NovelToon NovelToon
Greta Oto: Glasswing Butterfly

Greta Oto: Glasswing Butterfly

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.

Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.

Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Greta bosan

Hari-hari berlalu tanpa perubahan. Castle tetap berdiri megah, rakyat tetap menjalani rutinitasnya, dan kupu-kupu kaca masih berterbangan di sekitar Castle Castavia.

Thaddeus sudah lebih sering keluar dari untuk menemui Hugo. Hampir setiap sore, mereka membaca apa pun yang tersedia. Namun hasilnya selalu sama.

Kupu-kupu kaca disebut sebagai serangga penyerbuk yang langka. Serangga yang indah dan konon hanya hidup di wilayah tertentu dengan keseimbangan alam yang sangat spesifik.

Tidak ada satu pun catatan yang menyebutkan hubungan mereka dengan heterochromia, dengan takhta, atau dengan anak perempuan kerajaan.

"Itu saja?" gumam Thaddeus suatu sore, menutup buku tebal yang halaman-halamannya menguning.

Hugo menghela napas, bersandar di kursi kayu rumahnya.

"Itu saja yang tertulis. Tidak ada yang aneh dari serangga itu." ujar Hugo

"Tidak masuk akal," jawab Thaddeus lirih.

"Istana tidak mungkin setakut itu tanpa alasan. Kupu-kupu kaca juga sudah ada sejak lama. Bahkan katanya saat ayahku lahir." lanjutnya

"Mungkin itu hanya kepercayaan kerajaan saja. Tapi kalau menurut buku yang kita baca, kupu-kupu kaca tidak ada hubungannya dengan heterochromia." ujar Hugo

Hugo menatapnya Thaddeus.

"Atau mungkin Raja Arion pernah membaca tentang buku lain yang berhubungan dengan heterochromia." ujar Hugo

"Menurutmu begitu?" tanya Thaddeus ragu

"Coba kau tanyakan pada raja nanti."

...****************...

Sementara itu, di dalam istana, Arion menghabiskan malam-malamnya di ruang bawah pribadi.

Di sana, di antara rak-rak tinggi berisi buku sejarah kerajaan, ia membuka kembali sebuah buku tua yang pernah ia baca waktu itu bersama Chelyne. Buku tentang garis dua puluh keturunan kerajaan yang heterochromia dan fenomena langka pada beberapa raja terdahulu.

...Heterochromia....

Ia mengingat jelas malam itu. Chelyne masih sehat, sambil membaca catatan-catatan pinggir halaman.

Namun sekarang, ada sesuatu yang mengganggunya.

Ia membalik halaman demi halaman dengan alis mengernyit. Beberapa bagian terasa meloncat. Seolah ada penjelasan yang terputus.

Arion berhenti di satu halaman. Ujung kertasnya tidak rata.

Ia meraba bekas robekan itu dengan jari gemetar.

"Ada kertas yang hilang," gumamnya.

Bukan satu halaman tapi ada beberapa halaman yang hilang.

Robekan itu rapi seperti sengaja dilakukan oleh tangan yang tahu persis bagian mana yang harus disingkirkan.

Jantung Arion berdetak lebih cepat. Ia ingin percaya bahwa ini hanya kesalahan lama, bahwa buku itu rusak dimakan usia. Tapi nalurinya mengatakan sebaliknya.

Ia menutup buku itu perlahan.

Arion tidak ingin rakyatnya percaya pada mitos. Ia ingin pemikiran terbuka, logika, dan ketenangan. Tapi ketakutannya sendiri justru membuatnya goyah.

Setiap kali Thaddeus berbicara, ia mendengar bukan kekhawatiran seorang anak, melainkan ancaman pada stabilitas kerajaan.

Setiap kali Chelyne batuk, ia memilih menyerahkan segalanya pada Grace agar ia tidak perlu mengambil keputusan sulit.

Tanpa sadar, Arion mulai menjauh. Bukan hanya dari rakyatnya, tapi juga dari keluarganya sendiri.

Chelyne semakin sering terbaring lemah. Napasnya pendek, batuknya muncul tiba-tiba. Namun Arion jarang berada di sisinya. Semua diserahkan pada Grace. Ramuan, perawatan, bahkan keputusan kecil.

Dan Greta...

Greta semakin jarang keluar kamar.

Pada awalnya, ia patuh. Duduk di dekat jendela, memainkan botol-botol kacanya, memperhatikan serangga yang sesekali masuk melalui celah jendela. Tapi usia empat tahun bukan usia untuk diam terlalu lama.

Ia mulai bosan.

"Ibu," ujar Greta suatu pagi, duduk di tepi ranjang Chelyne.

"Aku mau keluar."

Chelyne membuka mata perlahan. Wajahnya sedikit pucat, tapi ia tetap tersenyum.

"Tidak sekarang, sayang."

"Aku bosan," suara Greta meninggi sedikit.

"Aku mau lihat capung."

Chelyne batuk, menutup mulut dengan sapu tangan. Noda merah samar terlihat, membuat Greta terdiam sejenak.

"Nanti," ucap Chelyne pelan.

"Dunia luar tidak selalu baik untuk anak kecil."

Itu kebohongan dan Chelyne tahu itu. Tapi ia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.

Bahwa Greta dikurung bukan untuk melindunginya, melainkan untuk menenangkan ketakutan orang lain.

Greta menunduk. Tidak ada kumbangnya di tangannya jadi Ia tidak tahu kalau ibunya berbohong.

Ia turun dari ranjang tanpa berkata apa-apa.

...****************...

