NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debaran Yang Padam

Sepanjang perjalanan pulang, kabin mobil mewah itu terasa seperti ruang hampa udara. Arya mengemudi dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram kemudi hingga kuku-kuku jarinya memutih. Di sampingnya, Ria hanya menyandarkan kepala pada kaca jendela, matanya terpejam rapat. Ia tidak lagi memiliki energi untuk berdebat. Permintaan cerai tadi telah menguras seluruh sisa kekuatan yang ia simpan selama berminggu-minggu.

Begitu mobil berhenti di depan teras rumah, Arya turun dan memutari mobil dengan tergesa. Saat ia membuka pintu penumpang, tubuh Ria luruh ke arahnya.

"Ria!" Arya menangkap tubuh itu. Ringan. Terlalu ringan untuk wanita seusianya.

Ria telah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Wajahnya yang damai dalam pingsan justru terlihat mengerikan bagi Arya—seperti lilin yang hampir habis sumbunya. Tanpa berpikir panjang, Arya menggendongnya menuju kamar di lantai atas.

"Bi Ina! Telepon dokter pribadi saya, sekarang!" teriak Arya sambil menaiki tangga.

Suaranya yang menggelegar membuat seluruh pelayan di rumah itu berlarian panik.

Arya duduk di kursi samping tempat tidur, memperhatikan dokter yang sedang memeriksa detak jantung dan tekanan darah Ria. Detik demi detik terasa seperti jam bagi Arya. Kegelisahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya kini merambat di tengkuknya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Arya tajam saat dokter tersebut merapikan stetoskopnya.

Dokter paruh baya itu menghela napas, menatap Arya dengan sedikit teguran di matanya. "Nyonya Ria mengalami kelelahan ekstrem dan gizi buruk yang cukup serius, Pak Arya. Tekanan darahnya sangat rendah. Sepertinya ia sudah lama tidak makan dengan teratur atau mungkin asupan nutrisinya tidak terserap dengan baik karena stres."

Arya tertegun. Gizi buruk? Di rumah semegah ini, dengan koki yang tersedia dua puluh empat jam?

"Hanya gizi buruk?" tanya Arya memastikan.

"Untuk saat ini, gejalanya menunjukkan hal itu. Saya akan memberikan resep vitamin dosis tinggi dan obat untuk meningkatkan nafsu makan. Pastikan beliau istirahat total dan tidak banyak pikiran. Jika dalam beberapa hari tidak ada perubahan, kita harus melakukan tes darah lengkap di rumah sakit."

Arya mengangguk kaku. Ia merasa sedikit lega, namun rasa bersalah tetap menghantui. Ia mengira perubahan sikap Ria karena pengaruh orang lain, ternyata tubuh istrinya itu sendiri yang sedang memberontak karena keabaiannya selama ini.

Beberapa saat setelah dokter pergi, Ria perlahan membuka matanya. Ia melihat langit-langit kamar yang mewah, lalu melirik ke arah meja nakas di mana beberapa botol vitamin dan resep dokter tergeletak.

Ia juga menyadari keberadaan Arya yang tertidur di kursi samping ranjang dengan posisi yang tidak nyaman.

Ria menghela napas pelan, tangannya meraba perutnya yang terasa kosong. Ia tahu dokter itu salah—atau lebih tepatnya, hanya melihat permukaan. Dokter itu tidak tahu bahwa gizi buruk itu hanyalah pembuka jalan bagi leukemia yang kini sedang berpesta di dalam sumsum tulangnya.

Baguslah, batin Ria getir. Biarkan dia mengira aku hanya kurang makan.

Ria tidak ingin Arya tahu tentang kanker itu. Ia tidak ingin melihat Arya berubah menjadi baik karena rasa kasihan. Baginya, kebaikan yang lahir dari rasa kasihan adalah penghinaan terbesar. Ia ingin pergi dalam kesunyian, tanpa drama, tanpa tangisan palsu dari orang-orang yang selama dua puluh empat tahun ini mengabaikannya.

Ria menatap punggung tangan Arya yang terletak di dekat kakinya. Dulu, ia sangat merindukan sentuhan itu. Sekarang, ia hanya merasa dingin. Ia telah membulatkan tekad: ia akan menggunakan masa pemulihan ini untuk menyusun rencana kepergiannya yang terakhir. Ia ingin menutup mata di tempat yang jauh, di mana ia bukan lagi seorang bayangan, melainkan manusia merdeka.

Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Ria memperhatikan wajah Arya. Tanpa tatapan dingin dan kata-kata tajam, pria itu tampak seperti manusia biasa—bukan pengusaha kejam yang selama ini menghimpit jiwanya. Ada setitik debaran di dada Ria, sisa-sisa perasaan yang pernah ia tanam namun gagal tumbuh. Ia teringat bagaimana Arya menggendongnya tadi, sebuah kontak fisik yang seharusnya terasa hangat, namun kini terasa terlambat.

Seandainya kau selembut ini sejak awal, batin Ria pedih.

Namun, debaran itu padam seketika saat ponsel di atas nakas bergetar pelan. Ria segera menyambarnya sebelum suaranya membangunkan Arya. Sebuah nomor yang ia kenal muncul di layar: dr. Heru – RS Medika.

Ria melirik Arya yang masih terlelap, lalu perlahan bangkit dan berjalan menuju sudut kamar yang paling jauh.

"Halo?" bisik Ria pelan.

"Selamat malam, Nona Ria. Maaf mengganggu jam istirahat Anda. Saya melihat hasil tes lanjutan Anda kembali sore tadi, dan kondisinya cukup mendesak. Kita tidak bisa menunda lagi. Bisakah Anda ke rumah sakit siang nanti pukul satu? Kita perlu membahas protokol kemoterapi atau pilihan paliatif yang tersedia."

Suara dokter itu tenang, namun maknanya sangat mencekam. Ria menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat. "Pukul satu siang... baik, Dok. Saya akan ke sana."

"Tolong pastikan Anda datang dengan wali atau suami Anda, Nona. Keputusan ini berat untuk diambil sendiri."

"Saya akan datang sendiri, Dok. Terima kasih," jawab Ria tegas sebelum memutus sambungan.

Ria memutar tubuh dan mendapati Arya sudah terbangun. Pria itu mengucek matanya, tampak bingung melihat Ria sudah berdiri di dekat jendela.

"Siapa yang menelepon selarut ini?" tanya Arya dengan suara parau. Ia berdiri dan mendekati Ria, rasa cemas yang belum hilang dari wajahnya membuat hatinya terlihat sedikit lebih lembut.

Ria mengatur napasnya. Wajahnya kembali menjadi topeng yang datar. "Teman lama dari desa, Mas. Dia mendengar aku sakit dan ingin mengirimkan beberapa obat tradisional."

Arya mengerutkan dahi. "Obat tradisional? Dokter pribadiku sudah memberimu resep terbaik. Jangan sembarangan mengonsumsi sesuatu yang tidak jelas."

"Aku tahu. Aku hanya bilang padanya aku akan menemuinya siang nanti untuk sekadar mengobrol," Ria berbohong dengan lancar, sebuah keahlian yang ia pelajari dari bertahun-tahun hidup di bawah tekanan. "Aku butuh udara segar, Mas. Bertemu orang dari masa laluku mungkin bisa membuatku lebih baik."

Arya terdiam sejenak. Ia merasa ada yang ganjil. Ria tidak pernah memiliki teman yang cukup dekat untuk menelepon di tengah malam. Namun, melihat betapa keras kepalanya sorot mata istrinya, Arya tidak ingin memicu pertengkaran lagi—terutama setelah kejadian perjamuan malam tadi.

"Baiklah," ucap Arya akhirnya. "Aku akan menyuruh supir mengantarmu pukul satu. Tapi setelah itu, kau harus kembali dan istirahat total. Aku tidak ingin kejadian pingsan itu terulang."

Ria mengangguk perlahan. "Terima kasih, Mas."

Di dalam hatinya, Ria merasa miris. Ia baru saja merangkai kebohongan baru di atas kebohongan lama. Ia akan pergi ke rumah sakit bukan untuk mencari kesembuhan—karena ia tahu tubuhnya sudah terlalu lelah—melainkan untuk mencari cara bagaimana ia bisa pergi dengan damai tanpa meninggalkan jejak rasa bersalah pada siapa pun.

Ria menatap Arya yang kembali membetulkan letak selimutnya. Ia harus sangat berhati-hati. Arya adalah pria yang teliti, dan sedikit saja ia melakukan kesalahan dalam sandiwara "kurang gizi" ini, Arya akan menemukan kebenaran tentang leukemia-nya. Dan jika itu terjadi, kepergiannya yang tenang akan berubah menjadi drama medis yang penuh dengan paksaan pengobatan.

Biarkan aku pergi sebagai bayangan yang memudar, Mas Arya. Bukan sebagai luka yang kau sesali, doa Ria dalam hati saat ia kembali berbaring, membelakangi pria yang kini mulai memperhatikannya, namun di waktu yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!