Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Semuanya Terkuak
Mata Rangga terbelalak saat melihat wajah dibalik masker dan topi. Sebab dia bukanlah orang asing baginya.
"Ifan?" panggil Rangga sembari memperhatikan wajahnya sekali lagi dengan seksama.
Ifan tampak tertunduk. Seolah malu dengan apa yang sudah dirinya lakukan.
"Apa? Ifan?!" Astrid keluar dari kamar untuk melihat. Dia terlihat sudah mengenakan pakaian lengkap.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini, Fan? Bukankah kau pergi ke Jakarta?" cecar Rangga yang merasa sulit untuk percaya. Mengingat Ifan adalah teman baiknya sejak SMA, dan dia tahu kalau Ifan tidak akan berbuat hal seperti ini.
"Kenapa kau melakukan ini, Fan? Kau tadi nyaris memperkosaku loh! Kurang ajar!" omel Astrid dengan raut wajah marah.
"Aku suka sama kamu, Trid! Sejak SMA! Tapi kau sukanya Rangga, Rangga, Rangga!" akhirnya Ifan angkat suara. Dadanya tampak kembang kempis karena amarah. Ia bahkan menatap tajam Rangga.
"Kau tahu alasan kenapa aku nggak balik ke desa bertahun-tahun? Ya itu karena aku berusaha keras! Aku berusaha mencari kerjaan yang layak. Tapi... Ternyata semuanya tak semudah itu. Sampai akhirnya aku melihat Astrid... Dia jadi lebih cantik sekarang... Tapi dia seorang dokter? Level itu membuat kepercayaan diriku jatuh..." Ifan terisak.
Sementara Rangga dan Astrid seketika terdiam mendengar penjelasan Ifan. Mereka sadar, kadang kegagalan bisa membuat seseorang berubah, dan itulah yang terjadi pada Ifan. Kerasnya kehidupan di ibukota membuatnya stress. Dia semakin stress saat merasa dirinya adalah satu-satunya yang gagal di antara teman-teman.
"Ayo kita duduk ke sofa. Kau mau minum?" ujar Rangga sembari mencoba membawa Ifan berdiri.
"Aku bisa sendiri!" Ifan menolak bantuan Rangga. Dia duduk sendiri ke sofa.
Rangga dan Astrid lantas ikut duduk bergabung ke sofa. Keduanya menatap Ifan. Mereka tentu tak menyangka kalau selama ini Ifan orang yang menguntit Astrid.
"Sejak kapan kau mulai mengikutiku?" tukas Astrid.
"Tentu saja saat aku sadar kalau kau kerja sebagai dokter. Aku yakin, kau pasti akan menolakku. Jadi pilihanku hanya bisa mengikutimu," jelas Ifan.
"Tapi tindakanmu itu sudah masuk ranah kriminal tahu nggak? Kau nyaris memperkosaku! Kau juga mencoba menusuk Rangga tadi!" timpal Astrid.
"Astrid... Tenang..." tegur Rangga seraya memegangi pundak Astrid.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ga? Dia sudah membuatku takut selama berhari-hari ini. Kau pikir aku nggak trauma karena kejadian tadi? Aku nggak akan pernah memaafkanmu, Fan! NGGAK AKAN!" tegas Astrid sambil menepuk dadanya dua kali.
"Aku kira kau akan senang kalau aku menyentuhmu. Bukankah kau selalu menggatal begitu, hah? Aku melihat kau sempat merayu Rangga tadi. Apa kalian tahu? Aku melihat semua yang terjadi di rumah Pak Warsito terakhir kali. Kalian melakukannya," ungkap Ifan panjang lebar.
Rangga dan Astrid membisu sejenak. Pikiran keduanya kembali saat mereka masih di kampung Sadewa. Kala itu mereka pernah melakukan hubungan intim di rumah pamannya Astrid, tepat sebelum Astrid pergi meninggalkan desa.
"Apa itu penting, Fan? Yang penting sekarang kalau kau sudah membuat kesalahan besar!" Astrid membalas.
Ifan tak menjawab perkataan Astrid. Dia justru menatap Rangga. "Di sini orang yang jahat itu sebenarnya kau, Ga..." ucapnya.
"Apa-apaan kau, Fan!" geram Astrid. Dia hampir menyerang Ifan, namun Rangga sigap menghentikan.
"Aku sangat kesal padamu saat tahu kau tidur dengan Astrid sementara Kak Dita berkorban untukmu!" timpal Ifan.
Rangga sontak menatap Ifan. "Berkorban? Apa maksudmu?" tanyanya.
