NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#28

Hari baru, rutinitas baru.

Kesibukan pagi ini berbeda dengan kesibukan pagi-pagi sebelumnya. Ayunda tidak lagi menyiapkan sarapan untuk dua pria gapura kabupaten. Dia hanya menyeduh sereal untuk ganjal perut sambil membaca buku. Materi yang akan diajarkan hari ini.

Usai sarapan, ayunda membersihkan tubuh lalu berganti pakaian. Pun dengan kedua teman nya yang lain yaitu Sri dan Mela.

Meski jurusan yang mereka ambil berbeda, tapi rutinitas nya hampir sama.

“Kuliah sampai jam berapa kalian?” Tanya Sri.

“Aku ada kuliah pagi dua matkul, sama nanti sore jam tiga,” jawab Ayunda.

“Aku full.” Mela menjawab dengan lesu.

“Sama,” ujar Sri.

“Terus aku ngapain ya sendirian? Belum punya temen di kelas.”

“Nanti juga punya. Ayo, takut telat.”

Mereka memakai sepatu, lalu turun bersama. Dari asrama menuju kampus memang tidak terlalu jauh, tapi tidak dekat juga.

Letak asrama masih satu lingkungan dengan kampus. Masih satu gerbang dan halaman. Hanya saja halaman nya begitu luas.

“Iya, ya. Gak kepikiran buat beli sepeda aja. Kan lumayan jauh,” ujar Ayunda saat melihat beberapa mahasiswa memakai sepeda.

“Iya, sih. Kita beli yuk nanti,” timpal Sri.

“Gimana kalau sepeda kita samaan.”

“Ide bagus.”

Mela hanya diam mendengar pembicaraan kedua teman nya. Dia tidak terpikirkan untuk membeli sepeda, bisa kuliah aja udah bersyukur.

“Kamu gimana, Mel? Setuju gak?” Tanya Sri.

Mela hanya diam dengan senyuman yang hambar.

“Bisa kuliah aja udah syukur banget, Sri. Aku mungkin tidak seberuntung kalian dalam masalah ekonomi. Heheh.”

Sri langsung menutup mulutnya mendengar jawaban Mela. Ayunda pun hanya bisa diam. Dia merasa bersalah atas obrolan tentang sepeda di hadapan Mela. Ayunda takut jika Mela merasa tersinggung.

“Gedung kita berbeda, kelasku ada di depan. Aku duluan ya, nanti berkabar kalau ada kesempatan kita ketemu lagi.”

“Hati-hati, Yun. Semangat ya!” Sri berteriak karena Ayunda berlalu sambil berlari kecil menuju kelas.

Selain karena takut telat, dia sengaja menghindari Mela karena merasa bersalah dan malu.

Masih banyak bangku kosong dalam kelas, itu artinya masih banyak yang belum datang. Ayunda duduk di samping jendela. Dia bisa melihat keluar sana yang tepat berhadapan dengan lapangan basket.

“Wah, kalau ada praktek kayaknya aku bisa lihat Sri di sini.”

“Permisi, boleh duduk di sini?” Tanya seorang perempuan bersama satu teman nya.

“Iya, boleh.” Ayunda mencoba ramah.

“Kenalkan, Silvia. Dan ini temenku Areta.”

“Hai, aku Ayunda.”

Berikutnya mereka kembali diam dalam rasa canggung.

Wali dosen mereka datang. Semua siswa diminta memperkenalkan dirinya masing-masing. Ada sekitar dua puluh tujuh orang di kelas Ayunda. Sepuluh anak perempuan, sisanya anak laki-laki.

Usai perkenalan dan penjabaran aturan di kelas, wali dosen pun pergi. Tidak lama kemudian dosen yang lain datang.

Ayunda memperhatikan dengan seksama. Dia memang suka belajar semenjak putus dengan Zayan.

“Akhirnya selesai juga. Yun, mau ikut nggak?”

“Ke mana?”

“Nyari makan. Kan mata kuliah selanjutnya masih lama.”

“Iya, ayo ikut.”

Ayunda mengiyakan ajak teman barunya di kelas. Mereka berjalan menuju kantin sambil bercerita.

“Mau pesan apa?” Tanya Silvia.

“Apa ya?” Ayunda mencoba memilih menu.

“Aku roti bakar aja deh. Belum terlalu laper.”

“Aku bihun kuah aja. Kebetulan tadi pagi cuma sarapan sereal.”

“Oke, aku mau bakso.”

Silvia pun pergi memesan makanan yang mereka pilih.

“Berapa sama minum?” Tanya Ayunda.

“Gak usah. Aku yang traktir sebagai tanda pertemanan kita.”

“Makasih ya.”

Ayunda nampak bahagia karena dia diakui sebagai teman oleh Silvia dan Areta.

“Yun, kamu asal dari mana? Eh, gak enak banget manggil Yun. Tapi kalau ayunda, kepanjangan. Nama panjang kamu siapa?” Tanya Silvia panjang lebar.

“Ayunda Ratnaningsih.”

“Duh, panggil nya apa dong? Yunda aja kali ya.”

“Iya, di kampung juga biasa dipanggil gitu. Kadang di panggil Neng.”

“Nah, iya. Kita panggil dia Neng aja,” usul Areta.

“Iya, Neng aja. Kamu dari kampung? Tapi kok gak keliatan kampung nya.”

“Hmmm?”

“Nggak, maksud nya penampilan kamu gak kayak orang kabupaten. Mana sepatu sama tas kamu branded lagi.”

“Oh, ini? Iya, ini pemberian kakak angkat aku. Kebetulan dia habis dari Thailand.”

“Kakak angkat? Kamu punya kakak angkat?” Tanya Areta.

“Aku anak sulung, punya adik satu laki-laki. Bapak aku punya sahabat dekat, nah anak sahabat Bapak aku itu lah kakak angkat aku.”

“Kok bisa sih jadi kakak angkat, kenapa gak dijodohkan aja ya, nggak. Kayak film gitu. Hahaha.”

“Sebenarnya orang tua maunya gitu, cuma akunya sama Mas Elang gak mau. Ikatan kami udah kayak sodara banget soalnya.”

Areta dan Silvia mengangguk-anggukan kepala.

“Eh, itu makanan nya datang.”

“Selamat makan,” ucap Silvia.

Saat berdoa sebelum makan, Ayunda agak sedikit terkejut melihat cara Areta berdoa. Dia tidak menengadahkan tangan tapi mengepal.

Silvia berbisik jika Areta bukan penganut agama Islam.

Ayunda tersenyum. Dia merasa senang memiliki teman yang berbeda agama dengan nya. Teman yang tidak akan dia dapatkan di desa.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!