Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Setuju.
Mendengar itu, semua mata melirik ke arah Aulia.
“Kenapa?” tanyanya pelan. Jujur saja, sejak tadi ia tidak benar-benar menyimak diskusi mereka. Sebagian besar obrolan antara Dokter Sera dan keluarga berlangsung dalam bisik-bisik, samar di telinganya.
Pertanyaan Aulia membuat Mama Kania dan Mama Sofia berdiri. Keduanya berjalan menghampiri wanita itu.
“Aulia,” panggil Mama Kania lirih, lalu menggenggam tangan putrinya, “kamu suka banget sama adeknya, ya? Suka sama Leonel?”
Aulia mengangguk mantap. “Dia lucu, ya, Ma,” ujarnya pelan.
Kalimat itu terhenti di tenggorokannya.
“Seandainya… seandainya anak Lia masih hidup…” suaranya pecah. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Tubuhnya bergetar, isaknya pelan tapi dalam.
Leonel yang baru saja terlelap ikut terusik. Bayi kecil itu menggeliat di dalam dekapannya, meringkuk kecil, seolah ikut merasakan kesedihan wanita yang menggendongnya.
“Seandainya dia tidak meninggal,” lanjut Aulia lirih, “kita sudah mengurusnya setiap hari, seperti rencana kita, ya, Ma.”
Ia mengangkat wajahnya yang basah.
“Mama yang menimang kalau Lia capek. Mama juga sudah lama menantikan cucu… iya, kan, Ma?”
Mama Kania tak lagi sanggup menahan air matanya. Ia terisak di hadapan putrinya, menggenggam tangan itu lebih erat.
Dan semua orang yang ada di ruangan itu ikut berkaca-kaca, terdiam, mendengar rintihan pilu yang tak perlu dijelaskan lebih jauh.
“Sayang…” lirih Mama Kania, sementara Mama Sofia mengusap lembut punggung wanita itu, seolah menyalurkan kehangatan yang ia punya.
“Semua yang terjadi itu takdir dari Yang di Atas, Lia,” sambung Mama Kania pelan. “Tolong jangan lagi merasa bersalah. Tidak ada satu pun yang menginginkan semua ini terjadi.”
“Semua itu tidak akan terjadi kalau hari itu Lia mendengar omongan Mama,” suara Aulia bergetar. “Kalau Lia tidak nekat nyebrang, kalau Lia tidak datang ke sini…”
Ia menggeleng keras, air matanya jatuh semakin deras.
“Semuanya salah Lia, Ma. Lia yang membunuh anak Lia sendiri. Ibu macam apa aku ini…” suaranya pecah.
“Ya Tuhan, hukum saja aku. Kenapa kamu mengambil anakku…”
Tangis Aulia semakin kencang, dan seketika Leonel di dalam dekapannya ikut menangis histeris.
“Eh…” Aulia tersentak. Ia cepat menghapus air matanya, lalu berdiri perlahan dari kursi roda. Gerakannya kecil, hati-hati, sambil menimang bayi itu agar tenang.
“Cup… cup… cup…” bisiknya lirih. “Maaf ya, sayang. Mengganggu tidur kamu.”
...****************...
“Lia mau tidak kalau berada di dekat Leonel terus setiap hari?” ucap Mama Sofia lembut. “Mama mau cerita sedikit tentang Leonel, boleh, sayang?”
Kali ini Mama Sofia yang berbicara. Ia dengan sengaja menyematkan panggilan Mama saat menatap Aulia. Hari itu, tanpa perlu diucapkan, ia sudah menganggap Aulia sebagai putrinya sendiri.
“Sebenarnya, Leonel hidup tanpa sosok ibu,” lanjutnya perlahan. “Sejak kelahirannya, sang ibu memilih pergi meninggalkan bayi tak bersalah ini. Hanya karena ingin mengejar kebebasan dan kariernya.”
Nada Mama Sofia tetap tenang, meski ada getir yang terselip di setiap katanya.
“Dia lebih memilih menceraikan suaminya dan hidup bebas di luar, daripada mengurus buah hatinya sendiri.”
