Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa kabar
Rutinitas adalah hal yang paling jujur dalam hidup seseorang.
Ia tidak berbohong. Tidak berpura-pura. Ia hanya ada, berulang setiap hari dengan cara yang sama, membentuk semacam kerangka yang menopang segalanya agar tidak runtuh sekaligus.
Pagi Yuna dimulai dengan alarm di ponselnya, bukan yang keras dan menyebalkan, tapi yang Bastian pilihkan untuknya suatu malam ketika ia tertidur duluan dan pria itu duduk di tepi ranjang, menggeser-geser aplikasi alarm dengan serius seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting.
"Kamu selalu kesiangan," katanya waktu itu. "Aku tidak mau kamu telat karena urusanku."
Yuna ingat ia hampir tertawa waktu itu. Hampir. Karena ada sesuatu di kalimat sederhana itu yang terasa terlalu tulus untuk langsung ditertawakan.
Ia bangun. Mandi. Sarapan... selalu ada sarapan, karena Bastian entah kapan mulai membiasakan diri bangun lebih awal hanya untuk memastikan ada sesuatu di meja ketika Yuna keluar dari kamar mandi. Kadang nasi goreng sederhana. Kadang roti dan telur. Kadang hanya semangkuk bubur instan yang ia masak dengan ekspresi yang terlalu serius untuk ukuran makanan sekelas itu.
"Om tidak harus melakukan ini setiap hari," kata Yuna suatu pagi, sambil duduk di kursi meja makan dengan seragam sekolah yang masih rapi.
Bastian meletakkan cangkir kopi di depannya. Mengangkat bahu. "Aku tahu."
"Tapi tetap Om lakukan."
"Ya." Ia duduk di seberangnya, membuka laptopnya. "Masalah?"
Yuna menatapnya sebentar di atas tepi gelasnya. Pria itu sudah kembali menatap layar, jarinya mulai mengetik... kembali ke dunianya yang penuh angka, keputusan dan rapat-rapat.
"Tidak ada," jawab Yuna akhirnya.
Dan ia minum kopinya dalam diam, dengan perasaan aneh yang tidak sepenuhnya bisa ia namai.
---
Sedangkan di sekolah atau lebih tepatnya di kelas. Pelajaran yang kadang masuk kadang hanya melayang di atas kepalanya.
Ujian kelulusan sudah berdiri di ambang pintu, bisa dirasakan di setiap sudut sekolah, dari cara para guru bicara dengan nada yang satu tingkat lebih serius dari biasanya, dari tumpukan buku catatan yang mulai bermunculan di atas meja, dari lingkaran-lingkaran belajar dadakan yang terbentuk di kantin dan perpustakaan.
Yuna belajar. Tidak dengan cara yang heroik atau penuh pengorbanan ,ia hanya duduk dengan earphone di salah satu telinga dan buku terbuka di depannya.
Ponselnya berbunyi.
Bastian: "Sudah makan siang?"
Yuna melirik jam. 12.47. Ia baru sadar perutnya sudah keroncongan sejak setengah jam lalu tapi terlalu malas untuk bangkit.
Yuna: "Belum"
Bastian: "Yuna."
Hanya namanya. Tapi dengan titik di belakangnya yang entah kenapa terasa seperti tatapan.
Yuna: "Iya iya. Sekarang."
Yuna menatap layar ponselnya selama tiga detik penuh. Lalu tersenyum sendiri,senyum yang langsung ia sembunyikan meski tidak ada siapa-siapa di kamar.
Ia memesan nasi ayam dari aplikasi ojek online.
Ponselnya berbunyi lagi dua menit kemudian.
Bastian: "Sudah pesan?"
Yuna: "Sedang diproses, Papa."
Bastian: "Jangan panggil aku itu."
Yuna: "Kenapa? Kamu bertingkah persis seperti itu."
Kali ini balasannya tidak datang segera. Yuna membayangkan Bastian di sisi seberang, mungkin di kantornya, mungkin di tengah rapat, menahan ekspresi tertentu yang tidak ingin ia perlihatkan ke siapa pun di sekitarnya.
Tiga menit kemudian:
Bastian: "Pulang langsung ke sini. Jangan mampir ke mana-mana."
Yuna tertawa kecil. Menaruh ponselnya. Dan kembali ke bukunya dengan perasaan yang anehnya ringan.
