mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulau Cahaya Yang Hilang
Lautan di wilayah timur tampak lebih ganas dari biasanya. Ombak besar menerpa kapal kayu yang digunakan oleh Liu Wei dan Su Yin, membuatnya bergoyang dengan keras. Angin bertiup sangat kencang, membawa kabut tebal yang membuat pandangan menjadi sangat terbatas.
“Kita harus berhati-hati,” ucap Su Yin sambil menyeimbangkan diri di atas kapal. “Arus di wilayah ini sangat kuat. Jika kita tidak berhati-hati, kapal bisa terbawa jauh dari jalur yang benar.”
Liu Wei sedang mengendalikan dayung dengan kuat, matanya tetap fokus pada kompas khusus yang diberikan oleh Su Yin. Kalung kristal bintang di lehernya mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang semakin terang seiring dengan kedekatan mereka ke tujuan.
“Kalung ini semakin terang,” katanya dengan suara yang penuh harapan. “Kita pasti sudah dekat dengan Pulau Cahaya.”
Setelah berlayar selama beberapa jam lagi, kabut perlahan mulai menyebar. Di kejauhan, mereka melihat sebuah pulau yang tidak muncul di peta mana pun—pulau itu dikelilingi oleh cahaya keemasan yang lembut, membuatnya tampak seperti melayang di atas permukaan laut. Pohon-pohon yang tumbuh di pulau itu memiliki daun yang bersinar seperti kristal, dan sungai yang mengalir di dalamnya tampak seperti air yang terbuat dari cahaya.
“Ini dia—Pulau Cahaya yang hilang,” bisik Su Yin dengan kagum. “Saya tidak menyangka benar-benar bisa menemukan tempat ini.”
Mereka dengan hati-hati menyandar kapal di dermaga kecil yang terbuat dari batu putih bersinar. Saat mereka melangkah ke daratan pulau, udara di sekitarnya terasa sangat segar dan penuh dengan energi positif. Setiap langkah yang mereka ambil membuat bunga-bunga kecil yang tumbuh di tanah mulai bersinar dengan warna-warni yang indah.
“Energi di pulau ini sangat kuat,” ucap Liu Wei sambil menyentuh salah satu pohon yang bersinar. “Seolah seluruh pulau ini hidup dan merespons keberadaan kita.”
Su Yin mengangguk sambil mengikuti arah yang ditunjukkan oleh kalung di leher Liu Wei. “Batu Penjaga Cahaya seharusnya berada di tengah pulau, di dalam kuil kuno yang tersembunyi di balik hutan.”
Mereka berjalan melalui hutan yang indah, di mana cahaya dari daun-daun pohon menerangi jalan mereka dengan cukup jelas tanpa perlu menggunakan obor. Burung-burung dengan bulu yang bersinar seperti mutiara terbang di antara ranting-ranting pohon, menyanyi dengan suara yang merdu. Di sisi jalan, binatang-binatang kecil dengan kulit yang bersinar lembut melihat mereka dengan rasa ingin tahu namun tidak takut.
Setelah berjalan selama hampir satu jam, mereka sampai di sebuah bidang lapang yang luas dengan kolam air yang jernih di tengahnya. Di belakang kolam itu, sebuah kuil kecil dengan kubah yang terbuat dari kristal besar berdiri megah. Kuil itu tidak memiliki pintu, hanya sebuah lorong yang terbuka lebar dengan tangga yang mengarah ke dalam.
“Batu Penjaga Cahaya ada di dalamnya,” kata Su Yin dengan suara rendah, merasakan energi yang sangat kuat datang dari arah kuil.
Mereka memasuki kuil dengan hati-hati. Di dalamnya, ruangan yang luas dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi dengan ukiran bintang-bintang menghadap mereka. Di tengah ruangan, sebuah altar tinggi dengan tempat kosong berbentuk hati terletak di atas pijakan batu putih bersinar. Di dinding belakang altar, sebuah prasasti besar terukir dengan huruf-huruf yang bersinar dengan cahaya keemasan.
Su Yin mendekati prasasti dan mulai membacanya dengan suara yang jelas: “Hanya mereka yang memiliki hati yang murni dan cinta yang tulus bisa mengakses kekuatan Batu Penjaga Cahaya. Untuk mendapatkan kekuatannya, kamu harus melewati ujian yang menguji jiwa kamu.”
