Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Malam itu, hujan turun dengan deras, seolah langit ikut menangis menyaksikan kehancuran yang terjadi di dalam kediaman keluarga Arga. Di dalam kamarnya, Araluna tidak henti-hentinya terisak. Air matanya sudah mengering di pipi, namun sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Ia mondar-mandir seperti singa di dalam sangkar, tangannya gemetar hebat setiap kali teringat tatapan hancur Bunda dan kemarahan Papa.
Ia tidak pernah menyangka "permainan api" yang ia mulai akan berakhir dengan kebakaran hebat yang melalap seluruh keluarganya.
Tiba-tiba, suara kunci pintu diputar dari luar terdengar. Pintu kamarnya terbuka lebar, memperlihatkan sosok Papa Arga yang berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang merah padam karena amarah yang belum reda.
"Ikut Papa ke bawah," suara Papa terdengar dingin dan datar, namun ada otoritas yang tidak bisa dibantah di sana. "Papa ingin bicara dengan kalian berdua. Kamu sama Arsen."
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Luna mengikuti Papa menuju ruang kerja. Di sana, Arsen sudah berdiri tegak. Wajahnya tetap kaku, namun Luna bisa melihat ketegangan yang luar biasa dari cara Arsen mengepalkan tangannya di sisi tubuh.
Begitu mereka berdua berdiri berjajar, Papa Arga tidak membuang waktu.
PLAK!
Suara tamparan itu begitu nyaring, menggema di seluruh ruangan yang sunyi. Kepala Arsen terhentak ke samping akibat kerasnya hantaman tangan Papa. Araluna meringis, ia menutup mulutnya dengan tangan, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat pemandangan itu. Arsen tetap diam, tidak mencoba membela diri atau membalas tatapan Papa.
"Kamu adalah anak laki-laki yang Papa banggakan, Arsen!" suara Papa menggelegar, penuh dengan kekecewaan yang mendalam. "Papa pikir kamu bisa menjaga adikmu, menjaga martabat keluarga ini! Ternyata kamu tidak lebih dari seorang pengecut yang merusak kepercayaan Papa!"
Papa kembali mengangkat tangannya, hendak mendaratkan tamparan kedua, namun Luna langsung menghambur ke depan Arsen. Ia memeluk tubuh pria itu dengan erat, menjadikan dirinya sebagai tameng.
"Cukup Pa! Ini bukan salah Kak Arsen sepenuhnya tapi aku juga!" teriak Luna di sela isak tangisnya. "Aku yang mulai duluan, aku yang selalu godain dia, aku yang maksa dia! Jangan cuma hukum Kak Arsen!"
"Luna, minggir!" bentak Papa Arga.
"Nggak mau! Kalau Papa mau pukul Kak Arsen, pukul aku juga!" Luna menenggelamkan wajahnya di dada Arsen. Ia bisa merasakan detak jantung Arsen yang cepat dan napasnya yang memburu.
Arsen perlahan memegang bahu Luna, mencoba menjauhkannya agar gadis itu tidak terkena imbas amarah Papa. "Luna, jangan..." bisik Arsen lirih. Sifat kakunya hancur total saat melihat Luna menangis histeris seperti ini.
Papa Arga menatap mereka berdua dengan tatapan jijik. "Kalian benar-benar sudah kehilangan akal sehat. Kalian pikir ini drama romantis? Ini kenyataan! Kalian tinggal di bawah atap yang sama sebagai saudara!"
Bunda muncul di ambang pintu, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Ia hanya bisa bersandar di bingkai pintu, tidak sanggup melihat kekacauan yang terjadi.
"Papa sudah memutuskan," ucap Papa Arga setelah beberapa saat hening yang mencekam. "Besok, Arsen akan berangkat ke Surabaya. Kamu akan tinggal di sana bersama kakekmu dan melanjutkan kuliahmu di sana. Papa sudah mengatur kepindahanmu."
Luna membeku. Surabaya? Itu berarti mereka akan terpisah jarak yang sangat jauh.
"Dan kamu, Luna," Papa menatap putrinya dengan tajam. "Ponselmu Papa sita. Kamu akan diantar jemput oleh supir pribadi mulai besok. Tidak ada lagi motor, tidak ada lagi waktu berdua dengan Arsen. Jika Papa melihat kalian berkomunikasi sedikit saja, Papa tidak akan segan-segan mengirim Arsen lebih jauh lagi, ke luar negeri."
Malam itu, hukuman yang sesungguhnya baru saja dimulai. Perpisahan paksa ini terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Papa. Arsen hanya bisa menatap Luna dengan sorot mata yang penuh luka dan rasa bersalah, sementara Luna terus menangis, menyadari bahwa "tanggal merah" dan rahasia panas mereka di garasi kini telah menjadi kenangan yang paling menyakitkan.