“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#5
Hidup ibarat Dua Sisi mata uang. Saling menempel tak terpisahkan. Kamu hidup, kamu pun akan mati.
Jika hidup adalah panggung sandiwara, maka kematian adalah endingnya. Tergantung peran apa yang kamu mainkan, maka itulah ending yang akan kamu dapatkan.
Hidup seringkali terasa tidak adil bagi sebagian orang, atau mungkin bagi semua orang. Ada yang bekerja keras tapi hasilnya tidak pernah baik. Ada yang hidupnya tidak berusaha sama sekali namun hidupnya seakan lancar tanpa hambatan. Dia yang baik selalu mendapatkan hasil yang buruk. Sebaliknya mereka yang dirasa kejam, bahkan selalu mendapatkan kemudahan. Bukankah itu semua sama saja, sebuah ujian.
Entah apa yang sedang menanti kedua pasangan ini. Mereka hidup dengan baik, rajin ibadah dan tidak pernah berbuat onar. Hidupnya selalu rukun dengan seksama. Hanya saja hidupnya begitu tragis.
Suami Mak irah meninggal, dan Mak irah sendiri dilarikan ke rumah sakit yang ada di kabupaten sana.
Setiap hari selalu menghabiskan waktu bersama. Semisal waktu seorang istri melayani suaminya dengan sabar dan taat, tapi bahkan dia tidak bisa mengantarkan suaminya ke tempat peristirahatan terakhir.
Pemakaman suami Mak irah dilakukan saat itu juga. Tidak menunggu apapaun karena mereka semua tahu tidak akan ada yang datang.
Gerimis turun perlahan. Awan mendung menyelimuti desa yang berada di bawah bukti pasir huni. Suasana berduka sangat kental terasa. Dingin, sunyi dan menusuk. Menusuk tulang dan relung hati.
Semua orang bersedih pada apa yang terjadi pada kedua pasangan sepuh tersebut.
Acara tahlilan dilakukan setiap hari dengan biaya yang ditanggung keluarga Pak Aceng.
“Tragis betul hidup mereka.”
Suara Pak Aceng membuka pembicaraan di tengah sunyi nya suasana di rumah Amelia. Orang kaya pertama di sana ikut tahlilan dan mampir ke rumah Pak Mul selepas tahlilan usai.
“Nasib orang siapa yang tau, Pak. Saya merasa bersalah banget sebenarnya.”
“Untuk apa? Kita semua tahu bagaimana Pak Mul menjamin mereka berdua selama ini.”
“Tetap saja, Pak. Rasanya ada yang kurang.”
“Ya, saya faham.”
Mereka berdua kembali diam. Sambil sesekali menyeruput teh manis hangat yang ditemani dengan ubi goreng.
Sementara di kamar Ayunda, dia sedang sibuk berkirim pesan dengan Zayan.
Terdengar mobil masuk ke dalam halaman rumah Ayunda. Gadis itu mengintip dari jendela. Rupanya Herman dan istrinya datang. Disusul dengan Arkan.
“Bang,” bisiknya sambil melambaikan tangan saat Arkan melihat dirinya yang sedang mengintip.
Arkan tersenyum sambil membalas lamabaian tangan Ayunda.
[kak, keluarga kakak datang ke rumah aku. Mereka mau melamar kali ya]
[ngadi-ngadi. Masa iya mau melamar tapi akunya gak ikut]
[oh, berarti kakak emang mau melamar aku ya nanti]
[bocah prik]
[Ada Pak Aceng juga di rumah, tapi sendirian habis tahlilan di rumah Mak irah]
[elang ada?]
[Nggak. Dia udah balik ke ibu kota]
[kok tau?]
[iya, kemarin kan pamitan sama aku]
[Oh]
Ayunda menyimpan ponselnya saat Nunung memanggilnya. Dia keluar untuk menyapa para tamu yang mampir malam itu.
Gadis itu membantu ibunya menyiapkan teh hangat untuk para tamu.
“Sini duduk.” Arkan melambaikan tangan pada Ayunda. Gadis itu menghampiri dan duduk di sebelah Arkan.
“Mel, giman kemarin rapat maulidan?” Tanya Pak Aceng.
“Emmm, itu. Kan kita mungut biaya ke setiap orang sebesar sepuluh ribu. Cuma nominalnya agak gedean dikit sama orang yang dianggap mampu sih. Cuma kayaknya tetep kurang sih. Jadi mohon para donatur sekalian untuk menyumbang seikhlasnya. Tapis minimal lima juta lah ya satu orang.”