Di sudut ruangan, Archio berdiri membelakangi mereka. Pandangannya tertuju pada jendela, sengaja menghindari tatapan siapa pun. Dadanya naik turun, napasnya terasa berat saat ingatan itu kembali menyeruak.
Tentang hari ketika Gracia datang membawa surat cerai. Tentang bagaimana wanita itu bahkan tidak sudi menoleh pada anak yang baru saja dilahirkannya. Jika memang ia membenci Archio karena kelepasan menghamilinya, kenapa kebencian itu harus dilimpahkan pada bayi yang bahkan belum mengerti apa-apa? Bayi yang sama sekali tidak berdosa.
Kenapa semua kesalahan tidak ia lemparkan saja pada Archio? Kenapa justru putranya yang harus menanggung kebencian ibunya sendiri?
“Aulia, boleh tidak Mama meminta tolong?” lanjut Mama Sofia sambil menggenggam tangan wanita itu, menatapnya penuh harap.
“Melihat Leonel yang begitu nyaman sama kamu hari ini… bolehkan wanita tua ini berharap pada belas kasihmu, Aulia.”
Suaranya sedikit bergetar, tapi tetap dijaga agar tidak terdengar memaksa.
“Tolong tinggallah bersama kami untuk beberapa waktu ke depan,” pintanya lirih. “Setidaknya beri Leonel kesempatan berada dalam dekapanmu. Biarkan dia merasakan hangatnya seorang ibu, meski hanya sementara.”
Mama Sofia menelan ludah, jemarinya semakin erat menggenggam tangan Aulia.
“Dan kalau itu juga bisa membantu kamu… walau hanya sedikit… Mama akan sangat bersyukur.”
“Maksudnya Lia menjadi pengasuhnya? Ada di dekatnya terus?” tanya Aulia dengan mata yang sedikit berbinar.
“Kurang lebih seperti itu,” jawab Mama Sofia lembut. “Tapi bukan sebagai pengasuh. Lebih ke… ibu.”Ia mengusap punggung tangan Aulia pelan. “Mau ya, sayang?”
Aulia terdiam sejenak. Pandangannya turun pada Leonel yang kini jauh lebih tenang dalam dekapannya. Jemarinya bergerak refleks menepuk-nepuk punggung kecil itu.
“Hm… boleh,” ucapnya pelan. Lalu ia mendongak, menatap Mama Kania.
“Aulia setuju. Ya, Ma?”
Mama Kania tersenyum lembut, matanya basah namun penuh kelegaan.
Hampir bersamaan, semua orang yang sejak tadi menahan napas menunggu jawaban Aulia akhirnya mengembuskannya perlahan. Suasana yang tegang sejak tadi mereda, digantikan perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Di sudut ruangan, Archio mengusap wajahnya pelan. Ada rasa lega yang menyesak dadanya, bercampur hangat, saat melihat binar bahagia di wajah wanita itu.
☘️
☘️
Sore itu, bukan perjalanan pulang menuju Bandara untuk kembali ke Surabaya yang dilalui Mama Kania dan Aulia. Dua mobil mewah milik keluarga Bimantara justru membawa mereka meninggalkan rumah sakit menuju hunian keluarga itu di Jakarta.
Di mobil paling depan, Bimo berada di balik kemudi. Archio duduk di kursi penumpang, sementara Aulia memangku Leonel di jok belakang bersama Mama Kania.
Mobil lainnya menyusul di belakang, dikemudikan oleh sopir pribadi Papa Haidar, membawa anggota keluarga yang lain.
Tidak banyak percakapan yang terjadi, suasana di dalam mobil terasa canggung. Archio sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion tengah, entah memastikan Leonel baik-baik saja, atau mungkin lebih tepatnya tanpa ia sadari, pandangannya justru tertahan pada wanita muda di kursi belakang.
Wajah cantik yang masih menyimpan luka itu tampak begitu tenang, apalagi saat senyum kecil terlukis di bibirnya, senyum yang seolah mampu menyembunyikan luka besar di dalam dirinya.
Hingga beberapa menit berlalu, mobil mewah itu akhirnya memasuki pekarangan sebuah rumah berlantai tiga yang berukuran sangat besar, berdiri megah dengan desain modern dan garis-garis tegas.
"Ini... Istana?"
Tbc....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian