"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dengan sedikit uang tabungan nya, Seruni berencana membeli mobil bekas untuk ia pakai mengantar kan pesanan kepada para pelanggan nya. Walaupun mobil bekas, tapi mobil bak terbuka itu masih sangat bagus dan mesin nya mulus.
Pemilik mobil sebelum nya, ingin membeli mobil baru dan menjual mobil itu dengan cepat. Rejeki nya Seruni yang lebih dulu mengenal beliau dan langsung membayar di muka.
"Ibu, apakah ini mobil baru Ibu?" Tanya Rima yang terus saja melihat dan menyentuh mobil tersebut.
"Bukan. Tapi ini mobil kita semua. Mobil Ibu, Rima, Tari, Ranti, Sari, Nenek dan juga Kakek."
"Waaaah, kami akhirnya punya mobil. Dan kita bisa muat banyak di mobil ini."
Anak-anak nya Seruni begitu girang. Walaupun mobil itu tidak sebagus milik Hamdan, tapi mereka bisa menyentuh dan menaiki nya dengan sesuka hati.
Sejak memiliki mobil baru, Hamdan tidak pernah mengizinkan anak-anak nya menyentuh mobil itu. Apalagi menaiki nya. Entah apa yang membuat Hamdan begitu membenci anak-anak perempuan nya.
Mereka saling tertawa dan bercerita saat berada di dalam sana. Begitu juga dengan Mak dan juga Bapak nya Seruni. Mereka tidak menyangka jika Seruni mampu membeli sebuah mobil. Hal yang begitu mustahil bagi mereka dulu.
"Seruni, apa tidak mahal mobil sebagus ini? Nanti, bagaimana kalau kita jual saja rumah yang di desa. Supaya kamu tidak pusing memikirkan biaya nya."
"Pak, jangan di pikirkan. Ini semua rejeki untuk keluarga kita. Bapak jangan khawatir. Runi masih memiliki banyak tabungan. Alhamdulillah bisnis kita sekarang berjalan dengan lancar."
"Syukur lah kalau begitu. Apa kira-kira, ada yang bisa bapak lakukan? Bapak juga tidak mau hanya berdiam diri saja dan tidak melakukan apapun."
"Hmmm,, apa ya. Bapak dan Mak di rumah saja. Jangan capek dan jangan pusing. Itu saja sudah cukup."
Seruni tersenyum sambil mengatakan hal itu. Bapak dan juga Mak nya merasa bingung. Tapi mereka juga turut bahagia dengan kebahagiaan anak semata wayang mereka.
Dengan ada nya mobil itu, usaha yang di bangun Seruni bisa menjangkau tempat yang lebih jauh lagi. Mereka juga tidak akan kesulitan dalam mengantarkan pesanan mereka tepat waktu.
Dan seperti nya juga, Seruni sudah harus mencari rumah yang lebih besar lagi. Rumah yang saat ini, akan ia jadikan tempat memasak dan membuat kue. Jadi, pekerjaan para tetangga nya tidak akan terganggu.
"Bu, apa Ibu sudah bisa mengendarai mobil? Besok, ibu bisa tidak, mengantar kami ke sekolah?" Tari begitu senang dan berbicara sambil melompat-lompat.
"Sudah. Tante Adel yang mengajari Ibu. Besok, Ibu akan mengantar kan kalian ke sekolah."
"Horeeeee....."
Lagi-lagi mereka semua pun berteriak kegirangan. Semua yang ada di sana, ikut merasakan kebahagiaan ke empat anak-anak itu. Tidak ada tetangga yang iri dengan keberhasilan Seruni.
Yang ada, mereka begitu senang karena di izinkan bekerja di sana dan membantu perekonomian keluarga. Suami-suami mereka pun mendukung asal tidak menelantarkan anak mereka di rumah.
Bagi tetangga yang memiliki anak kecil, bahkan di izin kan bekerja sambil membawa anak. Dengan catatan, anak-anak tidak boleh main di dapur. Mereka bermain di ruangan khusus yang di sediakan oleh Seruni untuk anak-anak nya juga.
