NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Udara London di bulan Februari terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit. Megan berdiri di area latihan tembak London Station, mencoba fokus pada sasaran siluet di depannya. Tangannya yang biasanya sekeras karang kini sedikit bergetar.

Satu tarikan napas... dua…

DOORR!

Bukannya rasa puas karena peluru tepat di sasaran, Megan justru merasakan perutnya bergejolak hebat. Aroma mesiu yang biasanya ia sukai kini terasa seperti racun yang memicu mual dan berhasil mengaduk aduk perutnya.

Megan menjatuhkan senjatanya, menutup mulut, dan berlari ke arah sudut area latihan sebelum akhirnya memuntahkan cairan bening.

"Meg! Kau kenapa?" Sean muncul di belakangnya, wajahnya penuh kecemasan. Ia memijat tengkuk Megan dengan lembut.

"Sudah seminggu ini kau mual terus. Kita ke rumah sakit sekarang, aku tidak mau dengar bantahan."

Megan menyeka mulutnya dengan tangan gemetar. Rumah sakit? Tidak. Jika dokter CIA memeriksanya, tamatlah riwayatnya.

"Hanya... masuk angin, Sean. London terlalu dingin untukku," dalih Megan, menghindari tatapan tunangannya.

"Masuk angin tidak membuatmu pucat setiap pagi selama sebulan lebih, Meg. Kau bukan berasal dari Negara tropis yang tiba-tiba shock dengan salju.”

Megan memejamkan mata. Kalimat Bradley sebulan lalu tiba-tiba terngiang di kepalanya seperti lonceng kematian. “Barangkali benihku akan tumbuh di rahimmu.”

Seketika, Megan merasa seluruh tubuhnya membeku. Ia harus memastikan ini, tapi tidak di bawah pengawasan Sean.

***

Sore harinya, Megan menyelinap ke sebuah klinik kecil di daerah East End, jauh dari jangkauan radar CIA. Ia mengenakan wig dan kacamata hitam, berniat menggunakan nama samaran. Namun, saat ia baru saja duduk di ruang tunggu yang sepi, seseorang duduk tepat di sampingnya.

Megan menegang saat mencium aroma sandalwood dan tembakau mahal. Aroma yang selama sebulan lebih ini ia coba hapus dari memorinya.

"Kau terlambat untuk menyadarinya, Sayang," bisik suara bariton yang sangat ia kenal.

Megan menoleh perlahan, jantungnya hampir meledak. Bradley Brown duduk di sana, tampil sangat kasual namun tetap memancarkan aura predator. Ia tidak memakai kacamata hitam, hanya menatap Megan dengan senyum miring yang memuakkan.

"Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?" desis Megan, suaranya tercekat di tenggorokan.

Bradley menyandarkan punggungnya dengan santai, seolah klinik ini adalah miliknya. "Bahkan saat kau bernapas di dalam markasmu, aku tahu detak jantungmu sedang berubah, Meg. Kau pikir aku akan membiarkan 'milikku' berkeliaran tanpa penjagaan?"

“Kau…” Tunjuk Megan tepat di depan wajah Bradley, namun belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, seorang perawat menghampirinya.

“Maaf, Tuan dan Nyonya Brown, kini giliran anda” Perawat itu begitu ramah di depan Brad dan Megan.

Senyum mengembang di wajah Bradley, bertolak dengan wajah Megan, Ia terkejut bukan main, bahkan ia tak tahu jika Bradley sudah lebih dulu mendaftarkan dirinya sebagai Nyonya Brown.

“Terima kasih,” suara Meg terdengar lirih dan datar. Keduanya pun masuk ke ruang obgyn untuk pemeriksaan.

***

Dinginnya gel transparan yang dioleskan di atas perutnya membuat Megan tersentak, namun tak sedingin tatapan mata Bradley yang kini berdiri tepat di samping ranjang periksa.

Pria itu menggenggam tangannya erat seolah sedang memberikan dukungan moral, padahal Megan tahu itu adalah peringatan agar ia tetap diam.