Saat kata-kata terakhir itu diucapkan, cahaya di dalam kuil mulai berubah warna menjadi merah tua. Lantai di sekitar altar mulai bergetar, dan tiga gerbang dengan warna berbeda muncul di dalam ruangan—gerbang merah, biru, dan hijau.
“Ujian telah dimulai,” bisik Su Yin sambil melihat ke arah gerbang-gerbang itu. “Kita harus melewati masing-masing ujian untuk mendapatkan batu.”
Liu Wei mengangguk dengan tegas. “Mari kita mulai. Kita tidak punya waktu untuk berhenti.”
Mereka memasuki gerbang merah yang pertama. Di dalamnya, sebuah ruangan dengan dinding yang penuh dengan gambar tentang perang dan konflik menghadap mereka. Dari balik bayangan, sosok seorang pria dengan wajah yang mirip dengan Zhang Feng muncul dengan pedang yang menyala dengan api merah.
“Kamu tidak akan pernah berhasil!” jerit sosok itu dengan suara yang menggema. “Kekuatan selalu berada di tangan yang paling kuat. Cinta dan kebaikan hanyalah ilusi yang lemah!”
Sosok itu menyerang dengan cepat. Liu Wei menarik Pedang Angin Birunya dan menghadapinya dengan penuh semangat. Namun setiap kali dia menyerang, sosok itu hanya menghilang dan muncul kembali di tempat lain.
“Jangan menyerang dengan kemarahan!” teriak Su Yin dari belakang. “Ujian ini menguji kemampuanmu untuk mengendalikan emosi dan melihat kebenaran di balik ilusi!”
Liu Wei menghentikan serangannya dan menutup matanya. Dia fokus pada energi positif di dalam dirinya, mengingat semua orang yang dia cintai dan semua hal baik yang telah dia lakukan. Saat dia membuka mata lagi, matanya menyala dengan cahaya keemasan yang lembut. Dia tidak menyerang, melainkan hanya berdiri dengan tenang dan memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan kasih sayang.
“Saya tahu kamu adalah ilusi,” ucapnya dengan suara tenang. “Kekuatan sejati bukanlah tentang menguasai orang lain, melainkan tentang membantu mereka dan menjaga perdamaian.”
Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, sosok itu mulai memudar dan lenyap menjadi cahaya merah yang masuk ke dalam tubuh Liu Wei. Gerbang merah itu kemudian terbuka lebar, menunjukkan jalan menuju gerbang berikutnya.
Mereka memasuki gerbang biru yang kedua. Di dalamnya, sebuah ruangan dengan pemandangan laut yang luas menghadap mereka. Di tengah ruangan, sebuah cermin besar berdiri dengan sendirinya. Ketika mereka mendekati cermin, gambar tentang masa depan yang suram muncul di dalamnya—dunia yang hancur akibat kekuatan kegelapan, orang-orang yang menderita, dan teman-teman mereka yang terluka parah.
“Lihatlah masa depan yang akan datang jika kamu gagal!” suara yang merdu namun penuh kesedihan terdengar dari arah cermin. “Kamu tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan kegelapan. Lebih baik menyerah sekarang juga!”
Su Yin merasa hati nya terasa berat melihat gambar itu. Namun dia segera menyadari bahwa ini adalah bagian dari ujian. Dia mengambil tangan Liu Wei dan menatap cermin dengan tatapan yang penuh keyakinan.
“Masa depan tidak ditentukan oleh kekuatan kegelapan,” ucapnya dengan suara jelas. “Masa depan ditentukan oleh pilihan yang kita buat setiap hari dan usaha yang kita lakukan untuk membuat dunia menjadi lebih baik.”
Liu Wei mengangguk dan menyentuh permukaan cermin dengan lembut. “Kita akan melakukan yang terbaik untuk mencegah masa depan yang buruk itu terjadi. Dan bahkan jika kita gagal, kita akan terus berjuang sampai akhir untuk apa yang benar.”
Saat mereka mengatakan itu, gambar di dalam cermin mulai berubah—menjadi pemandangan dunia yang damai dan makmur, dengan orang-orang yang bahagia dan teman-teman mereka yang bekerja sama untuk membangun masa depan yang baik. Cermin itu kemudian pecah menjadi ribuan serpihan yang bersinar seperti bintang, dan energi biru yang hangat masuk ke dalam tubuh mereka.
Mereka melanjutkan ke gerbang hijau yang ketiga. Di dalamnya, sebuah ruangan dengan taman bunga yang indah menghadap mereka. Di tengah taman, seorang wanita tua dengan wajah yang penuh kebijaksanaan sedang duduk di atas batu yang rata. Dia melihat mereka dengan senyum yang hangat.
“Selamat datang, Pendekar Bintang Penyusun,” ucapnya dengan suara yang merdu seperti nyanyian burung. “Saya adalah penjaga terakhir dari Pulau Cahaya. Kamu telah melewati dua ujian dengan baik. Sekarang kamu harus melewati ujian terakhir—ujian untuk menguji cinta dan pengorbanan kamu.”
Wanita tua itu mengangkat tangannya, dan gambar tentang keluarga Liu Wei yang terbunuh dan desa yang hancur muncul di udara. Kemudian gambar tentang teman-temannya yang sedang dalam bahaya saat mencari Batu Penjaga lainnya muncul juga.
“Untuk mendapatkan kekuatan Batu Penjaga Cahaya,” kata wanita tua itu dengan suara yang serius, “kamu harus memilih antara menyelamatkan orang-orang yang kamu cintai atau menyelamatkan dunia. Kamu tidak bisa menyelamatkan keduanya.”
Liu Wei merasa hati nya seperti ditusuk oleh jarum. Dia melihat ke arah Su Yin yang juga memiliki ekspresi yang penuh kesusahan. Namun setelah beberapa saat, dia menoleh kembali ke wanita tua dengan tatapan yang penuh tekad.
“Saya tidak akan memilih salah satu dari keduanya,” ucapnya dengan suara yang jelas dan kuat. “Orang-orang yang saya cintai adalah bagian dari dunia ini. Jika saya menyelamatkan dunia, saya juga menyelamatkan mereka. Dan jika saya harus mengorbankan diri saya untuk menyelamatkan mereka berdua, saya akan melakukannya dengan senang hati.”
Su Yin mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Liu Wei. “Saya akan selalu berada di sisimu, apa pun yang terjadi. Kita akan menghadapi segala sesuatu bersama-sama.”
Wanita tua itu tersenyum dengan penuh penghargaan. “Kamu telah memberikan jawaban yang benar. Cinta sejati tidak pernah meminta pilihan—cinta sejati membuat kita berjuang untuk menyelamatkan semua yang kita cintai, tanpa memandang apa yang harus dikorbankan.”
Saat dia berbicara, altar di tengah ruangan mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang sangat kuat. Sebuah batu besar berbentuk hati dengan warna keemasan muncul di atas altar—Batu Penjaga Cahaya yang mereka cari. Batu itu kemudian terbang ke arah Liu Wei dan masuk ke dalam kalung kristal bintang di lehernya, membuat kalung itu bersinar dengan sangat terang.
“Kekuatan Batu Penjaga Cahaya sekarang telah menjadi milikmu,” kata wanita tua itu dengan senyum lega. “Gunakan kekuatannya dengan bijak untuk menyelamatkan dunia dari bahaya yang akan datang.”
Setelah itu, wanita tua itu lenyap menjadi cahaya hijau yang menyebar ke seluruh pulau. Ruangan mulai berubah kembali menjadi kuil yang tenang, dan gerbang keluar terbuka lebar.
Liu Wei dan Su Yin keluar dari kuil dengan hati yang penuh rasa syukur dan kekuatan baru yang mengalir di dalam tubuh mereka. Kalung di leher Liu Wei terus bersinar dengan cahaya keemasan, menunjukkan bahwa Batu Penjaga Cahaya telah siap digunakan ketika diperlukan.
“Kita harus segera kembali ke daratan,” ucap Su Yin dengan suara yang tegas. “Teman-teman kita pasti sudah membutuhkan bantuan. Kita harus menemukan Batu Penjaga lainnya sebelum terlambat.”
Mereka berjalan kembali ke dermaga dengan langkah yang lebih cepat, penuh dengan semangat baru. Pulau Cahaya mulai menyembunyikan diri kembali di balik kabut tebal, seperti ingin tetap tersembunyi sampai saatnya tiba lagi untuk membantu dunia.
Saat mereka berlayar menjauh dari pulau itu, Liu Wei melihat ke arah langit yang mulai gelap. Bintang Penyusun bersinar dengan sangat terang, seolah memberikan pesan bahwa perjuangan mereka belum selesai. Namun dengan kekuatan Batu Penjaga Cahaya yang baru mereka dapatkan, mereka merasa lebih siap untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.