NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#21

[Mas, aku jadi kuliah tahun ini. Kira-kira kuliah di kampus apa ya?]

[Sebentar ya, Yunda. Aku meeting dulu]

Ayunda menghela nafas membaca balasan chat dari Elang.

Setelah dua pekan dari pertemuan nya bersama Rinto, ayunda memutuskan untuk pergi kuliah ke kota. Ucapan Rinto membuatnya terus berpikir sampai dia kesulitan untuk tidur.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu mau kuliah juga.” Nunung sangat bahagia saat ayunda memberitahukan keinginannya untuk kuliah waktu itu.

Ponsel berdering. Elang melakukan panggilan setelah tiga puluh menit berlalu.

“Maaf ya, tadi aku meeting dulu. Gimana? Kok tiba-tiba banget berubah pikiran. Ada apa?”

“Gak tiba-tiba banget sih, Mas. Aku mikirnya udah dua minggu sampe gak bisa tidur.”

“Terus, mau ambil jurusan apa?”

“Nah, itu dia. Aku bingung mau ambil jurusan apa, kuliah di kampus mana.”

“Kamu masih berharap buat jadi istrinya Zayan? Kalau iya, ambil jurusan guru aja. Kerjanya kan cuma dari pagi sampai siang aja. Sore sampe malem dan paginya kamu masih bisa mengurus rumah tangga.”

“Bisa gak kita jangan bahasan Zayan dulu? Susah payah aku berusaha melupakan, selalu aja diingetin dan disangkut pautkan sama dia.”

“Hahaha, sorry. Iya, aku gak akan bahas dia lagi. Tapi sepengetahuan aku, kamu itu pinter loh, gak mau ambil jurusan yang lebih menantang? Tekhnik sipil, arsitek atau apapun itu. Atau ambil jurusan kedokteran lagi.”

“Kenapa? Biar profesinya sama kayak Zayan juga?”

“Ih, aku gak ngomong loh ya. Katanya jangan bawa nama dia.”

“Mas bawa-bawa dokter sih.”

“Ya maksdunya kalau nanti lulus dan mau kerja, kan bisa kerja di klinik Alex. Jangan dikira, klinik di situ besar dan ramai.”

“Nggak ah, kayaknya kalau jadi dokter sibuk banget sampe gak punya waktu buat orang terdekat.”

“Pengalaman ya, sering di cuekin sama dokter.”

“Mas, ih! Tau ah, gak mau ngomong lagi sama mas. Males!”

“Eh, jangan marah. Nggak, aku minta maaf. Oke, kita gak akan bahas itu lagi.”

“Sebel!”

Elang tertawa.

“Yunda, kamu ambil jurusan yang sekiranya kamu sukai. Jangan karena pendapat orang lain, biar nanti menjalaninya happy. Dan jangan lupa, kuliah itu tujuan utamanya bukan untuk mencari kerja, terutama untuk perempuan. Toh yang nafkahin kan suami nanti nya. Cari jurusan yang sekiranya bermanfaat untuk kamu ke depannya, entah untuk menjadi ibu atau menjadi wanita karir.”

“Apa dong?”

“Ya itu, guru. Bisa mendidik anak, bisa juga mendidik anak-anak orang.”

“Nanti aku pikirkan lagi ya, Mas.”

“Oke. Terus kapan kamu mau ke sini? Nanti aku jemput.”

“Mas, gak enak banget sih bilang nya ‘aku’. Bisa gak mas bilang ke diri sendiri tuh ‘mas’, biar berasa banget kayak adik kakak nya.”

“Mulai banyak permintaan rupanya.”

“Gak enak aku dengernya.”

“Iya, gimana kamu aja. Ya udah, aku lanjut kerja lagi. Berkabar kalau semisal mau ke sini.”

“Aku, aku.”

“Iya, iya. Mas kerja dulu ya, Dek. Dah.”

Ayunda tersenyum bahagia mendengar elang menyebut dirinya mas. Dia merasa memiliki kakak sungguhan.

Setelah berdiskusi dengan orang tuanya, ayunda memutuskan untuk mengambil jurusan pertanian. Bukan tanpa sebab, Pak Mul ingin dia mengembangkan lahan di desa nya. Tidak hanya ditanami padi tapi tanaman yang sekiranya bentak dibutuhkan orang.

