku akan menunggumu sampai semua ini selesai."

Reza melepaskan gelang tali kuning dari pergelangan tangannya dan memakaikannya ke tangan Anya. "Tali ini sudah gagal membunuhku, artinya dia punya tugas untuk menjagamu. Pakai ini.Anggap ini janji kalau aku nggak akan ke mana-mana."

Anya memeluk Reza dengan tangis yang pecah. Pagi itu, sebuah mobil hitam menjemput Anya. Reza berdiri di pinggir jalan desa, melihat mobil itu menjauh hingga hilang di balik tikungan jalan yang berkabut.

Ia kini benar-benar sendirian di rumah kayu itu. Ia masuk ke dalam, melihat keranjang cabai yang belum selesai dipetik. Ia duduk di kursi kayu, merasakan sunyi yang sangat menyakitkan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Budi: "Za, Bang Jago bilang kerjaanmu bagus. Ada rute baru buat besok pagi ke Bandung. Mau ambil?"

Reza menghapus air matanya dengan punggung tangan yang kasar. Ia mengetik jawaban: "Saya ambil. Saya butuh uang banyak buat biaya persalinan nanti."

Reza berdiri. Ia tidak akan membiarkan sunyi ini mengalahkannya. Jika hidup memaksanya untuk menjadi kurir takdir, maka ia akan menjadi kurir yang paling tangguh.

Waktu berlalu seperti putaran roda truk di aspal jalur selatan: melelahkan, berisik, namun terus bergerak maju. Enam bulan telah lewat sejak mobil hitam itu membawa Anya pergi. Selama itu pula, Reza tidak pernah mendengar suara Anya secara langsung. Komunikasi hanya dilakukan satu arah melalui perantara penyidik; sebuah surat pendek sebulan sekali yang isinya hanya memastikan bahwa Anya sehat dan bayi mereka yang ternyata laki-laki tumbuh dengan baik di dalam kandungan.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!