Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjelaskan kepada Farrel
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela ruang makan, menyinari dua piring sarapan yang hampir ludes. Namun, suasana hangat itu terasa sedikit canggung bagi Carmen. Ia berkali-kali membetulkan kerah kemejanya, berusaha menutupi jejak kemerahan yang ditinggalkan Samudera semalam.
"Habiskan sarapanmu, Carmen. Jangan terus-menerus memegangi leher," tegur Samudera tenang sembari menyesap kopinya. Di leher pria itu pun, terdapat tanda serupa yang mengintip dari balik kerah kemeja yang sedikit terbuka.
Carmen merona hebat. "Ini semua gara-gara Mas Sam! Bagaimana kalau ada yang lihat di kampus nanti?"
"Pakai syal atau gerai rambutmu. Lagipula, hari ini aku yang akan mengantarmu. Tidak ada bantahan," ujar Samudera tegas.
"Aku bisa berangkat sendiri, Mas. Kan ada jadwal kelas yang berbeda," protes Carmen pelan.
Samudera meletakkan cangkirnya, tatapannya mengunci Carmen. "Hari ini jadwal mengajar ku padat di Universitas Pelita Bangsa. Aku tidak akan ke kantor, jadi Bayu yang akan mengurus semuanya. Kamu berangkat bersamaku, atau tidak berangkat sama sekali."
Carmen mendengus pasrah. Melawan Samudera pagi ini hanya akan membuang waktu dan energi saja.
Di kampus, Samudera tampak sangat sibuk. Sebagai dosen, ia harus berpindah dari satu kelas senior ke kelas lainnya, membuatnya kehilangan pengawasan sejenak terhadap Carmen. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Farrel yang rupanya sudah memantau jadwal Samudera.
Saat Carmen dan Dara sedang asyik mengobrol di pojok kelas yang mulai sepi, sesosok bayangan tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Kak Farrel! Bikin kaget saja datang tiba-tiba!" seru Carmen spontan. Ia refleks menoleh ke kanan dan kiri, jantungnya berdegup kencang membayangkan jika Samudera tiba-tiba muncul dan memberinya hukuman lagi.
"Aku jadi kepikiran saja, kok kamu tiba-tiba bisa berubah seperti ini padaku?" tanya Farrel dengan nada menuntut.
Kehadiran Farrel mulai memancing perhatian mahasiswa lain. Tak ingin menjadi pusat gosip, Carmen memberikan syarat. "Kita bicara di perpustakaan saja, Kak. Tapi Dara harus ikut!"
Perpustakaan
Sesampainya di sudut perpustakaan yang sepi, Farrel langsung menumpahkan kekesalannya.
"Kenapa sih Om mu itu posesif sekali? Aku itu bukanlah pria yang berbahaya, sikap Om mu itu sungguh mencurigakan!" Farrel mendengus kesal.
Carmen menghela napas panjang. Ia harus mencari alasan agar Farrel tidak terus mengejar kebenaran tentang status pernikahannya. "Jadi begini kak... Om Sam itu hanya takut aku kenapa-kenapa. Dia berusaha melindungi ku dari orang asing. Peristiwa pembunuhan kedua orang tuaku sampai saat ini masih belum terkuak siapa otak pelakunya. Masa lalu itu... sangat kelam buatku."
Farrel terdiam, raut wajahnya berubah syok.
"Betul sekali Kak," sambung Dara meyakinkan. "Aku sudah lama jadi sahabat Carmen. Aku sendiri sering khawatir kalau Carmen di asrama sendirian, apalagi Tiara dari dulu suka sekali mengganggu Carmen."
Farrel mulai melunak. Ia mulai memahami mengapa sosok 'Om' tersebut begitu menjaganya dengan ketat.
Udara di perpustakaan terasa semakin gerah. Tampaknya pendingin ruangan tidak berfungsi maksimal siang itu. Carmen yang merasa gerah secara refleks mengambil penjepit rambut dari tasnya, lalu menggulung rambut panjangnya ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya dengan jelas.
Seketika, suasana menjadi hening. Tatapan Farrel dan Dara terpaku pada satu titik yang sama.
"Men, lehernya kenapa? Kok ada bercak merah keunguan?" tanya Dara penuh selidik, wajahnya mendekat untuk memastikan.
Farrel pun menyipitkan mata, rasa penasarannya memuncak melihat noda yang sangat jelas di bawah telinga Carmen itu.
Carmen tersentak. Ia segera menurunkan tangannya untuk menutupi leher dengan panik.
'Aarrkkhhhh gawat! Ini semua gara-gara Om Sam yang nyebelin!' keluhnya dalam hati sambil berusaha mencari alasan seribu bahasa.
Carmen menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan tindak kriminal. Ia lupa bahwa penjepit rambut yang baru saja ia pasang adalah bumerang yang menghancurkan pertahanannya.
"Ah, ini... ini..." Carmen terbata, otaknya berputar mencari alasan paling masuk akal. "Ini alergi! Iya, aku makan udang semalam, terus gatal-gatal jadi aku garuk kencang banget. Tahu sendiri kan kulitku sensitif?"
Dara menyipitkan mata, mendekatkan wajahnya ke leher Carmen. "Alergi kok bentuknya simetris gitu, Men? Terus warnanya lebih mirip... ya ampun, jangan bilang kau digigit serangga besar?"
