NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lastri nggak Butuh Bapak

Usai bicara, Abah Kosasih mundur selangkah.

Kang Jaka, yang sedari tadi memanggul pikulan bambu bekas jualan sayur, melangkah maju. Tatapannya tajam menghunus ke arah Suryo.

"Gak peduli situ Juragan atau Pejabat Teras," geram Jaka, "kalau laki-laki, ayo kita selesaikan satu lawan satu!"

Suryo Wibowo mengerutkan kening. Baginya, tingkah Jaka ini konyol. Suryo adalah mantan preman pasar yang kini jadi pengusaha sukses, disegani banyak orang, bahkan konon punya pegangan (ilmu kebal).

Melawan petani kroco macam Jaka? Itu urusan sepele.

"Mau main fisik?" Suryo tersenyum miring, meremehkan. "Oke, saya layani."

Suryo berpikir ini kesempatan bagus. Jaka yang cari gara-gara, jadi kalau dia menghajar iparnya itu sampai babak belur, itu hitungannya bela diri.

Sekalian buang sial.

Dari gendongan ibunya, Sulastri, berteriak dengan suara seraknya, "Pakdhe Jaka, semangat!"

Jaka menoleh sekilas pada keponakannya. Melihat wajah pucat Lastri, darahnya mendidih. Ia berteriak lantang, "Lastri, Nduk! Lihat baik-baik! Pakdhe wakili sakit hatimu dan Ibumu!"

Suryo mendengus. Dasar kampungan.

Tanpa aba-aba, Jaka mengayunkan pikulan bambunya. Serangannya kasar, tanpa teknik, murni amarah seorang kakak.

Suryo mengangkat lengan kirinya untuk menangkis dengan santai. Biasanya, kulitnya sekeras besi. Namun kali ini...

BUGH!

Suara benturan tumpul terdengar keras. Suryo terbelalak. Rasa nyeri yang tajam menjalar dari lengan hingga ke bahunya.

Tulangnya terasa ngilu luar biasa.

Ia terpaku. Kok sakit?

Dulu, saat masih merintis usaha di jalanan, dikeroyok lima orang pun dia tak lecet. Tubuhnya seperti dilindungi dinding gaib.

Tapi barusan, hantaman bambu Jaka terasa nyata merobek pertahanannya.

Warga mengira Suryo sengaja mengalah. Namun, Suryo menatap Jaka dengan pandangan berbeda sekarang. Ia mulai serius.

Jaka sudah melempar pikulannya dan kini merangsek maju dengan kepalan tangan. Perkelahian pecah.

Bukan perkelahian indah ala film laga, tapi perkelahian jalanan yang kotor.

Bagi orang awam, ini perkelahian biasa. Tapi bagi Suryo, ini aneh. Kenapa dia bisa lebam? Kenapa pukulannya tak seberat biasanya?

Seolah-olah pagar gaib yang biasa melindunginya tiba-tiba lenyap.

Akhirnya, Suryo tetap menang karena pengalaman berkelahinya lebih banyak. Tapi kondisinya jauh dari kata baik, wajahnya memar, Budhernya pecah, dan napasnya tersengal.

Jaka terkapar, tapi ia segera bangkit sambil menyeka darah dari hidungnya. Ia tertawa, meski tertatih-tatih.

"Adikku anggap saja baru digigit anjing gila!" teriak Jaka lantang. "Kalian buang mereka, tapi kami keluarga Hidayat akan memungutnya seperti berlian!"

"Mulai hari ini, Kinar dan Lastri putus hubungan dengan darah daging Wibowo!"

Jaka berjalan terpincang-pincang menuju Kinar dan Lastri. Dengan senyum lebar yang memperlihatkan giginya yang berdarah, ia bertanya, "Lastri, Pakdhe hebat, kan?"

Mata Lastri berbinar, seolah ada butiran bintang di sana. Ia mengangguk mantap. "Pakdhe Jaka paling hebat sedunia!"

