"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
Setelah momen khitbah yang penuh haru, Sasya mengira semua error telah teratasi. Namun, ia lupa bahwa dalam hidup, setelah deployment aplikasi, fase yang paling berat adalah maintenance dan menghadapi user—yang dalam hal ini adalah keluarga besar.
Seminggu setelah pertemuan keluarga, rumah Sasya mendadak berubah menjadi pusat komando. Masalahnya satu: Konsep Pernikahan.
"Sya, Ibu Aminah telepon Ayah lagi tadi pagi," ujar Pak Baskoro sambil memijat keningnya di meja makan. "Beliau ingin acaranya pakai adat Jawa lengkap. Ada siraman, midodareni, sampai panggih yang harus pakai sewa gedung besar. Katanya, Alkan itu putra tunggal, harus dirayakan."
Sasya yang sedang asyik membalas email dari sebuah perusahaan startup tempat ia magang, langsung mendongak. "Tapi Yah, Sasya sama Mas Alkan sudah sepakat mau konsep Intimate Wedding. Cukup akad di masjid kampus yang dulu jadi saksi doa-doa Sasya, lalu makan siang sederhana sama keluarga dan teman dekat. Uangnya lebih baik buat DP rumah atau ditabung buat S2 Sasya."
"Ayah setuju sama kamu, tapi kamu tahu sendiri kan Ibu Aminah itu 'Administrator' di keluarganya? Beliau susah di-override," jawab Pak Baskoro pasrah.
Sasya langsung meraih ponselnya. Ia menekan nomor Alkan.
"Halo, Mas? Kita punya masalah compatibility sistem antara rencana kita sama rencana Ibu Aminah."
Di seberang telepon, terdengar suara Alkan yang juga terdengar lelah. "Saya tahu, Sya. Di sini Ibu juga sedang sibuk mendata 1000 tamu undangan. Saya baru saja mencoba menjelaskan soal efisiensi anggaran, tapi Ibu malah bilang saya pelit sama hari bahagia sendiri."
"Mas, kita harus bicarakan ini bareng-bareng. Jangan sampai sebelum akad kita sudah crash duluan gara-gara gengsi," tegas Sasya.
Sore harinya, Alkan datang ke rumah Sasya. Kali ini tanpa orang tuanya. Mereka duduk di teras, membuka laptop bukan untuk urusan skripsi, melainkan membuat simulasi anggaran pernikahan di spreadsheet.
"Lihat ini, Mas," Sasya menunjukkan grafik batang di layarnya. "Kalau kita pakai gedung dan katering 1000 orang, biayanya naik 400%. Sedangkan kalau kita pakai konsep garden party di area terbuka kampus, kita bisa hemat banyak. Kita bisa alokasikan dananya untuk mahar yang lebih bermanfaat atau buat modal kita di awal nikah."
Alkan mengamati angka-angka itu. "Logikanya masuk. Tapi Ibu tidak memandang angka, Sya. Ibu memandang silaturahmi dan kehormatan keluarga. Beliau ingin semua rekan dosen senior dan keluarga besar dari luar kota hadir."
"Gini aja," Sasya mendapat ide. "Gimana kalau kita bagi dua jalurnya? Kita kasih Ibu 'akses' untuk acara syukuran di rumah beliau dengan tamu kolega beliau. Tapi untuk akad dan acara utama, tetap pakai konsep kita. Kita sebut ini Hybrid Wedding."
Alkan tertawa kecil. "Kamu ini, semua hal diistilahkan pakai bahasa IT. Tapi itu ide bagus. Saya akan coba sampaikan sebagai solusi 'win-win'."
Di tengah pusingnya mengurus vendor, Sasya mendapat sebuah pesan DM di Instagram dari akun yang sudah lama ia blokir, tapi kini muncul dengan akun baru.
Akun Baru:
"Selamat ya Sya atas kelulusannya. Dan selamat juga buat rencana nikahnya sama Pak Alkan. Tapi apa kamu yakin, Alkan benar-benar cinta sama kamu? Atau dia cuma merasa bertanggung jawab karena hampir merusak kariermu?"
Sasya terdiam. Ia tahu ini gaya bahasa siapa. Bu Sarah belum benar-benar menyerah untuk merusak ketenangannya.
Sasya tidak membalas. Ia justru menunjukkannya pada Alkan saat mereka sedang memilih desain undangan digital. "Mas, lihat ini. Masih ada gangguan yang mencoba masuk ke jaringan kita."
Alkan membaca pesan itu dengan wajah datar. Ia kemudian mengambil ponselnya sendiri, memotret tangannya yang sedang memegang tangan Sasya (dengan batas jarak yang sopan), lalu mengunggahnya di Story WhatsApp dengan caption singkat:
"Final Decision: Definisi cinta bagi saya adalah ketika doa dan usaha bertemu di titik yang sama. Terima kasih sudah menjadi variabel paling berharga, @Sasyakirana."
"Mas! Itu kan pertama kalinya Mas posting soal aku!" Sasya kaget sekaligus baper brutal.
"Biarkan saja. Cara terbaik menghentikan hacker adalah dengan memperkuat firewall secara terang-terangan," ujar Alkan tenang. "Sekarang, fokus lagi ke desain undangan. Kamu mau pakai font Serif atau Sans Serif?"
Sasya tersenyum lebar. Ia baru menyadari bahwa Alkan bukan hanya pelindungnya di kampus, tapi juga pelindung hatinya dari segala prasangka. Konflik dengan Ibu Aminah dan Bu Sarah terasa kecil dibandingkan kepastian yang Alkan berikan.
Malamnya, Sasya kembali menulis di buku hariannya. “Ternyata mau nikah itu lebih ribet dari sidang skripsi. Sidang skripsi pengujinya cuma tiga, sidang nikah pengujinya keluarga besar, vendor, sampai netizen. Tapi selagi 'Lead Developer'-nya Mas Alkan, aku yakin proyek menuju halal ini bakal sukses diluncurkan tanpa bug.”
Namun, sebuah telepon dari vendor katering di jam 11 malam membuat Sasya kembali panik. "Halo? Apa? Kateringnya kena musibah kebakaran gudang?"
Sasya lemas. System failure kembali terjadi tepat dua minggu sebelum hari-H.