NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3 WILWATIKTA DALAM BAYANG-BAYANG

Wilwatikta tidak runtuh dalam satu malam.

Ia membusuk perlahan, seperti kayu tua yang keropos dari dalam, namun masih dicat indah di bagian luar. Api, darah, dan jerit yang menelan keluarga Rakryan Arya Wardhana hanyalah gejala terakhir—bukan awal penyakitnya.

Segalanya bermula sejak Raden Wijaya turun dari tahta.

Raja pendiri Wilwatikta itu tidak mati di medan perang, tidak pula digulingkan oleh musuh luar. Ia turun dengan kepala tegak, meninggalkan negeri yang tampak kuat, makmur, dan teratur. Namun kepergiannya membuka ruang kosong—dan ruang kosong selalu mengundang hasrat.

Tahta tidak pernah benar-benar kosong.

Di sekelilingnya berdiri para pejabat yang dahulu menjadi soko guru kerajaan: patih, rakryan, senapati, dharmadyaksa, dan para pemangku wilayah. Mereka adalah orang-orang yang ikut membangun Wilwatikta dari tanah rawa, yang darah dan akalnya tertanam di setiap jengkal negeri.

Namun kesetiaan, di dalam istana, adalah mata uang yang cepat kadaluarsa.

Setelah Raden Wijaya turun tahta, Wilwatikta memasuki masa yang disebut para pujangga sebagai jaman tatah ulang—masa penataan kembali kekuasaan. Dalam bahasa yang lebih jujur: masa saling memangsa.

Satu per satu, pejabat lama mulai jatuh.

Mereka tidak diserang dengan pedang, melainkan dengan lontar. Dengan tuduhan. Dengan bisik-bisik yang ditanamkan di ruang sidang dan serambi pendapa.

Pengkhianat. Penyelewengan. Bersekongkol dengan musuh.

Tuduhan-tuduhan itu terdengar familier.

Wilwatikta, dari luar, tetap berdiri megah.

Namun di dalamnya, struktur kenegaraan berubah menjadi jaring laba-laba.

Di tingkat paling bawah, rakyat jelata—para tani, perajin, pedagang pasar—hanya tahu bahwa pajak meningkat dan prajurit makin sering turun ke desa. Mereka tidak memahami intrik istana; yang mereka rasakan hanyalah perut kosong dan rasa takut.

Di atas mereka berdiri para bekel dan juru desa, aparat lokal yang bertugas mengumpulkan upeti dan menjaga ketertiban. Banyak dari mereka terjepit di antara titah istana dan kemarahan rakyat. Satu kesalahan kecil bisa membuat mereka dituduh lalai—atau bersekongkol.

Naik satu tingkat, terdapat para akuwu dan tumenggung wilayah, penguasa daerah yang memegang pasukan kecil dan hak atas tanah. Pada masa Raden Wijaya, jabatan ini diisi oleh orang-orang yang dipilih karena kesetiaan dan kecakapan.

Kini, jabatan itu diperebutkan.

Wilayah bukan lagi amanah, melainkan hadiah.

Siapa yang paling cepat membungkuk pada pusat kekuasaan, dialah yang bertahan.

Di pusat kerajaan, struktur menjadi semakin rapat dan berbahaya.

Para rakryan—Demung, Kanuruhan, Rangga—berfungsi sebagai tulang punggung administrasi negara. Mereka mengatur perbekalan, pajak, logistik, dan urusan dalam negeri. Secara tertulis, mereka adalah pelayan negara.

Dalam kenyataan, mereka adalah pemain.

Di atas para rakryan berdiri para patih, penghubung langsung antara raja dan mesin pemerintahan. Pada masa-masa tenang, patih adalah penyeimbang. Pada masa seperti ini, patih adalah penentu hidup dan mati.

Dan di atas semuanya, Mahapatih Agung.

Jabatan itu tidak hanya memegang kendali atas militer dan administrasi, tetapi juga atas narasi. Mahapatih menentukan siapa yang setia dan siapa yang dicatat sebagai pengkhianat.

Lontar-lontar resmi ditulis ulang.

Nama-nama dihapus.

Jasa-jasa lama dilupakan.

Rakryan Arya Wardhana adalah salah satunya.

Ia bukan yang pertama, dan bukan yang terakhir.

Ia dijatuhkan bukan karena kesalahan yang bisa dibuktikan, melainkan karena ia berdiri di simpul penting logistik kerajaan. Siapa pun yang menguasai simpul itu, menguasai napas Wilwatikta.

Setelah kejatuhannya, pesan tersampaikan dengan jelas:

Tak ada yang kebal.

Sejak saat itu, sidang istana tidak lagi menjadi tempat musyawarah, melainkan arena jebakan. Senyum menjadi bahasa paling berbahaya. Diam menjadi bentuk perlawanan paling aman.

Para pejabat belajar satu hal: bertahan lebih penting daripada benar.

Wilwatikta pun berubah menjadi kerajaan yang tampak tertib di permukaan, namun dipenuhi intrik kotor di balik dinding batu dan ukiran emas.

Dan di tengah semua itu, sebuah nama menghilang tanpa diumumkan.

Tak ada lontar resmi yang mencatat anak Rakryan Arya Wardhana.

Bagi istana, ia dianggap mati—atau tak pernah ada.

Namun sejarah jarang patuh pada catatan resmi.

Di luar tembok Wilwatikta, di dunia yang tidak diatur oleh sidang dan stempel kerajaan, seorang anak tanpa nama masih bernapas.

Dan selama ia bernapas, semua kebusukan ini memiliki saksi.

Wilwatikta boleh membersihkan halaman istananya dari darah.

Namun noda itu telah meresap hingga ke dasar batu.

Dan suatu hari nanti, noda itu akan kembali ke permukaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!