Ifan terkekeh. "Kau bahkan nggak tahu? Kau nggak tahu Kak Dita meminjam hutang ke Pak Tejo? Dia berhutang uang banyak sekali agar kau bisa lulus jadi polisi tahu nggak!"
Rangga tercengang mendengarnya. Begitu pun Astrid.
"Apa kau bilang? Kau pasti bercanda," sahut Rangga. Mentalnya seketika jatuh. Kebanggannya karena sudah berhasil jadi polisi kini seakan runtuh begitu saja.
"Bercanda? Lalu kenapa Kak Dita pergi meninggalkanmu? Dia pergi ninggalin kamu untuk menutupi fakta itu!" kata Ifan.
Rangga terdiam seribu bahasa. Otaknya seketika menyusun teka-teki yang sudah terkumpul. Dari mulai kepergian Dita, fakta perempuan itu punya hutang, serta sifat dingin Pak Alun kepadanya. Kini Rangga bisa menemukan jawabannya, dan jawaban itu membuat hatinya hancur.
"Ga, jangan dengarkan dia. Itu pasti bohong. Dia hanya iri padamu. Sejak dulu dia selalu iri padamu tanpa sepengetahuanmu," ujar Astrid berusaha menenangkan Rangga.
"Tanpa bantuan Kak Dita. Aku yakin kau akan bernasib sama sepertiku. Jadi pengangguran!" ucap Ifan.
"Stop! Ifan!" bentak Astrid sambil menatap tajam.
Rangga masih terdiam. Ia merasa sulit mencerna semua ini.
"Ga, kau baik-baik saja kan?" tanya Astrid cemas.
"Aku ingin sendiri..." jawab Rangga sambil berdiri. Dia pergi ke balkon.
Rangga mencengkeram kepalanya karena frustasi. Meski sudah menemukan jawaban, entah kenapa dia tetap masih membutuhkan jawaban langsung dari Dita.
Rangga ingin sekali bicara dengan Dita. Menemuinya sekarang. Tapi waktu sekarang menunjukkan jam dua dini hari. Perempuan itu pasti sedang tidur.
Di dalam apartemen, Astrid mengikat kedua kaki Ifan untuk berjaga-jaga. "Kau sebaiknya tidur!" ujarnya ketus.
Ifan hanya menatap Astrid. Tepatnya ke bagian dada perempuan tersebut.
"Dadamu makin gede ya," komentar Ifan.
Plak!
Sebuah tamparan sontak didaratkan Astrid ke pipi Ifan. "Pantas saja nggak ada orang yang mau kerja sama kau, kelakuanmu saja begini! Rangga tuh pantas jadi polisi tahu nggak. Dia bekerja sangat keras untuk itu. Sama halnya juga denganku, kau pikir aku nggak kerja keras buat jadi dokter?!" omelnya.
"Itulah yang aku heran denganmu. Kau itu dokter, pinter kan? Kenapa masih bodoh dan berharap sama cowok yang jelas-jelas nggak suka sama kamu? Rangga cuman manfaatin kamu!" balas Ifan.
"Aku nggak peduli mau dimanfaatin atau nggak. Tapi yang jelas, aku suka semua hal yang dimilikinya."
"Lihat... Kau menggatal lagi."
"Membusuk lah di penjara!" Astrid yang sudah muak berdebat, segera menutup mulut Ifan dengan lakban. Selanjutnya dia menyusul Rangga ke balkon.
"Sudahlah, Ga. Jangan dipikirkan. Semuanya sudah berlalu," kata Astrid seraya mendekati Rangga.
"Aku sama saja seperti yang lain... Pantas saja Pak Alun bersikap dingin padaku terakhir kali. Sejak awal dia tahu kalau aku lulus jadi polisi dengan cara curang..." lirih Rangga dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Dita melakukan semua itu karena peduli padamu. Dia tak mau kerja kerasmu sia-sia." Astrid berusaha menenangkan.
"Apa yang dilakukan Kak Dita justru membuatku kecewa. Sangat kecewa!" ungkap Rangga.
"Sebaiknya kau coba menemuinya dan bicara. Belum tentu yang dikatakan Ifan itu benar."
"Aku yakin ini benar! Terlalu banyak buktinya. Aku nggak menyangka Kak Dita melakukan hal sekotor ini..." tanggap Rangga.
Dari belakang, Astrid menatap Rangga. Dia lalu mendekati lelaki itu dan memeluknya. Sementara Rangga menerima pelukannya.
"Tenangkan dirimu dulu," tutur Astrid sambil mengelus punggung Rangga.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