Ciluk ba...
"Ha yo... Om mau mendekati Mamaku ya?" seru seorang gadis cilik dengan rambut keritingnya.
"Enggak. Siapa juga yang mau mendekati Mamamu yang janda itu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah atasan dari Ibu gadis cilik itu, Luis Marshal Gena.
"Om suka lilik-lilik Mama. Ndak boleh ya, Om. Nanti matanya bintitan," ucap gadis cilik itu lagi.
Seorang janda atau single mom bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Kata orang-orang, dirinya disebut sebagai janda seksi. Padahal menurut sang empu, dia biasa saja.
Luis yang merupakan atasannya, begitu kagum dengan sosok sekretarisnya yang mandiri dan tegas. Bahkan berulangkali terpergok melihatnya. Namun perjalanan Luis mendekati sekretarisnya sangat terjal karena anaknya yang tampak tak suka dengannya.
Mampukah Luis meraih hati si janda seksi dan anaknya itu? Lalu bagaimana dengan mantan suami dari sekretarisnya yang tiba-tiba datang dan menjadi penghalang mereka untuk bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
"Mama mau belangkat kelja? Ndak usah kelja saja sih. Temani Aiko main. Aiko malas sekali dititipkan ke sekolah. Sepelti ndak punya olangtua di lumah,"
Gadis cilik berambut keriting dan berkuncir dua dengan pita berwarna pink itu mulai bisa mengungkapkan unek-uneknya. Ia sering ditinggal bekerja oleh sang Ibu yang bekerja sebagai sekretaris. Gadis cilik bernama Aiko Yui Sakura itu tengah merengek pada Mamanya agar sang Ibu tidak bekerja.
Wanita cantik yang dipanggil Mama itu tengah merapikan seragam PAUD milik anaknya. Dengan senyum lembut dan tatapan mata yang tegas, wanita itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Sudah biasa anaknya akan tantrum seperti ini saat dirinya tinggal bekerja. Wanita berusia 29 tahun dengan rambut panjang dan mempunyai bibir tebal itu bernama Emma Jade Sakura.
"Nanti kalau Mama temani Aiko bermain dan tidak bekerja, bagaimana cara kita beli susu? Terus mainan Aiko yang mahalnya melebihi harga motor itu juga gimana?" tanya Emma dengan sabar sambil mengelus rambut Aiko.
"Cali sugal daddy saja, Ma. Telus menikah, ndak usah kelja." ceplos Aiko dengan polosnya.
"Ngawur kamu ini. Sudah ayo berangkat, nanti Mama terlambat lho kalau Aiko begini terus." ucap Emma yang mencoba menghentikan pembicaraan ini.
Ish...
"Mama ndak asyik lho. Padahal Aiko sudah kasih salan bagus. Olang Aiko ini pintal kasih salan dan glatis, ndak ditelima." Aiko mengerucutkan bibirnya kesal karena Emma tak menyukai sarannya.
Emma yang sudah berpakaian rapi dan formal ala pegawai kantor, menggandeng tangan Aiko untuk keluar dari rumah sederhana yang dibelinya setelah berpisah dari mantan suaminya.
Setelah bercerai, Emma mengontrak rumah sederhana sampai dia mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris. Dua tahun dia mengumpulkan uang dari gajinya dan bisa membeli rumah, walaupun dengan cara kredit.
"Pakai masker dan helmnya, Aiko. Banyak asap di jalan," Emma memakaikan Aiko masker dan helm untuk menjaga kesehatan anak itu sebelum naik ke motornya.
"Libet. Kaya altis saja, halus pakai maskel segala. Semua olang melihat Aiko juga ndak ada yang minta foto dan tandatangan. Ngapain juga pakai maskel segala sih, Ma?" gerutu Aiko membuat Emma terkekeh pelan. Anaknya ini sangat lah cerewet yang membuat ia kadang kuwalahan menjawabnya.
Brum... Brum...
"Biar kamu nggak kena asap kendaraan secara langsung. Mama tuh kalau kamu sakit, takut banget lho. Apalagi Mama nggak bisa jagain kamu 24 jam," ucap Emma memberi pengertian pada anaknya.
Gadis cilik berusia 4 tahun itu terus menggerutu. Apapun yang diminta Emma, tak bisa diterima oleh Aiko. Menurutnya semua ucapan dan aturan dari Emma itu terlalu berlebihan. Padahal anak lainnya juga biasa saja.
Jadi ndak bisa tebal pesona sama cowok-cowok ganteng di jalan,
Jangan genit ya kamu, Aiko. Masih kecil,
Belalti kalau sudah besal, boleh genit sama cowok-cowok dong?
Nggak gitu juga konsepnya, Aiko.
***
Motor yang dikendarai oleh Emma melaju dengan kecepatan sedang. Hanya butuh waktu 15 menit saja bagi Emma untuk sampai di sekolah PAUD sekaligus tempat penitipan anak. Sekolah anaknya itu tak jauh dari kantornya, sehingga jika terjadi sesuatu akan lebih mudah bagi Emma untuk datang.
