"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Langkah-Langkah Kecil
Pagi itu, Villa Samudera diselimuti kabut tipis yang merayap dari permukaan laut, menyembunyikan tebing-tebing tajam di bawah selimut putih yang sunyi. Hana Sato duduk di meja makan outdoor yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik. Di depannya tersedia sarapan mewah—omlet dengan truffle dan jus delima—namun matanya tidak tertuju pada makanan. Ia sedang memperhatikan ritme napas para penjaga di kejauhan, menghitung durasi mereka berkedip di balik kacamata hitam taktis mereka.
Kenzo Matsuda muncul dari balik pintu kaca geser, mengenakan kemeja linen berwarna biru navy yang santai. Ia tampak lebih rileks belakangan ini, sebuah tanda bahwa topeng "wanita penurut" yang Hana kenakan mulai bekerja merusak kewaspadaannya. Aroma parfum sandalwood miliknya bertabrakan dengan bau asin laut, menciptakan kontradiksi yang menyesakkan bagi Hana.
"Kau tampak tenang pagi ini, Hana," sapa Kenzo sambil menarik kursi di hadapannya.
Hana memberikan senyuman tipis yang ia latih selama berjam-jam di depan cermin—senyuman yang mengandung sedikit kesedihan namun penuh kepatuhan. "Lautan ini sangat menenangkan, Kenzo-sama. Namun, keheningan ini terkadang membuat pikiranku liar. Aku mulai merasa otakku tumpul karena tidak melakukan apa pun. Aku takut, jika aku hanya diam, aku akan kehilangan diriku sendiri sebelum anak ini lahir."
Kenzo mengangkat alisnya, tertarik. "Apa yang kau inginkan? Perhiasan? Pakaian baru dari Paris? Katakan saja, dan helikopter sore ini akan membawanya untukmu."
Hana menggeleng pelan, tangannya mengelus perutnya dengan gerakan yang ia tahu akan memicu insting protektif Kenzo. "Bukan barang mewah. Aku ingin sesuatu untuk mengisi waktuku. Aku ingin merajut pakaian untuk... untuk anak kita nanti. Benang wol yang lembut mungkin akan membuatku merasa terhubung dengannya. Dan aku butuh beberapa buku referensi tentang botanika laut. Pulau ini memiliki tanaman yang unik, dan aku ingin mempelajarinya agar aku tidak merasa seperti orang asing di rumahku sendiri."
Ini adalah langkah pertama. Benang rajut berarti ia memiliki akses ke benda tajam (jarum rajut). Buku botanika adalah kedok agar ia bisa menjelajahi hutan di pulau itu dengan alasan "mencari sampel tanaman."
Kenzo terdiam, matanya yang tajam menatap Hana, mencoba mencari celah pengkhianatan. Namun, melihat Hana yang tampak begitu fokus pada kehamilannya, pertahanannya melunak. "Rajutan? Itu hobi yang sangat domestik. Sangat... Rena. Baiklah, aku akan meminta Mari menyiapkan bahan-bahannya. Dan untuk buku-buku itu, kau boleh menggunakan tablet khusus di perpustakaan. Tapi ingat, Hana, tablet itu dipantau. Jangan mencoba mencari celah yang tidak ada."
❤️❤️❤️
Sore harinya, Mari membawakan keranjang berisi benang wol putih suci dan jarum rajut perak yang berkilau. Hana memperhatikan Mari dengan saksama. Pelayan bisu itu selalu menunduk, namun Hana memperhatikan bahwa tangan Mari gemetar setiap kali Kenzo masuk ke ruangan. Bau ketakutan dari Mari hampir sama tajamnya dengan aroma antiseptik di rumah sakit.
Hana mulai merajut di balkon, memastikan penjaga melihatnya dari kejauhan. Setiap tusukan jarum adalah simbol dari rencana yang ia susun. Saat Mari datang untuk mengantarkan teh kamomil, Hana sengaja menjatuhkan salah satu bola benangnya hingga menggelinding ke dekat kaki Mari. Saat Mari membungkuk, Hana membisikkan kata-kata yang tajam.
"Aku tahu tentang luka di punggung tanganmu, Mari-san. Itu bukan karena kecelakaan dapur. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi korban dari kemarahan seorang Matsuda."