Lastri tidak bohong. Secara fisik, Jaka memang lebih kuat karena kerja keras di ladang. Suryo hanya menang karena sisa-sisa keberuntungan yang Lastri berikan dulu.

Dan Lastri tahu satu hal: Pakdhenya pintar. Pukulan Jaka tadi menghajar titik-titik vital yang membuat Bapaknya akan "ngilu" saat cuaca dingin seumur hidup.

Lastri menatap Suryo yang sedang meringis. Nikmatilah, Pak. Itu baru permulaan. Sumber keberuntunganmu sudah pergi.

"Dasar tidak tahu diuntung! Anak pembawa sial! Penyakitan! Amit-amit jabang bayi, untung sudah keluar dari rumah ini!"

Bu Darmi meludah ke tanah, menatap Lastri dengan jijik. Rasa sayangnya yang dulu cuma pura-pura kini lenyap tak berbekas.

"Keluarga Wibowo mau naik derajat! Kalian cuma parasit! Minggat sana, mati saja sekalian!"

Mendengar itu, Mak Sari, ibunda Kinar, tak tahan lagi. Darah jawaranya mendidih. Ia maju, menunjuk hidung Bu Darmi yang pesek.

"Cuih! Cuih! Kalau cucuku pembawa sial, situ apa? Nenek lampir bangkotan?" Mak Sari berteriak lantang, suaranya menggelegar mengalahkan toa masjid.

"Heh, Darmi! Jangan lupa daratan! Lima tahun lalu, keluargamu itu makan nasi aking! Celana dalam saja bolong-bolong!"

"Berani-beraninya ngatain cucuku pembawa sial. Justru sejak cucuku lahir, usaha anakmu yang tadinya cuma makelar tanah sekarang bisa jadi pemborong, jadi juragan tanah!"

"Gusti Allah mboten sare, Darmi! Orang yang lupa kulitnya bakal kualat!"

Mak Sari gemetar menahan amarah.

"Dulu waktu kau datang ngemis-ngemis beras ke rumahku sambil nangis darah, kemana congor sombongmu itu? Waktu anakmu Suryo sumpah mau bahagiain Kinar di depan Bapaknya, kemana otakmu?"

"Sekarang sudah kaya, sudah makan enak, lupa sama yang nemenin dari nol?!"

Skakmat.

Wajah Bu Darmi merah padam, seperti kepiting rebus. Lehernya kaku.

"I-itu... itu kan masa lalu! Lagian Si Kinar juga sudah sering kirim uang ke kalian kan? Utang budi sudah lunas!" kilah Bu Darmi gelagapan.

Warga mulai berbisik-bisik. Banyak yang mengangguk membenarkan ucapan Mak Sari.

Pak Wibowo, ayah Suryo yang sedari tadi diam, akhirnya sadar situasi makin memalukan. Wajahnya gelap.

"Sudah, sudah. Yang lalu biarlah berlalu," potong Pak Wibowo kaku. "Kita masuk ke dalam saja. Kita selesaikan urusan gono-gini secara kekeluargaan."

"Tidak usah masuk!" potong Abah Kosasih tegas. "Bicara di sini saja. Di teras ini. Biar terang benderang."

"Betul kata Pak Kosasih! Jangan mau masuk, nanti digebukin di dalam!" celetuk seorang tetangga.

"Iya, tadi saja main ancam. Jangan percaya sama orang licik!" sahut yang lain.

Suryo Wibowo menghela napas kasar. Reputasi bisnisnya bisa hancur kalau ini berlarut-larut. Ia menatap tajam ke arah Abah Kosasih.

"Baik kalau maunya begitu. Kita hitung-hitungan di sini. Bu, ambil buku kas perusahaan," perintah Suryo.

Bu Darmi mendelik ke arah Kinar sebelum berlari kecil masuk ke dalam rumah. Tentu saja, Suryo sudah menyiapkan buku kas palsu sejak lama untuk momen seperti ini.