"Mungkin serangganya sejenis tawon raksasa," timpal Farrel dengan nada curiga. Tatapannya tajam, seolah sedang menganalisis kebohongan di wajah Carmen. "Tapi Carmen, setahuku alergi makanan itu biasanya merata, bukan mengumpul di titik-titik tertentu seperti itu."
Carmen tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana yang kian menyudutkannya. "Mungkin serangganya memang pilih-pilih tempat, Kak. Aduh, sudahlah, jangan dibahas. Malu tahu dilihatin orang!"
Farrel menghela napas, ia kembali teringat cerita Carmen tentang "Om"-nya yang protektif. "Apakah Om Samudera tahu soal ini? Maksudku, kalau itu alergi atau bekas serangga, dia pasti khawatir, kan? Mengingat betapa 'menjaganya' dia padamu."
Mendengar nama suaminya disebut, Carmen makin salah tingkah. "Dia... dia tahu kok. Makanya dia cerewet banget tadi pagi."
Sementara itu, di lantai atas, Samudera baru saja menyelesaikan kelas seniornya. Ia merapikan berkas-berkas dengan rapi. Pikirannya tidak sepenuhnya di materi kuliah; sesekali ia melirik jam tangan. Ia tahu Bayu sedang kewalahan di kantor, tapi memastikan Carmen tetap dalam jangkauan radarnya jauh lebih penting hari ini.
Saat berjalan melewati koridor menuju ruang dosen, langkah Samudera terhenti. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat Dara sedang berdiri di depan pintu perpustakaan, tampak seperti sedang berjaga-jaga.
Dengan langkah tegap dan ekspresi dingin yang menjadi ciri khasnya, Samudera menghampiri.
"Dara? Sedang apa di sini? Bukankah jam ini kamu ada kelas mandiri bersama Carmen?" tanya Samudera dingin.
Dara tersentak, wajahnya memucat. "E...eh, Pak Samudera... Iya Pak, ini... kami lagi di perpustakaan. Carmen lagi di dalam."
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Samudera melangkah masuk. Di sudut perpustakaan yang sepi, ia melihat pemandangan yang seketika membuat suhu tubuhnya naik. Carmen sedang duduk berdekatan dengan Farrel, dan yang lebih parah, rambut Carmen terangkat ke atas, memamerkan "tanda" yang ia buat semalam dengan jelas.
"Sepertinya perpustakaan ini terlalu panas sampai kau harus memamerkan semuanya, Carmen," suara bariton Samudera menggelegar tenang namun mengancam di keheningan ruangan.
Carmen dan Farrel sontak berdiri. Carmen buru-buru melepas penjepit rambutnya hingga rambut panjangnya terurai menutupi leher.
"Pak Sam... maksud saya, Om..." Carmen mematung.
Farrel berdiri tegak, mencoba menantang tatapan Samudera. "Kami hanya mengobrol, Pak. Saya rasa tidak ada aturan kampus yang melarang mahasiswa bicara di perpustakaan."
Samudera berjalan mendekat, menatap Farrel dengan pandangan meremehkan, lalu beralih pada Carmen. Ia mengulurkan tangan, merapikan sedikit kerah baju Carmen yang sempat tersingkap.
"Pulang sekarang. Aku sudah selesai mengajar," ucap Samudera tanpa bantahan. "Dan untukmu, Farrel... ada baiknya kau fokus pada skripsimu daripada mengurusi 'alergi' milik orang lain."
Carmen hanya bisa menunduk, mengikuti langkah suaminya yang lebar dengan perasaan was-was. Ia tahu, setelah sampai di mobil nanti, sesi "interogasi" yang jauh lebih panas dari sekadar cuaca siang ini akan segera dimulai.
Bersambung...
thankyou thor /Pray//Pray//Pray//Heart//Heart//Heart/
ternyata diam diam mencintai Samudra
makasih kaka cerita nya, smoga sehat selalu dn tetap berkaya 🤗🥰😍❤️❤️❤️❤️
makasih ka El cerita nyaa, walaupun sempet esmosih tp om Sam berhasil bwt aq happy 🤭...meskipun bab nya pendek tp tidak mengurangi keindahan cerita nya kaa, aq suka buanngeeet 👍👍😍❤️❤️
novel ini membuktikan pikiran picik wanita pemuja pebinor
author dan reader sama saja
lihat pelakor dilaknat habis habisan sedangkan pebinor diperlakukan lembut
para pelakor dibinasakan dan pebinor bebas begitu saja (pikiran picik author tidak tega menghukum pebinor)
koment reader2 membuktikan wanita2 munafik
*ketika ada pelakor mereka akan koment laknat habis habisan giliran pebinor Farrel mereka tidak berani koment pedas, bahkan mereka membela kelakuan Farrel
lelaki pemuja pelakor itu lelaki munafik
wanita pemuka pebinor itu wanita munafik
dan novel karya author ini sangat membuktikan author nya pemuja pebinor
*pelakor dilaknat dan dibinasakan
*sedangkan Farrel jelas ikut andil dalam kejahatan itu bebas begitu saja
Thor selama kau melaknat pelakor tapi kau begitu lembut pada pebinor itu saja kau menunjukan sifat aslimu pemuja pebinor
dan pemuja pebinor dan pemuja pelamor itu adalah wanita atau lelaki jablay yang kesetiaan diragukan