Langkah kecilnya membawanya ke halaman belakang istana, ke tempat yang jarang dilewati pelayan. Di sana ada lapangan kecil tempat Thaddeus biasa berlatih memanah. Greta duduk di tanah, memeluk lututnya, menatap kosong ke sasaran kayu yang kini sunyi.

Grace melihatnya dari kejauhan.

Tangannya mengepal.

"Kesempatan." batinnya

Ia sudah lama memikirkan anak itu. Baginya Greta terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Greta sendirian, tanpa pengawasan dan pelindung. Setidaknya begitu yang Grace pikirkan.

Ia mendekat dengan senyum yang dipaksakan.

"Putri kecil, kenapa sendirian di sini?"

Greta menoleh sekilas, lalu kembali menatap tanah.

"Aku bosan."

Grace berjongkok, pura-pura peduli.

"Mau bermain?"

Namun sebelum ia bisa menyentuh Greta, udara di sekitar mereka berubah. Cahaya berkilau muncul dari arah pepohonan. Kupu-kupu kaca datang satu per satu, lalu puluhan. Mereka berputar mengelilingi Greta, membentuk lingkaran yang rapat.

Grace tercengang.

Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan kebetulan.

"Menyusahkan," gumamnya kesal.

Ia berdiri dengan wajahnya yang mengernyit. Jika serangga-serangga ini terus ada, rencananya akan selalu terganggu.

Ia pergi tanpa menoleh lagi.

Tak lama setelah itu, Chelyne berjalan tertatih ke belakang istana, membawa selendangnya dan sapu tangan. Batuknya memaksanya berhenti beberapa kali.

"Grace," panggilnya pelan.

Grace berbalik, senyumnya kembali terpasang.

"Yang Mulia?"

"Greta... di mana dia?"

Grace menunjuk ke arah halaman belakang.

"Di belakang, Yang Mulia."

Chelyne mengangguk dan berjalan ke arah Greta. Ia duduk di samping putrinya, mengelus rambutnya perlahan.

"Ibu," Greta berbisik. "Aku mau keluar."

Chelyne menelan ludah.

"Belum sekarang, sayang. Dunia luar tidak baik."

Sekali lagi, itu sebuah kebohongan.

Kumbang kecilnya tidak ada disana, jadi Ia tidak tahu kalau ibunya berbohong lagi.

Grace mendekat dan berkata pelan.

"Maaf Yang Mulia, sebaiknya kita masuk. Obatnya sudah siap."

Chelyne mengangguk lemah.

Chelyne kembali berjalan ke kamar sambil memegang tangan Greta.

Grace mengikuti dari belakang. Perlahan, ia membantu Chelyne duduk bersandar pada ranjangnya.

"Ini obatnya, Yang Mulia. Baunya memang sedikit aneh." ujar Grace sambil memberikan obat itu.

Chelyne hanya mengangguk lemah dan meminum obat itu perlahan. Rasanya berbeda dari yang sebelumnya.

...****************...

Sementara itu, dari pintu belakang istana, Thaddeus baru saja masuk dan langkahnya terhenti.

Ada bau aneh.

"Bau apa ini? Sangat menyengat." gumamnya.

Nyengat, pahit, tidak seperti ramuan biasa. Bau itu berasal dari ruang tempat Grace biasa meracik obat. Thaddeus mendekat, hendak memeriksa.

Namun langkah kaki Grace terdengar.

Tanpa berpikir panjang, Thaddeus berbalik dan menjauh. Jantungnya berdebar, Ia berjalan cepat membelok ke lorong lain.

"Apa sebenarnya yang dicampurkan Grace ke obat ibuku?" batinnya.

Dan di sanalah ia bertabrakan dengan Arion.

Buku tua besar ada di tangan ayahnya. Wajah Arion tegang.

Keduanya terdiam.

"Ayah?"

1
Kabuki
kupu-kupu lahir dari harapanmu. terbang mengikuti cahaya lentera
Serena Khanza
tuh kan 😤
Serena Khanza
preettt bohong
PrettyDuck
bener atau enggak mitosnya, itu tetap baik untuk ratu.
karena dia gak perlu ngerasa sakit.
PrettyDuck
manis banget pangeran kecil 🥰
PrettyDuck
cemas tanda sayang
PrettyDuck
apa mungkin kupu2 tertarik sama janinnya ratu?
Mingyu gf😘
dan itu membuktikan betapa pengecutnya kau Arion
Mingyu gf😘
dan jelas itu hanya mitos
putri bungsu
suka banget percaya yang nggak enggak emang ya orang orang pada suka percaya sama mitos
putri bungsu
hamil tua itu rasa nya emang campur aduk ya,,
Zan Apexion
hmmm, ayolah berpikir logis.
Zan Apexion
nah kan, baru jga dibilang dasar aneh.
Zan Apexion
kupu-kupu datang, tapi di tuduh nasib buruk.

asumsi orang dulu emang rada-rada ya.
Ebit S
nah loh nggak bisa konsentrasi kan apa gerangannya coba 🤭🤭🙏🙏💪💪
evrensya
Duhhh sukaaa deh bacanya, imajinasiku aktif.
evrensya
Apakah kupu2 itu peri?
evrensya
Suasananya dapet bgttt, kayak lg masuk ke negeri dongeng.
MARDONI
Greta cuma mau main sama Chelyne tapi malah jadi bahan omongan, itu bikin kesel banget. Arion kelihatan tenang tapi jelas dia khawatir, dan Grace… entah kenapa tiap dia muncul rasanya nggak nyaman. Thaddeus semoga insting kamu nggak salah.
Indira Mr
Thadeuss masih menebak motip grace.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!