Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 12: Pertukaran yang terjalin
Pukul 04.30 pagi. Udara di dapur bawah tanah itu terasa hangat dan lembap, kontras dengan aroma mesiu yang biasanya menempel pada kulit Reggiano. Sang Eksekutor kini berdiri di depan meja kayu besar, menatap gundukan adonan raksasa seolah-olah itu adalah bom aktif yang siap meledak jika salah sentuh.
Ia tidak mengenakan jas abu-abunya. Reggiano hanya memakai kaus dalam putih yang melekat ketat pada otot tubuhnya, ditutupi celemek linen berwarna krem milik Seraphine yang terasa terlalu kecil untuk bahunya yang lebar.
"Gunakan perasaan, Reggiano. Bukan kemarahan," suara Seraphine memecah kesunyian subuh.
Reggiano menghela napas, lalu menghantamkan kepalan tangannya ke adonan itu dengan teknik yang biasa ia gunakan untuk menghancurkan ulu hati lawan.
PLAK!
Adonan itu tidak hanya kempes, ia terbelah dua dan sebagian terlempar terbang ke dinding.
Payah.
"Sial," umpat Reggiano, menatap tangannya dengan bingung.
"Ini terlalu lembek. Tidak ada perlawanan. Tanganku tidak terbiasa dengan benda yang tidak membalas seranganku."
Seraphine tertawa kecil sambil mengayak tepung di sampingnya. "Tuan Herbert, anda memperlakukannya seperti musuh. Adonan ini sangat lemah dan halus, Tuan Herbert. Kau harus merayu serat-seratnya agar menyatu, bukan memaksa mereka untuk menyerah."
Reggiano mencoba lagi. Kali ini ia berusaha sangat pelan, namun jari-jarinya yang kasar tetap terasa kaku.
"Saya menghabiskan sebulan belajar cara mematahkan tulang hanya dengan dua jari. Sekarang kau menyuruhku membuat roti yang lembut? sungguh saya tidak mengerti jalan pikiranmu."
"Bukannya ini praktik yang menyenangkan?" tanya Seraphine tiba-tiba, matanya fokus pada timbangan.
"Apa karena di duniamu, kebaikan adalah umpan untuk pengkhianatan?"
Reggiano terhenti, tangannya yang berlumuran tepung diam di atas meja. "Di duniamu, mungkin ada keajaiban cuma-cuma, Nona Florence. Tapi di duniaku, jika seseorang memberimu roti, biasanya di dalamnya ada racun atau bom bunuh diri, saya belajar untuk selalu mencari harganya sebelum saya memakannya."
"Kalau begitu, anggap saja rasa pegal di bahumu pagi ini adalah harganya," sahut Seraphine. Ia berjalan mendekat, berdiri di belakang Reggiano, lalu meraih kedua tangan besar pria itu dengan tangannya yang mungil dan dingin.
Ia membimbing gerakan tangan Reggiano di atas adonan. "Disini tuh ditekan perlahan... lipat... lalu dorong menggunakan telapak tanganmu. Rasakan elastisitasnya. Tuan, kau payah sekali.. kita tidak sedang membunuh sesuatu, kau sedang menguleni adonan. "
Reggiano terdiam. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Seraphine di punggungnya dan aroma ragi yang mulai bereaksi dengan suhu ruangan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tangan yang telah merenggut ratusan nyawa itu kini sedang menciptakan sesuatu yang akan memberi makan orang lain.
"Ini aneh," bisik Reggiano, gerakannya mulai melambat dan mengikuti irama Seraphine.
"Rasanya... tenang. Tapi ketenangan ini membuatku merasa tidak berdaya."
"Itu karena kau melepaskan kendali, Tuan Eksekutor," Seraphine melepaskan tangannya, membiarkan Reggiano melanjutkan sendiri.
"Menjadi kuat itu mudah. Menjadi lembut? Itu butuh keberanian yang jauh lebih besar."
Reggiano terus menguleni, otot-otot lengannya yang menonjol kini bergerak lebih ritmis. Keringat menetes dari dahinya, jatuh ke lantai kayu. Di bawah cahaya lampu tungku yang mulai memanas, sosok pria paling berbahaya di kota itu kini tampak sangat manusiawi, berlumuran tepung, berjuang menaklukkan seonggok adonan roti di bawah pengawasan seorang wanita yang mungkin adalah malaikat jatuh.
Bunyi denting timer oven milik Seraphine memecah kesunyian dapur. Aroma gandum yang terpanggang sempurna, manis, dan sedikit gurih memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa aroma obat herbal yang sejak tadi menggantung.
