NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manipulasi Emosional

Hari pertama terasa seperti setahun.

Aku hanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, menghitung retakan kecil yang bahkan tidak terlihat kalau tidak diperhatikan dengan seksama. Aku menemukan tujuh belas retakan. Lalu menghitungnya lagi. Dan lagi. Sampai aku hafal posisi setiap retakan itu.

Makanan datang tiga kali lewat slot kecil di pintu. Tidak ada suara. Tidak ada sapaan. Hanya bunyi gesekan nampan di lantai, lalu slot ditutup lagi.

Aku mencoba bicara. "Halo? Ada orang? Tolong... tolong bicara sebentar saja..."

Tidak ada jawaban.

"Kumohon... suara apa pun... apa pun..."

Hanya keheningan.

Aku bahkan tidak makan. Hanya menatap makanan itu sampai dingin, lalu menyingkirkannya ke sudut ruangan.

Hari kedua lebih buruk.

Aku mulai bicara sendiri. Hanya untuk mendengar suara. Suara apa pun. Bahkan suaraku sendiri.

"Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati ini. Cuma tiga hari. Cuma tiga hari..."

Tapi suaraku terdengar asing di telingaku. Seperti suara orang lain. Dan itu malah membuatku lebih takut.

Aku mulai berjalan bolak-balik di kamar. Menghitung langkah. Dari pintu ke jendela dua puluh tiga langkah. Dari tempat tidur ke kamar mandi lima belas langkah.

Aku melakukannya berulang-ulang. Sampai kakiku pegal. Sampai aku tidak bisa jalan lagi dan terjatuh di lantai.

Lalu aku menangis lagi. Untuk kesekian kalinya. Aku bahkan sudah kehilangan hitungan berapa kali aku menangis.

Malam kedua adalah yang terburuk.

Aku terbangun dengan berteriak. Mimpi buruk. Tentang Leonardo yang menembak Ayah dan Ibu ku. Tentang darah mereka yang memenuhi lantai rumah ku. Tentang aku yang hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.

Aku duduk di lantai, memeluk lutut, bergoyang-goyang maju mundur seperti orang gila.

"Tidak nyata. Itu tidak nyata. Cuma mimpi. Cuma mimpi..."

Tapi rasanya sangat nyata. Sangat nyata sampai aku masih bisa mencium bau darah di hidungku.

Aku muntah lagi. Kali ini lebih parah. Tubuhku gemetar hebat. Keringat dingin membasahi seluruh badanku.

Aku ingin keluar. Aku harus keluar. Aku tidak bisa di sini lagi.

Aku bangkit, berlari ke pintu, menggedor sekuat tenaga.

"KELUARKAN AKU! KUMOHON! AKU JANJI TIDAK AKAN NGULANGI LAGI! AKU AKAN DENGAR SEMUA KATA-KATAMU! KUMOHON!"

Tanganku berdarah karena terlalu keras menggedor. Tapi aku tidak peduli. Aku terus menggedor. Terus berteriak.

Sampai suaraku hilang. Sampai tanganku tidak kuat lagi. Sampai aku terjatuh lagi di lantai dengan tubuh yang sudah tidak punya kekuatan sama sekali.

Dan aku menangis. Menangis tanpa suara karena suaraku sudah habis.

Hari ketiga, aku sudah hampir tidak bisa berpikir jernih.

Aku hanya berbaring di tempat tidur. Menatap kosong ke langit-langit. Tidak menangis lagi karena air mataku sudah benar-benar kering.

Aku mulai melihat bayangan-bayangan. Di sudut kamar. Bergerak-gerak. Tapi saat aku lihat langsung, tidak ada apa-apa.

Aku mulai mendengar bisikan-bisikan. Suara yang tidak jelas. Tapi saat kucoba dengarkan, bisikan itu hilang.

Aku mulai kehilangan akal.

Dan aku tahu Leonardo tahu. Dia melihat semua ini lewat kamera. Melihat aku hancur perlahan. Melihat aku kehilangan kewarasanku.

Apa dia menikmati ini? Apa dia senang melihat aku menderita?

Atau... atau dia sedang menunggu sesuatu?

Menunggu aku benar-benar hancur total sebelum dia datang dan jadi "penyelamat"?

Aku tidak tahu. Aku sudah tidak bisa mikir dengan jelas lagi.

Yang aku tahu cuma satu hal.

Aku ingin keluar. Aku ingin mendengar suara manusia. Aku ingin melihat orang. Siapa pun. Bahkan kalau itu Leonardo. Bahkan kalau itu monster yang mengurungku di sini.

Aku sudah tidak peduli lagi.

Aku hanya ingin tidak sendirian.

Sore hari ketiga, sekitar pukul enam, pintu terbuka.

Aku bahkan tidak sadar kalau pintu terbuka. Aku masih berbaring di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit.

"Nadira."

Suara itu.

Suara Leonardo.

Aku menoleh pelan. Leherku kaku karena sudah tiga hari hampir tidak bergerak.

Leonardo berdiri di ambang pintu. Mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam. Rambut rapi. Wajah tenang.

Seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Tapi bagiku... bagiku melihat dia sekarang seperti melihat oasis di tengah gurun.

Aku bangkit dari tempat tidur. Kakiku goyah. Aku hampir jatuh tapi Leonardo cepat menangkapku.

Pelukan pertama dalam tiga hari.

Sentuhan manusia pertama dalam tiga hari.

Dan aku... aku menangis. Menangis di pelukannya. Mencengkram kemejanya dengan erat seolah dia satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku dari kegilaan.

"Sshhh... sudah selesai. Kau sudah melewatinya." Suaranya lembut. Sangat lembut. Tangannya mengusap rambutku. "Kau luar biasa, Nadira. Aku bangga padamu."

Bangga. Dia bangga karena aku berhasil tidak gila setelah dia kurung selama tiga hari.

Ironis. Tapi aku terlalu lelah untuk marah.

"Ayo, aku sudah siapkan sesuatu untukmu." Leonardo mengangkatku dengan mudah. Menggendongku seperti pengantin. Dan aku... aku membiarkannya. Bahkan melingkarkan tanganku di lehernya.

Karena aku terlalu lemah untuk berjalan sendiri. Karena aku butuh seseorang. Siapa pun.

Bahkan kalau itu monster yang mengurungku.

Leonardo membawaku turun. Keluar dari rumah. Ke taman belakang yang biasanya aku lihat cuma dari jendela.

Di sana, di bawah pohon besar dengan lampu-lampu gantung yang indah, ada meja makan yang sudah ditata cantik. Lilin-lilin menyala. Bunga-bunga segar di vas. Makanan yang terlihat sangat mewah.

Seperti makan malam romantis.

Leonardo menurunkanku di kursi dengan lembut. Lalu duduk di seberangku.

"Kau harus makan," ucapnya sambil menuangkan air ke gelasku. "Kau tidak makan selama tiga hari. Itu tidak sehat."

Aku menatap makanan di depanku. Steak yang terlihat empuk. Sayuran segar. Roti hangat.

Perutku keroncongan. Tapi entah kenapa aku tidak bisa makan.

"Aku... aku tidak lapar," bisikku. Suaraku serak. Hampir tidak terdengar.

"Nadira." Nada suaranya berubah. Lebih tegas. "Makan."

Aku mengangkat garpu dengan tangan gemetar. Memotong sepotong kecil steak. Memasukkannya ke mulut.

Dan saat rasa daging itu menyentuh lidahku, aku baru sadar betapa laparnya aku. Aku mulai makan lebih cepat. Tidak peduli dengan etiket atau apapun. Hanya ingin mengisi perut yang sudah kosong selama tiga hari.

Leonardo menatapku dengan tatapan yang... lembut? Atau mungkin puas?

"Pelan-pelan. Kau akan tersedak," ucapnya sambil menuangkan wine ke gelasku. "Minum ini. Akan membuatmu lebih rileks."

Aku minum wine itu dalam satu tegukan. Rasanya pahit dan manis di mulutku. Tapi hangat di tenggorokan.

Leonardo tersenyum tipis. Lalu menuangkan lagi.

Kami makan dalam diam. Tapi kali ini, diamnya tidak mencekam. Ada suara burung di kejauhan. Suara angin yang menggerakkan daun. Suara musik lembut dari entah mana.

Setelah makan, Leonardo mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kotak beludru berwarna biru.

"Ini untukmu," ucapnya sambil mendorong kotak itu ke arahku.

Aku membuka dengan tangan gemetar.

Di dalamnya ada kalung. Kalung berlian dengan liontin berbentuk hati. Sangat indah. Sangat mahal. Aku bisa lihat itu.

"Sebagai permintaan maaf," lanjut Leonardo.

Permintaan maaf? Dia minta maaf setelah mengurungku selama tiga hari?

"Aku tahu itu berat untukmu," dia melanjutkan dengan nada yang terdengar... tulus? "Tapi kau harus mengerti. Aku melakukan itu untuk mengajarkanmu. Untuk membuatmu paham bahwa rasa penasaran punya konsekuensi. Dan konsekuensi itu tidak selalu menyenangkan."

Aku menatap kalung itu. Lalu menatap Leonardo.