Gelak tawa menggelegar di ruang tamu Ayunda. Ketiga sahabat sekaliagus orang kaya di kecamatan Sukaluyu itu tertawa mendengar ucapan Amelia.
“Kita itu sebenernya pengen ngundang habib. Cuma biayanya lumayan besar. Siapa tau di antara bapak-bapak ini ada yang bersedia mengundang, maka kami panitia akan sangat berterimakasih dan akan mendoakan untuk kelancaran usaha bapak-bapak sekalian.”
“Anakmu ini loh, Mul.” Pak Aceng menunjuk nunjuk Ayunda sambil tertawa.
“Bisa aja mulutmu itu.” Arkan menoyor kepala Ayunda.
“Marketing maulidan harus pinter.”
“Marketing, salah kata. Dikira maulidan dijual belikan harus ada marketing nya.”
“Apa dong, Bang?”
“Timses mungkin.”
“Lah, emang mau pemilihan kades harus ada timsesnya.”
“Ngomong-ngomong soal kades, denger-denger si burhan mau mencalonkan,” ujar Herman.
“Hah! Serius?” Tanya Ayunda.
“Kenapa lagi kamu?” Tanya Arkan.
“Ih, jangan dipilih. Dia itu cabul dan suka judi.”
“Cabul gimana? Kamu denger dari siapa?” Tanya Pak Mul.
“Bukan denger, tapi lihat.”
Para orang tua yang ada di sana terdiam. Ratna dan Nunung saling melirik.
“Kan waktu itu aku sama syifa mau maling kelapa muda di kebun Pak dadan. Otomatis aku naik kan? Kan kalian tau kebun pak dadan deket sama sungai. Nah, pas aku di atas aku lihat—“
“Ssssttttt.” Arkan menutup mulut Amelia dengan tangannya. Ayunda berusaha melepaskan tangan Arkan.
“Ih kenapa? Aku belum selesai cerita, Abang.”
“Udah, jangan dilanjut.”
“Kan biar kalian semua gak dukung si tukang cabul itu. Masa dia gerayangin Bu Lastri, kan—“
Arkan kembali menutup mulut Ayunda.
“Abang, ih!”
“Nak, kamu sudah cerita ke siapa aja?” Tanya Pak Aceng.
Ayunda menggelengkan kepala. Terlihat wajah lega dari orang-orang yang ada di sana.
“Pokoknya apapun yang kamu lihat di desa ini, ceritakan dulu sama ibu kamu sebelum sama orang lain.”
“Aku cuma cerita sama kak Zayan aja pas waktu kejadian itu. Kan apapaun yang aku lakukan, aku lihat, orang yang pertama harus tahu itu ya kak Zayan.”
Ratna tersenyum. Sementara bapak-bapak hanya menghela nafas dalam.
“Sepertinya ayunda ini tahu banyak tentang hal-hal yang terjadi di desa kita.” Ujar Herman.
“Dia itu bocah petualang, Pa. Selain tukang nyolong buah orang, dia suka berkeliaran di hutan.”
“Husssh, Arkan.” Ratna memelototi anaknya.
“Itu mah udah jadi rahasia umum. Hahaha.”
“Papa juga ah.” Ratna memukul lengan suaminya.
“Tau lah, saya pusing sama tingkah anak ini. Kalau gak naik pohon, ya main bola di lapangan sana sama anak-anak lain.”
“Tapi dia sosialisasinya bagus. Merakyat dan dekat dengan semua kalangan,” puji Pak Aceng.
Pak Mul terlihat senang dan bangga.
“Bapak, mama.” Inggit berteriak dari luar. Dia berlari dengan nafas ngos-ngosan.
“Apa sih, Git? Kamu kayak habis dikejar babi hutan aja.” Ucap Nunung.
“Mak irah, Mak irah.”
“Nafas dulu. Kamu tenang dulu jangan ngomong sambil ngasngos gitu,” timpal Ratna.
“Kenapa Mak irah, Git?” Tanya Herman.
“Mak irah meninggal,” ucap Inggit dengan nafas masih memburu.
“Tadi Pak Udin yang nunggu Mak irah di rumah sakit telpon pak rt. Katanya Mak irah meninggal dan udah dalam perjalanan mau ke sini.”
Semua orang terdiam.