Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 Malam yang Terlalu Tenang
****
Malam itu berjalan terlalu rapi.
Elena Rowena menyadarinya ketika makan malam berakhir tanpa satu pun percakapan penting. Tidak ada perdebatan ringan. Tidak ada selisih pendapat kecil yang biasanya muncul tanpa diminta. Bahkan Marcus tidak mengoreksi cara ia memotong steak—kebiasaan sepele yang hampir selalu ia lakukan.
Ketika sesuatu yang biasa tiba-tiba menghilang, Elena tahu itu bukan kebetulan.
“Besok kita makan siang dengan Selene,” kata Marcus santai sambil melipat serbet. “Dia ingin membahas strategi acara investor.”
Elena mengangguk. “Jam berapa?”
“Siang.”
Jawaban itu terlalu umum. Marcus biasanya presisi soal waktu.
Elena menyimpannya. Dalam diam.
*****
Apartemen itu sunyi. Hanya dengung kota yang teredam kaca tinggi. Elena berdiri di depan jendela sambil membuka tablet. Kalender besok terlihat rapi—terlalu rapi. Beberapa agenda dipindahkan, dijadwalkan ulang, tanpa persetujuannya.
Ia tidak mengomentari.
Dari sudut matanya, Elena melihat layar ponsel Marcus menyala. Sebuah pesan masuk. Nama pengirim tidak tersimpan. Marcus membaca cepat, lalu menghapusnya.
“Kau lembur lagi?” tanya Elena tanpa menoleh.
“Sedikit,” jawab Marcus. Terlalu cepat.
Elena menutup tablet. “Aku akan pulang lebih awal besok.”
Marcus berhenti berjalan. “Kenapa?”
“Aku lelah.”
Kata itu jarang keluar dari mulutnya. Marcus menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah menimbang sesuatu yang tidak diucapkan.
“Baik,” katanya akhirnya.
*****
Pagi datang dengan cuaca cerah. Terlalu cerah untuk perasaan Elena yang tak sepenuhnya tenang.
Mobil melaju di rute biasa hingga belokan ketiga. Marcus berbelok lebih awal.
“Kita lewat mana?” tanya Elena, nada suaranya tetap netral.
“Jalan depan macet.”
Elena melirik ponselnya. Aplikasi navigasi tidak menunjukkan apa pun.
“Baik,” katanya.
Belum ada alasan untuk memperdebatkan apa pun.
Di persimpangan berikutnya, ponsel Marcus bergetar. Ia menolak panggilan tanpa melihat layar.
“Siapa?” tanya Elena.
“Vendor.”
Elena mengangguk. Di kaca jendela, ia menangkap pantulan wajah Marcus—rahangnya mengeras sesaat sebelum kembali santai.
*****
Restoran siang itu ramai. Selene datang terlambat lima belas menit. Bukan kebiasaannya.
“Maaf,” katanya dengan senyum sempurna. “Ada urusan mendadak.”
“Tentu,” jawab Elena.
Sepanjang makan siang, Selene lebih banyak berbicara pada Marcus. Tentang jadwal, rencana, dan keamanan acara. Terlalu sering menyebut kata keamanan.
“Aku kadang khawatir pada Elena,” kata Selene pelan, sambil mengaduk minumannya. “Dia bekerja terlalu keras.”
Elena mengangkat pandangan. “Aku baik-baik saja.”
“Tentu,” balas Selene lembut. “Aku hanya peduli.”
Kata peduli menggantung terlalu lama di udara.
*****
Sore itu, Elena turun ke parkiran sendirian. Marcus masih di dalam, menerima panggilan lain.
Ia membuka pintu mobil—lalu berhenti.
Ada goresan baru di sisi pintu. Tipis. Panjang. Seolah disengaja, bukan kecelakaan parkir. Elena menyentuhnya dengan ujung jari, lalu masuk ke dalam mobil tanpa ekspresi.
Mesin menyala.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Nomor tak dikenal.
Hati-hati malam ini.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada nama.
Elena tidak membalas.
Ia menaruh ponsel di kursi sebelah dan melajukan mobil keluar parkiran. Di kaca spion, sebuah mobil hitam mengikuti—berjarak cukup jauh untuk disebut kebetulan. Terlalu konsisten untuk benar-benar kebetulan.
Elena menyalakan radio. Musik mengalun pelan.
Tangannya tetap stabil di kemudi.
Jika ini peringatan, ia menerimanya.
Jika ini ancaman, ia sudah siap.
Lampu merah menyala di depan.
Elena menginjak rem.
Dan di detik itulah—
ia mendengar suara rem lain yang terlambat.