"Tapi sekarang itu sudah selesai," dia berdiri, berjalan ke belakangku. Mengambil kalung itu dan memasangkannya di leherku. Jari-jarinya menyentuh kulitku dengan lembut. "Sekarang kita bisa mulai lagi. Dengan pemahaman yang lebih baik."

Pemahaman. Maksudnya aku sekarang paham bahwa aku tidak boleh melawan. Tidak boleh penasaran. Tidak boleh melakukan apapun tanpa izinnya.

"Kau tahu apa yang kumau, Nadira?" bisiknya di telingaku. Napasnya hangat di kulitku. "Aku mau kita punya masa depan bersama. Masa depan yang panjang. Lima tahun itu terlalu singkat. Aku mau lebih. Aku mau selamanya."

Selamanya. Kata yang menakutkan.

"Aku mau kau di sisiku. Bukan karena kontrak. Bukan karena ancaman. Tapi karena kau memilih untuk ada di sini." Tangannya memutar kursi ku, membuatku menghadap dia. Dia berjongkok di depanku, menatap langsung ke mataku. "Aku mau kau mencintaiku. Atau setidaknya... terbiasa denganku sampai kau tidak bisa hidup tanpa aku."

Matanya... ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang gelap tapi juga... rapuh?

"Aku tahu kau membenciku sekarang," lanjutnya. "Aku tahu kau takut padaku. Dan itu wajar. Karena aku memang monster. Tapi Nadira..."

Tangannya menyentuh pipiku. Mengusap lembut.

"Aku juga tahu... kau mulai membutuhkanku."

Kata-kata itu menohok seperti pisau.

Karena dia benar.

Tadi, saat dia masuk ke kamarku setelah tiga hari, aku merasa... lega. Sangat lega. Seperti diselamatkan.

Saat dia menggendongku, aku merasa... aman. Padahal dialah yang membuatku tidak aman sejak awal.

Saat aku makan bersama dia tadi, aku merasa... tidak sendirian lagi. Padahal dialah yang membuat aku sendirian selama tiga hari.

Ini gila.

Ini tidak masuk akal.

Tapi entah kenapa... tubuhku bereaksi seperti itu. Emosiku bereaksi seperti itu.

Aku membenci dia. Tapi di saat yang sama, aku... aku butuh dia.

Karena dia satu-satunya manusia yang boleh kulihat. Satu-satunya suara yang boleh kudengar. Satu-satunya sentuhan yang boleh kurasakan.

Dan tiga hari sendirian itu membuktikan satu hal.

Aku tidak bisa hidup tanpa kontak manusia.

Dan kalau satu-satunya manusia yang boleh mendekatiku adalah Leonardo...

Oh Tuhan.

Apa yang terjadi padaku?

Air mataku jatuh lagi. Leonardo mengusapnya dengan ibu jari.

"Jangan menangis, sayang. Kau sudah melewati bagian terburuk." Dia mencium keningku. Lama. "Sekarang kita bisa mulai membangun sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang lebih... nyata."

Nyata. Apa ada yang nyata dari semua ini?

Tapi aku terlalu lelah untuk berpikir.

Terlalu lelah untuk melawan.

Terlalu lelah untuk... peduli.

Jadi aku hanya mengangguk kecil.

Dan Leonardo tersenyum. Senyum yang kali ini terlihat... senang. Benar-benar senang.

Dia mengangkatku lagi. Membawaku kembali ke rumah. Ke kamarku.

Tapi kali ini dia tidak langsung keluar setelah meletakkanku di tempat tidur.

Dia duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengusap rambutku yang kusut.

"Tidurlah. Kau butuh istirahat." Suaranya lembut. Seperti suara orang yang peduli.

Dan untuk sesaat, hanya untuk sesaat, aku percaya bahwa dia peduli.

Aku memejamkan mata. Tubuhku yang lelah akhirnya menyerah pada kantuk.

Hal terakhir yang kurasakan adalah Leonardo mencium kepalaku sekali lagi.

"Selamat tidur, Nadira. Istriku. Milikku."

Dan aku tertidur dengan perasaan yang sangat kacau.

Benci tapi butuh.

Takut tapi lega.

Hancur tapi... entahlah.

Mungkin Leonardo benar.

Mungkin aku sudah mulai jatuh ke dalam jebakan yang dia siapkan.

Jebakan yang bernama ketergantungan.

Dan yang paling menakutkan adalah...

Bagian kecil dariku sudah tidak peduli lagi.

Bagian kecil dariku sudah terlalu lelah untuk perlawanan.

Bagian kecil dariku hanya ingin... diterima. Bahkan kalau yang menerima adalah monster yang menghancurkan hidupku.

Karena monster itu satu-satunya yang aku punya sekarang.

Dan tanpa dia...

Aku tidak punya siapa-siapa lagi.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!