Bu Darmi keluar membawa buku tebal bersampul kulit, lalu mulai berakting.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, kelihatannya saja usaha Suryo maju. Padahal utangnya numpuk di bank. Banyak rugi sana-sini," Bu Darmi mulai meratap, air mata buaya keluar.

"Namanya usaha, kadang di atas kadang di bawah..."

"Gusti Allah Maha Tahu, Bu. Terserah Ibu mau percaya karma atau tidak, tapi saya percaya," potong Abah Kosasih tenang.

Ia menatap langit yang mulai mendung, seolah memanggil saksi dari atas.

"Saya juga percaya, Mbah! Orang bohong lidahnya bakal kelu!"

Lastri tiba-tiba bersuara dari pelukan ibunya. Suara anak kecil itu terdengar mistis di tengah keheningan.

Lastri tahu persis. Keluarga bapaknya ini sangat percaya klenik, tapi munafik. Tiap mau deal proyek besar, mereka pasti datang ke Lastri, memintanya mendoakan: "Nduk, doain Bapak ya."

Begitu Lastri bilang "Iya", proyek pasti gol. Mereka senang, tapi tak pernah mau mengakui itu berkah Lastri. Mereka pikir itu karena mereka hebat.

Abah Kosasih tersenyum, mengusap kepala cucunya. "Pintar cucu Abah."

Bu Darmi menggertakkan gigi. Anak kecil sialan.

Ia menyodorkan buku kas itu dengan kasar. "Nih, baca sendiri! Jangan sampai nanti nuduh kami curang!"

Abah Kosasih membuka buku itu, membolak-baliknya sebentar, lalu tertawa kecil. Tawa yang membuat bulu kuduk Suryo merinding.

"Jadi... Juragan Suryo yang punya tiga mobil dan dua truk ini, uang kas-nya cuma sisa sepuluh juta perak? Ini gaji sopirmu saja mungkin tak cukup."

"Kasihan sekali karyawanmu kalau begitu."

Abah Kosasih menutup buku itu dengan keras. Brak!

"Sudahlah. Gak usah main sandiwara. Menurut hitungan kasar dari aset yang kelihatan mata, bagian anakku seharusnya seratus dua puluh lima juta rupiah."

Abah Kosasih menyebut angka yang masuk akal. Tidak memeras, tapi cukup menohok.

Suryo terdiam. Ia tahu mertuanya ini cerdas. Kalau diperpanjang, borok pajaknya bisa ketahuan.

Suryo langsung memberi kode pada adiknya untuk mengambil tas uang.

Uang tunai diserahkan. Abah Kosasih menghitungnya lembar demi lembar dengan teliti, lalu menyerahkannya pada Kinar.

"Uang pesangon sudah. Sekarang kita bicara harta gono-gini. Aset tetap," lanjut Abah Kosasih santai sambil menunjuk bangunan megah di belakang mereka.

"Rumah ini... sertifikatnya atas nama Suryo, tapi dibangun saat sudah menikah dengan Kinar. Nilainya sekarang pasarannya sekitar dua miliar."

Bu Darmi rasanya mau pingsan. Matanya berkunang-kunang.

"Tanah ini belinya dulu murah, Bah," sela Suryo cepat, keringat dingin mulai menetes. "Oke, begini saja. Saya hargai bagian Kinar tiga ratus lima puluh juta untuk urusan rumah."

Abah Kosasih tersenyum tipis. "Sawah sepuluh hektar di desa selatan? Itu juga harta bersama."

Suryo memijat pelipisnya. "Kinar kan tidak bisa nyangkul. Lagian dia wanita. Saya ganti uang tunai seratus juta. Total empat ratus lima puluh juta. Deal?"

Bagi Suryo, mengeluarkan setengah miliar itu sakit, tapi lebih baik daripada kehilangan aset tanah yang nilainya bakal naik terus.

"Sepakat. Tulis di surat perjanjian. Hitam di atas putih, bermeterai. Sekarang juga," tegas Abah Kosasih.