Dokter paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu mulai menggerakkan transduser di atas perut Megan. Layar monitor di samping mereka menampilkan gambar hitam putih yang buram dan berdenyut.

"Lihat ini, Tuan dan Nyonya," ucap sang dokter dengan suara lembut yang menenangkan.

"Titik kecil yang berdenyut ini adalah detak jantung janin Anda. Usianya sekitar enam minggu. Kondisinya sangat kuat, melekat sempurna di rahim."

Megan membuang muka. Ia tak sudi melihat layar itu. Baginya, denyut jantung itu bukan sebuah keajaiban, melainkan ancaman bagi karier dan hidupnya.

Pikirannya melayang, mencari celah bagaimana ia bisa lari dari kenyataan paling pahit ini. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Sean? Bagaimana ia harus menghadap ayahnya?

Namun, Bradley justru tampak sangat antusias. Ia mencondongkan tubuh, menatap layar itu dengan binar mata yang terlihat begitu tulus, sebuah akting yang sangat sempurna hingga Megan ingin muntah.

"Dia terlihat sehat, Dokter?" tanya Bradley, suaranya berat, penuh wibawa. "Istri saya belakangan ini sering mual dan sulit makan, saya sangat mengkhawatirkannya."

Megan mendengus pelan, menahan diri untuk tidak meludahi wajah pria itu saat ia menyebut kata 'istri'. Ia terpaksa memasang senyum tipis yang kaku, mengikuti sandiwara gila yang Bradley sutradarai.

"Wajar sekali, Tuan. Itu gejala umum di trimester pertama," dokter itu tersenyum ramah, lalu memberikan beberapa saran vitamin.

Namun, kalimat Bradley selanjutnya membuat Megan merasa darahnya berhenti mengalir.

"Dokter," kata Bradley, matanya melirik Megan dengan kilat nakal. "Apa saja yang perlu kami perhatikan agar kehamilan istri saya sehat?"

Dokter itu menjelaskan dengan sabar tentang pola makan, istirahat, dan pentingnya menghindari stres. Megan tak bisa menahan diri lagi. Dengan sekuat tenaga, ia mencubit lengan kekar Bradley di bawah selimut periksa. Ia memutar cubitannya hingga mungkin kulit Bradley membiru.

"Aww... sayang, kau kenapa?" Bradley justru terkekeh, ia menangkap tangan Megan dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. Ia menoleh pada dokter itu sambil tersenyum meminta maaf. "Maafkan istri saya, Dok. Dia memang sedikit sensitif belakangan ini."

"Ah, tidak apa-apa. Kalian pasangan yang sangat perhatian," puji sang dokter, membuat pujian itu terasa seperti tamparan di wajah Megan.

Perhatian? Megan ingin berteriak bahwa pria di sampingnya ini adalah monster yang telah merobek hidupnya, tapi yang bisa ia lakukan hanyalah memejamkan mata rapat-rapat saat Bradley mengelus rambutnya.

"Dengar itu, Sayang? Dokter bilang kau sensitif," bisik Bradley tepat di telinga Megan saat dokter sedang menulis resep. "Tapi jangan khawatir, aku akan menjagamu dengan baik."

***

Begitu mereka keluar dari klinik, suasana di dalam SUV hitam itu lebih dingin dari salju London di luar sana. Bradley mengemudi dengan tenang, seolah baru saja memenangkan lotre, sementara Megan duduk terpaku, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Hasil USG di tangannya terasa seberat beban seluruh dunia.

"Dengar, Meg," suara bariton Brad memecah keheningan. "Aku tidak peduli seberapa besar kau membenciku. Tapi janin itu... dia tidak berdosa. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya sedikit pun."

Megan tertawa sinis, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Aku tidak sudi memberinya napas, Brad. Ambil saja untukmu, bawa dia pergi dari tubuhku."

Bradley mengeratkan genggamannya pada kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah berkecamuk di dadanya. "Tentu. Aku akan mengambilnya darimu, Meg. Aku akan membesarkannya sampai kau memohon untuk melihatnya, sampai kau menyesal pernah mengucapkan kata-kata itu."