Ia tidak pernah berpikir bahwa posesivitas bisa terasa seperti ini.
Selama ini ia selalu mengasosiasikannya dengan sesuatu yang mencekik, dengan tangan yang menggenggam terlalu erat, dengan suara yang meninggi ketika pertanyaannya tidak dijawab cukup cepat, dengan perasaan bahwa ruang geraknya menyempit satu sentimeter setiap hari hingga suatu saat ia tidak bisa bernapas lagi.
Edo posesif seperti itu.
Bastian berbeda.
Bastian posesif dengan cara seorang yang tahu bahwa ia tidak berhak memiliki, tapi tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak peduli. Ada perbedaan antara kamu harus di sini dan aku ingin tahu kamu baik-baik saja... dan Bastian, meski kadang batas itu tipis, selalu berhasil berdiri di sisi yang benar.
Atau mungkin Yuna yang sudah terlalu terbiasa dengan yang salah, sehingga yang benar pun terasa seperti anugerah.
Entahlah.
Yang ia tahu... ada orang yang mengkhawatirkannya. Ada orang yang ingin tahu ia sudah makan, sudah sampai dengan selamat, tidak kehujanan di jalan. Dan itu, sebodoh apapun kedengarannya, terasa seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia miliki sebelumnya.
---
Hasya bergabung kembali dengan lingkaran mereka secara bertahap... seperti tanaman yang baru mulai tumbuh kembali setelah musim kering yang panjang. Tidak langsung pulih. Tidak langsung seperti dulu. Tapi ada.
Gadis itu datang dengan cara yang berbeda sekarang. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Matanya yang dulu sering menari-nari ke mana-mana kini lebih sering tertunduk, lebih sering fokus pada satu titik seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.
Berita itu sudah berbulan-bulan lalu. Tapi internet tidak pernah benar-benar lupa.
Sesekali Yuna masih menemukan komentar-komentar itu ketika tidak sengaja membuka thread yang salah, nama Hasya yang disandingkan dengan kata-kata yang bahkan tidak ingin ia ulangi dalam pikirannya sendiri. Pelakor. Murahan. Tidak tahu malu. Dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang bagaimana seseorang bisa sampai pada keputusan yang mereka buat, yang tidak pernah bertanya tentang konteks atau kesakitan atau keputusasaan yang mendahului segalanya.
Yuna tidak pernah bercerita pada Hasya bahwa ia juga pernah membaca komentar-komentar itu dan kemudian menutup layar dengan tangan yang sedikit gemetar.
Beberapa kesakitan lebih baik ditanggung diam-diam.
Mega yang paling konsisten menjaga Hasya. Ia yang memastikan gadis itu tidak pernah makan siang sendirian, yang mengulurkan tangan tanpa diminta, yang tahu kapan harus bicara dan kapan cukup diam saja di sebelahnya. Yuna kagum padanya... pada kapasitas Mega untuk hadir tanpa membuat kehadirannya terasa seperti beban.
Dan di antara semua keramaian yang pelan-pelan kembali normal itu, ada satu kursi yang terus kosong.
Lily.
Awalnya Yuna pikir gadis itu sakit.
Satu hari tidak masuk...biasa. Dua hari... mungkin demam yang tidak mau cepat sembuh. Tiga hari... Yuna mulai mengirim pesan.
Tidak dibalas.
Empat hari. Lima hari. Enam hari.
Pesan-pesannya hanya bertanda centang dua... terkirim, tapi tidak dibaca. Atau mungkin dibaca tapi ditandai belum-dibaca lagi. Yuna tidak bisa memastikan.
Ia coba menelepon. Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, tiga kali, lalu masuk ke voicemail.
Mega mengalami hal yang sama. Hasya juga sudah mencoba. Hasilnya sama.
"Mungkin dia lagi drama," kata Mega suatu siang di kantin, tapi nadanya tidak semeyakinkan biasanya. "Kamu tahu sendiri Lily kalau lagi ada masalah suka menghilang dulu."
"Tapi tidak pernah selama ini." Yuna mengaduk-aduk minumannya tanpa benar-benar minum. "Dan tidak pernah benar-benar tidak bisa dihubungi."
Mega tidak menjawab.
Hasya yang duduk di sebelah Yuna menunduk pada mejanya.
