NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: tamat
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:244.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ambruknya Bimo

Malam merayap semakin pekat, namun Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Di bawah remang lampu jalan yang berkedip, Bimo menyeret langkahnya. Tas ransel di punggungnya terasa seberat beban seluruh dosa yang ia pikul. Perutnya berbunyi nyaring, melilit hebat karena sudah hampir dua hari tidak diisi makanan layak. Hanya air keran dan sisa roti kering yang mengganjal lambungnya, menciptakan sensasi perih yang bersaing ketap dengan rasa panas di selangkangannya.

Setiap kali ia merogoh saku celananya, jemarinya hanya menyentuh beberapa lembar uang sepuluh ribu yang kumal. Sisa uang tabungan yang ia banggakan telah ludes di tangan dukun penipu dan untuk pesta miras sia-sia bersama Fajar.

"Besok... besok gue harus ke kantor," gumam Bimo dengan suara parau, nyaris berhalusinasi. "Gue masih punya gaji. Gue masih punya jabatan. Gue nggak boleh kalah."

Dalam kegilaan mentalnya, Bimo seolah menolak kenyataan. Ia lupa atau mungkin otaknya sengaja menghapus fakta bahwa tubuhnya kini memancarkan bau busuk yang sanggup membuat orang pingsan. Ia merasa jika ia mandi dengan sabun yang banyak besok pagi dan memakai parfum seluruh botol, ia bisa duduk di meja kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak sadar bahwa ulat sengkolo itu tidak bersarang di kulit, melainkan di dalam pori-pori yang akan terus memproduksi bau bangkai selama ia masih bernapas.

Pencarian yang Sia-sia

Setelah berjalan hampir dua jam, Bimo sampai di gang sempit menuju kontrakan lama Ratih. Tempat ini adalah saksi bisu bagaimana dulu Ratih menunggunya pulang dengan sepiring nasi hangat dan senyum tulus, yang selalu ia balas dengan makian atau permintaan uang.

Namun, saat ia sampai di depan pintu kamar nomor empat itu, ia hanya mendapati sebuah gembok besar yang sudah berkarat. Kamar itu kosong.

"Ratih! Ratih! Buka pintunya!" Bimo menggedor pintu kayu itu dengan sisa tenaganya.

"Woi! Berisik banget malam-malam!" seorang pria berkaos singlet keluar dari kamar sebelah. Begitu ia mendekat ke arah Bimo, pria itu langsung terhuyung mundur sambil menutup hidung dengan baju. "Astaga! Bau apa ini?! Lu siapa, hah?! Kayak bangkai lu!"

Bimo menoleh, matanya yang cekung menatap nanar. "Ratih... di mana Ratih?"

Mendengar nama Ratih, pria itu menyipitkan mata, mengenali wajah Bimo di bawah cahaya lampu teras yang redup. "Oh... lu laki-laki brengsek yang sering meras Ratih itu, kan? Yang sok ganteng tapi kelakuan kayak setan?"

Beberapa tetangga lain mulai keluar. Di lingkungan kontrakan padat seperti ini, berita tentang "Ratih yang dikhianati" sudah menjadi rahasia umum. Mereka semua menaruh simpati pada Ratih, si buruh cuci yang malang.

"Pergi lu dari sini! Ratih sudah pindah jauh setelah lu hancurin hidupnya!" teriak seorang ibu-ibu dari lantai atas. "Lihat kondisi lu sekarang, itu pasti azab karena lu sudah makan uang keringatnya Ratih buat main perempuan! Cuh! Najis gue liat lu, busuk luar dalam!"

"Tolong... kasih tahu saya dia di mana..." rintih Bimo, ia jatuh berlutut di tanah yang becek.

"Nggak ada yang bakal kasih tahu lu! Pergi sebelum kami panggil warga buat gebukin lu! Bau lu itu bikin muntah se-RT!" pria berkaos singlet itu mengancam dengan sapu lidi.

Bimo diusir seperti binatang pengganggu. Ia merangkak keluar dari gang itu dengan air mata yang bercampur kotoran di wajahnya. Hinaan mereka terasa lebih menyakitkan daripada ulat yang menggigit dagingnya. Ternyata, semua orang tahu kebusukannya. Ternyata, selama ini ia hanya merasa hebat di atas penderitaan seorang wanita yang kini memegang kunci kesembuhannya.

Ambruk di Pinggir Jalan

Bimo berjalan menjauh tanpa arah. Pikirannya kosong. Ia menyusuri jalan raya yang mulai sepi dari pejalan kaki, namun tetap ramai oleh kendaraan yang melintas cepat. Setiap langkahnya kini dibarengi dengan tetesan cairan bening dari betisnya nanah yang mulai merembes dari luka-luka yang ia garuk secara paksa.