Seraphine mengeluarkan loyang panas itu dengan tangan kosong— sesuatu yang lagi-lagi membuat Reggiano mengernyit heran, namun ia memilih diam.
Di atas loyang, sebuah roti bulat dengan gurat kasar hasil remasan tangan Reggiano tampak kecokelatan keemasan.
"Ini milikmu, Pembuat Roti Pemula," goda Seraphine. Ia membelah roti yang masih mengepul itu, uap panasnya membumbung tinggi. Ia menyodorkan sepotong kecil kepada Reggiano.
"Makanlah. Tuan, sudah membayar kesembuhan dengan keringat."
Reggiano menerima potongan itu. Tangannya yang masih kotor oleh sisa tepung gemetar sedikit. Ia memasukkan sobekan roti hangat itu ke mulutnya.
Seketika, dunia di sekitar Reggiano seolah runtuh dan tersusun kembali.
Rasa gandum yang jujur, sentuhan ragi yang pas, dan kehangatan yang menjalar di lidahnya memicu sebuah ledakan memori yang selama lima belas tahun ini ia kunci rapat di dasar sanubarinya. Ia tidak lagi berada di dapur bawah tanah yang lembap.
Ia tiba-tiba teringat sebuah gubuk kecil di pinggiran kota, jauh sebelum Organisasi menemukannya. Ia melihat ibunya, seorang wanita dengan wajah yang kabur namun memiliki senyum yang sama hangatnya dengan Elena sedang menyodorkan sepotong roti serupa.
"Makanlah, Gione. Selama ada roti di meja, kita akan baik-baik saja," suara itu bergema di kepalanya.
Reggiano terpaku. Ia teringat bau detergen murah di jemuran, suara tawa Elena saat masih bayi yang belum mengenal asma, dan rasa aman yang begitu murni sebelum api dan peluru menghancurkan segalanya. Selama ini, ia mengira ia telah membuang seluruh sisi manusianya demi menjadi senjata. Ia mengira hatinya sudah menjadi batu yang tidak bisa ditembus oleh apa pun selain peluru.
Namun, hanya dengan sepotong roti yang ia buat sendiri, tembok itu hancur.
Reggiano menelan roti itu dengan susah payah. Matanya yang perak mendadak memerah. Ia meletakkan sisa rotinya di atas meja dan memalingkan wajah, tidak ingin Seraphine melihat retakan di wajah sang Eksekutor.
"Roti ini..." suara Reggiano tercekat, "Rasanya salah."
"Salah?" Seraphine bertanya lembut, ia berdiri cukup dekat hingga Reggiano bisa merasakan kehadirannya yang menenangkan.
"Ia mengingatkanku pada hal-hal yang tidak seharusnya kuingat," sahut Reggiano pahit. "Ia membuatku merasa seperti anak kecil yang belum pernah memegang pistol. Ia membuatku... merasa lemah."
Seraphine tidak tertawa kali ini. Ia meletakkan tangannya di bahu Reggiano yang tegang. "Itu bukan kelemahan, Tuan Herbert. Itu adalah kemanusiaanmu yang sedang mencoba bernapas kembali. Kau membenci roti itu karena ia membuktikan bahwa kau bukan sekadar mesin pembunuh milik Vauclain."
Reggiano menarik napas panjang, mencoba menekan emosi yang meluap-luap. Ia menatap tangannya, tangan yang sama yang tadi menguleni adonan dengan susah payah.
Untuk pertama kalinya, ia melihat tangan itu bukan sebagai alat pencabut nyawa, melainkan sebagai bagian dari tubuh seorang pria bernama Reggiano yang merindukan rumah.
"Saya lupa kalau pernah punya ibu yang membuatkan roti seperti ini," bisik Reggiano jujur.
"Dia tidak pernah hilang, Tuan Herbert. Dia hanya tertimbun oleh kenangan yang kau pilih dan asal dibuang," jawab Seraphine.
"Roti ini hanya membantu menyapu debunya sedikit."
Reggiano kembali mengambil potongan roti itu, kali ini ia memakannya dengan perlahan, seolah setiap kunyahan adalah cara untuk mengumpulkan kembali serpihan jiwanya yang hilang.
Di dapur subuh itu, di tengah aroma gandum dan keajaiban yang tak masuk akal, sang Eksekutor tersadar bahwa jalan kembalinya mungkin jauh lebih sulit daripada misi bunuh diri mana pun yang pernah ia jalani.
Reggiano meletakkan sisa roti itu dengan tangan yang gemetar. Memori tentang ibunya adalah retakan pertama pada dinding besi yang selama ini melindungi kewarasannya. Jika sepotong roti saja bisa mengembalikan emosi yang begitu kuat, maka ia harus tahu apa lagi yang telah dicuri oleh Organisasi darinya.