"Aku tidak akan pernah menyesal. Bagiku, melihatnya sama saja dengan melihat kebejatanmu yang terus menghantuiku!"

Bradley tak menghiraukan ucapan Megan lagi. Saat mobil melintasi jembatan di tengah kota yang ramai, Bradley tiba-tiba menyambar tas kulit milik Megan yang ada di pangkuan wanita itu.

"Brad! Apa yang kau lakukan?!"

Tanpa sepatah kata pun, Bradley membuka jendela dan melempar tas itu di arus sungai.

Megan hanya bisa melongo saat melihat tas yang berisi ponsel, kartu identitas CIA, paspor, hingga dompetnya menghilang terbawa arus sungai Thames yang deras.

"APA KAU GILA?!" teriak Megan frustrasi, mencoba meraih gagang pintu. "Semua dataku ada di sana! Lencanaku!"

Bradley mengunci pintu mobil secara otomatis dan melaju semakin kencang, meninggalkan pusat kota menuju pinggiran yang sepi.

"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," jawab Bradley dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Sekarang kau bukan siapa-siapa. Kau bukan Agen Ford, kau bukan kebanggaan Langley. Kau hanyalah calon ibu dari anak pria yang kau sebut berengsek ini."

Megan memukul dashboard dengan tangan gemetar. "Hentikan mobilnya! Aku harus turun!"

"Diam!" bentak Bradley, suaranya menggelegar memenuhi kabin mobil. "Megan Ford sudah mati hari ini di tengah kota London. Mereka akan mencarimu sebagai orang hilang, atau mungkin pengkhianat yang melarikan diri.

Mulai detik ini, tugasmu hanya satu, memastikan janin itu lahir dengan sehat. Selebihnya... kau adalah urusanku."

Megan jatuh terduduk, punggungnya lemas menyentuh sandaran kursi. Ia menatap telapak tangannya yang kosong. Tanpa identitas, tanpa ponsel, tanpa lencana... ia hanyalah tawanan dalam sangkar emas yang dibangun oleh obsesi Bradley Brown.

Bradley melajukan SUV hitamnya membelah kegelapan setelah memastikan seluruh barang milik Megan hanyut ditelan arus Sungai Thames. Sebuah senyum sinis tersungging di wajahnya. Puas.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah di pinggiran London, jauh dari hiruk-pikuk pemukiman. Di dalam mobil, Megan masih terpaku membisu. Pikirannya kosong. Lencana CIA, ponsel, paspor, semua aksesnya untuk menghubungi Sean telah lenyap. Kini, ia tak lebih dari sekadar wanita tanpa identitas di negara asing.

Dengan tangan gemetar, Megan meraba perutnya yang masih rata. Ada kehidupan di sana, dan sialnya, itu adalah hal yang tidak ia inginkan dalam hidupnya.

Bradley turun, lalu membukakan pintu untuk Megan. Tanpa perasaan, ia menarik kasar lengan wanita itu.

"Jangan cuma menyesali apa yang sudah mati, Meg. Semuanya sudah hanyut tak bersisa. Sekarang kau adalah ibu dari penerus The Obsidian Syndicate. Jaga dirimu baik-baik, aku tidak mau kau melakukan satu kesalahan pun yang bisa membahayakan janin itu!"

"Lepaskan aku, Brown!" Megan meronta sekuat tenaga.

Namun, Bradley tak menghiraukan perlawanannya. Tatapan pria itu justru semakin gelap. "Akan kutunjukkan padamu, rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup."

Bradley menyeret Megan masuk, membuka pintu sebuah kamar mewah, lalu mendorongnya hingga terjerembab di atas ranjang.

"Kau monster!" teriak Megan dengan napas memburu.

"Katakan apa pun sesukamu. Aku tidak peduli," balas Bradley dingin.

"Kenapa kau tidak sekalian melenyapkanku di sungai, Brad?!"

Bradley melangkah maju, mencengkeram dagu Megan dengan kuat agar wanita itu menatap matanya. "Anakku terlalu berharga untuk ikut lenyap bersama ibunya yang menyedihkan ini."