Lampu-lampu gedung tinggi di kejauhan tampak bergoyang di mata Bimo. Pandangannya mulai menguning. Rasa lapar yang luar biasa kini bergabung dengan dehidrasi dan infeksi yang mulai menyebar di sistem tubuhnya.

Dugh... Dugh... Dugh...

Jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia mencoba bersandar di sebuah tiang telepon, namun tangannya terlalu lemas untuk mencengkeram besi itu.

"Gue... gue harus kerja... besok Senin..." bisik Bimo terakhir kalinya.

Tiba-tiba, dunia seolah berputar 180 derajat. Langit malam yang hitam mendadak menjadi gelap total. Lutut Bimo terkunci, lalu perlahan tubuhnya ambruk ke samping, menghantam trotoar semen yang keras. Tas ranselnya terlempar sedikit menjauh.

Bimo pingsan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Ia tergeletak di pinggir jalan utama, hanya beberapa meter dari halte bus. Tubuhnya meringkuk seperti janin, dengan baju yang lusuh dan bau yang membuat tikus-tikus selokan pun enggan mendekat.

Penonton dari Balik Bayangan

Ratih berdiri tepat di samping kepala Bimo. Ia melihat wajah Bimo yang dulu sangat ia puja karena ketampanannya, kini dipenuhi bintik-bintik hitam dan kulit yang pecah-pecah. Bau busuk yang menguar dari tubuh Bimo terhalang oleh masker kain yang dipakai Ratih, namun ia masih bisa merasakannya sebuah aroma kehancuran.

"Kamu ingin kerja besok, Bimo?" Ratih berbisik pelan, suaranya terdengar merdu namun mengandung kedinginan yang mematikan. "Bagaimana kamu bisa bekerja jika untuk bangun saja kamu sudah tidak mampu?"

Ratih berjongkok, ia tidak menyentuh Bimo, namun ia meletakkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sudah ia lumuri dengan air bunga tujuh rupa tepat di samping tangan Bimo yang terkepal lemas.

"Ini uang untuk makanmu besok pagi. Makanlah, agar kamu punya tenaga untuk merasakan sakit yang lebih hebat lagi. Aku belum mengizinkanmu mati, Bimo. Belum."

Ratih bangkit berdiri. Ia menatap ke langit malam yang mendung. Ia merasa sangat tenang. Dendam ini tidak memberinya beban, melainkan memberinya alasan untuk tetap tegak berdiri. Ia telah berubah dari seorang budak cinta menjadi seorang dewi kematian bagi pria di bawah kakinya ini.

Tak lama kemudian, beberapa orang pejalan kaki yang lewat mulai menyadari ada orang pingsan. Namun, setiap kali mereka mendekat untuk menolong, mereka segera mundur sambil menutup hidung dan berteriak jijik.

"Eh, ada orang pingsan! Eh, buset... bau apa ini?!"

"Gelandangan ya? Atau orang gila? Baunya kayak bangkai manusia!"

"Jangan dideketin! Entar ketularan penyakitnya! Panggil satpam atau ambulans aja dari jauh!"

Bimo tergeletak di sana, menjadi tontonan hinaan bagi orang-orang yang lewat. Tak ada tangan yang sudi mengangkatnya. Tak ada selimut yang sudi menutupinya. Ia dibiarkan kedinginan di atas semen trotoar.

Ratih berjalan menjauh, masuk ke dalam kegelapan gang menuju kos barunya. Di dalam hatinya, ia sudah menyiapkan skenario untuk hari esok. Hari Senin yang dinanti-nantikan Bimo untuk kembali ke kantor, akan menjadi hari di mana Bimo akan benar-benar menyadari bahwa dunia sudah tidak memiliki tempat lagi bagi seorang pengkhianat sepertinya.

"Selamat beristirahat di neraka kecilmu, Bimo," gumam Ratih sebelum bayangannya menghilang di tikungan jalan.

Malam itu, Bimo tetap pingsan di trotoar, ditemani oleh kebisingan kota yang tidak peduli.

