NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian

Guzzel tidak bisa lagi bernapas di udara New York yang penuh dengan aroma pengkhianatan dan kepalsuan. Kalimat Max di depan orang tua mereka—bahwa ciuman itu hanyalah "rasa penasaran"—menjadi belati yang terus berputar di dadanya. Tanpa pamit pada ayahnya, Guzzel mengemasi satu koper kecil, mengambil paspornya, dan memesan tiket kelas satu paling awal menuju Paris.

​Dia butuh menghilang. Dia butuh menjadi Delisa yang baru, bukan Lia yang dikhianati atau Guzzel si anak pengusaha.

Seminggu di Paris, Guzzel menyewa sebuah apartemen kecil di kawasan Le Marais yang artistik. Dia menghabiskan hari-harinya di kafe-kafe pinggir jalan, menyesap café au lait sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang, mencoba melupakan tatapan kejam Max malam itu.

​Namun, Paris terlalu romantis untuk seseorang yang hatinya baru saja hancur. Setiap sudut kota mengingatkannya pada janji-janji "V" di aplikasi Veloce. Tentang bagaimana mereka ingin berjalan di bawah menara Eiffel atau berbagi croissant di pagi hari.

​Sore itu, saat hujan rintik mulai membasahi jalanan berbatu, Guzzel sedang duduk di sebuah kursi taman di Jardin du Luxembourg. Dia mengenakan trench coat krem dengan syal merah tua, matanya kosong menatap daun-daun yang gugur.

​Tiba-tiba, sebuah payung hitam menaungi kepalanya. Guzzel tidak menoleh, ia mengira itu adalah turis yang lewat.

​"Paris tidak cocok untukmu jika kau hanya ingin bersedih, Guzzel," suara berat itu memecah keheningan.

​Jantung Guzzel berhenti berdetak sesaat. Suara itu. Suara yang ia benci sekaligus ia rindukan setengah mati. Dia mendongak dan menemukan Maximilien Vance berdiri di sana, dengan rambut yang sedikit lebih panjang dari biasanya dan gurat kelelahan yang nyata di wajah tampannya.

​Guzzel segera berdiri, amarahnya meluap dalam sekejap. "Bagaimana kau menemukanku? Dan untuk apa kau di sini, Max? Belum puas mempermalukan ku di depan orang tua kita?"

​Guzzel hendak melangkah pergi, namun Max menahan lengannya. Kali ini, genggamannya tidak kasar. Genggamannya gemetar, seolah ia takut Guzzel akan hancur jika ia menekannya terlalu kuat.

​"Aku mencari di setiap hotel dan apartemen sewa di distrik ini selama tiga hari tanpa tidur, Guzzel. Kumohon, dengarkan aku sekali saja," suara Max serak, penuh dengan keputusasaan.

​"Mendengar apa? Bahwa kau penasaran bagaimana rasanya mengejarku sampai ke Paris?" Guzzel tertawa pahit, air mata mulai menggenang. "Pergilah, Max. Aku bukan lagi mainanmu."

​Max tiba-tiba melepaskan payungnya, membiarkan dirinya dan Guzzel basah kuyup oleh hujan Paris. Dia berlutut di depan Guzzel, di atas tanah taman yang basah, Sebuah pemandangan yang mustahil dilakukan oleh seorang Maximilien Vance yang angkuh.

​"Aku berbohong, Guzzel! Aku pengecut!" teriak Max di tengah suara hujan.

"Kata-kataku malam itu adalah racun yang aku ciptakan untuk melindungi diriku sendiri. Aku takut... aku takut jika Ayahku tahu aku mencintaimu, dia akan menggunakanmu untuk menghancurkanku. Aku lebih memilih menyakitimu daripada membiarkanmu menjadi sasaran kebencian keluargaku."

​Max meraih tangan Guzzel, menempelkannya di pipinya yang dingin. "Ciuman itu... itu bukan rasa penasaran. Itu adalah doa, Guzzel. Itu adalah satu-satunya momen di mana aku merasa hidup kembali setelah bertahun-tahun mati rasa. Setiap inci kulitku bergetar karena kau, bukan karena rasa ingin tahu."

​Guzzel mencoba menarik tangannya, tapi Max memegangnya erat-erat. Pria itu mulai merayu dengan cara yang hanya diketahui oleh "V", cara yang selama berbulan-bulan meluluhkan hati Guzzel di dunia maya.

​"Ingat obrolan kita pukul tiga pagi tentang hidup bersama?" bisik Max, matanya menatap dalam ke mata Guzzel. "Aku sudah membeli pondok itu, Guzzel. Bukan di pegunungan yang jauh, tapi di pinggiran Provence. Aku ingin kita benar-benar bangun dengan aroma kopi setiap pagi. Aku ingin menebus setiap air mata yang jatuh karena kebodohanku."

​Max berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Guzzel hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Kau bilang Lia dan Guzzel adalah orang yang sama. Maka biarkan aku mencintai keduanya. Berikan aku kesempatan untuk menjadi pria yang layak untukmu di dunia nyata, bukan hanya di balik layar ponsel."

​"Bagaimana aku bisa percaya padamu lagi, Max?" Guzzel terisak, benteng pertahanannya mulai goyah.

​"Karena aku tidak akan pulang tanpa kau," jawab Max tegas. "Aku akan berdiri di depan apartemen mu setiap hari, aku akan mengikuti mu ke setiap kafe, aku akan menjadi bayanganmu sampai kau sadar bahwa satu-satunya pria yang mendambakan mu sampai ke ujung dunia ini hanyalah aku."

​Max kemudian merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna biru tua. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan permata emerald yang indah, warna yang sama dengan gaun Guzzel di malam gala.

​"Aku membawanya dari New York. Aku berniat memberikannya padamu malam itu, sebelum ketakutanku merusak segalanya. Delisa Guzzalie Dante... maukah kau membiarkan pria bodoh ini mencoba mencintaimu dengan benar?"

​Di bawah rintik hujan Paris, Guzzel melihat Max yang berbeda. Bukan Pangeran Es yang ditakuti, melainkan pria yang hancur yang sedang mengemis ampunan. Guzzel tahu, luka itu masih ada, tapi cinta yang mereka bangun di aplikasi online itu terlalu kuat untuk diputus begitu saja.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!