NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ambruknya Bimo

Malam merayap semakin pekat, namun Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Di bawah remang lampu jalan yang berkedip, Bimo menyeret langkahnya. Tas ransel di punggungnya terasa seberat beban seluruh dosa yang ia pikul. Perutnya berbunyi nyaring, melilit hebat karena sudah hampir dua hari tidak diisi makanan layak. Hanya air keran dan sisa roti kering yang mengganjal lambungnya, menciptakan sensasi perih yang bersaing ketap dengan rasa panas di selangkangannya.

Setiap kali ia merogoh saku celananya, jemarinya hanya menyentuh beberapa lembar uang sepuluh ribu yang kumal. Sisa uang tabungan yang ia banggakan telah ludes di tangan dukun penipu dan untuk pesta miras sia-sia bersama Fajar.

"Besok... besok gue harus ke kantor," gumam Bimo dengan suara parau, nyaris berhalusinasi. "Gue masih punya gaji. Gue masih punya jabatan. Gue nggak boleh kalah."

Dalam kegilaan mentalnya, Bimo seolah menolak kenyataan. Ia lupa atau mungkin otaknya sengaja menghapus fakta bahwa tubuhnya kini memancarkan bau busuk yang sanggup membuat orang pingsan. Ia merasa jika ia mandi dengan sabun yang banyak besok pagi dan memakai parfum seluruh botol, ia bisa duduk di meja kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak sadar bahwa ulat sengkolo itu tidak bersarang di kulit, melainkan di dalam pori-pori yang akan terus memproduksi bau bangkai selama ia masih bernapas.

Pencarian yang Sia-sia

Setelah berjalan hampir dua jam, Bimo sampai di gang sempit menuju kontrakan lama Ratih. Tempat ini adalah saksi bisu bagaimana dulu Ratih menunggunya pulang dengan sepiring nasi hangat dan senyum tulus, yang selalu ia balas dengan makian atau permintaan uang.

Namun, saat ia sampai di depan pintu kamar nomor empat itu, ia hanya mendapati sebuah gembok besar yang sudah berkarat. Kamar itu kosong.

"Ratih! Ratih! Buka pintunya!" Bimo menggedor pintu kayu itu dengan sisa tenaganya.

"Woi! Berisik banget malam-malam!" seorang pria berkaos singlet keluar dari kamar sebelah. Begitu ia mendekat ke arah Bimo, pria itu langsung terhuyung mundur sambil menutup hidung dengan baju. "Astaga! Bau apa ini?! Lu siapa, hah?! Kayak bangkai lu!"

Bimo menoleh, matanya yang cekung menatap nanar. "Ratih... di mana Ratih?"

Mendengar nama Ratih, pria itu menyipitkan mata, mengenali wajah Bimo di bawah cahaya lampu teras yang redup. "Oh... lu laki-laki brengsek yang sering meras Ratih itu, kan? Yang sok ganteng tapi kelakuan kayak setan?"

Beberapa tetangga lain mulai keluar. Di lingkungan kontrakan padat seperti ini, berita tentang "Ratih yang dikhianati" sudah menjadi rahasia umum. Mereka semua menaruh simpati pada Ratih, si buruh cuci yang malang.

"Pergi lu dari sini! Ratih sudah pindah jauh setelah lu hancurin hidupnya!" teriak seorang ibu-ibu dari lantai atas. "Lihat kondisi lu sekarang, itu pasti azab karena lu sudah makan uang keringatnya Ratih buat main perempuan! Cuh! Najis gue liat lu, busuk luar dalam!"

"Tolong... kasih tahu saya dia di mana..." rintih Bimo, ia jatuh berlutut di tanah yang becek.

"Nggak ada yang bakal kasih tahu lu! Pergi sebelum kami panggil warga buat gebukin lu! Bau lu itu bikin muntah se-RT!" pria berkaos singlet itu mengancam dengan sapu lidi.

Bimo diusir seperti binatang pengganggu. Ia merangkak keluar dari gang itu dengan air mata yang bercampur kotoran di wajahnya. Hinaan mereka terasa lebih menyakitkan daripada ulat yang menggigit dagingnya. Ternyata, semua orang tahu kebusukannya. Ternyata, selama ini ia hanya merasa hebat di atas penderitaan seorang wanita yang kini memegang kunci kesembuhannya.