Uang itu cukup untuk modal hidup Kinar dan Lastri. Abah tidak serakah, ia hanya realistis.

Adik Suryo berlari mengambil kuitansi dan meterai. Suryo menandatangani cek dan surat pernyataan cerai talak tiga sekaligus pembagian harta.

"Kinar, kita selesai. Simpan uang ini baik-baik. Jangan sampai habis dimakan keluargamu," ucap Suryo dingin saat menyerahkan cek itu.

Kinar menerimanya dengan tangan gemetar, tapi tatapannya tegar. Ia tak sudi menjawab.

Suryo kemudian menatap Lastri. Tiba-tiba, ada rasa hampa yang aneh di dadanya. Seolah ada bagian jiwanya yang hilang.

"Lastri..." suara Suryo melembut, mencoba memanipulasi situasi. "Kalau kangen Bapak, datang saja ke sini ya. Pintu rumah Bapak selalu terbuka. Bapak tetap Bapakmu."

Hening sejenak. Angin berhembus pelan.

Di pot bunga besar di samping Suryo, tanaman Janda Bolong mahal yang ia banggakan tiba-tiba merunduk. Daunnya yang hijau segar mendadak layu, menguning di ujung-ujungnya seolah tersedot kehidupannya.

Tidak ada yang sadar kecuali Lastri.

Lastri memalingkan wajah, memeluk leher ibunya erat-erat.

"Lastri nggak butuh Bapak. Lastri cuma butuh Ibu. Lastri nggak mau lihat Bapak lagi!"

Suara anak itu tegas, menghujam jantung Suryo.

Suryo mengerutkan kening. Anak penyakitan ini biasanya penurut. Ah, sudahlah.

Dia masih punya istri muda yang cantik, sebentar lagi punya anak laki-laki yang sehat. Buat apa memikirkan anak perempuan yang cuma bikin habis biaya dokter?

"Ya sudah kalau itu maumu."

Suryo berbalik badan, masuk ke dalam rumah mewahnya yang kini terasa sedikit lebih suram. Pintu gerbang besi ditutup keras. BLANG!

Keluarga Hidayat pun berbalik arah.

Dalam perjalanan pulang menyusuri jalan desa, Lastri minta digendong Pakdhe Jaka. Ia menyentuh pipi Pakdhenya yang bengkak.

"Pakdhe, sakit ya?" tanya Lastri lirih.

Jaka nyengir kuda. "Nggak sakit, Nduk. Cuma nyesel tadi pagi sarapannya dikit. Coba kalau nambah piring, pasti Bapakmu itu sudah Pakdhe bikin nyium aspal."

Jaka tidak tahu, rasa sakit di lukanya perlahan sirna saat tangan mungil Lastri menyentuhnya. Hangat.

"Besok Pakdhe pasti menang," bisik Lastri sambil tersenyum.

Karena keberuntungannya Bapak sudah kuambil kembali, Pakdhe.

Sesampainya di rumah sederhana keluarga Hidayat, suasana justru hangat dan penuh harapan.

"Jaka, urus Kartu Keluarga (KK) Kinar besok ya. Pecah KK, bikin dia jadi Kepala Keluarga sendiri," perintah Abah Kosasih.

"Uang tadi kita belikan sawah dan ladang, sisanya deposito buat masa depan Lastri."

Semua mengangguk setuju. Tidak ada yang berniat meminta jatah sepeser pun dari uang Kinar.

Malam itu, Lastri makan dengan lahap. Sebutir telur ceplok utuh ada di piringnya, kemewahan yang jarang ia dapat di rumah gedongan bapaknya karena selalu dibilang "anak sakit pantang makan enak".

Di luar, hujan turun rintik-rintik. Tanah kering di pekarangan rumah Abah Kosasih mulai basah.

Ajaibnya, pohon mangga yang sudah dua tahun tak berbuah di depan rumah, malam itu mulai memunculkan kuncup bunga kecil-kecil yang lebat.

Keberuntungan telah pindah rumah.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!