Sungguh sejak kedatangan Seruni, komplek perumahan mereka menjadi lebih berwarna dan kompak. Mereka tidak ada yang iri. Semua nya saling mendukung satu sama lain. Begitu lah kehidupan Seruni di lingkungan nya yang baru.
******
Hari yang di tunggu oleh Rima dan Mentari pun tiba. Hari itu, Seruni akan mengantarkan anak-anak nya ke sekolah. Mereka begitu senang. Bahkan dia adik mereka pun ikut dan duduk di depan.
Ke empat anak itu begitu patuh dan tidak macam-macam. Walaupun sekolah Mentari dan juga Rima dekat, Seruni tetap saja menuruti keinginan anak-anak nya.
"Sayang, sekolah kakak Rima sudah sampai. Ayo salam dulu sama Ibu. Semoga kakak jadi anak pintar dan shalihah. Belajar yang rajin ya nak."
"Iya, Ibu. Rima masuk dulu."
Rima masuk dan kemudian, giliran Mentari yang akan di antarkan ke sekolah nya. Setelah tiba di sekolah Mentari, Seruni ikut turun dengan dua anak lain nya.
Rencana nya, ia akan menyerahkan formulir milik Mentari pada guru yang ada di sana. Jika ia biarkan Mentari yang memberikan nya, takut formulir itu hilang atau anak nya yang malah lupa.
"Permisi. Maaf, saya orang tua nya Mentari. Saya mau memberikan formulir ini. Kira-kira kepada siapa ya, saya harus menyerahkan nya?"
Ada satu guru perempuan yang sedang duduk dan terus saja melihat ke arah cermin. Ia bahkan acuh tak acuh pada kehadiran Seruni.
"Letakkan aja di situ." Ucap nya sambil menunjuk dengan dagu nya.
"Di sini?"
"Bukan. Di situ tu. Ih, bo-doh amat sih. Susah memang bicara dengan orang tua yang kayak gitu."
Seruni merasa terusik. Ia hanya berpakaian sederhana. Karena memang, niat nya hanya mengantar kan Tari dan menyerahkan formulir. Tapi siapa sangka, ada guru yang malah merendahkan nya.
"Maaf ya, Bu. Kalau ngomong itu yang jelas. Anda adalah seorang guru. Tapi, anda juga tidak sopan dalam berbicara. Harus nya, jika memang anda sibuk bersolek, pulang saja dulu ke rumah. Nanti balik lagi kalau riasan anda sudah tebal."
Setelah berbicara seperti itu, Seruni pun melangkah pergi. Ia tidak ingin berlama-lama berada di ruangan itu. Entah mimpi apa ia semalam. Bisa sial bertemu dengan guru yang aneh.
Seruni pun melangkah pergi. Rencana nya ia akan mencari guru lain saja. Sambil memegang tangan dua anak nya yang lain, ia terus berjalan.
"Bu Seruni, apa yang anda lakukan di sini? Apa sedang mencari Mentari?"
Pak Restu tiba-tiba saja muncul entah darimana. Seakan-akan di tubuh Seruni ada gps yang bisa menghubungkan diri nya dengan pria itu.
"Loh, Pak Restu. Ini, Pak. Saya mau mengembalikan formulir ini langsung pada guru nya. Tapi, di kantor guru nggak ada siapa-siapa. Mau nitip ke Tari, takut hilang dan dia lupa."
"Oh, begitu. Yasudah. Beruntung Bu Seruni bertemu dengan saya. Formulir nya bisa di berikan pada saya langsung."
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi, Pak. Masih ada yang harus saya kerjakan."
"Oh iya, Bu. Ini siapa?" Pak Restu melihat ke arah dia anak yang berdiri di samping Seruni.
"Ini adik-adik nya Tari. Ranti dan Sari."
"Oh, begitu. Baiklah. Kalian mau kemana? Biar saya antar."
"Tidak perlu, Pak. Saya bawa kendaraan sendiri. Permisi."
Seruni berjalan sambil menggandeng tangan kedua anak nya. Dari arah belakang, Pak Restu terus melihat wanita itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Runi,,, kehidupan macam apa yang sudah kamu alami selama ini. Dan, seperti nya kamu sudah lupa siapa aku....."
bersinar 😮