[Mas, besok aku berangkat.]

[Dadakan banget, besok Mas gak bisa jemput]

[dianter bapak sama orang tua mas juga. Sekalian mereka juga mau liburan katanya]

[oh, oke. Hati-hati di jalan ya. Sesampainya di sini, nanti kita ajak orang tua kita makan di luar aja. Mas gak bisa nyiapin apa-apa soalnya ada kerjaan]

[Oke]

Selain pada Elang, ayunda juga memberi kabar pada Rinto bahwa dia akan pergi kuliah.

[Sayang banget ya kita kuliah di beda kota]

[bersyukur banget malah. Males aku ketemu sama kamu lagi. Bosen]

[Sialan! Tapi kapan-kapan boleh ya aku main bawa cewekku]

[Harus tanya Mas elang kalau itu. Soalnya aku tinggal sama dia di rumahnya]

[Hah, serius? Gak apa-apa itu?]

[Di rumah nya bukan cuma kita berdua. Ada pembantu sama temen nya juga]

[Kirain berduaan doang. Watir aku. Lagian kenapa sih kamu gak nikah sama elang aja. Bukan nya dulu keluarga elang ingin jadiin kamu menantunya]

[tau banyak banget kamu ya]

[Berita kamu itu selalu aja nyampe ke telinga aku]

[penting banget gitu ya, sampai orang nyampein ke kamu]

[Temen kita itu yang ngasih tau. Itu juga karena kita musuhan kali]

[hahaha. Aku packing dulu ya bon]

[Congrats ya, akhirnya otak kamu jalan juga]

“Beeuhhhhh, dikeplak juga nih orang lama-lama.”

Pak Mul dan keluarganya pergi menuju rumah Pak Aceng. Di sana Pak aceng dan istrinya sudah menunggu.

“Bawa mobil masing-masing aja ya biar nyaman.”

“Iya, bener.” Ujar Pak Mul.

Mobil beriringan menyusuri jalan pedesaan, melewati perawanan. Hutan, perkebunan jagung hingga sampailah mereka ke kota.

Udara yang berbeda sangat terasa saat kaca mobil dibuka. Tidak ada lagi bau dedaunan yang khas, bau tanah yang terkena air hujan, juga sejuknya embun yang menyesap ke dalam hidung.

Sesekali mereka berhenti untuk solat di mesjid yang ada di pinggir jalan. Kadang mereka berhenti ke mini market untuk membeli jajanan.

“Itu pak aceng mau ke mana? Kok kayaknya kita malah masuk ke dalam kota? Rumahnya emang di perkotaan banget?”

“Bukan, Pak. Mas elang ngajak kita makan dulu di restoran.”

“Owh.”

Mobil memasuki halaman sebuah restoran. Mobil mewah berjejer menghiasi pelayan parkiran.

“Elang ngajak kita makan di sini?” Tanya Nunung.

“Iya, kali. Ya udah lah, ayo kita turun.”

Pak aceng dan Pak Mul berjalan berdampingan, sementara Nunung dan ibunya elang saling bergandengan memasuki restoran. Lalu ayunda berjalan sendiri karena Inggit tidak ikut.

Mereka disambut oleh pelayan yang berpakaian rapi di depan pintu.

“Sudah reservasi sebelumnya, Pak?”

“Sudah, atas nama Elang.”

“Oh, bapak Elang. Mari saya anatar ke dalam.”

Elang memesan ruangan vip yang berada di lantai dua. Ruangan yang lebih privacy agar mereka bisa leluasa ngobrol dan bercengkerama.

Saat masuk, wangi khas yang menyejukkan tercium hingga memenuhi rongga hidung. Elang sudah menunggu di sana.

“Mas.” Ayunda melambaikan tangan. Elang tersenyum sambil menarik kursi untuk Ayunda.

“Gimana? Capek gak di jalan?”

“Lumayan.”

Mereka pun duduk.

“Aku udah pesen makanannya, gak apa-apa ya aku yang milih, Pak? tadinya biar pas kalian datang gak nunggu terlalu lama.”

“Iya, gak apa-apa. Bagus itu, jadi makanan nya bisa cepet datang. Kebetulan saya lapar,” ujar Pak Mul.

Mereka tertawa.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!