Mereka bertiga terdiam dengan kekhawatiran yang sama tapi tidak ada yang tahu harus diapakan.
---
Hari ketujuh, Yuna dipanggil ke kantor guru.
Mega juga.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju ruang guru, koridor yang terlalu panjang untuk keheningan yang sedang menemani mereka. Sepatu mereka berbunyi seirama di lantai keramik. Di luar jendela, pohon di halaman sekolah bergoyang ditiup angin.
Bu Wening, wali kelas mereka, sudah menunggu di balik meja dengan ekspresi yang membuat Yuna langsung tahu ini bukan pemanggilan biasa. Ada kerutan di dahi perempuan itu yang biasanya hanya muncul ketika ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.
"Duduk."
Mereka duduk.
Bu Wening meletakkan sebuah map di atas meja, tidak dibuka, hanya diletakkan...lalu mengaitkan tangannya dan memandang mereka berdua bergantian.
"Lily." Ia menyebut nama itu. "Kalian berdua adalah teman dekatnya, ya?"
"Iya, Bu," jawab Mega.
"Kapan terakhir kalian bertemu atau berkomunikasi dengannya?"
Yuna dan Mega bertukar pandang.
"Seminggu yang lalu," kata Yuna. "Sebelum dia mulai tidak masuk. Kami sudah coba menghubungi berkali-kali tapi tidak ada balasan."
Bu Wening mengangguk pelan. Ia membuka map itu, Yuna bisa melihat selembar surat di dalamnya, tapi tidak bisa membaca isinya dari jarak ini.
"Pihak sekolah sudah menghubungi keluarga Lily," kata Bu Wening dengan hati-hati. "Dan mendapatkan informasi yang..." Ia berhenti. Memilih kata. "Yang kami sendiri belum sepenuhnya bisa verifikasi."
"Informasi apa, Bu?" suara Mega terdengar lebih kecil dari biasanya.
Bu Wening menatap mereka berdua.
"Menurut keluarganya... Lily tidak ada di rumah. Sudah sejak seminggu lalu." Jeda. "Mereka juga tidak tahu di mana dia."
Ruangan itu tiba-tiba terasa seperti kehilangan udaranya.
Yuna merasakan sesuatu merembet dingin dari ujung jarinya ke atas. Bukan takut... atau mungkin itu memang takut, tapi jenis yang berbeda dari yang biasa ia rasakan. Yang ini lebih berat. Lebih gelap di tepinya.
"Tidak ada di rumah?" ulang Yuna. Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. "Maksud Ibu... dia pergi? Atau..."
"Kami belum tahu." Bu Wening menjawab dengan jujur. Dan kejujuran itu, entah kenapa, terasa lebih menakutkan daripada kalau perempuan itu memberikan jawaban yang menenangkan tapi palsu. "Itu yang sedang dicari tahu. Saya memanggil kalian karena mungkin ada sesuatu yang kalian ketahui... hal kecil apapun, percakapan terakhir, sesuatu yang Lily ceritakan... yang mungkin bisa membantu."
Yuna menatap mejanya.
Ia mencoba mengingat. Percakapan terakhir dengan Lily... apa? Tentang apa? Lily tertawa tentang sesuatu, Lily mengeluh tentang tugas matematika, Lily...
Lily pernah berkata sesuatu, beberapa minggu lalu, di antara obrolan yang terasa tidak penting waktu itu.
"Kadang aku capek, Yu. Tapi tidak tahu capek sama apa."
Waktu itu Yuna hanya mengangguk dan mengalihkan pembicaraan karena mengira itu hanya keluhan biasa. Keluhan yang semua orang punya. Keluhan yang tidak perlu ditindaklanjuti.
Sekarang, di ruangan dengan udara yang terasa terlalu diam ini, kalimat itu kembali...lebih keras, lebih jelas, dengan nada yang terdengar sangat berbeda dari yang ia ingat.
Yuna menelan keras.
Di sebelahnya, Mega menggenggam tepi mejanya.
Dan di luar jendela, angin terus berhembus, pohon terus bergoyang, dan dunia terus berjalan dengan cara yang terasa sangat tidak adil ketika seseorang yang kamu kenal tiba-tiba tidak ada di dalamnya lagi... tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa jejak yang cukup untuk diikuti.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya