Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Check up
Pintu otomatis terbuka perlahan.
Kami duduk berdampingan di kursi ruang tunggu. Deretan kursi plastik berwarna pucat, bau antiseptik tipis yang menggantung di udara, dan suara langkah orang-orang yang lalu lalang tanpa benar-benar kuperhatikan.
Aku menyandarkan punggung, mencoba terlihat santai. Arven di sampingku membuka-buka ponsel, tapi aku tahu perhatiannya tidak benar-benar di sana. Sesekali matanya melirik ke arahku, seperti memastikan aku masih baik-baik saja.
"Kamu tegang," katanya pelan.
"Aku nggak," bantahku refleks.
Dia mendengus kecil. "Bohong."
Aku menoleh. "Kelihatan banget, ya?"
"Iya," jawabnya jujur. "Dari cara kamu napas."
Aku baru sadar napasku memang agak pendek. Aku menghela napas panjang, sengaja, berlebihan, membuatnya tertawa kecil.
"Nah," kataku. "Udah normal."
"Lumayan," katanya sambil mengangguk, pura-pura serius.
Kami diam lagi. Kami duduk bersebelahan, lutut kami bersentuhan tipis, sentuhan kecil itu entah kenapa cukup menenangkanku.
Papan elektronik di depan menyala. Nomorku muncul.
Aku refleks menegang lagi.
Arven langsung berdiri. "Ayo."
Aku ikut bangkit, tapi sebelum melangkah, tanganku tertahan. Jarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku, ringan tapi pasti.
"Napas," katanya singkat.
Aku menurut.
Kami masuk ke ruang periksa. Ruangannya bersih, terang, terlalu putih menurutku. Dokternya ramah, suaranya tenang, menjelaskan ini-itu dengan nada profesional yang membuat semuanya terdengar biasa.
Pemeriksaannya berlangsung lebih cepat dari yang aku bayangkan. Tekanan darah, beberapa pertanyaan ringan, cek refleks. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang menyakitkan.
"Secara fisik, kondisimu cukup baik," kata dokter itu sambil mencatat. "Pemulihanmu sejauh ini sesuai harapan."
Aku mengangguk. Arven juga.
Lalu dokter itu mengangkat wajahnya lagi, menatapku lebih serius, dokter itu tidak mengintimidasi, tapi cukup membuatku sadar ini bagian penting.
"Sejauh ini," katanya hati-hati, "apakah ada tanda-tanda ingatan yang mulai kembali? Bisa potongan kecil, mimpi, atau rasa familiar yang kuat?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Aku membuka mulut lalu menutupnya lagi. Sebelum aku sempat bicara, aku merasakan tatapan Arven.
Aku menoleh sedikit.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi matanya tertuju padaku penuh, seolah benar-benar menunggu jawabanku. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dadaku terasa berat.
Aku memikirkan Maya. Album. Foto SMA. Nama Bima yang muncul tanpa wajah. Rasa familiar yang tidak bisa kutangkap. Semua itu berputar cepat di kepalaku.
Apa itu termasuk ingatan kembali?
Aku ragu.
Aku takut salah menyebutkannya. Aku menelan ludah.
"Belum," jawabku akhirnya. Suaraku pelan tapi jelas. "Nggak ada."
Dokter itu mengangguk, mencatat sesuatu. "Tidak apa-apa. Prosesnya memang berbeda-beda. Jangan dipaksakan."
Aku mengangguk lagi.
Dari sudut mataku, aku melihat bahu Arven sedikit mengendur. Napasnya terdengar lebih ringan. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum kecil, seolah ingin meyakinkanku bahwa jawabanku sudah benar.
Dan aku membalas senyum itu. Dokter itu menutup mapnya, lalu menyilangkan tangan di atas meja.
"Untuk sementara," katanya tenang, "saya sarankan kamu mulai terapi kognitif ringan. Bukan untuk memaksa ingatan kembali, tapi untuk membantu otakmu beradaptasi dengan kondisi sekarang."
Aku mengangguk. "Terapi ngobrol gitu dok?"
"Kurang lebih," jawabnya sambil tersenyum. "Kita akan fokus ke stabilitas emosi, pola tidur, dan responmu terhadap stres. Ingatan bisa menyusul belakangan."
Aku mengangguk lagi. Kedengarannya masuk akal.
"Dan satu lagi," lanjutnya, "hindari terlalu banyak tekanan dari luar. Jangan merasa harus mengingat sesuatu dengan cepat. Itu justru bisa memperparah kecemasan."
Aku melirik Arven sekilas. Ia mengangguk kecil, seolah sepakat penuh.
"Baik, Dok," katanya. "Kami ikuti sarannya."
Dokter itu tersenyum lagi, lalu bersiap berdiri, seolah pemeriksaan sudah selesai. Dan entah kenapa tepat di detik itu sebuah pertanyaan muncul di kepalaku.
Pertanyaan yang sebenarnya sederhana. Tapi aku tidak tahu kenapa baru sekarang terpikirkan. Dan lebih aneh lagi, aku Arven aku belum pernah menanyakannya pada Arven.
Aku menelan ludah.
"Dok," panggilku tiba-tiba.
Dokter itu berhenti, menoleh kembali ke arahku. "Ya?"
Aku duduk sedikit lebih tegak. Jantungku berdetak lebih cepat, karena rasa ingin tahu yang tiba-tiba menyeruak.
"Saat saya pertama kali datang ke sini," kataku pelan, hati-hati, "katanya saya kecelakaan, ya?"
"Iya," jawab dokter itu tanpa ragu.
Aku mengangguk kecil, lalu melanjutkan, suaraku nyaris berbisik tapi tetap jelas.
"Saya kecelakaan apa ya, Dok? Maksud saya, sampai bisa bikin saya lupa ingatan begini."
Aku bisa merasakannya bahkan sebelum aku menoleh, Arven terkejut. Napasnya tertahan sepersekian detik, tangannya yang tadi santai di samping kursi perlahan mengencang.
Aku menoleh ke arahnya. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di wajahnya. Dia seperti ingin menghentikanku. Seperti seseorang yang hampir menyela, tapi terlambat setengah detik.
Tatapan kami bertemu.
Dan aku tahu entah dari mana kalau pertanyaan ini bukan sesuatu yang biasa kami bicarakan. Arven membuka mulut sedikit, lalu menutupnya lagi.
Dokter itu sama sekali tidak menyadari perubahan kecil di antara kami. Ia hanya menarik kursinya, duduk kembali, lalu menjawab dengan nada profesional.
"Kamu mengalami kecelakaan lalu lintas," katanya. "Benturan cukup keras di bagian kepala. Untungnya tidak ada perdarahan serius, tapi guncangannya cukup untuk memicu amnesia pascatrauma."
Aku mengangguk pelan.
"Kamu sempat tidak sadarkan diri," lanjutnya. "Dan ketika bangun, sebagian besar memori jangka panjangmu tidak bisa diakses. Itu bukan hal yang langka dalam kasus seperti ini."
Aku menarik napas.
"Oh," gumamku. "Aku ditabrak, ya?"
Dokter itu mengangguk. "Iya."
Aku melirik Arven lagi.
"Ren," katanya lembut, seolah baru saja menyadari aku menatapnya. "Kamu nggak apa-apa?"
Aku mengangguk. "Iya."
Setelah check up selesai, pintu tertutup di belakang kami, dan lorong rumah sakit kembali menyambut dengan bau antiseptik dan suara sepatu orang-orang yang berlalu.
Aku berjalan di samping Arven. Bahuku hampir menyentuh bahunya, tapi entah kenapa jarak itu terasa lebih jauh dari sebelumnya. Jawaban dokter masih berputar di kepalaku.
Kecelakaan lalu lintas, benturan di kepala, ditabrak.
Kata-kata itu terasa asing. Bukan karena aku lupa, tapi karena tidak ada emosi yang mengikutinya. Seharusnya aku takut, marah, atau panik
Tapi yang kurasakan justru hampa.
Arven melirikku. "Kamu pucat."
"Aku nggak apa-apa," jawabku cepat.
Ia tidak membantah. Hanya memperlambat langkahnya, memastikan aku tidak tertinggal. Tangannya sempat menyentuh punggungku, menuntunku halus ke pintu keluar.
Di parkiran, udara terasa lebih segar. Tapi dadaku tetap berat. Kami masuk ke mobil, Arven menutup pintu mobil setelah aku masuk. Dia mulai menyalakan mesin. Mobil melaju, dan aku menatap jalanan di depan, bangunan-bangunan lewat tanpa benar-benar kulihat.
"Ven," panggilku akhirnya.
"Hm?"
Katanya ringan, seolah hari ini sama seperti hari-hari lain.
Aku menarik napas dalam. "Katanya aku ditabrak."
Ia tidak langsung menjawab. Hanya sepersekian detik. Tapi aku merasakannya.
"Iya," katanya akhirnya. "Kecelakaan."
Aku menoleh menatapnya. "Kamu tahu?"
"Tahu."
"Kok kamu nggak pernah bilang?" tanyaku, jujur. Aku tidak berniat menuduhnya, aku hanya ingin tahu.
Tangannya sedikit mengencang di setir.