Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Nyaman.
“Cari tahu siapa yang berani memberi panggung kepada para tikus-tikus ini, Sadewa!”
Di kursi kebesarannya, seorang pria tampan menatap penuh intimidasi pada tiga orang yang berlutut penuh permohonan di depannya. Tatapannya tajam, membuat ruangan terasa semakin sempit, seolah udara di dalamnya ikut menekan. Tidak satu pun dari ketiganya berani mengangkat kepala.
“Kenapa hal seperti ini bisa kecolongan! Harus saya yang turun tangan membongkar semuanya. Kamu berniat kerja tidak?!” tanyanya lagi pada sosok tampan yang masih muda di sebelahnya.
Sadewa Bimantara, pria berusia 26 tahun yang menjabat sebagai direktur utama di kantor cabang Bimantara Group yang ada di Surabaya, berdiri dengan bahu sedikit menegang.
“Maaf, Kak,” hanya itu yang dia ucap sejak tadi.
Sebenarnya, dibandingkan bekerja di sini, Sadewa lebih memilih menghabiskan waktu menjadi pengangguran dan menikmati harta, Duduk santai tanpa beban. Akan tetapi, dia diharuskan bekerja pada usia yang masih terbilang muda, atas perintah dari kakaknya yang mendominasi itu.
“Maaf saja kau dari tadi! Kau ingin dipecat dan—”
“Boleh,” potongnya cepat, wajahnya justru tampak sumringah. “Boleh banget. Saya mau dipecat, Kak. Ayo pecat saya.”
“Dan membekukan semua fasilitas untukmu. Saya tidak akan pernah menjamin sejauh mana kamu bisa hidup tanpa fasilitas!” sambung pria itu dengan wajah tegas dan datar.
Ucapan itu membuat wajah Sadewa mendengus masam. Senyumnya menghilang seketika.
Tok… tok…
“Permisi, Tuan Archio, maaf lancang masuk.”
“Ada apa, Bimo?” Dia menatap tajam asistennya yang masuk begitu saja.
Bimo menunduk hormat. “Tuan muda Leonel demam, Tuan. Dia di rumah sakit sekarang. Dan kata Bapak, dia tidak berhenti menangis. Tidak mau minum susu formula dan juga ASI yang selalu Tuan beli,” lapornya.
Mendengar laporan itu, mimik wajah yang tadi tegas dan mengintimidasi kini berubah panik. Archio berdiri dari kursi kebesarannya dengan tergesa, meraih jas yang tersampir di kursi untuk dikenakan kembali, lalu berlari keluar ruangan.
Sebelum sampai di pintu, dia menoleh ke belakang, ke arah adiknya yang ikut berdiri dengan wajah panik.
“Kamu tetap di sana. Atur tiga orang itu. Dan cari tahu siapa di balik mereka bertiga sampai dapat. Saat saya kembali, saya harap masalahnya sudah selesai!” Sebuah perintah yang tidak bisa dibantah.
Dia melanjutkan langkahnya dengan sangat cepat.
“Kita pulang sekarang!” ujarnya pada Bimo saat sudah sampai di depan kantor.
“Saya sudah pesan tiket pulang, Tuan. Berangkatnya dua puluh menit lagi,” ujar Bimo yang kini duduk di samping kursi kemudi. Mobil itu dikendarai oleh sopir pribadi Archio yang ada di Surabaya.
“Lebih cepat, Pak!” titahnya dengan wajah yang tidak tenang.
Beberapa kali Archio terlihat mengepalkan tangannya. Pandangannya lurus ke arah depan, seolah berharap jarak bisa terpotong dengan sendirinya.
“Apa Tuan akan datang menemui wanita itu lagi?” tanya Bimo dengan hati-hati, memperhatikan raut wajah tuannya.
Pria itu membuang muka. Ada kilat amarah yang sempat terlihat jelas di wajahnya. “Kalau memang itu pilihannya, saya akan mendatanginya lagi,” jawabnya cepat, meski raut wajahnya menyiratkan ragu dan enggan.
Bimo hanya mengangguk. “Kebetulan dia ada di Jakarta, Tuan.”
Archio tidak lagi menjawab. Fokusnya kembali pada jalanan di depan.
Tak lama kemudian, mobil itu sampai di bandara. Mereka buru-buru keluar, langsung masuk setelah proses cek in. Tidak lama mereka duduk, pesawat mulai lepas landas.