"Kok cemberut gitu sih, Aiko? Padahal di sini banyak temannya lho. Kamu bisa main sepuasnya sampai Mama jemput," ucap Emma sambil mengusap rambut Aiko dengan lembut setelah mereka sampai di sekolah.
"Semua temannya tuh masih kecil-kecil, telus meleka ada yang ditemani olangtuanya. Ndak bisa diajak jajan dan apel ke TK situ," ucap Aiko sambil menunjuk sekolah TK yang berada di samping sekolahnya.
"Apel?" tanya Emma dengan mengerutkan dahinya heran.
"Iya, apel cowok ganteng. Nama cowok gantengnya itu Axelio, Mama. Besok Aiko kenalkan sama Mama kalau dia sudah mau dengan Aiko," ucap Aiko dengan antusiasnya menceritakan tentang siswa di sekolah TK sebelahnya.
Emma yang mendengar hal itu hanya bisa menganga tak percaya. Anak sekecil ini sudah tahu apel dan cowok ganteng. Bahkan sampai mau mengenalkan cowok incarannya itu pada dia. Ternyata perkembangan anaknya ini membuatnya merasa kecolongan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga hal begini sampai luput dari pantauannya.
"Aiko anaknya Mama Emma yang cantik dan lucu, tidak boleh seperti ini ya. Kamu masih kecil, tidak boleh genit sama cowok. Kamu itu cocoknya main perosotan dan ayunan itu," ucap Emma sambil menghela nafasnya pelan.
"Ndak genit kok Aiko. Cuma kagum saja dan suka sama Kak Axelio," ucap Aiko memberi alasan.
Terserah kamu saja, Aiko.
Tapi nggak boleh jahil dan dekat-dekat cowok ya,
Siap, Mama.
Kalau dekat cowok, ndak janji Aiko.
Aiko juga dekatnya sama cowok baik kok, bukan kaya mantan suaminya Mama yang jahat itu.
Eh...
***
Setelah memastikan Aiko masuk ke dalam PAUD dan tempat penitipan anak, Emma segera berangkat ke kantor. Hidup berdua saja dengan Aiko membuatnya harus pintar-pintar membagi waktunya. Apalagi sang mantan suami sudah tidak mau memberikan nafkah dan membantu menjaga Aiko lagi.
Jabatan sekretaris di perusahaan property terbesar di negaranya ini lah yang bisa menghidupi Emma dan Aiko. Jabatan yang tidak mudah dirinya dapatkan. Penuh perjuangan karena mendapatkan banyak tekanan di sana. Terlebih banyak karyawan yang meremehkan kemampuannya.
"Selamat pagi, Bu Emma." sapa seorang satpam dengan ramahnya saat melihat Emma datang. Wanita itu mengenakan setelan celana panjang dan blazer hitamnya. Sangat sederhana dengan polesan make up tipis.
"Selamat pagi, Pak Dung." Emma menyapa balik satpam yang berjaga dengan senyum ramahnya.
Pagi, Sekretaris Emma.
Selamat pagi, Pak Zayn.
Sapaan hangat dari beberapa karyawan pria tak membuat Emma salah tingkah. Pasalnya ia tahu jika karyawan pria itu hanya basa-basi saja. Di perusahaan, Emma yang terkenal ramah pada semua orang malah sering mendapatkan cibiran. Perempuan berusia 29 tahun itu menjadi bahan keirian dari karyawan perempuan.
Bu Emma makin hari tambah seksi aja,
Biasa aja kali. Seksian juga aku. Lihat nih body aku,
Dih... Kamu mah seksinya cuma pamer body. Kalau Bu Emma beda, tatapan dan cara bicaranya aja seksi walaupun nggak pakai pakaian ketat.
Dasar nggak ngerti fashion,
Emma duduk di balik meja kerjanya setelah meminta OB menyediakan kopi untuk atasannya. Kebiasaan sang bos yang sangat Emma kenali, harus ada kopi sebelum datang. Emma memeriksa jadwal kerjaan hari ini sebelum Bosnya itu datang.
Ting...
Emma, siapkan proposal yang kemarin kita diskusikan.
Jangan lupa siapkan cemilan karena ada teman-temanku yang akan datang jam 10 nanti,
Hari i...
Sekalian minta OB bersihkan ruang pribadiku,
Brakkk...
Astaga...
Belum juga ngomong buat agenda hari ini. Main asal nyuruh segala macam,
Sabar, Emma.
ini buktinya🤣🤣
dengan itu om bos ,kalau gak tertarik mending buat kakek Regan aja😂
Emma lihat tuh kak Luis dan Aiko sangat kompak bukan ,sangat pantas dan cocok jadi suami mu 😂
Luis kapan ngajakin nikah 🤣
serius aku nanya😂
nanti tambah gak tumbuh tumbuh rambut nya Kim kalau sama Celine hahaha
tapi bener juga siapa tau cocok😂
Cie Luis berharap jadi pasangan suami istri 🤭