1
Argeymi Frananda Lestary
Dari semua cerita novel yg prnah qw baca, kyaknya cuma ini yg bisa bikin pembaca ikut deg"an pas perang gaib, dan bner" bnyak bgtt pljrannya, bner" bisa BKIN orang sadar klau d dunia cuma buat cari bekal d akhirat nanti , untuk authornya💪💪💪💪 semangat trus kk, qw tunggu novel selanjutnya
🔵🌹 Widian🧕
baca novel ini bikin emosi naik turun, luar biasa author nya .
Dengan bahasa dan deskripsi yang mudah dipahami, berasa kita menyaksikan sendiri.
Semangat berkarya Thor /Good//Good//Good//Good/
🔵🌹 Widian🧕
wahh....bagus sekali cerita nya, di bagian endingnya, aku sampe nangis karena perjuangan dan jalan taubat Ratih yang penuh rintangan.
keren Thor 👍👍👍
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
🔵🌹 Widian🧕
aku kagum dengan sosok Ratih, perempuan lemah yang dulu menyimpan dendam ,kini sudah menemukan jalan Nya.
moga kedepannya Ratih selalu Istiqomah dan bahagia dengan jodoh yg sudah Allah siapkan.
Srikandi Dewi Larasati
banyak komentar yg menyudutkan Ratih.. meski dia adalah korban.. dan aq bisa memaklumi hingga diriny mmpunyai dendam terhadap Bimo.. karena sikapny terhadap Ratih sdah sangat keterlaluan.. Jika bnyak yg komentar Ratih bodoh karena terlalu percaya pada Bimo.. yaa, wajarlah.. jika lagi bucin sperti kalian jga jika bertemu dgn cwo cakep dan terlihat tajir..
sekarang yg tobat justru Ratih.. yg kalian sdutkan.. bukan Bimo yg kalian anggap kasihan gara2 perilaku Ratih.. Itu yg di sebut karma.. apa yg mereka tanam.. itu juga yg kelak mereka petik hasilnya.. dan itu jga yg di sebut hukum semesta.. atau sebab akibat yg tidak bisa terbantahkan..
Halwah 4g: namnya juga pelajaran hidup ka..hehehehehe.. makasih ya ka...buat komennya
total 1 replies
Srikandi Dewi Larasati
fitnah memang sangatlah keji dan kejam.. dan penulisnya bikin yang baca jadi geram sendiri.. itulah penulis terbaik.. yg bisa membuat pembacanya ikut larut ke dalam ceritanya.. sukses selalu..
Fadhliyah
aku sangat terharu thor😥😭. beneran
selama ini merasa jadi orang yg paling menderita. hidup sendiri di usia tua. dan apa apa selalu minta sama Allah. aku sadar ibadahku masih kurang🥲
Halwah 4g: peluk jauh kka sayang...kka hebat selalu menjadikan Allah sebagai tempat sandaran satu satunya..
total 1 replies
Widia Cupu
plongh rasanya
Widia Cupu
akirnya
Widia Cupu
udah lah Bimo tobat o lee kasian juga
Widia Cupu
lagi2ratih jadi korban
Srikandi Dewi Larasati
kirain tulus tobat.. trnyata...
Srikandi Dewi Larasati
Kadang hati seorang pendendam akan puas bila melihat orang yg telah menyakitinya sdah tersiksa oleh penderitaan hingga lupa diri dan menjadi sombong.. dan kesombongan itu justru adalah sifat dasar iblis..
jadi jgan heran jika orang sombong itu biasanya perilakukannya jga kek iblis.. tak punya rasa iba lgi.. seperti Ratih..
Srikandi Dewi Larasati
ini yang di sebut hukum sebab akibat..
Bimo menjadi seperti itu pasti ada sebab.. dan apapun kejahatan pasti ada timbal balik yang harus di terima.. dan itu adalah hukum karma..
Tak ada kejahatan akan berbuah manis bukan.. jadi seperti itulah hukum alam bekerja..
Rhea Kim
😭kereennmn ceritanyaaa

tapi yg bunuh rani, bunuh anak pak kades.bunuh sinden....
belum terungkap ke polisi yak... jasadnya rani belum ketemu...

bang aryaa.... jugaaaa kagak ketemu ketemu🤣🤣🤣... nyasar kali yakkk...

tapi bagusss jalan ceritanya.... pilihan katanya baguss.... jadi nyaman membacanya🥰🥰🥰
Rhea Kim: iyaa bagusss ceritanya kakak.... 🔥🔥🔥🥰🥰
total 2 replies
Rhea Kim
ceritanyaaaa baguss bangett kakak🥰🥰🥰🥰
Rhea Kim
Alhamdulillah... ikut lega😭😭😭
sunardi imogiri
mungkin itu yg di sebut menyimpan bangkai serapat mngkin.. tpi akhirnya tetap baunya akan trcium jga..
Rhea Kim
syariiiiiiee
kadang insting ortu itu bener lo
Rhea Kim
ya Allah nagiss aq ... kayak terhanyut kasian gtu ama orang2 yg baik ...

cobaan nya g main2...
Halwah 4g: hehehehhehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!