Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Cahaya bulan yang temaram mengintip melalui celah gorden, menyinari kamar apartemen yang sunyi. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi saat Kazumi perlahan membuka matanya. Rasa pening yang tadinya menyiksa kini telah hilang sepenuhnya, berganti dengan perasaan hangat dan penuh perlindungan.
Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat di pinggangnya dan napas yang teratur di tengkuknya. Ia menoleh sedikit dan mendapati wajah Kaelen begitu dekat. Tanpa kacamata hitam yang biasa ia kenakan di kampus, wajah Kaelen tampak begitu tenang, lebih muda, dan sangat tampan di bawah cahaya rembulan.
Kazumi berbalik perlahan di dalam pelukan itu agar bisa menatap wajah tunangannya sepenuhnya. Ternyata, gerakan kecil itu membuat Kaelen terjaga. Mata biru elektriknya perlahan terbuka, tampak sedikit bingung sesaat sebelum akhirnya fokus dan menatap Kazumi dengan kelembutan yang dalam.
"Hmm... kamu bangun, Sayang?" bisik Kaelen dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sangat seksi. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menarik Kazumi hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Masih pusing?"
"Sudah tidak," bisik Kazumi sambil mengusap rahang Kaelen yang tegas. "Maaf membangunkanmu. Ini masih jam tiga pagi."
Kaelen tersenyum tipis, mengecup ujung jari Kazumi yang ada di wajahnya. "Tidak apa-apa. Melihatmu sudah sehat adalah hal terbaik untuk memulai hari."
Mereka terdiam sejenak dalam keheningan malam, hanya suara napas mereka yang saling bersahutan. Kaelen kemudian menatap cincin di jari Kazumi yang berkilau terkena cahaya bulan.
"Tadi aku bermimpi..." gumam Kaelen pelan. "Aku bermimpi kita berdiri di sebuah altar kecil di tepi pantai, mirip dengan tempat aku melamarmu kemarin. Kamu memakai gaun putih yang sangat cantik, dan aku berjanji di depan dunia untuk menjagamu selamanya."
Kazumi tersenyum haru, menyandarkan keningnya pada kening Kaelen. "Itu bukan sekadar mimpi, Kael. Kita akan mewujudkannya, kan?"
"Tentu saja," jawab Kaelen mantap. "Aku sudah memikirkannya. Aku tidak ingin menunda terlalu lama. Setelah semester ini selesai, atau bahkan lebih cepat, aku ingin kita resmi menikah. Aku ingin setiap pagi saat aku bangun jam tiga seperti ini, kaulah yang pertama kali kulihat dan kupeluk."
"Kael, itu masih lama..." goda Kazumi kecil.
"Bagi pria yang sudah menunggumu selama ratusan tahun melintasi dimensi, satu hari pun terasa sangat lama, Kazumi," balas Kaelen sambil mengecup hidung Kazumi gemas. "Aku ingin dunia tahu bahwa kamu adalah nyonyaku. Dan aku ingin membangun rumah dengan taman bunga Han itu sesegera mungkin."
Kazumi terkekeh pelan, merasa sangat dicintai. "Aku juga mencintaimu, Kael. Sangat mencintaimu."
Kaelen membalas dengan ciuman lembut di kening, lalu turun ke bibir dengan penuh perasaan, seolah-olah mengikat janji pernikahan mereka lebih awal di tengah kesunyian jam tiga pagi itu.
"Ayo tidur kembali, Sayang," bisik Kaelen lembut setelah tautan bibir kami terlepas. Suaranya terdengar begitu menenangkan, seperti melodi yang menghanyutkan di tengah kesunyian malam.
Ia menarik selimut tebalnya lebih tinggi, membungkus tubuh kami berdua hingga menciptakan ruang kecil yang hangat dan hanya milik kami. Kaelen membiarkan kepalaku bersandar di lengan kokohnya, sementara tangannya yang lain mendekapku posesif, seolah memastikan tidak ada jarak yang bisa memisahkan kami lagi.
"Peluk aku lebih erat, Kael," gumamku sambil memejamkan mata, menghirup aroma tubuhnya yang sangat menenangkan.
"Selalu, Kazumi," jawabnya pendek. Ia mengecup puncak kepalaku lama sekali. "Aku akan menjagamu sampai matahari terbit, dan sampai sisa hidupku berakhir. Tidurlah, masa depanku ada di dalam pelukanku sekarang."
Dalam dekapan hangat itu, aku merasa beban dari dunia luar benar-benar menguap. Tidak ada lagi ketakutan akan masa lalu di Dunia Seberang atau tekanan di kampus. Hanya ada debar jantung Kaelen yang stabil di bawah telingaku, menjadi musik pengantar tidur yang paling indah. Kami kembali terhanyut ke dalam alam mimpi, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang, mengetahui bahwa saat pagi datang nanti, kami masih akan berada di posisi yang sama.