Mari membeku. Matanya yang biasanya kosong tiba-tiba dipenuhi air mata ketakutan yang murni. Hana tidak mendesak. Ia hanya mengambil kembali bola benangnya dan menyelipkan selembar kertas kecil yang ia robek dari buku botanikanya ke dalam saku celemek Mari. Kertas itu berisi satu kata: "Bertahanlah."
❤️❤️❤️
Dengan izin "mempelajari tanaman," Hana diizinkan berjalan-jalan ke arah hutan di sisi timur pulau. Udara di hutan itu lembap dan pengap, dipenuhi suara serangga yang bising dan bau tanah yang membusuk. Dua penjaga mengikutinya dari jarak sepuluh meter, senjata mereka tersampir malas di bahu.
Hana berpura-pura menggambar sketsa daun pakis, namun matanya membedah lingkungan. Ia merasa "diawasi" oleh lensa kamera yang tersembunyi di balik pepohonan raksasa. Tiba-tiba, ia melihat sebuah pipa besi tua yang mencuat dari tanah, tertutup oleh lumut tebal yang menyerupai kulit mati.
Hana berlutut, berpura-pura mengamati jamur yang tumbuh di sana. Ia menempelkan telinganya ke pipa itu. Terdengar suara dengungan mesin yang rendah—ritme dari sebuah fasilitas bawah tanah yang besar. Penemuan ini membuat jantungnya berdegup kencang. Vila mewah di atas hanyalah pucuk dari gunung es kejahatan Kenzo.
❤️❤️❤️
Malam harinya, Hana duduk di perpustakaan yang sunyi, memegang tablet khusus yang diberikan Kenzo. Ia membuka aplikasi klasifikasi tanaman, namun jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Ia sedang melakukan stress test pada sistem navigasi tablet tersebut.
Ia menemukan bahwa tablet ini terhubung dengan server lokal villa. Dengan pengetahuan teknis yang ia curi-curi pelajari di Akademi, ia mencoba mencari backdoor atau pintu belakang jaringan. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Jika ia salah menekan perintah, alarm akan berbunyi di ruang kerja Kenzo. Tepat saat ia melihat barisan kode yang menunjukkan akses ke "Sektor Bawah Tanah", langkah kaki Kenzo terdengar mendekat. Hana segera mengganti layarnya menjadi gambar bunga lili laut.
"Kau sangat tekun, Hana," ucap Kenzo, berdiri di belakangnya. "Apa yang kau temukan?"
"Hanya tanaman yang bisa menyebabkan kelumpuhan sementara jika salah diolah," jawab Hana dengan suara datar namun meyakinkan. "Alam di sini sangat cantik, tapi mematikan."
Kenzo menyipitkan mata, tangannya merayap ke leher Hana, membelainya pelan—sebuah gestur yang lebih terasa seperti ancaman daripada kemesraan. "Sama sepertimu, bukan?"
❤️❤️❤️
Setelah Kenzo pergi, Hana kembali ke kamarnya. Ia menunggu hingga tengah malam, saat bulan purnama Januari 2026 ini bersinar pucat di atas laut. Ia mendekati ventilasi di kamar mandinya. Ia mengeluarkan jarum rajut peraknya, menggunakannya sebagai pengungkit untuk melonggarkan sekrup penutup ventilasi.
Setelah penutup itu terbuka, Hana mencium aroma kimia laboratorium yang tajam—bau kegagalan dan penderitaan. Dari dalam lubang gelap itu, terdengar bisikan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Hana... lari... jangan biarkan dia... menjadikan anakmu... sebagai subjek selanjutnya..."
Hana terkesiap, menjatuhkan jarum peraknya ke lantai marmer dengan bunyi denting yang nyaring. Suara itu bukan halusinasi. Itu adalah suara wanita yang hancur, suara yang sangat ia kenal, suara salah satu "wanita yang dihilangkan" oleh Kenzo. Hana menyadari bahwa ia tidak hanya berjuang untuk kebebasannya, tapi untuk nyawa manusia-manusia yang terkubur hidup-hidup di bawah kakinya.
Bersambung...