Namun, ada prioritas yang jauh lebih mendesak di depan matanya.
Ia menoleh ke arah Seraphine. Wanita itu masih berdiri di dekat oven, dikelilingi uap panas yang anehnya tidak membuatnya berkeringat. Reggiano melangkah mendekat, matanya tidak lagi menatap Seraphine sebagai pelindung atau dewi, melainkan sebagai satu-satunya harapan yang masuk akal atau tidak masuk akal bagi masa depan Elena.
"Nona Florence," panggil Reggiano.
Suaranya tidak lagi parau oleh emosi, melainkan tajam dengan nada negosiasi yang biasa ia gunakan di ruang rapat Organisasi.
"Nona menyembuhkan rusukku yang remuk dan luka bakar di tubuhku hanya dalam semalam. Lalu, anda membuat luka memar di tanganku hilang dalam hitungan detik."
Seraphine menatapnya tenang, seolah sudah menduga ke mana arah pembicaraan ini. "Tubuhmu adalah luka baru yang terbuat dari tanah liat, Tuan... tanah mudah memperbaiki apa yang baru saja rusak."
Reggiano menggeleng, melangkah lebih dekat hingga ia mendominasi ruang di depan Seraphine.
"Bagaimana dengan sesuatu yang sudah lama rusak? Seseorang yang lahir dengan kelemahan di paru-parunya? Seseorang yang napasnya selalu bergantung pada tabung oksigen dan obat-obatan kimia?"
"Elena," bisik Seraphine.
"Ya. Elena," tegas Reggiano. "Saya sudah menghabiskan jutaan dolar untuk dokter terbaik di dunia, dan mereka bilang itu genetik, permanen, tidak bisa disembuhkan. Tapi Nona... kau bukan bagian dari mereka, kau adalah sesuatu yang lain."
Reggiano mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku jarinya memutih. "Katakan padaku apa bayarannya. Jika roti dan cuci piring tidak cukup, katakan harganya. Kau ingin aku membunuh seseorang? Kau ingin aku menjaga toko ini selamanya? Atau kau ingin nyawaku sebagai ganti paru-paru adikku?"
Seraphine meletakkan tangannya di atas tangan Reggiano yang tegang, mencoba melonggarkan cengkeraman pria itu pada meja.
"Penyembuhan bukan soal pembayaran di muka, Tuan Herbert. Kau selalu berpikir seperti pedagang maut."
"Karena itu satu-satunya cara hidup yang ku pahami!" bentak Reggiano pelan, matanya menyala.
"Saya tidak peduli jika saya harus menjadi budakmu atau jika saya harus menghilang dari dunia ini. Sembuhkan dia. Buat dia bisa berlari tanpa sesak. Buat dia bisa hidup tanpa takut musim dingin akan membunuhnya."
Seraphine menatap Reggiano dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang menimbang beban jiwa pria di depannya.
"Penyembuhan permanen bagi manusia yang lahir dengan 'cacat alam' membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar sari pati bunga, Tuan Herbert. Itu membutuhkan akar yang terikat. Jika saya menyembuhkannya secara total, dia tidak akan bisa jauh dariku. Dia akan menjadi bagian dari taman ini, selamanya."
Reggiano terdiam. "Maksudmu... dia tidak bisa meninggalkan tempat ini?"
"Dia bisa pergi, tapi dia harus selalu kembali untuk 'bernapas' di sini. Dia akan terikat pada frekuensi tempat ini," jawab Seraphine lugas. "Dan bagimu, harganya bukan nyawamu. Harganya adalah apa yang harus kau cari sendiri. Kau tidak bisa lagi menjadi Eksekutor biasa jika kau ingin Elena tetap hidup di bawah perlindunganku. Kau harus memilih, membunuh orang lain, atau nyawa adikmu?"
Reggiano menelan ludah. Ini adalah negosiasi termudah dalam hidupnya. Di satu sisi, ia ingin membalas dendam dan mencari tahu masa lalunya yang dihapus.
Di sisi lain, Elena adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup. Tentunya, membunuh orang lain adalah bakat nya.
"Sembuhkan dia," ucap Reggiano tanpa ragu sedikit pun.
"Setelah itu, saya akan mengurus dengan caraku sendiri. Jika saya harus mengkhianati seluruh dunia untuk paru-parunya, maka biarlah dunia terbakar."
Seraphine menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang beraroma bunga layu.
"Kalau begitu, bawa dia ke sini malam ini. Saat bulan berada di puncaknya. Kita akan melihat apakah tanah ini bersedia menerima janji setiamu."