Ambruk di Pinggir Jalan

Bimo berjalan menjauh tanpa arah. Pikirannya kosong. Ia menyusuri jalan raya yang mulai sepi dari pejalan kaki, namun tetap ramai oleh kendaraan yang melintas cepat. Setiap langkahnya kini dibarengi dengan tetesan cairan bening dari betisnya nanah yang mulai merembes dari luka-luka yang ia garuk secara paksa.

Lampu-lampu gedung tinggi di kejauhan tampak bergoyang di mata Bimo. Pandangannya mulai menguning. Rasa lapar yang luar biasa kini bergabung dengan dehidrasi dan infeksi yang mulai menyebar di sistem tubuhnya.

Dugh... Dugh... Dugh...

Jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia mencoba bersandar di sebuah tiang telepon, namun tangannya terlalu lemas untuk mencengkeram besi itu.

"Gue... gue harus kerja... besok Senin..." bisik Bimo terakhir kalinya.

Tiba-tiba, dunia seolah berputar 180 derajat. Langit malam yang hitam mendadak menjadi gelap total. Lutut Bimo terkunci, lalu perlahan tubuhnya ambruk ke samping, menghantam trotoar semen yang keras. Tas ranselnya terlempar sedikit menjauh.

Bimo pingsan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Ia tergeletak di pinggir jalan utama, hanya beberapa meter dari halte bus. Tubuhnya meringkuk seperti janin, dengan baju yang lusuh dan bau yang membuat tikus-tikus selokan pun enggan mendekat.

Penonton dari Balik Bayangan

Ratih berdiri tepat di samping kepala Bimo. Ia melihat wajah Bimo yang dulu sangat ia puja karena ketampanannya, kini dipenuhi bintik-bintik hitam dan kulit yang pecah-pecah. Bau busuk yang menguar dari tubuh Bimo terhalang oleh masker kain yang dipakai Ratih, namun ia masih bisa merasakannya sebuah aroma kehancuran.

"Kamu ingin kerja besok, Bimo?" Ratih berbisik pelan, suaranya terdengar merdu namun mengandung kedinginan yang mematikan. "Bagaimana kamu bisa bekerja jika untuk bangun saja kamu sudah tidak mampu?"

Ratih berjongkok, ia tidak menyentuh Bimo, namun ia meletakkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sudah ia lumuri dengan air bunga tujuh rupa tepat di samping tangan Bimo yang terkepal lemas.

"Ini uang untuk makanmu besok pagi. Makanlah, agar kamu punya tenaga untuk merasakan sakit yang lebih hebat lagi. Aku belum mengizinkanmu mati, Bimo. Belum."

Ratih bangkit berdiri. Ia menatap ke langit malam yang mendung. Ia merasa sangat tenang. Dendam ini tidak memberinya beban, melainkan memberinya alasan untuk tetap tegak berdiri. Ia telah berubah dari seorang budak cinta menjadi seorang dewi kematian bagi pria di bawah kakinya ini.

Tak lama kemudian, beberapa orang pejalan kaki yang lewat mulai menyadari ada orang pingsan. Namun, setiap kali mereka mendekat untuk menolong, mereka segera mundur sambil menutup hidung dan berteriak jijik.

"Eh, ada orang pingsan! Eh, buset... bau apa ini?!"

"Gelandangan ya? Atau orang gila? Baunya kayak bangkai manusia!"

"Jangan dideketin! Entar ketularan penyakitnya! Panggil satpam atau ambulans aja dari jauh!"

Bimo tergeletak di sana, menjadi tontonan hinaan bagi orang-orang yang lewat. Tak ada tangan yang sudi mengangkatnya. Tak ada selimut yang sudi menutupinya. Ia dibiarkan kedinginan di atas semen trotoar.

Ratih berjalan menjauh, masuk ke dalam kegelapan gang menuju kos barunya. Di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan skenario untuk hari esok. Hari Senin yang dinanti-nantikan Bimo untuk kembali ke kantor, akan menjadi hari di mana Bimo akan benar-benar menyadari bahwa dunia sudah tidak memiliki tempat lagi bagi seorang pengkhianat sepertinya.

"Selamat beristirahat di neraka kecilmu, Bimo," gumam Ratih sebelum bayangannya menghilang di tikungan jalan.

Malam itu, Bimo tetap pingsan di trotoar, ditemani oleh kebisingan kota yang tidak peduli.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!