.
.
.
Sofia Bimantara, wanita paruh baya itu mengenalkan namanya kepada Mama Kania. Keduanya terbilang cepat akrab. Saat ini mereka duduk di sebuah sofa dekat jendela di ruang rawat sang bayi, mengobrol kecil sembari memperhatikan Aulia yang masih mengendong Baby Leonel.
Bayi kecil itu terlihat nyaman dalam dekapannya setelah Aulia memberinya ASI.
“Astaga… kasian banget…” tanpa sadar, di sudut mata Mama Sofia, ada air mata yang menggenang, berusaha keluar.
Ya, dia merasa terenyuh saat mendengar ringkas cerita tentang Aulia dari Mama Kania. Bagaimana bisa wanita secantik dan selembut itu dihadapkan dalam kehancuran dan kehilangan berkali-kali hanya dalam beberapa waktu singkat. Sungguh kejam pria bernama Adrian itu, pikirnya.
Di sisi lain, Aulia sedang tertawa kecil dengan Baby Leonel. Bayi kecil itu seolah mengajaknya mengobrol dalam bahasa bayi, bahasa yang hanya dia dan Aulia yang mengerti. Sesekali rambut panjang Aulia dia tarik, memukul pelan menggunakan tangan mungilnya, dan itu membuat siapa saja yang melihatnya tersentuh.
Seorang dokter masuk mendorong sebuah troli obat, siap memeriksa Leonel.
“Sudah berhenti nangisnya, Bu?” tanyanya saat Bu Sofia berjalan mendekat.
Mama Kania dan Bu Sofia saling lirik. “Iya, Dok. Dia tidak lagi menangis.”
“Wah, bagus sekali. Saya cek dulu suhu badannya ya, Bu,” pintanya pada Aulia dengan suara lembut.
Aulia mengangguk, membiarkan sang dokter memeriksa sang bayi yang masih anteng dalam gendongannya.
“Suhu tubuhnya masih hangat, tapi tidak sepanas tadi. Kalau boleh tahu, dia sudah mau minum ASI belum, Bu?”
“Sudah diberikan ASI, Dok,” jawab Bu Sofia.
Dokter mengangguk, lalu memberikan obat sirup penurunan panas untuk Baby Leonel. Bayi itu sempat menangis sebentar saat diberikan obat, namun kembali tenang setelah ditimang Aulia.
“Sayang, kita balik ke ruangan kamu ya?”
Setelah sang dokter keluar, kini giliran Mama Kania yang membujuk putrinya untuk kembali ke kamar.
Terhitung sudah cukup lama mereka berada di ruangan ini. Terlalu lama untuk sekadar rencana singkat yang awalnya hanya ingin pergi sebentar ke taman, sekadar mengusir rasa bosan. Tanpa disadari, waktu berjalan begitu saja.
Aulia menoleh ke arah ibunya. Dari raut wajahnya, jelas terlihat keengganan untuk kembali. Tatapan itu membuat Mama Kania menggigit bibir bawahnya pelan. Ada ragu di sana. Ada perasaan tidak rela untuk memaksa.
Apalagi sejak berada di sini, setidaknya Mama Kania kembali melihat sesuatu yang sudah lama hilang. Binar cahaya di wajah putrinya. Cahaya yang sempat padam hampir dua minggu lamanya, saat Aulia lebih menyerupai raga tanpa nyawa daripada seorang wanita yang hidup.
...----------------...
Di depan sebuah apartemen mewah, Archio berjalan mondar-mandir. Sesekali ia berhenti di depan pintu, lalu menekan bel, berharap si pemilik apartemen segera membukakan pintu.
Setelah cukup lama menunggu, pintu itu akhirnya terbuka. Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan bagian atas tubuh telanjang.
Archio menatap malas, apalagi saat pandangannya menangkap bercak kemerahan seperti ruam yang memenuhi tubuh pria itu.
“Sia—”
“Mana Gracia?” todongnya cepat, tatapannya datar.
“Sayang siapa?” Dari dalam apartemen terdengar suara seorang wanita yang mendayu.
Tak lama kemudian, wanita itu muncul ke depan. Tatapannya langsung tertuju pada Archio.
“Archio, ngapain lagi kamu ke sini?” bentaknya dengan pertanyaan syarat pengusiran.
tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian