Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Minggu pagi di kediaman Amara biasanya adalah waktu untuk berbenah. Cahaya matahari masuk dengan sempurna melalui jendela besar di ruang tengah, menyinari butiran debu yang beterbangan saat Amara mengayunkan sapunya. Gadis itu tampil santai dengan kaos kebesaran dan celana rumahan, rambutnya dicepol asal-asalan—sangat kontras dengan penampilannya yang memakai pita beberapa hari lalu.
Namun, ketenangan itu terus terusik oleh deru mesin motor besar yang sangat ia kenali. Jantung Amara mendadak melakukan lompatan kecil. Ia tahu itu Nicholas, tapi ia tidak menyangka pria itu akan datang di hari Minggu sepagi ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa Ryan yang pecah di teras depan. Tawa yang terdengar sangat... mencurigakan. Amara menajamkan telinganya. Ia teringat percakapannya dengan Ryan semalam di sofa. Ryan tahu rahasianya. Ryan tahu Amara mulai "kangen". Dan Ryan adalah spesies kakak yang hobi menggoreng situasi sampai gosong.
Langkah kaki terdengar mendekat ke pintu depan. Begitu pintu terbuka, Ryan muncul dengan wajah yang sudah dipenuhi niat jahat untuk menggoda, sementara Nicholas berdiri di belakangnya, membawa sebuah kantong plastik berisi bubur ayam.
Ryan menarik napas dalam-dalam, siap meluncurkan serangan verbalnya. "Amaraaa! Dicariin nih sama yang katanya semalem lo kangen—"
Bugh!
Sebelum kata "kangen" itu tuntas keluar dari bibir Ryan, Amara sudah melesat dengan kecepatan kilat yang mungkin bisa menyaingi pelari olimpiade. Tanpa aba-aba, jemarinya langsung mendarat di pinggang Ryan, mencubitnya dengan tenaga penuh dan memutarnya 180 derajat.
"Aduh! Aduh! Ampun, Dek! Lepas!" teriak Ryan sambil berjingkat-jingkat kesakitan.
"Abang... mulutnya kalau nggak bisa diem, aku laporin Bunda soal komik-komik tersembunyi Abang di bawah kasur ya?" bisik Amara tajam, matanya berkilat memberikan peringatan tingkat tinggi.
Setelah memastikan Ryan bungkam karena kesakitan, Amara segera melepaskan cubitannya. Ia berbalik ke arah Nicholas, mencoba mengatur napas dan ekspresi wajahnya agar terlihat seolah tidak terjadi keributan apa pun.
"Pagi, Kak Nick," sapanya dengan senyum tipis—jenis senyum manis yang jarang ia tunjukkan secara sukarela.
Nicholas terpaku di ambang pintu. Ia melihat drama pendek antara kakak beradik itu dengan alis terangkat. Namun, tatapannya segera melembut saat melihat Amara dengan tampilan rumahannya. Di mata Nick, Amara yang sedang menyapu dengan rambut dicepol begini jauh lebih menggemaskan daripada siapa pun.
"Pagi. Gue bawain bubur ayam depan komplek. Kata Ryan, Bunda lagi nggak masak hari ini karena mau pergi senam," ucap Nick sambil mengangkat kantong plastiknya.
"Oh... makasih, Kak. Kebetulan aku laper banget gara-gara denger orang nggak jelas ngomong tadi," sindir Amara sambil melirik Ryan yang masih mengusap pinggangnya.
Ryan mendengus, mencoba membalas dendam tapi suaranya dipelankan. "Cih, senyumnya beda ya kalau ke Nick. Kemarin-kemarin mukanya kayak mau ngajak tawuran."
"Abang!"
"Iya, iya! Gue mandi dulu. Nick, masuk aja, anggap rumah sendiri. Lo kan emang udah mau jadi 'bagian' dari sini kan?" goda Ryan sebelum lari terbirit-birit menuju kamarnya sebelum kena cubit lagi.
Amara membawa kantong bubur itu ke dapur, diikuti oleh Nicholas. Suasana rumah yang sepi karena Bunda sudah berangkat senam membuat kecanggungan mulai merayap. Nicholas membantu menyiapkan mangkuk, sementara Amara menuangkan buburnya.
"Kakak nggak ada acara hari ini?" tanya Amara mencoba mencairkan suasana.
"Nggak ada. Hari Minggu gue biasanya cuma di bengkel, tapi hari ini pengen mampir ke sini aja. Mau mastiin lo nggak stres ngerjain soal simulasi lagi," jawab Nick.
Amara menuangkan kerupuk ke dalam mangkuk. "Aku udah janji sama diri sendiri hari ini mau libur belajar sehari. Biar otak nggak konslet, kayak kata Kakak kemarin."
Nicholas tersenyum puas mendengar itu. Ia duduk di kursi meja makan, memperhatikan Amara yang sibuk. "Bagus. Kalau gitu, habis makan, ikut gue yuk?"
Gerakan tangan Amara terhenti. "Ke mana? Jangan ke taman lagi, bosen."
"Ada tempat baru. Gue jamin lo suka. Tenang, nggak bakal lama, sore udah gue balikin ke rumah," janji Nick.
Amara menimbang-nimbang. Ia melihat Nicholas yang sekarang sudah tidak lagi memaksa. Pria itu bertanya, bukan memerintah. Perubahan itu benar-benar meluluhkan pertahanan Amara sedikit demi sedikit.
"Oke. Tapi aku mandi dulu ya, ini masih bau debu," ucap Amara.
"Bau apa pun lo, tetep Amara di mata gue," celetuk Nick santai.
Amara langsung melempar sendok plastik ke arah Nicholas. "Kak Nick! Jangan mulai gombal yang nggak jelas deh!"
Nicholas tertawa lepas—suara tawa yang sangat jarang terdengar, suara yang membuat Amara menyadari bahwa dibalik sikap "garang" Nicholas, ada sisi manusiawi yang sangat hangat.
Saat Amara sedang ke dapur mengambil minum, Nicholas tidak sengaja menjatuhkan dompetnya saat hendak mengambil ponsel. Isi dompetnya sedikit berantakan di lantai. Nicholas buru-buru memungutnya, namun sebuah kertas kecil yang sudah menguning dan lecek terjatuh di dekat kaki kursi Amara.
Amara yang baru kembali melihat kertas itu. "Apa ini, Kak? Jatuh ya?"
Nicholas hendak meraihnya, tapi Amara sudah lebih dulu mengambilnya. Ia membuka lipatan kertas itu dan matanya membelalak.
INSTALASI GAWAT DARURAT - RS MEDIKA.
Tanggal: 18 Januari 2024.
Itu adalah struk pembayaran rumah sakit dua tahun lalu. Nama pasien: Nicholas Arisatya.
Amara terdiam. Ia menatap struk itu, lalu menatap Nicholas yang kini tampak sedikit salah tingkah—sebuah pemandangan langka bagi seorang Nicholas.
"Bang Ryan bener... Kakak beneran simpan ini?" bisik Amara, suaranya bergetar.
Nicholas mengusap tengkuknya, ia mengalihkan pandangan. "Gue cuma nggak mau lupa, Ra. Gue nggak mau lupa kalau di dunia yang berengsek ini, pernah ada orang asing yang mau repot-repot nolongin gue tanpa nanya gue siapa. Dan orang itu adalah lo."
Amara merasakan dadanya sesak karena rasa haru. Ia mendekati Nicholas, menyerahkan kembali struk itu dengan tangan gemetar. Tanpa sadar, Amara menggenggam tangan Nicholas sebentar.
"Maaf ya Kak, kalau aku pernah bilang itu cuma kenangan sekilas. Aku nggak tahu kalau bagi Kakak, itu sangat berarti," ucap Amara tulus.
Nicholas menggenggam balik tangan Amara, kali ini dengan lembut. "Sekarang lo tahu kenapa gue nggak bisa lepasin lo gitu aja. Gue nggak mau kehilangan 'rumah' yang baru aja gue temuin."
Pagi itu, di meja makan yang sederhana dengan aroma bubur ayam, Amara akhirnya menyerah pada perasaannya. Ia sadar, Nicholas mungkin punya masa lalu yang kelam dan sikap yang sulit, tapi baginya, Nicholas adalah pria yang paling tulus yang pernah ia kenal.