Bradley melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu berbalik pergi. Megan jatuh terduduk, tenaganya seolah terkuras habis. Tiba-tiba, rasa mual yang hebat menyerangnya tanpa ampun.

Bradley yang baru saja akan menutup pintu tertegun. Ia menoleh dan melihat Megan berlari ke arah wastafel, memuntahkan cairan bening dengan tubuh bergetar.

Bradley berjalan mendekat, lalu memijat tengkuk Megan dengan lembut, gerakan yang sangat kontras dengan kekasarannya tadi.

Megan terus muntah hingga tubuhnya lemas tak bertenaga. Dengan telaten, Bradley membasuh mulut Megan, menyekanya dengan tisu, lalu menggendong Megan kembali ke ranjang.

"Istirahatlah, Meg," suara Bradley melunak, tak lagi terdengar seperti monster. Ia menarik selimut hingga sebatas dada Megan. "Aku akan minta pelayan menyiapkan makanan dan untukmu."

Megan hanya memejamkan mata rapat-rapat. Ia membenci setiap inci sentuhan Bradley, bahkan kelembutan pria itu pun terasa seperti racun baginya.

****

Di sisi lain kota, Sean Miller menghentikan mobilnya dengan terburu-buru di basement apartemen Megan. Pikirannya kacau. Sejak Megan mual-mual di area latihan kemarin pagi, perasaannya tidak enak. Apalagi hari ini Megan tidak muncul di kantor tanpa kabar.

Sean berjalan cepat menyusuri koridor. Tangannya gemetar saat menekan digit sandi pintu apartemen Megan yang sudah ia hafal di luar kepala.

"Megan? Kau di dalam?"

Hening.

Sean masuk ke dalam, namun pemandangan di depannya justru membuat jantungnya mencelos. Apartemen itu kosong. Rapi, dingin, dan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Meg! Kau di mana?!" teriaknya frustrasi. “Kau kemarin sakit dan sekarang kamu tidak ada di sini?” Ia mengecek kamar tidur, kamar mandi, hingga balkon, namun sosok yang ia cari tidak ada.

Sean jatuh terduduk di tepi ranjang Megan, menjambak rambutnya sendiri dengan kalut. Sudah dua hari tanpa kabar, dan tunangannya hilang ditelan bumi tepat di bawah pengawasannya.

"Ke mana kau, Meg?" bisik Sean parau. Rasa takut mulai menggerogoti logikanya. Jika sesuatu terjadi pada Megan, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Ditengah rasa kalut dan frustasi yang menyerangnya, tiba tiba ponselnya bergetar. Nama yang seharusnya ia hindari saat ini justru hadir.

Tangan Sean gemetar, ia menatap seragam Megan yang tergantung di pintu lemari lalu kembali menatap ponselnya. Jika ia menjawab, ia harus punya alasan. Jika ia tidak menjawab, tim taktis dari Virginia bisa saja mendarat di London dalam waktu kurang dari dua belas jam.

Dengan napas yang tercekat di tenggorokan, Sean menggeser tombol hijau.

"Ya, Sir?" suara Sean terdengar sangat rendah.

"Sean, kenapa ponsel Megan tidak bisa dihubungi? Aku punya informasi krusial tentang Bradley Brown yang harus segera dia eksekusi. Sambungkan aku dengannya sekarang."

Sean memejamkan mata rapat-rapat. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Di depannya, jendela apartemen yang terbuka memperlihatkan langit London yang makin menghitam, seolah menertawakan kegagalannya.

"Sir... Megan... dia..." Sean menjeda kalimatnya, lidahnya terasa kelu.

"Dia apa, Sean?! Kenapa suaramu seperti itu?!" bentak suara di seberang sana dengan nada otoriter yang tak ingin di bantah.

Sean menarik napas panjang,

“Sir… Megan tidak bisa dihubungi sejak sore.

Saya menduga ini bagian dari pergerakan mandiri.

Dia pernah melakukan ini sebelumnya.”

Sean tidak sedang menyelamatkan Megan.

Dia sedang menyelamatkan dirinya sendiri

sebuah kebohongan besar itu meluncur begitu saja di ujung lidahnya.

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!